
-Kalea-
Waktu sudah menunjukan pukul 05:00 sore, dan aku masih memperhatikan Aster yang sedang menyelesaikan pekerjaannya.
Dia terlihat giat dan serius, sampai aku tidak berani mengganggunya. Padahal aku ingin membuatnya istirahat sebentar, itulah alasanku datang menemuinya. Tapi kedatanganku hanya membuatnya beristirahat selama setengah jam, sisanya dia kembali melanjutkan pekerjaannya saat Hans datang menemuinya dengan setumpuk berkas.
Padahal dia yang memintaku untuk membuat Aster sedikit bersantai. Tapi dia juga yang membuat Aster bekerja keras. Hans bodoh! Gerutuku memaki pelayan yang satu itu.
"Untuk jadwal pertemuan besok, tolong di undur menjadi siang hari." Suara Aster pada Hans yang berdiri disampingnya.
"Baik nona." Jawab pria itu membuatku semakin kesal padanya.
"Ayolah berhenti membicarakan pekerjaan disaat aku ada di sini ...," gumamku menggerutu kesal sambil meraih cangkir teh yang sudah dingin dihadapanku.
Lama-lama anak itu bisa menjadi seperti ayah. Aku tidak mau melihat Aster kelelahan karena harus mengurus semua pekerjaan ayah. Padahal usianya tidak jauh berbeda denganku, tapi kenapa dia harus bekerja sekeras itu? Dan lagi Hans! Kau benar-benar mempekerjakan anak dibawah umur tau!
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu kembali terdengar, bisa ku tebak siapa yang datang. Siapa? Siapa lagi kalau bukan Mila, pelayan pribadi Aster.
Ku lihat pintu itu perlahan terbuka menampilkan sosok Mila, seperti dugaanku. Tapi, kenapa kali ini dia tidak membawa apapun? Padahal sebelumnya dia membawakan makanan berupa camilan dan teh hangat untuk Aster selama tiga jam sekali.
"Ada apa Mila?" Tanya Aster menatap pelayan itu dengan serius.
Oh, kali ini dia sudah memanggil semua pelayan dengan namanya langsung ya? Rupanya kamu sudah banyak bertumbuh ya ..., batinku merasa bangga dengan perubahannya.
Entahlah, bagiku memanggil nama pada para pelayan itu adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya dilakukan. Tapi, karena Aster memiliki hati yang lembut dan cukup naif. Dia jadi tidak berani memanggil orang yang lebih tua dengan namanya langsung, padahal dalam tradisi keluarga manapun. Seorang majikan tidak perlu terlalu bersikap baik dan memperlakukan mereka dengan spesial. Karena bisa saja mereka bersikap kurang ajar pada majikannya karena majikannya terlalu naif.
Dengan menghilangkan kata "Kak" pada nama mereka saja, perubahannya sudah sedrastis ini yaa ..., batinku memperhatikan sosok Hans dan Mila yang terlihat segan pada Aster.
"Aku jadi penasaran dengan tanggapan mereka saat melihat perubahan Aster untuk pertama kalinya." Lanjutku bergumam.
"Tuan sudah tiba nona." Ucap pelayan itu membuat Aster bergegas dan menyudahi kesibukannya. Aku yang mendengar berita kepulangan ayah juga langsung mengekori Aster untuk menyambut kepala keluarga Veren.
***
"Selamat datang ayah," sapa Aster membuat ayah menatapnya dengan sinis.
Ada apa? Kenapa reaksinya seperti itu? Batinku bertanya-tanya saat melihat reaksi ayah yang tidak seperti biasanya itu. Normalnya, ayah akan langsung memeluk Aster dan mengusir semua orang disekitarnya untuk menghabiskan waktu kebersamaan mereka.
"Tapi–apa yang ku lihat ini?" Lanjutku bergumam, meragukan indra penglihatan ku.
Ku lihat Aster juga terlihat aneh, ekspresinya seperti tidak terkejut dengan perubahan ayah yang seperti itu. Apa dia sudah tau kalau ayah akan bereaksi seperti itu padanya?
"Bawa semua barangku ke kamar," ucap ayah membuat para pelayan itu bergegas.
"Lea? Kau di sini?" Lanjut ayah segera menghampiriku dan melewati Aster begitu saja.
