Aster Veren

Aster Veren
Episode 55




-Hana-


Waktu sudah menunjukan pukul 03:40 sore, tuan Ansel dan yang lainnya masih belum keluar dari ruang kerja nyonya sejak pukul 02:00 siang tadi. Entah pekerjaan apa yang sedang mereka bahas sampai dihari duka seperti inipun mereka masih sangat sibuk.


Tapi kepergian nyonya benar-benar membuat semua orang rerkejut, terutama nona Aster. Batinku sambil mengingat tangisannya yang tak kunjung berhenti sejak di rumah sakit hingga acara pemakaman nyonya selesai kemarin.


"Hana," suara mungkil Khael menyadarkanku dari lamunanku saat tangan mungilnya menarilk ujung pakaianku.


"Ada apa den?" Tanyaku sambil berlutut dihadapannya untuk menyamakan tinggiku dengan anak berusia 4 tahun itu.


Ah lihatlah manik merah dengan bulu mata lentiknya itu, wajahnya benar-benar mirip dengan tuan Arsel versi kecil. Pipi chubby-nya juga sangat menggemaskan. Batinku merasa terpesona dengan ketampanan den Khael yang menghipnotisku sebagai pelayan pribadinya.


"Kenapa Carel belum kembali?" Tanyanya dengan ekspresi polosnya yang menggemaskan.


"Den Carel masih diatas, mungkin sebentar lagi dia turun untuk menemui den Khael." Jawabku sambil tersenyum manis padanya.


"Nenek? Apa nenek tidak akan pulang?" Lanjutnya sambil mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan membuatku tersentak mendengar pertanyaannya itu.


"I–itu...," jawabku merasa bingung harus menjawab apa pada anak kecil sepertinnya.


Bagaimana aku menjelaskannya supaya den Khael bisa mengerti ya? Lanjutku dalam hati merasa bingung sendiri.


Disaat seperti ini aku malah teringat dengan nona Aster. Kenapa? Karena dia juga ditinggal ibu dan neneknya diusia mudanya, lalu sekarang nona harus merasakan kehilangan lagi diusianya yang ke-13 tahun.


"Hana?" Suara mungilnya kembali menyadarkan lamunanku.


"Mau pergi ke kamar nona Aster?" Tanyaku berusaha mengalihkan perhatiannya.


"Kak Aster? Mau! Ayo pergi." Jawabnya segera berlarian kecil menuju anak tangga.


"Tunggu den, biar saya gendong biar tidak jatuh." Ucapku segera berlari mengejar den Khael yang sudah menaiki tangga pertama dengan kaki mungilnya itu.


***


Jantungku rasanya mau copot, batinku sambil mengelus dadaku karena masih syok saat mengingat den Khael hampir terpeleset di tangga terakhir.


Aku tidak bisa memaksa den Khael untuk bersedia ku gendong sampai keatas, jadi mau tak mau aku hanya bisa mengikutinya dari belakang, memperhatikan langkah mungilnya menaiki semua anak tangga dihadapannya dengan penuh perjuangan.


"Sepertinya den Khael kelelahan," gumamku melihat tangan mungilnya menghapus keringat dikeningnya dengan menggunakan punggung tangan kanannya.


"Tapi lucu juga melihatnya bekerja keras menaiki semua anak tangga ini untuk menemui nona dengan kakinya sendiri." Lanjutku tak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum bangga pada anak majikanku itu.


"Hana ... gendong." Ucapnya membuatku mengangguk patuh saat melihat puppy eyes-nya yang menggemaskan.


Pada akhirnya den Khael memintaku untuk menggendongnya. Sayang sekali ... padahal pintu kamar nona berada tepat dihadapan kami sekarang. Lanjutku dalam hati sambil meraih tubuh mungilnya itu dan segera melangkahkan kakiku menuju pintu kamar nona sambil menggendong den Khael.


"Kak Aster," panggil den Khael setelah punggung tanganku selesai mengetuk pintu kamar nona yang sedikit terbuka, lalu dengan hati-hati ku turunkan tubuh den Khael saat dia meminta untuk diturunkan.


Tanpa membuang-buang waktu lagi den Khael pun berlari memasuki kamar nona dengan ekspresi gembiranya. Sepertinya energinya kembali terisi meski digendong sebentar olehku ....


"Senangnya menjadi anak kecil, tidak perlu memikirkan hal-hal rumit." Gumamku merasa tersentuh dengan tingkah lucu den Khael yang sudah tersenyum lebar mengajak den Carel dan nona Aster untuk bermain dengannya saat sampai dihadapan mereka.


***


-Aster-


Ku lihat sosok anak kecil berlari memasuki kamarku setelah memanggil namaku dengan suara mungilnya yang menggemaskan, bahkan kak Hana juga ikut masuk menyusul anak itu.


"Ah, aku belum bertemu dengan anaknya paman. Maaf aku terlambat mengenalimu." Ucapku pada anak itu saat mengingat suara mungil dan wajahnya di panggilan video yang pernah dilakukan paman beberapa hari lalu sebelum aku kembali dari Singapura.


"Carel, kak Aster main sama Khael yuk!" Ajaknya dengan senyuman lebarnya yang menggemaskan, menghipnotisku dengan ketampanannya.


