Aster Veren

Aster Veren
Epiaode 95




-Kalea-


Semua orang masih membisu ditempatnya setelah mendengar ucapan Teo. Namun detik berikutnya aku mendengar suara Nadin yang tidak sempat ku sadari kehadirannya.


"Pft..," gumamnya berusaha menahan suara tawanya.


"Na–nadin?" Ucap perempuan yang duduk dihadapannya. Terlihat gelisah saat melihat pandangan semua orang yang sudah tertuju pada mereka.


"Kau lucu sekali Teo, baru pertama kali aku melihatmu seperti ini demi orang lain." Tutur Nadin setelah puas tertawa.


"Kenapa? Dia baik kan tidak ingin melihat temannya diganggu oleh mereka?" Tanya perempuan dihadapan Nadin melirik sekumpulan orang yang mencari masalah pada Sean.


"Apa yang kau katakan? Orang itu bukan melindungi anak manja disana." Jelas Nadin sambil melirik sinis pada Sean yang juga sudah meliriknya dengan kesal.


Rupanya kesadarannya sudah kembali ya? Tatapan kosongnya telah sirna dan ekspresinya jelas menunjukan kalau dia tidak akan tinggal diam lagi.


"Pft, a–anak manja katanya?" Ucap seorang pria yang mendapat tinju sebelumnya sebelum terbahak mendengar ucapan yang didengarnya. Teman-temannya pun diam-diam mentertawakan Sean yang dipanggil anak manja oleh Nadin.


"Padahal ibunya sangat jahat, tapi anaknya disebut anak manja, pft ...."


"Siapa yang kau sebut anak manja hah?!" Ucap Sean segera meraih kerah baju pria dihadapannya dan menatapnya dengan tajam saat mendengar gumamannya.


"Heh~ jadi sekarang kau mau membela diri ya? Padahal tadi diam saja. Dan kenapa kau tersinggung? Kau kan cuma anak tirinya–"


"Tutup mulutmu!"


"Kenapa aku harus menutup mulutku?" Tanyanya langsung mendapatkan tinju diwajahnya saat dia tersenyum sarkas, kali ini Sean sendiri yang melayangkan tinju diwajah pria itu.


"KAU!!" Geram pria itu membalas tinju Sean, namun dengan gesit dia menghindarinya dan balik melayangkan tinju diwajah pria itu.


"Pada akhirnya mereka berkelahi juga," gumam Nadin setelah menghela napas berat dan meraih gelas minum dihadapannya.


Dalam hitungan detik suasana kantin kembali ricuh seperti sebelumnya, aku yang berniat membantu Sean pun tak bisa melakukan apapun karena perkelahiannya dengan orang-orang itu semakin menjadi. Lalu temannya pun ikut berkelahi membantu Sean, bahkan Teo pun sudah ikut bergabung menghajar anak-anak yang mengabaikan peringatan darinya.


"... tapi Nadin, kalau Teo tidak melindungi Sean, lalu kenapa dia mau repot-repot menghentikan pertikaian mereka? Dia bahkan sampai ikut berkelahi seperti itu karena peringatannya diabaikan," tanya perempuan dihadapan Nadin menarik perhatianku.


Aku yang berdiri tak jauh dari tempat Nadin duduk pun kembali mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Mengalihkan perhatianku dari perkelahian anak laki-laki dihadapanku.


"Tia, kau belum sadar?" Ucap Nadin balik bertanya sambil memperhatikan Teo yang sedang berkelahi, "orang itu sedang melindungi putri dari keluarga Veren. Dia tidak ingin putri itu mendengar berita buruk ini di akademi. Kau ingat? Anak itu sakit dan belum masuk kelas lagi kan? Jadi dia tidak mengetahui apapun mengenai semua gosip yang beredar itu." Lanjutnya membuat perempuan dihadapannya ber"oh" ria.


"Benar juga, dia kan teman dekatnya Aster. Lalu anak berambut putih dari kelas khusus itu juga teman dekatnya kan? Putra bungsu dari keluarga Alterio."


"Sepertinya hubungan keluarga Veren dan keluarga Alterio sangat baik ya?"


"Ku dengar mereka sudah berteman dari kecil,"


"Kok Aster bisa berteman dengan anak pembuat onar seperti Carel ya?"


"Tapi kalau dilihat-lihat, anak itu cuma baik pada Aster kan?"


Bisikan beberapa anak perempuan yang diam-diam mendengarkan pembicaraan Nadin dengan temannya ditengah-tengah keributan yang mereka lihat.


"Tentu saja, siapapun yang mengganggunya akan berurusan dengannya dan pria berambut pirang disana. Jadi berhenti saja bergosip tentang berita itu," tutur Nadin sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan melewati mereka diikuti oleh temannya.


"Kalian!" Teriak Nadin membuat suasana di dalam kantin kembali sunyi, perhatian semua orang pun mulai tertuju padanya. "... benar-benar terlihat seperti orang bodoh ya?" Lanjutnya sambil tersenyum sarkas pada mereka semua.


"Apa kau bilang?" Geram anak lelaki yang tak terima dikatai bodoh selagi kerah bajunya dicengkram kuat oleh Teo.


"Siapa yang kau bilang bodoh?" Lanjut yang lainnya ikut emosi.


"Kalian semua, memangnya siapa lagi?" Jawabnya sambil menyibak rambutnya, masih dengan senyum sarkasnya.


"Aku tidak bodoh tuh," ucap Teo dengan ekspresi datarnya, dia juga belum melepaskan kerah baju pria dihadapannya.


