
-Aster-
Ku hela napas panjang setelah sampai di depan toko disambut isak tangis Yuna dan Sarah yang berlari mendekati Dean.
Aku yang berdiri di belakang mereka hanya bisa tersenyum getir memperhatikan punggung Dean yang terlihat rapuh. Aku merasa dia akan roboh jika aku menyentuhnya, jadi aku membiarkannya dan berpura-pura tidak tau kalau dia sangat lelah dan takut.
Yah, aku juga lelah dan takut. Bahkan kepalaku hampir meledak dengan semua hal yang terjadi hari ini. Tapi setidaknya aku bisa menyimpulkan kenapa Carel datang ke tempat itu bersama dengan kepala desa dan dua pria asing yang terlihat seperti kaki tangannya itu.
Dari semua hal yang aku lihat di dalam gudang penyimpanan itu, aku bisa tau kalau semua itu adalah barang timbunan. Yang membuatku merasa tak habis pikir adalah pemilik barang-barang itu, aku tidak menyangka kalau kepala desa yang menimbun semua hasil panen yang dikatakan gagal panen itu.
Lalu dengan seenaknya dia menaikan nilai jual beras dan gandum serta bahan-bahan pokok lainnya untuk keuntungannya sendiri.
"Kamu baik-baik saja Faren?" Suara Sarah meruntuhkan lamunanku, apalagi saat tubuhnya tiba-tiba memeluk tubuhku tanpa peringatan.
"Aku benar-benar mengkhawatirkan kalian berdua hiks, padahal sore ini bibi Nina dilarikan ke rumah sakit. Tapi kalian malah datang untuk menyelamatkan kami malam-malam begini." Lanjutnya membuatku segera meraih punggungnya dan mengusapnya perlahan, berusaha untuk
memberikan ketenangan padanya. Meski aku sendiri belum bisa tenang saat mengingat kembali nama paman Albert yang disebutkan oleh Carel.
"Aku baik-baik saja. Ini sudah malam, aku akan mengantarmu pulang." Ucapku melepaskan pelukannya.
"Eh?" Gumamnya terlihat terkejut sebelum menghapus air matanya.
"Tidak, biar aku saja yang mengantarnya." Lanjut Dean membuatku menoleh kearahnya. Yah, lagipula dia teman dekatnya Sarah. Sudah pasti dia ingin memastikan keselamatan Sarah dengan kedua matanya sendiri.
"Kamu yakin?" Tanyaku ingin memastikan saat melihat Yuna mengeratkan pelukannya dalam pangkuan Dean. Sepertinya anak itu tidak ingin berpisah dari kakaknya.
***
"Kapan kakak kembali?" Suara mungil itu membuatku menghentikan aktivitas mengeringkan rambut Yuna dengan handuk di tanganku. Ku lihat dia sudah menoleh kearahku dengan Maya berkaca-kacanya.
"Sebentar lagi." Singkatku sambil memberikan senyuman terbaik ku dan kembali mengeringkan rambut basahnya.
"Apa kakak akan baik-baik saja?"
"Tentu saja. Kakak mu kan sangat kuat."
"Benar, tapi tetap saja ...,"
"Kamu mau makan? Enaknya kita makan malam apa ya? Bibi dan paman masih di rumah sakit, jadi malam ini kita cuma bisa makan bertiga. Kamu suka makan apa Yuna?" Tuturku berusaha menarik perhatiannya pada hal lain sambil menyisir rambut panjangnya itu.
"Telur dadar." Jawabnya dengan tatapan berbinarnya, sepertinya aku berhasil mengalihkan perhatiannya. Dan lagi, entah kenapa rasanya sudah sangat lama aku tidak melihat binar matanya itu. Padahal aku yakin tidak selama yang ku pikirkan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membuatkan telur dadar untukmu. Lalu ... apa kamu tau makanan kesukaan kakakmu? Ucapku lagi sambil menyimpan sisir di tanganku ke atas meja setelah bangkit dari tempat tidurku dengan handuk ditanganku, berniat untuk menyimpannya ke tempat pencucian.
"Emh ... kakak, dia suka ikan goreng?" Jawabnya terdengar ragu.
Aku yang mendengarnya juga merasa ragu dan bingung dengan makanan kesukaan anak itu. Tapi jika diingat lagi, Dean memang sering pergi memancing ikan untuk mengisi waktu luangnya bersama dengan Sarah. Aku juga pernah ikut dengan mereka beberapa kali.
