
-Aster-
Sesampainya di makam ibu dan nenek, aku langsung menyimpan bunga Gladiol yang dibeli oleh ayah diperjalanan tadi, disatukan dengan dua tangkai bunga lily putih dimakam ibu dan nenek yang berdekatan.
"Sudah bersih, sepertinya bi Siti sudah membersihkannya." Gumamku tak bisa berpaling dari nisan ibu dan nenek yang sudah bersih dan terlihat sedikit basah.
"Ibu, Helen ...," gumam ayah membuatku menoleh kearahnya yang sedang berdiri disampingku, "maaf, aku baru bisa menemui kalian." Lanjutnya terdengar penuh sesal.
"Ibu, kali ini Aster datang bersama papa. Aster datang untuk berpamitan sama ibu dan nenek, besok Aster akan pergi ke Singapura bersama papa untuk waktu yang lama. Aster–" Tuturku mencoba mencairkan suasana berat yang diciptakan oleh ayah, namun belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, ayah sudah meraih puncak kepalaku dengan telapak tangan kirinya dan membuatku menoleh, menengadah memperhatikan raut wajah sedihnya.
"... kalian tidak perlu mengkhawatirkan Aster lagi. Aku akan membesarkannya dengan baik, aku akan menyayanginya sebesar kalian menyayangi putriku selama ini atau ... mungkin saja aku akan menyayanginya lebih besar daripada yang ku tau." Tutur ayah dengan mata berkaca-kacanya tak lupa dengan senyuman tipis yang dipaksakannya.
Terlihat seperti sedang menahan air matanya supaya tidak tumpah dihadapanku, padahal jika menangispun aku tidak akan mentertawakannya.
Mendengarnya berkata seperti itu dihadapan makam ibu dan nenek membuat hatiku tersentuh. Bagaimana bisa aku mengukur rasa sayang ayah pada Kalea dan membandingkannya dengan rasa sayang ayah padaku yang baru hidup sebentar dengan ayah? Harusnya aku berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan kasih sayang ayah, bukannya diam-diam menangis dan iri pada Kalea.
Ibu, nenek ... aku sudah bertemu dengan papa. Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku lagi. Aku janji akan menjadi anak yang baik dan nurut apa kata papa. Dan ... aku sangat menyayangi ibu dan nenek, aku akan berkunjung lagi setelah pulang dari Singapura. Kalau perlu aku juga akan mengajak papa lagi bersamaku. Batinku kembali memperhatikan nisan ibu dan nenek.
"Papa," ucapku tak berpaling sedikitpun dari nisan ibu.
"Ya?" Tanya ayah langsung berlutut disampingku.
"Terima kasih karena mau menemaniku menemui ibu dan nenek." Lanjutku sambil menoleh pada ayah dengan senyuman terbaik ku, tapi aku gagal membendung air mataku yang sekarang sudah mengalir keluar dari tempatnya.
"Aster, hiks ... sangat senang bisa bertemu dengan papa." Lanjutku sambil terisak, Ayah yang melihatku menangispun langsung meraih tubuhku dan memelukku dengan erat.
Kehangatan yang diberikannya membuat hatiku merasa tenang, aroma tubuhnya yang asing sudah membuatku candu. Rasanya aku tidak ingin melepaskan pelukan ayah.
"Maafkan aku karena selama ini tidak ada disampingmu, tidak pernah mencoba mencaritau tentangmu, dan berpikiran buruk tentang ibumu. Maafkan papamu yang payah ini Aster." Tutur ayah membuat cengkraman tanganku mengerat dipakaiannya.
Seandainya ... seandainya aku bisa bertemu dengan ibu lagi. Aku ingin merasakan pelukan ibu dan papa secara bersamaan, pasti rasanya akan jauh lebih hangat.
***
Setelah selesai mengunjungi makam ibu dan nenek, aku pergi ke rumah bi Siti bersama dengan ayah.
Sesampainya di rumah bi Siti, kami disambut hangat oleh bi Siti dan paman Zaenal.
Lalu Ayah sibuk berbincang bersama paman Zaenal di ruang tamu selagi aku sibuk bermain bersama bi Siti dihalaman belakang rumahnya yang penuh dengan tanaman bunga.
"Bibi aku mau itu!" Ucapku sambil menunjuk buah jambu biji yang terlihat matang dan menggiurkan tergantung diatas pohon.
Setelah mencoba memakan jambu biji yang diberikan oleh Carel, aku jadi suka dengan buah yang satu itu. Dan aku baru tau kalau bi Siti punya pohon jambu dihalaman belakang rumahnya. Jadi aku langsung memintanya tanpa tau malu.
