Aster Veren

Aster Veren
Episode 139




-Aster-


Ku hela napas letihku berulang kali saat mengingat kejadian beberapa hari terakhir ini. Entahlah rasanya sangat menyesakan, apalagi saat ayah menelpon ku malam itu.


Ayah memberitauku untuk menjauhi Carel. Aku tau ayah sangat protektif dan semua ucapannya kadang tidak menjelaskan kebenaran dari maksudnya. Namun kali ini, aku benar-benar yakin kalau ayah menekankan padaku untuk menjauhi Carel. Bahkan suara beratnya yang seperti menahan kesal itu masih terngiang di telingaku dan membuatku bertanya-tanya.


Lalu hari berikutnya aku bertemu dengan kak Dwi, kakaknya Carel yang berkunjung ke akademi untuk menemuiku. Aku sampai terkejut karena kak Dwi mengunjungiku dan bukan Carel.


Tapi setelah mendengar maksud dan tujuannya mendatangiku, aku benar-benar dibuat bungkam.


"... pagi Aster," sapa suara kak Dwi yang mengudara menghentikan langkahku menuju gedung akademi.


"Kakak?" Gumamku langsung mendapatkan senyuman lebar darinya, dengan cepat ku dekati sosoknya yang tengah berjalan menghampiriku.


"Apa kakak datang untuk menemui Carel? Dia–"


"Tidak, aku datang untuk menemuimu."


"Kenapa? Ada apa?"


"Itu ... sebenarnya," ucapnya terdengar ragu, ku lihat jari telunjuknya sudah menggaruk pipinya selagi matanya menghindari tatapan mataku. Membuatku mengernyit bingung. Namun detik berikutnya, ku lihat kak Dwi sudah menghela napas kasar dan kembali menatapku.


"Kau tau?" Lanjutnya semakin membuatku bingung.


"Apa?"


"Ayahku berusaha keras untuk menjodohkan mu dengan Carel atas permintaan ibu,"


"Ha–hah? Tapikan Carel–" Ucapku begitu terkejut dengan apa yang ku dengar, dan ditengah keterkejutan itu kak Dwi malah memotong ucapanku.


"Tapi tuan Ansel tidak menyetujuinya–"


"Tentu saja! Carel kan sudah bertunangan."


"Tidak bukan itu! Ini cerita sebelum Carel dijodohkan dengan perempuan itu."


"Maksudnya–"


"Ya intinya sebelum Carel dijodohkan dengan Lusy, ayah sudah mendesak tuan Ansel untuk menjodohkan mu dengan adik ku. Tapi tuan Ansel menolaknya berkali-kali sampai kakek tiba-tiba ikut campur dalam masalah perjodohan Carel." Jelasnya membuatku sedikit kesulitan untuk mencerna semua ucapannya.


"Lalu aku diminta menggantikan Carel untuk perjodohan yang direncanakan ayah." Lanjutnya setelah menghela napas dalam membuatku terkejut dan refleks menoleh kearah kak Dwi yang tengah berjalan disampingku, entah sejak kapan kami mulai berjalan menuju perpustakaan.


"Jadi–" gumamku kembali terpotong.


"Tentu saja ayahmu tidak menyetujuinya juga, bahkan dia mengancam ayah kalau sampai dia bersikukuh menjodohkanmu denganku. Dan tentu saja aku juga menolaknya karena aku ... aku sudah memiliki seseorang yang aku sukai," jelasnya bertemu tatap denganku.


A–ayah benar-benar ..., batinku tak bisa membayangkan ekspresi ayah saat berhadapan dengan tuan Alterio yang terus menemuinya dan mendesaknya untuk menyetujui perjodohan itu.


"Tapi kau tau Aster? Saat aku pergi ke kediaman tuan Ansel untuk memperjelas semuanya, dia malah memarahiku karena aku menolak untuk dijodohkan denganmu padahal dia sendiri juga tidak menyetujui perjodohan itu kan?" Tuturnya dengan ekspresi pucatnya.


"Dia bilang, beraninya kau menolak putriku hanya karena perempuan lain! Apa kau mau mati?" Lanjutnya memperaktekan ekspresi ayah yang dia lihat, bahkan nada bicara ayah pun dia tiru.


"Hha-haha, tolong maafkan ayahku." Ucapku merasa tidak enak padanya, entah kenapa aku juga merasa kesal saat mendengarnya. Seandainya saat itu aku berada disana, mungkin aku sudah menghentikan ayah.


"Aku benar-benar tidak mengerti dengannya, sebenarnya apa yang dia inginkan?" Gumamnya kembali menghela napas dalam sebelum menoleh padaku lagi.


"Alasan Carel dijodohkan dengan Lusy?"


"Aku pikir kau berhak tau. Tapi semuanya terserah padamu, kalau kau tidak mau tau alasannya maka aku tidak akan memberitahumu. Jadi katakan saja."


