Aster Veren

Aster Veren
Episode 52




-Aster-


Setelah berpamitan dengan bi Siti dan paman Zaenal, aku langsung pulang bersama ayah ke rumah nenek.


Tapi sepertinya nenek belum kembali dari kantornya, ayah bilang nenek akan pulang larut jadi malam ini aku tidak bisa tidur dengan nenek untuk mendengarkan cerita tentang masa kecil ayah dan paman lagi.


Padahal aku ingin dengar cerita tentang papa dan paman lebih banyak lagi. Batinku merasa kecewa sambil melirik kearah jam dinding yang baru menunjukan pukul 08:18 malam.


"Kau belum tidur?" Suara ayah mengejutkanku bersama dengan suara pintu kamar yang sudah terbuka.


"Papa." Gumamku melihat sosok ayah yang sudah berjalan menghampiriku setelah menutup kembali pintu kamarku.


"Kenapa belum tidur?" Lanjutnya bertanya sambil duduk diatas tempat tidur, berhadapan denganku.


"Belum ngantuk." Jawabku Sambil memeluk boneka beruang yang dibelikan nenek beberapa waktu lalu.


"Kemarilah, rambutmu masih basah. Jika tidak dikeringkan dengan benar kau bisa masuk angin nantinya," tutur ayah sambil mengangkat tubuhku dan mendudukanku didepan meja rias nenek, lalu tangan kirinya meraih pengering rambut dan tangan kanannya langsung meraih sisir diatas meja rias nenek.


Aku memang terlambat mandi hari ini karena sibuk mempersiapkan barang-barangku untuk dibawa pergi besok. Meski tak banyak, tapi tetap saja memilih barang bawaan itu melelahkan. Padahal paman merah dan Carel juga membantuku. Tapi tubuhku terasa sangat lelah sampai berlama-lama dikamar mandi hanya untuk berendam, padahal dulu tidak pernah berendam karena kamar mandi ditempatku tidak memiliki betap.


"... padahal besok pagi kita harus pergi ke bandara pagi-pagi sekali, tapi kamu masih belum tidur." Lanjut ayah menggerutu, dan aku hanya bisa melihat ekspresi datar ayah dari pantulan cermin dihadapanku secara diam-diam.


Kalau diperhatikan ekspresi ayah memang sangat lucu, tidak sinkron dengan ucapannya. Bagaimana bisa suaranya terdengar kesal padahal ekspresinya seperti itu.


Aku jadi penasaran bagaimana bisa ibu bertemu dengan papa yang setampan ini? Batinku tanpa sadar sudah terkikik saat melihat ekspresi ayah.


"Kenapa? Apa ada yang lucu dari perkataanku?" Tanya Ayah mengejutkanku.


"Ti–tidak ada." Jawabku langsung membuang pandanganku kesembarang arah saat bertemu tatap dengan manik merah ayah dicermin.


"Lalu apa yang kamu tertawakan?" Tanyanya lagi tak ingin ku jawab, tapi tekanan disekitarku perlahan berubah dan mengharuskanku untuk menjawab pertanyaan ayah.


"... duh papa ini, Aster cuma lagi seneng aja." Jawabku melantur, tapi ya aku memang senang. Rasanya aku bahagia bisa bertemu dengan ayah dan untuk pertama kalinya aku bisa merasakan rambutku disisir oleh ayah.


Setelah sekian lama aku mendambakan sosok ayah, berandai-andai dan merasa iri pada semua teman-temanku. Akhirnya aku memiliki seorang ayah, dan itu membuatku sangat bahagia. Meski ibu dan nenek sudah tiada, aku merasa bisa bertahan hidup sekarang karena aku memiliki banyak orang yang ku sayangi.


"Senang?" Tanya ayah terlihat bingung dengan kernyitan dikeningnya itu, "bukankah tadi kamu terlihat sangat kecewa karena tidak bisa tidur bersama nenek?" Lanjutnya sambil meletakan pengering rambut dan sisir ditangannya keatas meja rias.


"Itu ... hehe, Aster memang sedikit kecewa karena nenek pulang larut. Tapi kan ada papa." Jelasku sambil tersenyum pada ayah dan membalikan tubuhku supaya berhadapan dengannya.


"Ada aku?" Tanya ayah sambil melipat kedua tangannya diatas dada.


"Iya–itu ... papa mau ya tidur sama Aster?" Lanjutku merasakan panas diwajahku, untuk pertama kalinya aku meminta tidur bersama ayah. Padahal dulu aku hanya berani meminta ditemani tidur oleh kak Hana.


Paman merah? Paman Arsel kan menawarkan diri terlebih dulu untuk menemaniku tidur bersama, jadi bukan aku yang memintanya. Tapi sekarang, aku yang meminta ayah langsung. Rasanya benar-benar memalukan.


"Apa kau masih sering bermimpi buruk?" Tanya ayah dengan sorot mata khawatirnya.


"Eh?" Gumamku merasa bingung melihat ekspresinya berubah seperti itu.


Apa ayah mendengarnya dari paman ya? Lanjutku dalam hati merasa bersalah karena sudah membuat semua orang mengkhawatirkanku.


"Tidak, sudah lama Aster tidak bermimpi buruk. Apa ... papa tidak mau tidur bersamaku?" Jawabku merasa kecewa.


