
-Aster-
"Kyaaa!!" Teriak orang-orang yang berada di dalam kelas terdengar histeris membuat bulu kuduk ku ikut berdiri.
Aku benci rumah hantu! Batinku merutuki orang-orang yang memiliki ide untuk membuka rumah hantu di acara festival hari ini.
"... gila jantungku hampir copot!" Ucap seorang perempuan yang keluar lebih dulu dari dalam kelas–maksudku rumah hantu kami.
"Benar-benar menakutkan," lanjut yang lainnya yang berjalan dibelakang perempuan itu.
"Selanjutnya!" Seru Tia yang duduk disampingku untuk menerima tamu, mempersilahkan mereka untuk masuk setelah membayar biaya masuk yang sudah ditetapkan.
Ku lihat empat orang pria memasuki rumah hantu dengan saling bergandengan tangan, sepertinya mereka juga seorang penakut sepertiku.
"Pasang ekspresi yang benar dong!" Ucap Teo setelah kembali dari mempromosikan rumah hantu dengan cara berkeliling bersama dengan rekannya.
"Berisik!" Dengusku kembali merasa kesal pada anak satu ini, gara-gara dia nafsu makanku hilang. Padahal aku sedang menikmati jajanan festival beberapa menit lalu di bawah, tapi dia membawaku paksa naik ke atas gedung untuk berjaga pagi dengan Tia.
"Hee ... kau masih marah karena jajananmu ku sita?" Tanyanya dengan tampang bodohnya, tentu saja aku marah. Memangnya siapa yang tidak akan marah jika makanannya disita saat perutmu sedang lapar-laparnya?
"Hehey mana mungkin aku marah," tuturku sambil menggeplak bahunya dengan buku catatan Tia yang ku rebut, lalu ku kembalikan lagi buku itu padanya bersamaan dengan pekikan Teo.
"Kau! Baiklah baik, setelah berjaga aku akan mentraktirmu. Ku belikan semua jajanan yang kau mau," jelasnya sambil meringis memegangi bahunya dan menjauhkan dirinya dari hadapanku. Padahal sebelumnya dia berjongkok dihadapanku sambil bertopang dagu, menghalangi jalan.
"Puas?" Lanjutnya tak meredakan rasa kesalku, ingin rasanya ku pukul lagi bahunya. Tapi anak itu sudah pergi menjauh.
"... sepertinya hubungan kalian sudah membaik ya?" Tanya Tia membuatku melirik bingung padanya.
"Tidak–itu ...," kilahku berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi ku. Aku memang melibatkan semua orang saat bertengkar dengan Carel, maksudku aku bertengkar dengan Carel sampai membuat yang lainnya ikut kesal padaku.
Tapi ... apa yang seperti tadi itu terlihat baik? Bukankah aku sudah memukulnya? Lalu terlihat darimananya hubungan kami membaik? Batinku bertanya-tanya.
"Apa ... yang tadi itu bisa dibilang hubungan kami terlihat membaik?" Tanyaku menarik perhatian Tia.
"Lupakan,"
"Hee? Kenapa?"
"Selanjutnya!" Serunya membuat dua pasang kekasih segera masuk ke dalam rumah hantu setelah membayar biaya masuknya.
"Pft ...,"
"Tia?" Tanyaku saat melihatnya membuang wajah dariku.
Dia tertawa kan? Kenapa? Lanjutku dalam hati, mengernyit bingung memperhatikan sikapnya yang terlihat aneh.
"Kyaaa!" Teriak suara perempuan membuatku terkejut setengah mati, sepertinya dia berteriak dengan menggunakan seluruh tenaganya.
Jantungku, ma–masih aman ..., batinku sambil mengelus dadaku, ku rasakan degupan jantungku yang berpacu cukup cepat saking terkejutnya. Bahkan semua orang yang tengah mengantre pun ikut terkejut karena suara teriakan itu.
***
"Sebenarnya apa yang menarik dari uji nyali?" Gumamku merasa bingung sendiri memikirkan alasan orang-orang memasuki rumah hantu padahal mereka sendiri ketakutan sampai berteriak histeris, lalu keluar dengan ekspresi pucatnya.
Hmm ... apa melihat hantu memang semenyeramkan itu? Aku jadi penasaran dengan penampilan teman-teman ku yang berperan sebagai hantu. Haruskah aku mencoba untuk masuk? Lanjutku dalam hati.
"Tidak!" Ku tepis pikiran bodohku itu, mana mau aku masuk ke rumah hantu hanya untuk melihat penampilan teman-teman satu kelasku yang sedang berperan sebagai hantu.
Mereka tidak mungkin menyambutku dengan baik dan mengatakan "Hallo Aster, bagiamana penampilanku? Terlihat bagus bukan?".
Yang ada mereka akan menakuti ku sama seperti dengan mereka menakuti yang lainnya. Dan mereka pasti menikmati teriakan histeris para pengunjung.
