
-Aster-
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa aku sudah tinggal di Singapura selama lima hari untuk menemani ayah yang tak kunjung sadarkan diri. Dan hari ini aku harus kembali ke akademi untuk mempersiapkan diri, melanjutkan pendidikanku.
"Aku tidak mau pulang." Ucapku langsung mendapat sentuhan hangat paman Arsel diatas kepalaku. Ku lihat paman sudah tersenyum lembut padaku dengan tatapan hangatnya.
"Pulanglah dan istirahatkan dirimu, kamu harus kembali ke asrama kan? Belajarlah dengan fokus, biar paman yang menjaga ayahmu disini."
"Tapi ...,"
"Saat ayahmu bangun, aku akan langsung menghubungimu." Ucapnya membuatku mengangguk lemas.
Aku bahkan tidak nafsu makan selama tinggal di Singapura, aku merasa perutku tidak pernah lapar saat melihat kondisi ayah yang belum ada perubahan. Setiap hari, aku hanya bisa berdo'a untuk kesembuhan ayah. Meminta pada Tuhan untuk segera membangunkan ayah, membawanya kembali padaku.
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu ke bandara." Tutur paman sambil bangkit dari tempat duduknya, "Hans, aku titip keponakanku. Pastikan dia makan dengan teratur sebelum kembali ke akademi." Lanjutnya membuat paman Hans mengangguk cepat.
"Baik tuan." Ucapnya kemudian.
"... bisakah aku berpamitan pada Papa dulu?" Tanyaku setelah membisu cukup lama. Merenungkan kata-kata apa yang akan ku sampaikan pada ayah.
"Baiklah, aku akan menunggumu di sini. Pergilah." Ucap paman membuatku bergegas masuk ke ruangan tempat ayah di rawat.
Ku lihat ayah masih terbaring lemah di atas tempat tidurnya dengan alat bantu pernapasannya yang menghiasi wajah pucatnya.
"Papa ...," gumamku sambil melangkahkan kedua kakiku mendekati tempat ayah terbaring sekarang.
Ku raih tangan ayah yang dihiasi selang infus, menggenggamnya dengan erat sebelum mengelusnya perlahan, merasakan sakit jauh didalam hatiku. "Kapan papa bangun? Aster rindu suara papa. Aster ...." Bisik ku tak bisa melanjutkan ucapanku saat merasakan panas dimataku.
Ku hela napas ku sedalam mungkin, mencoba untuk menenangkan diriku yang hampir menangis lagi saat melihat kondisi ayah. "Papa harus cepat bangun dan kembali ke rumah bersamaku. Papa harus menebus waktu liburanku yang membosankan tanpa Papa, Saat sembuh nanti ... Papa harus menghabiskan banyak waktu denganku. Jadi, cepatlah bangun."
***
-Arsel-
Ku lambaikan tangan kananku kearah mobil yang ditumpangi Aster, berjalan pergi menjauhi rumah sakit bersama dengan Hans. Lalu ku hela napas letihku saat mendengar cerita soal kecelakaan itu dari Rigel.
Aku benar-benar tidak pernah menyangka akan ada kejadian seperti ini. Apalagi Rigel memberitauku kalau kecelakaan itu tidak normal, aku sendiri sedang menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada kakak.
Aku harap hal ini tidak sama dengan yang dialami oleh mendiang ibu. Aku harap dia bisa segera membuka mata dan kembali pulih seperti sedia kala, aku benar-benar tidak tahan melihat kondisi Aster yang begitu sedih karena kakak ku yang bodoh itu.
Bisa-bisanya dia mengalami kecelakaan dihari kematian istrinya Ian, bukankah dia berencana untuk kembali dan mengunjungi Ian untuk mengucapkan bela sungkawanya? Tapi kenapa malah berakhir di sini? Di rumah sakit?
Lalu apa yang terjadi selama aku berada jauh dari kalian? Ku dengar kau berselisih paham dengan kakek tua dan Ian karena masalah Aster. Kemudian kau meminta Aster menjauhi Carel? Apa kau pikir anak itu akan tinggal diam?
"... ku dengar tuan muda sudah dijodohkan dengan cucu pemilik akademi." Suara Eric kembali terngiang dikepalaku. Dia langsung menelpon ku setelah mendapatkan informasi yang ku minta. Dia memang sangat pandai dalam hal mencaritau, aku menyukai kinerjanya yang cepat.
"Benarkah?"
"Ya, aku bahkan mendengar soal nona Aster yang diganggu oleh cucu akademi itu karena dia merasa cemburu dengan kedekatan tuan muda dan nona." Lanjutnya membuatku terkejut saat mendengar nama Aster disebutkan.
"Anak itu! Dia berani mengganggu keponakanku?"
"Iya, tapi tuan Ansel sudah mengurusnya. Rigel bilang tuan Ansel sampai mendatangi kediaman Alterio saat mendengar keluarga perempuan yang dijodohkan dengan tuan muda mendapat perlakuan khusus dari keluarga Alterio." Tuturnya lagi, kembali menjelaskan informasi yang ku minta.