"Kau sama bodohnya dengan mereka karena terpancing emosi saat mendengar mereka mendebatkan berita pembunuhan itu. Padahal artikelnya sudah menjelaskan semua kebenarannya. Masih saja membuat asumsi seenaknya ... apa itu bukan bodoh namanya?" Lanjutnya masih dengan suara yang cukup keras sampai membuat semua orang tak bisa berkutik, begitupun dengan Teo.


Entah kenapa aku merasa ... Nadin sangat keren sekarang, batinku tak bisa melepaskan pandanganku dari sosoknya yang sudah berjalan kearah pintu keluar setelah menatap rendah semua orang dihadapannya.


Padahal aku tidak bisa melakukan apapun, membela nama baik ibuku saja aku tidak bisa. Tapi Nadin, entah kenapa secara tidak langsung dia terlihat seperti sedang melindungiku. Dia benar-benar berbeda denganku. Dari dulu dia selalu menjadi anak yang paling pemberani daripada aku. Dia yang selalu melindungiku dan mendukung semua yang ku lakukan.


Satu-satunya sahabat baik ku ... dulu. Batinku lagi merasa sedih dengan kenyataan yang ku terima. Seandainya kesalahpahaman itu tidak pernah terjadi, mungkin aku masih bisa bersahabat baik dengannya.


"Kenapa juga aku selemah ini? Padahal aku sudah berniat melindungi Aster, tapi aku malah selemah ini. Tidak bisa dipercaya!" Gumamku merasa kesal pada diriku sendiri yang tidak memiliki kekuatan untuk melindungi Aster.


Bersamaan dengan itu pak Justin sudah datang bersama ketiga anak perempuan yang menjemputnya. Lalu pak Justin menggiring anak-anak yang berkelahi ke kantornya, termasuk Teo.


***


-Nadin-


"... Nadin?" Gumam Tia membuatku menoleh padanya sekilas.


"Hmm?" Gumamku dengan malas setelah menghela napas panjang.


"Tadi, kenapa tiba-tiba mengatai mereka semua bodoh?"


"Karena mereka memang bodoh," jawabku tak bisa menghilangkan bayangan Kalea yang terlihat kesal berdiri tak jauh dari tempat duduk ku.


Lagipula siapa yang tidak kesal mendengar ocehan semua orang yang menjelek-jelekan keluarganya? Ditambah lagi, mereka memanggil ibunya Kalea dengan sebutan pembunuh. Padahal tante Claretta tidak ikut andil dalam rencana pembunuhan nyonya Marta. Dan lagi kan yang membunuh nyonya Marta adalah orang suruhan neneknya Kalea, harusnya orang itu kan yang pantas disebut sebagai pembunuh.


Dan lagi, kenapa neneknya Kalea tidak membuka mulutnya sedikitpun dalam jumpa pers itu? Dia hanya membiarkan tante Claretta yang membuka mulutnya untuk menjelaskan semua kebenarannya, batinku bertanya-tanya.


"Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik ya?" Suara Carel mengejutkanku.


Ku lihat dia sudah berdiri tak jauh dari tempatku berdiri dengan senyum tipisnya yang penuh arti.


Beberapa hari lalu, dia menemuiku bersama dengan Teo dibelakang akademi. Dia memintaku untuk mengurus situasi seperti malam ini jika keributan terjadi saat dia tidak ada di tempat. Bukan untuk melindungi Aster, tapi untuk melindungi Kalea supaya dia tidak membuka identitasnya didepan semua orang untuk meredam gosip tentang keluarga Veren dan mantan istrinya tuan Albert.


Tentu saja aku menolaknya karena masih memiliki dendam pada mantan sahabatku itu. Untuk apa juga aku melindungi orang yang sudah mengkhianatiku? Tidak masuk akal jika aku melindunginya kan? Padahal aku sudah membuat hidupnya menderita dengan dijauhi oleh teman-temannya. Tapi dalam situasi tak terduga seperti ini, mereka malah memintaku untuk melindunginya?


Lalu untuk meyakinkanku akan sesuatu, Carel melemparkan sebuah buku harian ketanganku. Dan memintaku untuk memeriksanya, dan Teo memberikan sebuah amplop putih ketanganku sebagai tambahan.


Setelah itu mereka pergi tanpa berkata apapun lagi. Aku yang merasa dipermainkan oleh mereka sempat kesal dan berniat membuang buku dan amplop ditanganku. Tapi ku urungkan saat melihat nama dibalik amplop itu.


"Kau benar-benar sangat menyebalkan ya Carel," gumamku membalas senyuman tipisnya itu.


"Lea?" Suara Tia tak ku perdulikan.


"Hee... jadi pada akhirnya kau mempercayai isi surat itu ya? Atau kau lebih mempercayai buku harian yang ku berikan padamu?" Tanyanya dengan salah satu tangannya yang sudah dimasukan kedalam saku celananya.


"Entahlah, menurutmu bagaimana?"


"Menurutku? Sepertinya tidak lama lagi aku bisa melihat pemandangan yang bagus."


"Hah?"


"Lupakan itu, aku datang untuk meminta kembali buku harian itu. Aku harus mengembalikannya tanpa sepengetahuan anak itu."


"Hee... ja–jadi kau mencurinya diam-diam?!" Ucapku nyaris berteriak saat melihatnya mengulurkan tangan kanannya kepadaku.


"Sudahlah, cepat kembalikan!" Ucapnya setelah berdecak kesal.


.


.


.


Thanks for reading...