
-Aster-
Malam ini aku pergi tidur lebih awal dengan ditemani kak Hana karena paman masih sibuk bekerja di ruang kerjanya.
"Kenapa masih belum tidur nona?" Tanya kak Hana yang duduk dipinggir tempat tidurku, lalu tangannya mulai mengelus keningku dengan lembut.
"Kak Hana tidurlah disampingku sini." Jawabku sambil menepuk ruang kosong disampingku.
"Hhaha... tidak bisa nona, seorang pelayan seperti saya tidak boleh tidur bersama nona." Tutur kak Hana membuatku bingung.
"Kenapa tidak bisa? Sebelumnya juga kita pernah tidur bersama di kamar kak Hana, kenapa sekarang tidak bisa?" Tanyaku mengingat saat-saat aku tidur bersama dengan kak Hana.
"Itu ... sudahlah nona tidur saja sekarang. Pejamkan mata nona, saya tidak akan pergi sebelum nona tertidur. Dan lagi, bukankah besok nona akan pergi ke kediaman nyonya besar bersama tuan muda?" Jelasnya mengalihkan pembicaraan.
Kalau dipikir lagi, saat makan malam tadi ... paman merah juga memberitauku soal acara besok. Paman bilang nenek ingin bertemu denganku, dan paman juga banyak menceritakan soal nenek dan ayah .... Batinku merasa gembira saat mengingat pembicaraanku dengan paman.
Tak bisa ku bayangkan kalau aku memiliki seorang nenek lagi, bahkan saat ini aku merasa semua kebaikan yang ku dapatkan ini seperti mimpi. Ku harap ayah juga ada disana, dan ku harap ayah dan nenek sebaik paman merah. Lanjutku dalam hati tak bisa berhenti membayangkan kebaikan ayah dan nenek yang belum pernah ku temui.
"Kak Hana benar, sepertinya aku harus tidur sekarang." Ucapku sambil memperhatikan senyuman hangat kak Hana yang membuatku ikut tersenyum lebar sebelum ku pejamkan mataku.
Tik ... tok ... tik ... tok ....
Suara jarum jam yang mengganggu indra pendengaranku saat mataku mulai terpejam, padahal belum lama aku menutup mataku, tapi rasanya waktu seperti sudah berlalu berjam-jam lamanya. Bahkan sekarang aku bisa mendengar suara pintu kamar yang terbuka lalu kembali tertutup.
Uh kak Hana pasti sudah pergi sekarang karena mengira aku sudah terlelap, tapi aku benar-benar tidak bisa tidur sekarang. Batinku kembali membuka mataku dan segera meraih gelas berisi air diatas meja yang terletak disamping tempat tidurku.
Aku harus bisa tidur sendiri ... paman bilang aku harus tidur tepat waktu supaya tidak memiliki lingkaran hitam dimataku. Jadi mari kita tidur sekarang Aster! Kali ini harus benar-benar tidur ya. Batinku terus mengoceh setelah selesai meneguk habis air didalam gelas itu. Lalu kembali berbaring dan memejamkan mataku setelah melihat jam dinding yang menunjukan pukul 08:54 malam.
Lagi-lagi jarum jam itu terdengar lebih jelas saat mataku terpejam. Bahkan suasana ruangan ini semakin sunyi dan tak ada suara keributan diluar kamar. Rasanya benar-benar terlalu sepi sampai aku merasa takut, sampai akhirnya ....
"Ugh ... aku tak bisa bernapas, sa–sakit sekali. Le–leherku ...." Gumamku merasakan cengkraman tangan seorang pria dewasa dileherku, dan secara perlahan ku buka mataku untuk melihat siapa yang melakukan hal sejahat ini padaku.
"Pa–paman Tesar?" Lanjutku saat mengingat kejadian ini, dengan susah payah aku berusaha melepaskan cengkraman tangannya yang semakin mengerat membuat napasku tercekat, dan leherku semakin terasa sakit. Bahkan tanpa sadar air mataku sudah mengalir deras karena tak kuasa menahan rasa sakit yang ku terima.
"Seharusnya aku menghabisimu lebih cepat." Tuturnya terdengar menakutkan dalam ruangan gelap seperti ini, hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari pintu kamar yang terbuka sedikit. Suara hujan terdengar samar ditelingaku terkalahkan dengan suara gemuruh petir.
"Ke–kenapa paman ... me–melakukan ini? A ... Aster salah–apa?" Tanyaku terbata-bata bersama dengan air mataku yang semakin deras keluar, bahkan air liurku ikut keluar karena kesulitan menelan ludahku akibat cekikannya itu.
Ku lihat tatapan tajam yang menakutkan itu membuatku semakin bergidik ngeri dan ingin berteriak meminta tolong, tapi suaraku tak bisa keluar lebih keras lagi karena tercekat.
"Le–lepaskan paman, ini ... sangat sa–kit. Pa–paman ...." Lanjutku memohon belas kasihan darinya, namun hanya seringai mengerikan dan tatapan tajam yang terlihat bercahaya yang ku lihat saat cayaha kilat petir terpantul dari kaca jendela kamarku.
"Aster? Aster bangun Aster!" Terdengar suara seseorang memanggil namaku samar dan disaat bersamaan aku membuka mataku. Lalu ku dapati sosok paman merah yang terlihat cemas dengan ekspresi khawatirnya yang terlihat jelas diwajahnya.
