Aster Veren

Aster Veren
Episode 187




-Aster-


"Faren!" Seru Sarah membuatku menoleh ke arahnya berlari, diikuti oleh Dean dan Yuna di belakangnya.


"Kalian sudah datang." Ucapku setelah membuka toko roti paman.


Hari ini paman pergi ke suatu tempat, dan aku menggantikannya membuka toko. Lalu Dean dan Sarah datang untuk membantuku. Bisa dibilang mereka bekerja di toko paman setiap hari libur sekolah.


"Kamu sangat rajin ya." Ucap Dean saat sampai di hadapanku.


"Jadi hari ini kita akan menjual roti apa? Apa ada menu baru?" Tanya Sarah sambil merangkul ku memasuki toko dengan wajah berseri-serinya.


"Entahlah, aku pikir belum ada." Jawabku memikirkan apa yang dikatakan oleh Sarah. Mungkin idenya itu tidak buruk, tapi untuk sekarang, menu baru rasanya sedikit ... tidak bisa diterima.


"Heee, padahal akan lebih bagus kalau ada menu baru." Gumamnya terlihat kecewa sambil melepaskan rangkulannya dariku. Lalu berjalan pergi ke arah dapur dengan lesu, membuatku tersenyum canggung, begitupun dengan Dean.


Ku lihat sosok Yuna yang masih mengantuk berdiri disamping Dean sambil memegang tangan pria itu. Kepalanya yang bergoyang ke kanan dan kekiri itu membuatku gemas, dia terlihat lucu saat mencoba untuk tetap terjaga. "Yuna masih ngantuk?" Tanyaku membuat gadis kecil itu mengangguk lesu.


"Sepertinya aku membangunkannya terlalu pagi." Jawab Dean melirik adiknya.


Melihat mereka tidak bisa berpisah seperti ini membuatku teringat dengan Carel. Tapi kalau harus menceritakan Dean dan Yuna, mereka tidak bisa berpisah karena tidak ada yang bisa melindungi mereka.


Ku dengar mereka sudah hidup berdua sejak lama, keberadaan ibunya tidak diketahui. Ayahnya juga tidak ada kabar tentangnya. Yang sempat ku dengar, mereka pindah ke wilayah ini karena melarikan diri dari ayahnya tiga tahun lalu. Entah itu benar atau tidak. Tapi melihat Dean masih bisa melanjutkan sekolahnya, itu membuatku merasa sedikit lebih lega. Karena peluang untuk memperbaiki hidupnya jadi terbuka lebar.


Pasti sulit untuknya kan? Hidup berdua dengan adiknya yang masih kecil, tidak ada tempat untuk bergantung. Aku juga ... mungkin aku akan hidup sebatang kara kalau tidak bertemu dengan paman. Batinku mengingat hari dimana paman Tesar menemukanku bersama dengan tuan Albert.


"Faren, aku tidak bisa menemukan celemek ku. Apa kamu memindahkannya ke suatu tempat?" Tanya Sarah membuatku tersadar dari lamunanku.


"Ah ya, aku memindahkannya ke lemari yang di sebelah sana." Jawabku sambil menunjuk lemari yang terletak di sudut dapur saat membuka tirai dapur di hadapanku.


"Ada." Timpalnya sambil mengeluarkan celemek yang dia titipkan karena repot jika harus membawanya setiap kali melakukan pekerjaan di toko.


"Yuna, ayo bangun aku harus mulai bekerja." Suara Dean menarik perhatianku kembali.


"Uh kakak, Yuna masih ngantuk." Gumam anak itu membuatku tersenyum saat melihat anak itu menggosok matanya.


"Biar aku bawa dia ke kamarku. Kamu pergi saja bantu Sarah. Sebelum itu kalian bisa sarapan dulu." Tuturku sambil meraih tubuh Yuna dan menggendongnya.


"Tapi—"


"Tidak masalah. Biarkan dia tidur sebentar lagi."


"Baiklah kalau begitu. Dan terima kasih."


"Sama-sama." Ucapku sebelum pergi ke kamarku yang terletak di lantai dua.


