Aster Veren

Aster Veren
Episode 154




-Aster-


Hari semakin gelap, dan aku masih dalam perjalanan pulang bersama paman Hans yang sudah mengantarku untuk bertemu dengan klien ayah.


Sangat melelahkan, batinku sambil menghela napas letih, memperhatikan pemandangan di luar mobil.


Langitnya terlihat gelap tertutupi awan, tak ada satupun bintang di sana. Jalanan pun dipadati kendaraan sejak sore tadi, aku bahkan tidak tau kalau sekarang semua orang juga sibuk di malam hari.


Padahal dulu, seingatku. Kendaraan hanya padat di jam-jam pulang kerja saja, sekarang sudah hampir pukul 10:00 malam kendaraannya masih padat.


"Apa semua orang sudah beralih pada kendaraan pribadi?" Gumamku masih memperhatikan pemandangan diluar.


"Sepertinya begitu," jawab paman Hans membuatku menoleh kearah kaca spion, dan ku dapati tatapan paman Hans yang menyipit di pantulan cermin. Sepertinya dia baru saja tersenyum.


"Saya tidak tau kapan pastinya, tapi semua orang lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi sekarang." Lanjutnya membuatku menggangguk paham.


Apa mungkin karena mereka tidak nyaman kalau berdesakan di kendaraan umum ya? Begitulah pikirku sambil mengalihkan perhatianku pada sekumpulan mobil di luar.


"Tapi karena semua orang menggunakan kendaraan pribadi, jalanan jadi macet."


"Benar nona ... apa nona merasa lelah? Mau mampir ke suatu tempat dulu untuk mengisi perut?"


"... ah benar. Aku lapar," ucapku setelah membisu selama beberapa detik untuk memastikan keadaan perutku. Entahlah, aku merasa jarang lapar akhir-akhir ini. Mungkin karena aku terlalu sibuk dan terus memikirkan kondisi ayah. Sampai aku tidak sadar dengan rasa laparku sendiri.


"Kalau begitu saya akan mencari tempat makan malam yang sempurna untuk nona. Hmm... kalau tidak salah di pertigaan depan sana ada restoran enak. Mau mencoba mampir ke sana?" Tutur paman Hans kembali bertemu tatap denganku.


"Ya, kita pergi ke sana saja." Angguk ku setelah menghela napas dalam.


***


-Carel-


"Tenangkan dirimu!" Seru Teo yang duduk disampingku. Mencoba untuk menenangkanku yang tidak bisa mengendalikan rasa marahku.


Entahlah, aku benar-benar marah sekarang. Mungkin karena tidak bisa bertemu dengan Aster, padahal aku sudah datang jauh-jauh dari akademi untuk menemuinya. Tapi dia tidak ada di rumahnya, dan sekarang aku terjebak macet bersama dengan Teo. Padahal kami harus sampai di akademi pukul 10:00 malam, tapi ini sudah lewat. Dan aku lapar!


"Nona Aster ... dia belum kembali dari luar kota."


"Luar Kota?" Tanya Teo mendahuluiku.


"Benar, nona pergi untuk bertemu dengan kliennya tuan Ansel."


"Kalau begitu kapan dia akan kembali?" Lanjutku bertanya.


"Entahlah, saya belum menerima laporan dari Hans sebagai tangan kanan nona."


"Hans menjadi tangan kanan Aster? Sejak kapan?" Tanyaku lagi, benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja ku dengar.


"Sejak nona kembali dari Singapura. Tuan sudah menunjuk Hans sebagai orang kepercayaan nona." Jelasnya.


Semua percakapan itu kembali terngiang dalam kepalaku, entah kenapa semakin dipikirkan aku semakin yakin kalau sesuatu telah terjadi di keluarga Veren.


Dan lagi, sejak kapan pak tua itu bisa mempercayakan putri kesayangannya itu pada orang lain?


"Boleh aku tanya?" Ucapku pada pelayan yang sudah menjamu ku dan Teo.


"Silahkan tuan." Jawabnya.


"Apa benar dihari kepergian nyonya Alterio, Aster pergi berlibur ke Singapura?" Tanyaku berhasil membuat air muka pelayan itu berubah, terlihat gelisah.


"Katakan yang sebenarnya padaku!" Lanjutku sedikit menaikan nada bicaraku.


"Soal itu ... sebaiknya tuan menanyakannya langsung pada nona." Jawabnya berusaha mengendalikan ekspresinya.


"Hentikan Carel, kau membuatnya takut. Tidak sopan juga terus mendesaknya seperti itu." Ucap Teo kembali angkat bicara. Mencoba untuk menghentikanku, tapi dari yang ku lihat. Dia terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu juga.