Dengan cepat ku gelengkan kepalaku saat aku merasa ragu untuk mendengarkan atau tidak mendengarkan alasan yang dimaksud oleh kak Dwi. Dan hatiku mengatakan aku harus mengetahuinya, mungkin dengan begitu aku bisa lebih memahami posisi Carel sekarang.


Dan lagi, entah kenapa aku merasa aku bisa mendapatkan alasan yang jelas kenapa ayah memintaku untuk menjauhi Carel.


"Tolong beritau aku semuanya!" Seruku membuat senyuman kak Dwi kembali merekah bersamaan dengan tangan kanannya yang sudah meraih puncak kepalaku.


"Baiklah, kita lanjutkan di dalam." Ucapnya membuatku tersadar kalau kami sudah sampai didepan perpustakaan.


***


"Jadi ...," ucapku tak bisa melanjutkan ucapanku setelah mendengar penjelasan dari kak Dwi. Aku benar-benar tidak tau kalau ada kejadian besar tahun lalu. Dan aku juga tidak menyangka kalau kakeknya Carel menjodohkan cucunya dengan Lusy untuk mencegah berita buruk tentang Carel menyebar di akademi.


Ku kira Carel hanya di ancam untuk dipindahkan ke kelas lain jika tidak menyetujui perjodohannya dengan Lusy. Ternyata ..., lanjutku dalam hati.


"... anak itu bahkan tidak tau alasan sebenarnya dia dijodohkan dengan si Lusy itu." Ucap kak Dwi menyadarkan ku dari lamunanku sendiri.


"Carel tidak tau?" Tanyaku bersamaan dengan tangan kak Dwi yang menutup buku tebal dihadapannya, sebelum kami berbicara serius di meja belakang perpustakaan kak Dwi sempat membawa buku tebal di lemari buku sejarah. Entah buku sejarah apa yang dia baca, dan lagi memangnya dia bisa membaca buku itu disaat dia sibuk menceritakan soal masalah Carel padaku?


"Tidak. Ayah bahkan melarang ku untuk memberitahunya." Jawabnya sambil meregangkan otot tubuhnya.


... keputusan tuan Ian sudah benar. Aku tau apa yang akan dilakukan anak itu jika dia mengetahui alasan dia dijodohkan dengan Lusy. Batinku membayangkan tindakan Carel yang akan langsung membuat keributan dengan pergi menemui kakeknya, lalu setelah itu entah bagaimana rumor tentangnya akan tersebar.


Aku tidak mau hal itu mengganggu pelajarannya. Apalagi dia sangat serius mempelajari ilmu medis untuk mewujudkan mimpinya yang ingin menjadi dokter dan secepatnya menyembuhkan penyakit ibunya.


"Hah~ akhirnya aku tau alasan ayah memintaku untuk menjauhi Carel." Gumamku setelah menghela napas dalam.


"Ayahmu memintamu untuk menjauhi Carel?" Tanya kak Dwi terlihat begitu terkejut, refleks ku anggukan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya itu.


"Hee ... kenapa dia memintamu untuk menjauhi anak itu? Bukankah dia akan berbuat onar jika kau– ah! Aku mengerti," lanjutnya terhenti saat mengetahui motif ayah.


... alasan lainnya, aku tidak mau ancaman Lusy menjadi kenyataan. Aku tidak ingin hubungan keluarga Alterio dan keluarga Veren hancur karena aku tidak mendengarkan keinginannya. Batinku mengingat kembali ancaman Lusy beberapa waktu lalu.


Mau tak mau aku harus menjauhi Carel apapun yang terjadi. Lalu aku harap dia tidak akan mengetahui alasan kenapa dia dijodohkan dengan Lusy untuk waktu dekat ini, kalau perlu sampai dia lulus atau selamanya.


Tapi ... apa aku bisa benar-benar menjauhi Carel? Lanjutku masih dalam hati, meragukan keputusanku sendiri.


"Maaf ya sudah melibatkan mu." Ucap kak Dwi membuatku mengangkat kepalaku yang tertunduk, ku lihat dia sudah menatapku lembut dengan senyum tipisnya. Rasanya aku ingin menangis sekarang, entah kenapa kepingan ingatan bersama Carel mulai memenuhi kepalaku sekarang.


Aku benar-benar takut kehilangannya, aku ... hatiku sakit. Mataku bahkan mulai berbayang dan panas karena genangan air mata yang ku coba bendung. Ingatan saat Carel mengecup bibirku pun ikut hadir dalam ingatanku, membuat air mataku tumpah.


Dan yang membuatku semakin sakit adalah saat aku menyadari perasaanku pada Carel, ternyata aku mencintainya–aku tidak ingin kehilangannya tapi semuanya sudah terlambat sekarang.


.


.


.


Thanks for reading...