Aster Veren

Aster Veren
Episode 231




-Aster-


"Sepertinya kamu memiliki hubungan yang rumit dengan ayahmu ya?" Tutur Dean membuat perhatianku teralihkan padanya.


"Begitulah, aku yakin kamu sudah mendengar beritanya di suatu tempat mengenai kondisi ayahku." Ucapku kembali mengingat momen mengerikan hari itu. Hari dimana ayah tidak mengenaliku dan hari dimana dia tidak main-main untuk melenyapkanku. Benar-benar sangat menakutkan.


"Kondisi ayahmu? Yah, aku sempat dengar kalau kondisinya buruk. Tapi detilnya aku tidak tau." Lanjutnya setelah menghela napas panjang dan menatap langit-langit rumah kaca dengan kedua tangannya yang sudah terlipat diatas dadanya.


"Benarkah? Aku pikir beritanya cukup menghebohkan saat itu. Rumor tentang ingatan ayahku hilang juga sudah tersebar." Tanyaku merasa tidak percaya dengan apa yang ku dengar.


"Eh? Ingatan ayahmu menghilang?" Tanyanya tampak terkejut dengan apa yang ku katakan, sepertinya dia memang tidak berpura-pura tidak tau, jika tidak ekspresinya tidak akan seterkejut itu kan?


"Iya. Setelah mengalami kecelakaan di Singapura ingatan ayah tentangku hilang. Lalu alasanku merekayasa kematianku dan mengubah penampilanku seperti ini, untuk menghindari kejaran musuh-musuh keluarga Veren yang ingin melenyapkanku, dan orang-orang keluarga Veren yang juga berniat sama. Ayahku memerintahkan mereka untuk menemukanku dan melenyapkan ku." Jelasku merasa sedikit sedih saat mengingat kejadian itu lagi.


"Tapi setelah enam bulan bersembunyi darinya, akhirnya aku ketahuan. Aku juga tidak menyangka ayah akan mengingatku kembali." Lanjutku setelah membisu cukup lama, bahkan Dean tidak berani mengatakan apapun setelah aku mengatakan hal itu padanya.


Lalu ku lihat sosok Sarah yang sudah berdiri di samping Dean dengan matanya yang sudah berkaca-kaca, "pa—pasti selama ini kamu kesulitan kan? Syukurlah ingatan tuan Ansel tentangmu sudah kembali. Kalian jadi bisa hidup bersama lagi ...." Ucapnya kemudian sambil terjun kedalam pelukanku dengan air matanya yang sudah tumpah. Padahal beberapa saat yang lalu dia masih terlihat kesal padaku, tapi kenapa tiba-tiba perasaannya berubah secepat ini?


Aku juga tidak menyangka akan menceritakan hal ini pada mereka, tiba-tiba saja mulutku mengatakan semuanya.


"Yah meski aku masih merasa sedikit takut pada ayah. Tapi karena aku melihat ayah begitu berusaha untuk memperbaiki hubungan kami, maka aku juga memutuskan untuk mulai terbuka lagi padanya. Meski tidak bisa secepat yang ku harapkan." Tuturku melepaskan pelukan Sarah.


"Maafkan aku ya karena meninggalkan kalian semalam, aku benar-benar lupa kalau aku mengajak kalian tidur bersamaku semalam." Lanjutku.


"Tidak, tidak apa-apa. Tidak seharusnya aku marah atau kesal padamu, padahal aku tau kamu memiliki alasan untuk hal itu. Tapi aku tidak menanyakannya dan malah menunjukkan perasaan kesalku padamu. Aku juga tidak menduga kalau alasannya karena ayahmu, maafkan aku. Lalu, qku harap hubungan kalian bisa cepat membaik." Tuturnya sebelum menyeka air matanya dan menunjukan senyuman lebarnya yang terlihat cantik.


"Yah, ku harap kalian bisa cepat rukun lagi." Lanjut Dean ikut tersenyum di belakang Sarah.


"Terima kasih." Balasku sambil tersenyum lebar pada mereka.


"Kakak sudah jadi!" Seru Khael yang sudah berdiri disampingku sambil mengacungkan benda di tangannya, "menunduklah biar aku pakaikan." Lanjutnya menarik tanganku, mau tak mau akupun menuruti ucapannya karena tidak bisa mengabaikan senyuman lebarnya yang terlihat indah itu.


"Kak Sarah juga. Aku akan memasangkannya, menunduklah!" Lanjut Yuna tak ingin kalah.


"Hee... aku tidak dibuatkan?" Tanya Dean membuat adiknya terkejut.


"Kakak kan laki-laki, harusnya kakak buatkan untuk ku." Jawab Yuna menatap dingin kakaknya yang berdiri disamping Sarah.


"Be—benar juga ya, haha—hahaha ...," tawa canggung Dean mengundang tawaku dan Sarah.