"Wah bibi tidak bisa mengambilnya, jambunya terlalu tinggi." Gumam bi Siti terlihat kecewa begitupun denganku, padahal lidahku sudah tak sabar ingin merasakan manisnya jambu itu.
"Ada apa?" Suara paman Zaenal mengejutkanku dan bi Siti.
"Ini Aster mau jambu biji itu, tapi jambunya terlalu tinggi jadi aku tidak bisa mengambilnya." Jelas bi Siti sambil menunjuk jambu biji yang ku maksud.
"Kalau begitu biar ku ambilkan, boleh saya memanjat pohon jambunya?" Tutur ayah mengejutkanku.
"Pa–papa bisa manjat?" Tanyaku merasa tak percaya dengan apa yang ku lihat sekarang.
Jika diingat-ingat lagi, nenek bilang ayah diajarkan memanjat pohon oleh paman kan? Lanjutku dalam hati, mengingat cerita masa kecil ayah dan paman.
"Tentu saja bisa." Ucap ayah yang sudah memanjat cukup tinggi sampai tangannya berhasil memetik jambu biji yang ku inginkan.
"Uwaah papa hebat!" Teriak ku merasa girang sendiri.
"Hahaha, papamu memang hebat ya." Ucap paman Zaenal sambil tertawa.
"Benar, papaku paling hebat sedunia hehe ...." Ucapku lagi membanggakan ayahku, membuat bi Siti ikut tertawa bersama paman Zaenal.
"Kalau begitu coba petik lebih banyak untuk dibawa pulang." Ucap bi Siti sambil menengadah pada sosok ayah yang masih duduk di dahan pohon jambu dengan anteng.
"Petik yang banyak papa!" Teriak ku mengulangi ucapan bi Siti, entah kenapa aku malah menggunakan kesempatan ini untuk mengerjai ayah. Aku ingin tau berapa banyak jambu yang bisa dipetik ayah.
"Aster sejak kapan suka jambu? Setau paman kamu tidak pernah memakan jambu." Tanya paman Zaenal sambil meraih puncak kepalaku.
"Karena Aster belum pernah mencobanya, saat pertama mencobanya aku jadi sangat suka buah yang satu itu." Jawabku teringat dengan wajah Carel.
Saat bertemu nanti, aku akan memberikan sebagian jambu yang ayah petik untuk ku pada Caral. Lanjutku dalam hati sambil tersenyum lebar, merasa gembira tanpa alasan.
"Segini cukup?" Tanya ayah yang sudah turun dari atas pohon dan membawa sepuluh buah jambu berukuran besar yang dibungkus oleh jas abu miliknya.
Kapan papa melepas jasnya? Aku tidak memperhatikannya .... Batinku memperhatikan kemeja putih yang dikenakan ayah dan jas abu ditangannya.
"... uwaah jambunya besar-besar." Gumamku tak bisa mengalihkan pandanganku dari jambu biji ditangan ayah dan mengesampingkan soal pertanyaan bodohku yang tidak tau kapan ayah melepaskan jas abunya itu.
"Berikan padaku, biar ku cuci dulu sebelum dibungkus, kau siapkan bungkusannya." Ucap bi Siti langsung meraih semua jambu ditangan ayah dan membawanya masuk kedalam rumah diikuti oleh paman Zaenal yang diminta menyiapkan bukusan oleh bi Siti.
"Terima kasih papa," ucapku sambil tersenyum lebar padanya dan ku lihat tatapan ayah melunak dengan senyuman tipisnya yang perlahan terangkat.
"Papa kemari, menunduk!" Lanjutku memintanya menunduk karena tanganku tak sampai ke kepala ayah, mataku sangat gatal melihat daun jambu yang ada dirambutnya dan tanganku sangat ingin menjauhkan daun itu dari rambut ayah.
"Ada apa?" Tanya ayah sambil menunduk membuatku refleks mengambil daun itu dari rambutnya.
"Dapat." Ucapku sambil membuang daun itu dari rambut ayah, lalu tanpa pikir panjang ku raih wajah ayah dengan kedua tanganku dan langsung memberikan ciuman hangat dipipinya sebagai tanda terima kasihku padanya.
"Ini?" Gumam ayah terlihat begitu terkejut sambil memegangi pipi kanannya.
"Terima kasih, hehe... Aster sayang papa, sangat!" Ucapku langsung memeluk tubuh ayah tanpa memberikannya waktu untuk berpikir, yang ku lihat ayah begitu terkejut dengan ciuman yang ku berikan padanya dan saat ini aku sedang bahagia.
.
.
.
Thanks for reading...