Aster Veren

Aster Veren
Episode 150




-Dwi-


"Apa maksudmu mengatakan hal itu? Bukankah kita sama-sama tau kalau Aster baru saja kembali ke kediamannya? Kenapa kau berbohong pada adikmu sendiri?" Tanya perempuan bernama Kalea, terlihat begitu kesal dengan apa yang ku katakan pada Carel.


Aku tidak bermaksud untuk membohongi adik ku atau siapapun. Tapi kenyataannya Aster memang pergi ke bandara sekarang, dan aku mendapat pesan darinya. Lalu aku juga mendapat pesan masuk dari Rigel yang memberitauku soal pembatalan kembalinya tuan Ansel ke tanah kelahirannya.


Aku tidak tau alasan jelasnya apa sampai mereka membatalkan rencana kepulangannya? Yang jelas, Aster berniat menyusul ayahnya ke Singapura.


"Aku tidak berbohong. Lihatlah!" Jawabku sambil menunjukan heandphoneku pada Kalea, dan perempuan itu langsung merebut heandphone ku. Dengan cepat dia membaca isi pesan yang ada didalamnya.


"Aku dalam perjalanan menuju Singapura." Ucapnya membaca isi pesan itu.


"Apa maksudnya? Jelas-jelas beberapa menit yang lalu aku bertemu dengan Aster, Teo juga melihatnya. Lalu kenapa?" Lanjutnya terlihat bingung lalu menatapku dengan tatapan penuh selidiknya, membuatku refleks tersenyum padanya berusaha menyembunyikan fakta soal diriku yang sudah menghapus beberapa pesan yang dikirimkan Aster padaku.


Sebelum mendapatkan pesan soal dia yang dalam perjalanan menuju bandara, aku juga mendapatkan pesan soal permintaan maafnya yang meminta ku untuk membohongi Carel. Aster memintaku untuk tidak memberitau kedatangannya ke kediaman Alterio sebagai perwakilan keluarga Veren. Dan untuk alasan dia pergi ke Singapura, aku juga belum mendapatkan jawaban darinya. Tapi aku sudah menghapus pesanku, jadi Kalea tidak mengetahuinya.


"Ini pesan sepuluh menit yang lalu, apa Aster benar-benar pergi ke Singapura untuk berlibur?" Gumam Kalea, "tapi kenapa kau bilang Aster pergi berlibur? Padahal disini Aster hanya mengatakan dia pergi ke Singapura, berlibur atau tidaknya kita tidak tau kan?" Lanjutnya sambil mengembalikan heandphone ku ketanganku.


"Ya, itu bukan urusan kita."


"Terus kenapa kau mesti berbohong? Kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya saja pada Carel?"


***


-Aster-


Ku buka heandphone ku saat mendapatkan pesan masuk dari paman Rigel. Mataku melotot terkejut saat membaca isi pesan itu.


Bagai petir di siang bolong, aku mendapat pesan mengejutkan soal ayah yang mengalami kecelakaan lalu lintas saat akan pergi ke bandara bersama dengan paman Rigel. Paman memberitauku bahwa mereka sedang berada di rumah sakit saat ini, kondisi paman juga cukup mengkhawatirkan. Dan kondisi ayah, paman bilang kondisinya kritis karena kehilangan banyak darah.


Aku yang mendapatkan pesan itu langsung memutuskan untuk pergi ke tempat ayah. Tapi paman Hans menghentikanku dan dia memintaku untuk menenangkan diriku sebelum pergi ke bandara, selain itu dia juga membawaku kembali ke kediaman Veren dan membantah perintahku yang memintanya untuk mengantarku ke bandara.


"Apa nona akan pergi dengan penampilan seperti ini? Tidak kah nona perlu waktu untuk mempersiapkan diri?" Ucapnya kembali terngiang di kepalaku saat aku memikirkan kondisi ayah. Yah, perkataan paman Hans tidak salah. Aku tidak bisa pergi tanpa membawa paspor dan visa juga uang kan?


Ku gigit bibir bawahku dengan gemas sambil melihat isi pesan dari paman Rigel. Aku benar-benar frustrasi sekarang, baru saja aku pergi mengunjungi makam Ibu. Dan sekarang, tiba-tiba aku mendapatkan pesan mengejutkan dari paman Rigel.


"Papa ...," gumamku tak bisa berhenti mengkhawatirkan ayah.


"Kita sudah sampai nona." Ucap paman Hans membuatku bergegas, berlari menuju kamarku untuk mengemasi semua barang-barang yang ku butuhkan.


"Anu nona?" Suara kak Mila membuatku menoleh kearahnya yang sudah berdiri di ambang pintu kamarku.