Sepertinya hari ini aku terlalu banyak meminta ya, hanya karena papa mengabulkan satu permintaanku bukan berarti dia akan mengabulkan permintaanku yang lainnya kan? Apa aku terlalu terburu-buru karena terlalu bahagia? Batinku bertanya-tanya.


"Tidak! bukan itu yang ku maksud. Syukurlah kalau kamu sudah tidak pernah bermimpi buruk lagi ...." Tutur ayah sambil mengelus puncak kepalaku dengan lembut, bahkan sorot matanya kembali menghangat dengan ekspresi leganya.


"Jadi ...." Gumamku tak bisa berpaling dari ayah.


"Baik!" Ucapku langsung turun dari kursi rias nenek dan berlari menuju tempat tidur dengan penuh semangat.


"Hati-hati, kau bisa jatuh jika berlarian seperti itu." Ucap ayah tak ku dengarkan.


"Hehe... sini papa, tidur disebelahku." Ucapku langsung berbaring diatas tempat tidur sambil menepuk-nepuk bagian kosong disampingku.


"Kamu ini ...." Guman ayah sambil menghela napas letihnya dan berjalan mendekatiku.


***


-Ansel-


Ku buka mataku perlahan saat merasakan sesak didadaku. Dengan cepat ku hapus air mataku yang terus mengalir keluar.


"Kenapa?" Gumamku tak mengerti kenapa aku bisa menangis seperti ini saat sedang tertidur.


Ku lirik jam dinding yang baru menunjukan pukul 02:30 dini hari, lalu beralih pada sosok Aster yang masih terlelap dalam tidurnya dengan posisi meringkuk menghadap kearahku yang sudah terduduk diatas tempat tidur.


Perasaanku benar-benar kacau. Batinku langsung meneguk air yang ada didalam gelas sampai habis dan menyimpan kembali gelas itu keatas nakas yang ada disamping tempat tidur.


Lalu sekelebat ingatan mulai terbayang dalam kepalaku, menampilkan sosok Helen yang tersenyum manis padaku dengan sorot mata hangatnya.


"Aku ingat!" Ucapku sambil memijat keningku saat mengingat mimpiku, mimpi yang membuatku sampai menangis seperti ini.


"Ansel ...," suara Helen yang masih terngiang dalam ingatanku, meski itu hanya mimpi tapi rasanya benar-benar seperti nyata.


"Aku jadi sangat merindukannya ...." Gumamku tak bisa berhenti mengingat mimpiku.


"Sepertinya kamu sudah bertemu dengan Aster ya?" Suara Helen kembali mengisi kepalaku bersamaan dengan ingatan kegelapan yang perlahan memudar oleh cahaya yang menampilkan sosok Helen dalam mimpiku.


"Helen," gumamku lagi kembali terbayang akan paras cantiknya serta rambut ungunya yang diterpa hembusan angin dengan lembut.


"... putriku sangat cantik bukan? Dia mewarisi warna rambut hitam dan kepintaranmu, dia juga sangat pandai bermain piano seperti ayahmu. Aku benar-benar bersyukur karena dia terlahir dengan sehat dan dilimpahi bakat luar biasa dari keluarga ayahnya." Tuturnya terdengar bahagia.


"Bukankah dia mewarisi kecantikanmu? wajah kalian sangat mirip terutama manik ungu yang dimiliki olehnya." Tuturku mengatakan isi pirikanku.


"Kau benar, aku senang karena Aster tidak hanya mirip denganmu saja." Ucapnya sambil tersenyum lebar menbuatku ikut tersenyum dengannya.


"Ansel," lanjutnya melunturkan senyumanku saat melihat manik ungunya yang menatap mataku dalam.


"... maaf karena aku harus pergi lebih cepat dan menyerahkan Aster padamu. Aku percaya kau bisa membesarkannya dengan baik, hiduplah dengan bahagia bersama putri kita." Tuturnya membuatku terkejut.


"Helen ...," gumamku saat menyadari waktu perpisahanku dengannya, "... aku akan berusaha semampuku. Terima kasih karena sudah mau hadir dalam mimpiku, Maaf karena selama ini aku begitu bodoh–aku—" Gumamku terhenti saat merasakan sentuhan tangan Helen diwajahku dan membuat mata kami saling bertatapan bersamaan dengan tumpahnya air mataku.


"Aku akan selalu bersamamu dan putri kita ...," tuturnya sambil menyentuh dadaku dengan tangan kanannya, "aku mencintaimu Ansel." Lanjutnya sambil mendekatkan keningnya ke keningku sebelum menghilang bersamaan dengan teriakanku yang memintanya untuk tetap tinggal.


"Sepertinya kau datang setelah aku mengunjungimu bersama dengan Aster ya." Gumamku mengingat kunjunganku ke makam Helen siang tadi.


Lalu ku lirik Aster yang terlihat damai dalam tidurnya, "Apa kamu juga bertemu dengan ibumu?" Lanjutku saat melihatnya tersenyum dalam tidurnya.


Aku akan menjaganya dengan baik Helen, kau tidak perlu khawatir. Batinku sambil mengelus kening Aster dan kembali berbaring disampingnya dengan perasaanku yang campur aduk.


.


.


.


Thanks for reading...