Tidak mau, pokoknya tidak mau masuk meski–
"Ka–kagetnya ...," gumamku kembali mengelus dadaku. "Lama-lama aku bisa gila!" Lanjutku sambil mengacak-acak rambutku frustasi.
"Ka–kau baik-baik saja Aster?" Tanyanya kembali menyadarkan ku akan kehadirannya.
"Ah–ya, aku ...," jawabku terhenti saat melihat sosok Carel disamping perempuan itu.
Bisa-bisanya aku tidak menyadari kehadiran Carel!
"Biarkan saja, dia sudah seperti ini sejak bertugas pagi. Sebentar lagi waktu istirahatnya, dia pasti akan baik-baik saja." Tutur Tia membuatku terharu, apa dia memperhatikanku sejak tadi?
"Benarkah? Kalau begitu mau mencoba masuk bersama kami Aster?" Tanya Lusy membuatku terkejut, lebih terkejut dari mendengar teriakan orang-orang di dalam.
"Ti–tidak mau!" Jawabku nyaris berbisik. Entahlah, mendadak suaraku tidak mau keluar.
"Kau bicara apa? Aku tidak bisa mendengar suaramu,"
"Mau masuk atau tidak? Jangan menghalangi yang lain." Ucap Carel membuatku sedikit terperajat, padahal aku tau dia tidak berbicara padaku. Tapi rasanya, entah kenapa aku merasa dia sangat menyebalkan.
"Tentu saja masuk, kita sudah datang jauh-jauh ke gedung ini hanya untuk uji nyali kan? Masa mau kembali lagi." Dengus Lusy terlihat imut dengan ekspresi kesalnya itu.
Apa dia memang seimut ini jika sedang kesal? Tidak kah ini berkebalikan dengan ekspresi kesalnya yang selalu dia tunjukan padaku untuk mengancam ku menjauhi Carel?
"Kalau begitu Aster–"
"Aku ikut!" Seruku memotong ucapan Lusy sambil menggebrak meja dihadapanku.
Kau gila! Kali ini benar-benar gila Aster. Masa mau masuk rumah hantu hanya karena tidak suka melihat Lusy bersama Carel? Batinku merutuki diriku sendiri.
"Kau yakin?" Tanya Tia membuatku menoleh padanya sambil menganggukan kepalaku sebelum menunjukan senyuman paksaku.
"Tenang saja, kita akan pergi bersama." Ucap Lusy yang sudah menggandeng tangan Carel sebelum melewati pintu masuk dihadapannya.
"... Aster?" Lanjut Tia yang masih tidak mempercayai tindakanku, dia bahkan sampai memasang ekspresi khawatirnya saat aku mengekori Lusy dan Carel. Melewati pintu masuk dihadapanku.
"Tetap dibelakang kami ya Aster, jangan sampai terpisah." Tutur Lusy membuatku mempercepat langkahku untuk mengikutinya.
Jantungku kembali berpacu lebih cepat, ini sedikit berbeda dari degupan saat mendengar teriakan orang-orang dari luar. Apa mungkin aku takut? Tentu saja bodoh! Kau kan penakut Aster, lalu kenapa harus sok berani sampai masuk ke tempat menakutkan ini? Batinku kembali merutuki diriku sendiri.
Bisa-bisanya aku masuk ke tempat yang aku sendiri tidak akan pernah mau memasukinya.
Srak ....
"Su–suara apa itu?" Tanya Lusy di dalam ruangan yang minim pencahayaan ini, membuatku ikut bertanya-tanya.
Ku lihat lampu redup ini mendadak berkelap-kelip seperti lampu rusak, lalu tiba-tiba keluar dua tangan dari pintu kertas disamping Lusy membuatnya berteriak histeris, begitupun denganku.
Dengan cepat kami berjalan menyusuri jalan satu arah yang terasa begitu panjang dan jauh. Padahal setahuku kelas kami tidak terlalu luas meski digabung dengan kelas tetangga. Tapi anehnya pintu keluar terasa begitu jauh dari jangkauanku.
Ya tuhan selamatkan aku! Batinku tak bisa berhenti menyebut nama tuhan saat melihat banyak hal menakutkan dihadapanku.
Setelah melihat tangan berlumuran darah, kali ini aku melihat perempuan berpakaian putih lusuh dengan rambut panjang menjuntai tengah bercermin.
"Ja–jangan berbalik, jangan berbalik, jangan berbalik ...," gumamku berusaha melewatinya, namun detik berikutnya perempuan itu berbalik menunjukan wajah menyeramkannya. Membuatku refleks berteriak histeris sambil berjongkok, aku bahkan tidak sadar sudah berpisah dengan Lusy dan Carel.
"Papa hiks ... Aster takut!" Ucapku sambil meraba-raba lantai berusaha untuk berdiri, namun tidak bisa. Rasanya kaki ku mendadak lemas dan tidak mau digerakan.
.
.
.
Thanks for reading...