"Kak Mila, bisa bantu aku berkemas? Aku ...," ucapku berusaha menahan air mataku dengan suara yang gemetar.


"... tenanglah nona," tuturnya sambil mendekatiku dan langsung memeluk tubuhku dengan hangat. Menghentikan aktivitas ku yang sedang memasukan pakaianku ke dalam koper.


"Hiks, ayah ... aku–"


"Semuanya pasti akan baik-baik saja nona, tidak apa-apa, tenanglah ...," tuturnya tidak menghilangkan rasa khawatirku pada ayah.


Ku lihat heandphoneku berdering diatas tempat tidurku, dengan cepat ku lepaskan pelukan kak Mila dan segera meraih benda pipih itu.


"Paman," gumamku saat mendapati nama paman Arsel disana, tanpa membuang-buang waktu ku angkat panggilan masuk itu.


"Hiks, paman ... papa, apa dia akan baik-baik saja?"


"Tenanglah, aku akan segera terbang menemui ayahmu. Jadi berhentilah menangis, aku yakin semuanya akan baik-baik saja ...,"


"... aku, hiks. Aku juga akan pergi menemui ayah." Tuturku tak mau berdiam diri sendirian di rumah seluas ini tanpa ayah. Aku ingin bertemu dengan ayah dan menemaninya.


"Sendirian? Jangan bercanda."


"Tidak, aku–"


"Tunggu saja di rumah."


"Tidak mau!"


"... hah~ baiklah, kalau begitu minta Hans atau Tomi untuk menemanimu. Kita bertemu di rumah sakit nanti."


"Iyaa, sampai nanti paman." Angguk ku lesu, rasanya tubuhku benar-benar lemas sekarang. Apa karena hari ini aku mendengar berita mengejutkan dua kali berturut-turut? Pertama berita soal kematian Ibunya Carel, lalu berita soal kecelakaan ayah dan kondisinya saat ini.


Jangan, ku mohon jangan sampai ayah pergi juga. Aku ... aku tidak mau ditinggal sendirian lagi. Batinku segera menepis pikiran buruk ku yang terus menghantuiku.


"Sudah selesai nona," ucap kak Mila membuyarkan lamunanku.


"Ya–terima kasih." Bisik ku segera menghapus air mataku, entah sudah berapa kali aku menghapusnya. Air mata ini tetap tidak mau berhenti mengalir.


Setelah selesai bersiap, aku pergi menemui paman Hans dan langsung pergi ke bandara. Sebelum pergi aku juga memperingati semua orang di rumah untuk merahasiakan tentang kepergian ku, aku tidak mau orang-orang mengetahui kondisi ayah dan memanfaatkan kelemahan keluarga Veren.


Aku juga menekankan pada mereka untuk tidak memberitau Carel kalau aku sempat pergi ke kediaman Alterio sebagai perwakilan keluarga Veren. Aku tidak mau menambah beban pikiran Carel yang masih berduka dan terpukul karena kepergian Ibunya. Alasan lainnya, aku hanya ingin melanjutkan drama yang ku buat untuk menjauhkannya dariku.


Padahal beberapa jam yang lalu aku berpikir untuk meminta maaf padanya dan menjelaskan situasi ku. Tapi, sepertinya aku berubah pikiran lagi.


***


-Carel-


Aku benar-benar marah sekarang, bagaimana bisa dia tidak datang? Apa dia tidak mendengar soal kepergian Ibu? Apa liburan lebih penting daripada mengunjungiku? Apa dia tidak tau kalau aku membutuhkannya sekarang? Kenapa headphonenya tidak aktif? Dan kenapa tidak ada orang yang mengangkat telpon ku? Apa semua pelayan di rumah itu tuli? Gerutuku dalam hati sambil membanting heandphone ditanganku.


Ku hela napas berat sambil berjalan menuju teras rumah, memperhatikan kepergian orang-orang yang sudah datang ke kediaman Alterio untuk memberikan ucapan bela sungkawanya. Terlihat menyebalkan saat melihat ekspresi sok sedih mereka.


Kemudian mataku menangkap sosok Lusy yang berjalan menuju parkiran, mengikuti langkah kaki kakek tua pemilik akademi itu. "Apa yang memeluk ku di pemakaman benar anak itu?" Gumamku kembali memikirkan ucapannya siang tadi, mencoba mengingat-ingat kembali momen itu.


Nihil. Aku tidak bisa mengingatnya ... dan lagi sejak kapan anak itu terlihat mirip dengan Aster? Lanjut ku dalam hati sambil memperhatikan perawakan Lusy yang terlihat mirip dengan Aster.


"Apa dia meniru gaya Aster?"


.


.


.


Thanks for reading...