Aster Veren

Aster Veren
Episode 85




-Aster-


"Aku pergi dulu ya Aster. Jangan lupa untuk meminum obatnya, aku juga sudah siapkan bubur diatas meja belajarmu. Ibu asrama juga akan datang siang nanti untuk melihat kondisimu." Tutur Kalea sebelum pergi ke akademi.


"Ya, terima kasih Lea." Ucapku tak bertenaga bersamaan dengan kepergian Kalea yang terlihat berat meninggalkanku sendirian di kamar.


Dia bahkan sempat ingin membolos untuk mengurusku, tapi aku melarangnya karena hari ini di kelasnya ada ujian harian. Dan lagi dia sudah belajar keras semalaman, jadi mana mungkin aku menghancurkan kerja kerasnya dan membuatnya membolos karenaku.


Berat ... kepalaku benar-benar berat. Batinku sambil memegangi handuk basah dikeningku. Bahkan pandanganku pun terlihat kabur.


"Padahal baru beberapa hari di asrama, tapi tubuhku tidak bisa langsung beradaptasi dengan baik ... kapan ya terakhir kali aku sakit?" Gumamku sambil memejamkan mataku karena merasa begitu pusing.


Sunyi, sangat sunyi sampai aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Padahal dulu kalau aku sakit, ada kak Hana, paman Arsel, ayah dan pelayan lainnya yang merawatku. Tapi sekarang, tidak ada yang merawatku.


Jika harus diingat-ingat lagi, dulu pun aku pernah berada dalam situasi seperti ini. Tidak ada siapapun yang bisa merawatku saat aku sedang sakit, karena ibu dan nenek sudah tiada.


Tubuhku benar-benar lemas dan panas, tenggorokanku juga sangat sakit. Yang bisa ku lakukan hanya berbaring diatas lantai dengan selimut tipis dan handuk basah yang ku siapkan sendiri dengan susah payah.


Lalu bi Siti datang dengan ekspresi terkejutnya saat melihatku sakit. Dengan cepat dia membawaku ke rumah sakit bersama paman Zaenal, sejak saat itu bi Siti mulai memperhatikanku dan merawatku dengan baik. Dia juga sampai panik saat aku menghilang semalaman dan paginya pulang bersama paman Arsel.


Ingatan-ingatan pertemuanku dengan paman Arsel dan orang baik lainnya mulai berdatangan lagi menemaniku yang tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Bahkan ingatan saat ibu merawatku juga mulai bermunculan.


"Hah~ kau sakit lagi Aster? Sepertinya tubuhmu sangat sensitif ya? Setiap pergantian cuaca kau selalu sakit. Padahal pemandangan hari ini sangat bagus loh," suara ibu mulai terngiang, bayangan saat ibu memeras handuk basah pun mulai tercetak kembali dalam ingatanku.


Gambaran ibu dengan sorot mata sedih dan ekspresi khawatirnya membuatku begitu merindukan kehadirannya sekarang. Bahkan tanpa sadar air mataku mulai mengalir saat melihat senyuman hangat ibu ketika dia menyemangatiku untuk kembali sehat supaya bisa berjalan-jalan lagi bersamanya.


"Ibu jangan khawatir, Aster akan segera pulih dan berjalan-jalan lagi bersama ibu." Ucapku berusaha menenangkan ibu yang masih menatapku dengan ekspresi khawatirnya.


"Kalau begitu, kau harus minum obatnya ya supaya demam mu bisa segera reda." Tuturnya sambil menunjukan senyuman manisnya.


"Ugh, aku tidak suka minum obat."


"Hhaha, tidak pahit kok. Khusus untukmu ibu belikan obat rasa strawberry loh." Ucap ibu sambil tersenyum lebar membuatku tergiur untuk mencoba obat yang ibu maksud. Rasa strawberry? Pasti rasanya sangat enak kan?


"Kalau begitu aku mau mencobanya,"


"Bagus, kalau begitu buka mulutmu dan rasakan sendiri rasa manisnya." Jawab ibu sambil mendekatkan sendok obat kedekat mulutku, dengan cepat aku melahap obat itu karena penasaran dengan rasa strawberry yang ibu katakan.


"Ugh–wlee ... pahit!" gumamku sambil menjulurkan lidahku saat merasakan rasa pahit yang tak tertahankan, dengan cepat aku meraih air minumku dan menghabiskannya untuk menghilangkan rasa pahit dilidahku.


"Ibu bohong! Kenapa harus menipuku supaya mau meminum obatnya?" Lanjutku merasa kesal dengan tipuan ibu.


"Kalau tidak begitu kau tidak akan mau meminum obatnya sampai kapanpun. Kalau kau tidak minum obat, lalu kapan putriku ini akan sehat lagi hem?" Jelas ibu sambil mengacak-ngacak rambutku setelah selesai menutup botol obat ditangannya, tak lupa dengan senyuman lebarnya.