"Sebenarnya kau tau sesuatu kan?" Tanyaku sambil melirik kearah Teo yang duduk bersampingan denganku.


"Apa?" Tanyanya mengalihkan perhatiannya dari kemacetan diluar sana.


Saat ini kami memang sedang berada di dalam taxi dan terjebak macet panjang. "Kau tau kebenaran soal Aster kan?" Ucapku mengulangi pertanyaanku, mencoba membuatnya mengerti.


"Maksudmu?" Tanyanya lagi dengan ekspresi sok bodohnya itu. Terlihat mengesalkan.


"Aster datang ke kediaman Alterio kan? Dia tidak pergi berlibur ke Singapura kan? Dan kau menyembunyikan fakta itu, siapa yang menyuruhmu?" Tuturku hampir lepas kendali.


"... tidak, Aster benar-benar pergi ke Singapura. Aku tidak tau dia berlibur atau tidak."


"Jadi–"


"Ya, anggap saja dia memang pergi untuk berlibur." Potongnya membuat harapanku runtuh. Padahal aku ingin mendengar kata tidak benar dari mulutnya, aku ingin mendengar kalau semua yang dikatakan Dwi itu bohong. Aku ....


Tidak! Coba pikirkan kembali Carel. Kalau Aster benar-benar pergi untuk berlibur, kenapa Kalea terlihat murung dan terus menghindari ku selama jam istirahat tadi? Apa anak itu juga mengetahui kebenaran dari ucapan Dwi? Rahasia yang dia bilang akan memberitauku jika aku menjadi anak baik selama di akademi?


Atau dia sedih karena tidak bisa ikut berlibur dengan Aster? Tidak, dia kan sudah tidak haus perhatian dari pak tua itu lagi. Dia juga mendapatkan kasih sayang penuh dari si Victor, kalau dia mau pergi berlibur atau pergi menyusul Aster. Dia bisa meminta hal itu pada ayahnya kan?


"... Rel!" Seru Teo membuyarkan lamunanku.


"Apa sih?" Dengusku merasa kesal karena dia sudah mengganggu konsentrasiku.


"Aster!" Tunjuknya ke luar jendela.


Dengan cepat aku melihat arah yang di tunjuk oleh Teo, ku lihat Aster berjalan masuk ke sebuah restoran diikuti oleh seorang pria. "Ayo pergi!" Ucapku kemudian, segera turun dari taxi yang ku tumpangi. Lalu berlari menuju restoran yang dimasuki oleh Aster.


"Tunggu!" Teriak Teo yang terlambat mengejar ku. Sepertinya dia terlambat karena harus membayar ongkos taxi kami dulu.


Ku hentikan langkahku tepat di depan pintu restoran yang dimasuki oleh Aster. Ku atur napasku yang sedikit tersengal-sengal akibat berlarian dengan kecepatan penuh.


"Hah hah, kenapa kau langsung pergi begitu saja? Bagaimana kalau yang ku lihat itu bukan Aster?" Tanya Teo yang sudah berdiri disampingku dengan napas ngos-ngosannya.


"Aku sangat yakin dengan Indra penglihatan ku, jadi jangan khawatir." Ucap ku sambil mendorong pintu restoran dihadapanku dan masuk ke dalam.


Ku susuri seluruh sudut restoran itu, mencari keberadaan Aster. Lalu kedua mataku berhenti pada sosok pria yang berdiri disamping Aster, "Hans?"


Tanpa membuang-buang waktu lagi, ku langkahkan kedua kaki ku untuk mendekati mereka.


"Tuan muda?" Ucap Hans saat melihatku berdiri dihadapan mereka.


"Carel? Teo juga?" Lanjut Aster terlihat sangat terkejut dengan kehadiranku dan Teo.


"Selamat malam tuan muda." Sapa Hans yang terlambat memberikan salam.


"Ya, selamat malam." Singkatku sambil menarik kursi kosong dihadapan Aster, lalu ku duduki kursi itu tanpa melepaskan pandanganku dari sosoknya.


"Kenapa kalian bisa ada di sini?" Tanyanya bersamaan dengan Teo yang baru mendudukkan dirinya disampingku.


"Hah~ maafkan aku Aster, anak ini bersikeras ingin menemuimu. Kami dalam perjalanan kembali menuju akademi setelah mengunjungi kediaman Veren. Kami datang untuk menemuimu, tapi pelayanmu bilang kau sedang diluar. Dan tidak sengaja kami melihatmu masuk kesini." Jelas Teo setelah menghela napas panjang. Apa maksudnya dengan meminta maaf pada Aster? Apa dia meminta Teo untuk menutup mulutnya?


.


.


.


Thanks for reading...