"Kenapa hanya padaku kau tidak menggunakan kata kakak? Kenapa hanya pada Aster saja kau memanggilnya kakak?" Tanya Carel mendengus kesal sebelum memaksakan diri untuk tersenyum, membuat wajahnya terlihat sangat kaku.


"Papa kan tidak pernah memanggil Carel dengan sebutan kakak atau kak Carel, kenapa Khael harus memanggil Carel dengan sebutan kakak?" Jelas anak itu membuat suara tawaku pecah saat melihat ekspresi polosnya itu.


"Kau–" Geram Carel tak menghentikan tawaku.


"Hhahaha–ha–haha... perutku, aduh sakit haha." Keluhku ditengah-tengah tawaku sambil memegangi perutku yang terasa sakit.


"Berhenti mentertawakanku!" Lanjut Carel segera mencubit pipiku dengan gemasnya, kebiasaan mencubitnya itu masih belum berubah ternyata. Ku pikir aku tidak akan pernah merasakan cubitannya lagi, ternyata aku salah.


"A–ampun, aduh. Lepaskan! Sakit tau." Ucapku berusaha melepaskan tangannya dari wajahku.


"Carel jangan jahat sama kak Aster!" Ucap anak itu segera membenamkan wajahnya dipangkuanku setelah menatap tajam manik merah Carel.


Uwah... lucunya, anak siapa sih ini? Berani sekali menatap Carel seperti itu. Batinku sangat ingin memeluknya namun langkahku kalah cepat dengan suara sarkas Carel yang terdengar mengancam Khael.


"Hee... kalau begitu aku jahatnya padamu saja ya? Enaknya aku apakan ya?" tutur Carel dengan senyum sinisnya, membuat ekspresi berani anak itu berubah menjadi ekspresi ketakutan dan kembali membenamkan wajahnya dipangkuanku. Bahkan jari-jari mungilnya sudah meremas pakaianku.


"Mau apa kau?" Tanyaku segera menepis tangannya yang hendak meraih tubuh mungil Khael, lalu dengan cepat ku peluk anak itu untuk melindunginya dari tangan jahil Carel.


"Hana, wajah Carel menakutkan. Bawa dia pergi dari sini!" Ucapnya sambil melirik kearah Hana berdiri, namun tak ku dapati kak Hana disana saat ikut melirik kearah yang dilihat oleh Khael.


"Kapan dia pergi?" Gumamku mulai mengkhawatirkan Khael yang sudah berkaca-kaca dipelukanku.


"Hhaha, sepertinya kali ini Hana tidak akan bisa membantumu ya ...." Tutur Carel masih dengan nada sarkasnya yang membuatku ikut merinding saat melihat ekspresi menyeramkannya.


***


-Hana-


Ku lihat den Khael sudah membenamkan wajahnya dipangkuan nona setelah menatap tajam manik merah den Carel yang saat itu kedua tangan den Carel masih mencubit wajah nona dengan gemasnya.


Entah kenapa aku merasa lega saat melihat senyuman nona kembali merekah dibibirnya, tampaknya nona sangat menyukai den Khael terlihat dari gerak-geriknya yang ingin menyentuh kepala den Khael tapi masih terlihat ragu.


Bahkan nona sampai tertawa saat melihat tingkah menggemaskan den Khael yang tidak mau memanggil den Carel dengan sebutan kakak.


"Hee... kalau begitu aku jahatnya padamu saja ya? Enaknya aku apakan ya?" tutur den Carel menyadarkanku yang sempat melamun karena terlalu fokus memperhatikan nona.


Ku lihat ekspresi berani den Khael sudah berubah menjadi ekspresi ketakutan dan kembali membenamkan wajahnya dipangkuan nona.


"Sepertinya aku tidak perlu khawatir lagi," gumamku segera meninggalkan kamar nona secara diam-diam. Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak ingin mengganggu kebersamaan nona dengan den Khael. Selain itu ada den Carel juga disana, jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan nona.


"Mau apa kau?" Suara nona membuatku mengintip kedalam kamar nona saat hendak menutup pintu kamar nona.


Ku lihat nona menepis tangan den Carel yang hendak meraih tubuh den Khael, lalu dengan cepat nona memeluk den Khael untuk melindunginya dari tangan jahil den Carel.


Aku bahkan bisa mendengar suara den Khael memanggil namaku, tapi ... untuk kali ini aku tidak akan ikut campur. Batinku tak bisa berhenti tersenyum melihat kedekatan mereka.


"Hhaha, sepertinya kali ini Hana tidak akan bisa membantumu ya ...." Tutur den Carel membuat den Khael dan nona berteriak. Lalu tangan den Carel mulai menggelitiki tubuh nona dan den Khael secara bersamaan sampai mereka tak bisa berhenti tertawa karena merasa geli.


"Hentikan! Hhaha... apa yang kau lakukan? Hha–ha, Carel!" Teriak nona berusaha melepaskan diri dari den Carel.


"Hhahaha... lepaskan kak Aster Carel! Hha–haha, Jangan mengganggunya hahaha..." Lanjut den Khael yang juga tak bisa melepaskan diri dari den Carel.


"Hhihi... syukurlah ada den Carel ...." Gumamku diam-diam mentertawakan mereka sambil menutup pintu kamar nona dengan hati-hati supaya tidak menumbulkan suara.


.


.


.


Thanks for reading...