"Tidak tau ah! Pokoknya aku marah sama ibu." Dengusku sambil menepis tangan ibu dari puncak kepalaku.


"Yakin?" Tanyanya sambil menunjukan beberapa buah strawberry didalam mangkuk kecil yang dipegang oleh ibu.


"Itu?"


"Strawberry," jawab ibu kembali menunjukan senyuman lebarnya.


"Boleh aku memakannya?"


Entah kenapa aku tau kalau saat ini aku sedang memimpikan masa laluku. Dan dengan sadar aku memimpikannya, apa mungkin karena aku tidak bisa tidur dengan nyenyak? Atau karena aku merindukan ibu? Jadi ingatanku tentang masa lalu sampai terbawa ke dalam mimpi.


"Aster," bisik seseorang membuatku terusik, dengan susah payah ku buka mataku yang masih berbayang. Benar-benar tidak bisa melihat dengan jelas.


Ku rasakan sentuhan lembut di pipiku bersamaan dengan hembusan angin yang menyapu keringat dingin diwajahku. Sangat sejuk.


"Ternyata kau memang tidak bisa dibiarkan sendirian ya?" Suara yang sangat familiar membuatku tersadar sepenuhnya.


"Siapa?" Gumamku tak didengarkan, dengan susah payah ku paksakan tubuhku untuk bangkit dari posisi terbaringku.


Ugh, kepalaku. Lanjutku dalam hati sambil memegangi kepalaku yang berdenyut saat tubuhku berhasil ku bangkitkan dari posisi terbaringku.


"Kau tidak perlu bangun, kau bisa berbaring ... tidak! Kau harus makan dulu dan minum obat, lalu kembali tidur." Ocehnya terdengar menyebalkan, namun ada kehangatan dari suara menyebalkannya itu. Rasanya tidak asing.


Lalu ku lihat tangannya meraih handuk basah yang terjatuh dari keningku dan menggantinya dengan plester kompres penurun panas yang tidak akan terlepas dari keningku meski aku tidur dalam posisi menyamping sekalipun.


"Dingin," pekik ku saat plester itu ditempelkan dikeningku.


"Kau tidak bisa merawat tubuhmu dengan benar ya?" Ketusnya membuatku membuka mata setelah rasa dingin di keningku sedikit berkurang.


Ku lihat gambaran wajah Carel yang terlihat berbayang begitu dekat dengan wajahku, membuatku terkejut setengah mati saat melihatnya dihadapanku. "Ca–carel? Ba–bagaimana bisa kau masuk ke asrama perempuan?" Tanyaku terbata-bata sambil menjauhkan wajahku darinya.


"Dan lagi kau membolos?" Lanjutku mencoba untuk menenangkan detak jantungku yang sempat berpacu dengan cepat saking terkejutnya dengan kehadiran Carel yang terlambat ku sadari karena pandanganku berbayang.


Pantas saja aku merasa suaranya begitu familiar, ku pikir aku sedang berhalusinasi karena demam. Ternyata anak ini benar-benar ada dihadapanku?


"Untuk sekarang kau harus makan dulu, anak itu bilang sudah menyiapkan bubur untukmu kan? Dimana dia menyimpannya?" Gumamnya sambil mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.


"Itu dia!" Lanjutnya segera mengambil mangkuk bubur diatas meja belajarku, lalu kembali duduk dikursi yang dia dekatkan dengan tempat tidurku. Memisahkan kursi itu dari meja belajarku.


"Anu–Carel ...," ucapku tak bisa melanjutkan ucapanku saat sendok berisi bubur itu berhasil masuk kedalam mulutku dengan paksa.


Anak ini benar-benar! Geramku dalam hati. Inginnya langsung ku pukul dia, tapi tubuhku tidak memiliki banyak tenaga untuk bergerak dan memukulnya.


"... jadi kau masuk lewat mana?" Lanjutku bertanya setelah menelan makanan didalam mulutku dengan susah payah karena tenggorokanku sakit.


"Jendela." Jawabnya sambil menunjuk arah jendela kamar dengan dagunya karena kedua tangannya penuh memegangi mangkuk bubur dan sendok.


"Kau gila? Inikan lantai dua–" ucapku nyaris berteriak karena begitu terkejut dengan jawaban yang ku dengar. Bagaimana bisa dia datang dari jendela kamar yang jelas-jelas tidak mudah untuk dipanjat?


"Jangan berteriak! Kau bisa mengundang ibu asrama kesini." Bisiknya sambil menutup mulutku dengan telapak tangan kanannya.


"Ma–makanya itu kenapa kau datang kesini? Dan lagi kau membolos?" Ucapku ikut berbisik saat tangan Carel sudah terlepas dari mulutku.


"Aku ... mengkhawatirkanmu." Jawabnya sambil memalingkan wajahnya kearah jendela kamar.


.


.


.


Thanks for reading...