***


"Jadi kalian sudah baikan?" Tanya Carel di bawah tenda yang terletak dihalaman rumah. Ku lihat dia baru menata kursi dan meja disana.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak meminta pelayan untuk melakukannya?" Tanyaku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang anak itu lakukan, bukankah biasanya dia akan meminta orang-orang untuk melakukan apa yang dia inginkan? Alasannya sederhana, Carel kan benci hal-hal yang merepotkannya.


"Mereka sibuk di dapur." Jawabnya sambil berkacak pinggang.


"Mau kami bantu?' Tanya Sarah mengalihkan perhatian Carel padanya.


"Ya, kami bisa membantumu." Lanjut Dean ikut dalam pembicaraan yang Sarah buat.


"Kembang api!" Ucap mereka dengan mata berbinarnya yang terlihat berkilau.


"Kalau gitu, Khael akan cepat mandi dan bersiap. Tunggu aku Carel!" Serunya segera berlari kearah rumah.


"Aku juga!" Lanjutnya ikut berlari mengejar Khael.


"Kalian! Jangan berlarian seperti itu, bagaimana jika terjatuh?" Teriak Sarah segera mengejar mereka dengan ekspresi paniknya.


"Kau benar-benar membuat mereka bersemangat ya." Ucap Dean memperhatikan mereka yang sudah masuk ke dalam rumah.


"Kau tidak bersemangat?" Tanya Carel membuat perhatian Dean kembali tertuju padanya.


"Tentu saja aku bersemangat, jarang-jarang aku melihat Yuna segembira itu."


"Kalau begitu pergilah bersiap bodoh."


"Ya ya baiklah, aku paham. Kau ingin berduaan dengan kekasihmu itu kan? Kalau begitu aku permisi dulu, sampai nanti Aster." Tutur Dean membuatku terkejut, apa maksudnya dengan kata kekasih? Siapa yang kekasihnya Carel?


"Kau!" Geram Carel tidak menghentikan langkah Dean, bahkan anak itu sudah tersenyum lebar pada Carel saat dia menoleh untuk beberapa saat. Lalu menghilang dibalik pintu rumah.


"Apa maksudnya dengan kekasih? Kau sudah punya kekasih?" Tanyaku kemudian, segera menoleh kearahnya yang terperajat saat mendengarku mengatakan isi pikiranku.


"Itu ...," gumamnya benar-benar membuatku penasaran.


Selain itu, Dean terlihat jelas menggoda Carel kan? Tapi kenapa aku merasa ikut malu saat melihat ekspresi menggoda anak itu? Di tambah dengan ekspresi Carel yang terlihat malu-malu dihadapanku sekarang. Rasanya seperti Dean sengaja menggoda Carel sekaligus diriku secara bersamaan. Kenapa anak itu melakukan hal seperti itu?


"Carel?" Gumamku melihatnya yang sudah memperhatikan layar ponselnya dengan serius diatas meja.


Apa ... jadi maksudnya kata berduaan dengan kekasihnya itu. Carel sedang berkomunikasi dengan seseorang—kekasihnya? Batinku terlambat menyadarinya.


Dan lagi, kenapa tiba-tiba aku merasa sakit hati ya? Apa aku masih menyukai anak ini? Dulu saat aku mengetahui perjodohannya dengan cucu pemilik akademi itu juga, aku merasa sangat sesak di dadaku.


Lalu sekarang, aku merasakannya lagi? Benar, sudah lama kita tidak bertemu. Setengah tahun bukan waktu yang sebentar, bisa saja Carel memiliki kekasih kan? Dan lagi, berita soal kematianku juga ... aku tidak berharap Carel tidak mempercayai berita itu, dan aku tidak berharap dia akan menungguku juga. Karena aku sendiri tidak yakin bisa bertemu dengannya lagi, bahkan mungkin aku sudah menduga kalau aku akan benar-benar menghilang dan terlupakan.


Tapi, tiba-tiba aku kembali? Itupun karena pengkhianatan tuan Albert ....


Aku tidak bisa mengharapkan Carel tetap sendiri kan? Dan bukan hal aneh kalau dia memiliki orang baru yang bisa menenangkannya, karena aku yakin berita kematianku saat itu pasti sangat mengejutkannya kan?


Aku juga, selama setengah tahun ini tidak sendirian. Aku juga bertemu dengan orang baru, Sarah, Yuna, Dean, bibi Nina dan masih banyak lagi. Jadi bukan hal yang aneh bukan?


"Kalau begitu aku juga akan kembali, sampai nanti." Ucapku sambil melambaikan tanganku padanya sebelum pergi dari hadapannya. Sedangkan Carel hanya mengangguk tanpa menatapku dan hanya terfokus pada layar ponselnya.


.


.


.


Thanks for reading...