"Kau bercanda? Sejak kapan keluarga Alterio memberikan perlakuan khusus pada keluarga yang statusnya berada dibawahnya? Kau bahkan sangat tau bagaimana perlakuan mereka pada keluargaku! Dan lagi sejak kapan mereka menjodohkan Carel dengan cucu pemilik akademi itu?" Tanyaku benar-benar merasa kesal dengan ketidakadilan mereka.
Bisa-bisanya mereka memberikan pengecualian disaat keluarga Veren saja tidak diberikan pengecualian. Padahal keluarga kami sudah berjasa banyak pada mereka, tapi apa balasan mereka?
"Itu, alasannya ... pemilik akademi itu memberikan ancaman pada keluarga Alterio. Mereka akan menyebarkan rumor tentang tragedi satu tahun lalu saat tuan muda mengamuk, menghajar semua orang yang sudah mengganggu temannya." Jelasnya mengecilkan suaranya yang gemetaran. Apa dia takut padaku?
"Haaa? Itu konyol! Bukankah mereka bisa membungkam mulut semua orang dengan uang? Seperti biasanya? Kenapa mendadak ciut saat mendapat ancaman murahan seperti itu?" Ucapku nyaris berteriak, semakin didengarkan semakin membuatku kesal.
"Itulah alasan tuan Ansel pergi ke kediaman Alterio, beliau bahkan sampai menawarkan diri untuk menyelesaikan masalah itu. Tapi pemimpin Alterio terdahulu menolak bantuan yang ditawarkan oleh tuan Ansel, dan memilih untuk mengikuti permainan pemilik akademi itu." Jelasnya lagi setelah menghela napas letih.
"Intinya tuan muda dijadikan tumbal untuk menutupi tragedi yang dia buat tahun lalu." Lanjutnya membuka pikiran ku yang sempat berkabut.
Mengikuti permainan? Apa mereka diam-diam memiliki rencana untuk menjatuhkan pemilik akademi itu? Batinku tiba-tiba merinding saat memikirkan hal licik apa yang bisa dilakukan oleh keluarga Alterio.
"Hah~ baiklah, aku sedikit mengerti dengan situasi yang terjadi diantara–"
"Ah! Ada informasi terakhir yang aku dapatkan dari teman dekatnya nona Kalea." Potongnya membuatku kesal, bisa-bisanya dia memotong ucapanku disaat aku berniat untuk menutup sambungan telpon ku.
"Katakan!" Dengusku yang masih berdiri di atap rumah sakit, menikmati hembusan angin yang cukup kencang. Ya, lagipula semakin tinggi tempatnya maka angin yang terasa semakin kencang bukan?
"Nona Aster memberitau teman-teman dekatnya bahwa cucu pemilik akademi itu mengancamnya. Dia meminta nona Aster untuk menjauhi tuan muda jika nona tidak ingin melihat hubungan keluarga Alterio dengan keluarga Veren hancur. Maka dari itu, nona tiba-tiba menjauhi tuan muda dan–"
"Dia gila? Memangnya hal apa yang bisa menghancurkan hubungan keluarga Alterio dan keluarga Veren? Anak itu mau cari mati ya?" Ucapku kembali meledak, merasa kesal dengan tingkah sok pintar anak itu.
***
"Tunggu!" Gumamku membenarkan posisi duduk ku di sofa ruang tunggu rumah sakit.
Aku yang terus memikirkan informasi yang diberikan oleh Eric tiba-tiba mendapat sedikit gambaran dari apa yang sedang dilakukan oleh keluarga Alterio.
Entahlah, entah kenapa aku merasa mereka sudah mengetahui rencana busuk pria tua itu. Dari informasi yang diberikan oleh Aster kepada teman-temannya. Aku jadi bisa menyimpulkan kalau tujuan utama mereka adalah menghancurkan hubungan kedua keluarga, keluarga Alterio dan keluarga Veren. Dan mendapatkan nama Alterio sebagai kekuatan baru untuk status mereka.
Tapi ini masih dugaanku saja, aku tidak bisa membuktikan pemikiran ku. Lalu aku juga merasa keluarga Alterio sedang menyusun rencana untuk membalaskan perbuatan musuhnya. Ya, lagipula Alterio yang ku kenal, mereka tidak memberikan ampun pada musuhnya. Bahkan pada orang-orang baru yang baru mengenal mereka.
"Lalu yang ku bingungkan sekarang adalah, kenapa si bodoh ini tiba-tiba datang ke Singapura? Bukankah dia menyerahkan pekerjaannya disini pada Rigel? Harusnya dia hanya berfokus pada perusahaan di tanah kelahirannya saja kan?" Ocehku sambil menyenderkan tubuhku pada sandaran sofa yang ku duduki.
Kenapa mereka sangat merepotkan? Baik Ian maupun Kakak, keduanya penuh dengan teka-teki. Tidak bisakah mereka menunjukan rencananya dengan sedikit lebih terbuka? Lama-lama kepalaku sakit jika terus memikirkan teka-teki yang mereka buat. Lanjutku dalam hati setelah berdecak kesal.
.
.
.
Thanks for reading...