"... jadi apa itu bisa disebut dengan kesukaan?" Gumamku segera menggelengkan kepalaku saat tidak mendapatkan jawaban apapun dari pertanyaanku, "baiklah, kalau begitu aku akan mulai memasak. Kamu tunggu sambil menonton tv saja ya." Lanjutku membuatnya mengangguk mantap.
Ku rasa masih ada beberapa ikan di kulkas, apa aku salah lihat ya? Batinku mengobrak-abrik isi kulkas untuk mencari ikan yang ku lihat pagi ini.
"Apa yang pagi itu ikan terakhir?" Lanjutku setelah menghela napas pasrah ketika tidak mendapatkan apapun di dalam kulkas.
Aku merasa ketakutannya sudah sedikit berkurang dengan menonton tv acara kesukaannya. Aku tidak tau pasti dia sedang menonton apa, tapi dari suara yang aku dengar sepertinya Yuna sedang menonton film kartun.
Ku langkahkan kaki ku kearah meja makan untuk menyiapkan piring makan dan menatanya, lalu kembali pada pekerjaan memasak ku. Dua puluh menit aku memasak, akhirnya aku berhasil menyelesaikan masakan terakhirku.
"Malam ini lebih sederhana dari biasanya ya ...," gumamku meletakan piring berisi telur dadar ditempat Yuna, lalu beralih pada mangkuk sup yang ku letakan di tengah meja dengan beberapa buah-buahan yang sudah ku siapkan juga untuk pencuci mulutnya.
Ku harap bibi segera pulang. Lanjutku dalam hati, merasa sepi karena rumah ini tidak ada bibi dan paman.
"Sudah selesai?" Suara Yuna mengejutkanku. Ku lihat dia sudah berdiri disampingku dengan kepalanya yang menengadah menatapku penuh tanya.
"Sudah. Mau makan sekarang?"
"Boleh?"
"Tentu saja. Cuci tanganmu dulu sebelum makan ya."
"Oke." Angguknya segera berlari kearah wastafel dan menarik kursi kecil didekatnya untuk dinaiki. Kemudian tangan mungilnya segera memutar keran dihadapannya dan mencuci tangannya.
"Hup!" Ucapnya saat melompat turun dari atas kursi itu membuatku sedikit terkejut dengan tindakannya itu.
"Jangan lakukan itu lagi, kamu bisa jatuh nanti." Ucapku segera mendapatkan senyuman lebar Yuna dengan suara kekehannya.
"Hehe maaf." Ucapnya saat sampai di dekatku, lalu ku angkat tubuhnya dan mendudukkannya diatas kursi. Menghidangkan nasi dan telur dadar pesanannya serta air minum untuknya.
"Makanlah perlahan oke."
"Oke. Selamat makan."
Ku lihat Yuna sudah menikmati makan malamnya dengan gembira, pipi tembemnya benar-benar membuatku tak bisa berpaling darinya. Apalagi saat dia mengunyah makanan didalam mulutnya, sangat menggemaskan.
Tapi, ngomong-ngomong kapan Dean akan kembali? Ini sudah sangat lama saat dia pergi mengantar Sarah. Apa dia baik-baik saja? Batinku bertanya-tanya sambil memperhatikan jam dinding di dapur dengan kedua tanganku yang bertopang dagu.
"Kakak tidak makan?" Tanya Yuna kembali menyadarkan ku.
"Sebentar lagi." Jawabku sambil menunjukan senyuman terbaik ku dan mengusap puncak kepalanya dengan perlahan.
"Sebentar lagi itu kapan? Apa setelah aku selesai makan? Atau ... apa kakak menunggu kak Dean?"
"Ah, itu ... benar." Jawabku merasa tidak enak hati dengan perubahan ekspresinya yang kentara itu.
"Kakak tidak akan pergi meninggalkanku kan?" Lanjutnya membuatku tersentak. Bagaimana bisa anak kecil sepertinya berpikiran seperti itu?
"Ma—mana mungkin—"
"Benar kan? Tidak mungkin kakak ku meninggalkanku. Hehehe ...," potongnya benar-benar membuatku tak bisa berkata-kata, apalagi saat melihat ekspresinya yang seperti itu. Terlihat memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja?
.
.
.
Thanks for reading...