Bahkan tangannya menggenggam erat tangan kananku, dengan cepat aku bangkit dari posisi terbaringku dan memeluk paman merah seerat mungkin. Aku sendiri tak menyadari buliran bening yang sudah membasahi wajahku, yang ku inginkan saat ini hanyalah mendapatkan pelukan dari ibu. Tapi aku tau itu tidak mungkin terjadi, maka ku putuskan untuk terjun kedalam pelukan paman.
"Paman hiks ...." Gumamku saat menyadari semua itu hanya mimpi, dan aku bersyukur karena itu hanya mimpi.
"Kamu mimpi buruk lagi?" Suara paman terdengar lembut dan tangannya mengelus kepalaku yang masih membenamkan wajahku dalam pelukannya.
"Apa kamu memimpikan hal itu lagi?" Lanjutnya membuatku mengangguk lemas dan segera menelan ludahku saat membayangkan tangan besar itu mencengkram leher kecilku dengan erat.
Ku dengar kak Hana menceritakan mimpi buruk ku pada paman merah, dan paman memberitauku lalu menanyakannya secara langsung. Dan sejak saat itu aku selalu tidur dengan paman, tapi selama beberapa hari ini aku jarang memimpikan mimpi buruk itu.
"Tapi kenapa paman ada di kamar Aster?" Tanyaku sambil melepaskan pelukanku dan segera menyeka air mataku.
"Itu ... sebenarnya aku berniat untuk memastikan apa kamu sudah tidur dengan lelap atau belum. Tapi saat aku masuk, aku melihatmu menangis padahal kamu tertidur. Jadi aku langsung membangunkanmu, syukurlah aku datang untuk melihatmu ...." Jelasnya diakhiri dengan senyuman hangatnya.
"Paman–" Ucapku terhenti saat tangan paman meraih puncak kepalaku.
"Tidak apa-apa, itu cuma mimpi. Sekarang tidur lagi ya, aku akan tidur denganmu lagi. Besok kita akan menemui nenek." Tutur paman kembali menunjukan senyuman hangatnya.
Lalu akupun kembali membaringkan tubuhku dan paman ikut berbaring disampingku sambil mengelus keningku dengan lembut.
***
-Arsel-
Ku langkahkan kakiku menuju kamar Aster untuk memastikan apakah dia sudah tertidur dengan lelap atau belum. Aku merasa khawatir karena belum melihatnya.
""Le–lepaskan paman, ini ... sangat sa–kit. Pa–paman ...." Gumam Aster membuatku berjalan cepat kearah tempat tidurnya setelah membuka pintu kamarnya.
Ku lihat matanya masih terpejam namun ada buliran bening yang keluar dari mata tertutupnya itu.
"Hiks ...." Lanjutnya terisak membuatku segera membangunkannya, biar bagaimanapun aku tidak ingin melihatnya bermimpi buruk seperti ini.
"Aster? Aster bangun Aster!" Ucapku berusaha membangunkannya sambil mengelus pipinya pelan, berharap dia segera terbangun dari tidurnya.
"Aster!" Lanjutku berhasil membuatnya terbangun.
Syukurlah .... Batinku sambil menghela napas lega saat melihatnya menatapku dan membuatku mengeratkan genggaman tanganku pada tangan Aster.
Lalu dengan cepat Aster bangkit dari posisi terbaringnya dan segera memeluk tubuhku dengan erat, "paman hiks ...." Gumamnya mencengkram pakaianku dengan tubuh gemetarnya.
"Kamu mimpi buruk lagi?" Tanyaku berusaha bertanya selembut mungkin sambil mengelus kepalanya.
"Apa kamu memimpikan hal itu lagi?" Lanjutku membuatnya mengangguk lemas membuatku kesal saat melihatnya ketakutan seperti ini karena masa lalunya.
Aku benar-benar tak habis pikir dengan pria brengs*k yang berniat menghabisi keponakanku ini. Kenapa dia bisa bertindak sampai sejauh itu sampai membuat anak sekecil ini menderita, apa yang dia inginkan dengan menghabisi Aster? Dan bagaimana ... bagaimana Aster bisa selamat dari bedeb*h itu? Aku ingin mengetahuinya. Tapi sepertinya aku tak bisa menanyakannya langsung pada Aster .... Batinku sambil memperhatikan Aster yang sedang menyeka air matanya setelah melepaskan pelukannya.
"Tapi kenapa paman ada di kamar Aster?" Tanyanya.
"Itu ... sebenarnya aku berniat untuk memastikan apa kamu sudah tidur dengan lelap atau belum. Tapi saat aku masuk, aku melihatmu menangis padahal kamu tertidur. Jadi aku langsung membangunkanmu, syukurlah aku datang untuk melihatmu ...." Tuturku sambil memberikan senyuman terbaik ku untuk menutupi rasa kesalku.
"Paman–" Ucapnya segera ku hentikan dengan tanganku yang langsung meraih puncak kepalanya.
"Tidak apa-apa, itu cuma mimpi. Sekarang tidur lagi ya, aku akan tidur denganmu lagi. Besok kita akan menemui nenek." Tuturku berusaha untuk membuatnya nyaman dengan kembali menunjukan senyumanku.
Lalu tanpa banyak bicara, Aster pun kembali membaringkan tubuhnya dan aku ikut berbaring disampingnya sambil mengelus keningnya dengan lembut, berharap kali ini Aster mendapatkan mimpi indah.
.
.
.
Thanks for reading...