"I–iya, aku datang untuk menemui Aster ...," jawabku masih tidak bisa mengalihkan perhatianku dari punggung Aster yang terlihat sedikit bergetar. Apa dia–menangis?
"Ayah apa kau–"
"Kalau begitu ayah, sebaiknya ayah pergi makan dulu sebelum beristirahat." Tutur Aster masih menunjukan senyumannya yang menggangguku, sedangkan ayah hanya menatapnya sekilas.
"Ayo pergi Lea." Ajak ayah semakin membuatku bingung, tidak kah ayah harus mengajak Aster juga?
"Le–lea harus kembali ke asrama sekarang ayah." Ucapku menghentikan langkah kaki ayah, ku lihat ayah berbalik badan menatapku dengan keningnya yang sedikit berkerut.
"... ah, kau benar. Kalau begitu apa kau juga akan pergi bersama Lea?" Tutur ayah setelah membisu cukup lama, terlihat bekerja keras mengingat sesuatu. Dan yang membuatku terkejut adalah bagaimana cara ayah berbicara pada Aster.
"Tidak. Aku tidak bisa kembali ke asrama," jawab Aster terlihat tenang. Padahal aku sangat bingung dan hampir gila sekarang. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan mereka berdua? Apa hubungan mereka memburuk? Atau, apa Aster sedang marah pada ayah karena tidak bisa pulang cepat saat liburan sekolah kemarin? Dan ayah malah mengalami kecelakaan?
Tidak! Mana mungkin begitu kan? Kalau Aster marah, normalnya ayah berusaha untuk meredakan amarah Aster kan?
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu." Ucap ayah segera berjalan kembali kearahku, berniat untuk pergi menuju pintu keluar rumah.
"Tu–tunggu dulu ayah! Lea datang bersama supir pribadi papa. Ayah tidak–"
"Aku akan tetap mengantarmu. Ayo pergi, kau makan duluan saja." Potong ayah sambil melirik singkat pada Aster.
***
Sesampainya di akademi, ayah langsung berpamitan dan pergi meninggalkanku. Aku yang masih kebingungan dengan apa yang ku lihat di kediaman Veren pun melangkah masuk menuju gerbang asrama perempuan.
"... tadi itu benar-benar gila."
"Benar, ku kira pertunangan mereka itu sungguhan. Ternyata ...,"
"Apa yang sedang mereka bicarakan?" Gumamku saat mendengar bisikan dua anak perempuan yang melewati ku.
"Leaaa, kau sudah kembali?" Teriak Tia sambil melambaikan tangan kanannya kearahku, "bagaimana? Apa Aster baik-baik saja?" Lanjutnya saat aku sampai didekatnya.
"Ya, dia terlihat baik meski tubuhnya mengecil." Jawabku mengingat kembali tubuh Aster yang terlihat lebih kurus dari terakhir kali aku melihatnya.
"Benarkah?"
"Daripada itu, apa kau sudah dengar berita tentang Carel yang mengamuk pada tunangannya?" Tanya Nadin memotong ucapan Tia.
"Benar! Ku dengar pertunangan mereka dibatalkan karena Carel sudah mengetahui niat buruk keluarga Lusy pada keluarganya. Dan ...," Jelas Tia menjeda ucapannya sesaat.
"Ku dengar, keluarga Alterio datang ke kediaman keluarga Lusy untuk membuat perhitungan dengan mereka. Dan paman Ansel memberikan pelajaran pada mereka tanpa ampun." Lanjutnya berbisik ditelingaku.
"Benarkah?" Tanyaku begitu terkejut dengan apa yang ku dengar. Dan tiba-tiba saja rasa lega menyerbu hatiku, entahlah. Mungkin karena aku merasa Aster tidak perlu mengkhawatirkan hubungan keluarga Alterio dengan keluarganya lagi.
Iya ... syukurlah ketakutannya itu tidak terjadi. Dia juga tidak harus melanjutkan drama yang dia buat untuk menjauhkan Carel darinya lagi. Batinku mengingat ekspresi menggemaskan Aster saat sedang tersenyum, dan bayangan itu tanpa sadar sudah membuatku ikut tersenyum lega.
.
.
.
Thanks for reading...