Toko roti yang paman buka ini memang memiliki ruangan kosong di lantai atasnya, dan kami menggunakannya sebagai tempat istirahat atau mudahnya lantai itu adalah rumah tempat kami tinggal.


Ku lihat bibi baru selesai mencuci piring saat aku sampai di lantai atas. "Ah bibi, harusnya bibi biarkan saja." Ucapku menarik perhatiannya.


"Tidak apa-apa, hanya mencuci piring. Aku masih bisa melakukannya."


"Tapi kan—"


"Ayolah, kamu tidak perlu memanjakan ku terus. Aku sudah lebih baik dari sebelumnya. Jadi aku bisa melakukan tugasku kembali." Tuturnya memotong ucapanku. "Lalu, Yuna mau kamu bawa ke mana?" Lanjutnya bertanya saat melihat Yuna dalam gendonganku.


"Ah, pasti sulit untuk mereka ya?" Gumam bibi terlihat sedih.


"Benar."


***


"Kalian sudah sarapan?" Tanyaku saat sampai di dapur.


"Ya, terima kasih untuk makanannya. Masakan bibimu emang yang paling terbaik." Jawab Sarah sambil mengacungkan ibu jarinya ke arahku, lengkap dengan senyuman lebarnya.


"Ngomong-ngomong Faren, apa ini hanya perasaanku? Dapurnya tampak kosong." Lanjutnya membuatku memperhatikan setiap sudut dapur.


"Ah ini, bahan-bahan untuk membuat roti belum sampai. Jadi dapurnya tampak kosong, penjualnya bilang akan dikirim hari ini jika semua bahannya sudah ada." Jawabku setelah memakai celemek ku.


"Musim ini memang sedikit mengganggu ya, akan lebih baik jika musim hujan datang lebih cepat." Tutur Dean yang baru memasuki dapur, sepertinya dia baru kembali dari suatu tempat.


"Benar itu akan jauh lebih baik. Tapi aku harap hujannya datang setelah festival musim panas berlangsung." Timpal Sarah sambil berkacak pinggang dengan salah satu tangannya setelah memasukan loyang roti ke dalam oven.


"Festival musim panas?"


"Iya. Biasanya di adakan setelah musim panen berlangsung. Tapi karena panen kali ini tidak sebaik panen sebelumnya. Jadi sepertinya festival musim panas tahun ini di undur." Jelas Dean setelah meminum air yang dia tuangkan kedalam gelas.


"Hee... padahal akan lebih baik jika dilakukan seperti biasanya." Gumamku memikirkan akan sebanyak apa pengunjung di festival musim panas yang mereka katakan.


Jika pengunjungnya bisa melebihi ratusan orang. Sepertinya itu akan bagus untuk wilayah ini. Selain mendapatkan pemasukan untuk biaya hidup penduduknya, mereka juga bisa mengenalkan lebih jauh mengenai seluk beluk wilayah ini.


Apalagi setauku wilayah ini cukup hijau dan tanahnya juga subur. Jadi apapun yang di tanam di sini, maka akan tumbuh dengan baik. Tapi karena kemarau kali ini cukup panjang, itu agak menyulitkan para petani.


Dan aku memikirkan hal bagus untuk menutupi kerugian para petani dengan menggunakan festival musim panas. Tapi jika harus dipikirkan lebih dalam, sepertinya membutuhkan banyak dana. Dan mengurus semuanya akan membutuhkan banyak tenaga. Waktunya tidak pas dengan musibah yang dialami para petani.


Mengecewakan sih, tapi harus aku akui. Mereka juga membutuhkan dana untuk melanjutkan tani mereka, dan para pedagang juga membutuhkan bahan untuk jualan mereka. Membelinya di saat-saat seperti ini, sama saja dengan mengakhiri hidup mereka. Akan lebih baik jika harga beberapa bahan pokok sedikit menurun.


"... Faren?" Suara Sarah menyadarkan ku kembali pada kenyataan.


"Ya?" Tanyaku menatapnya bingung, "ada apa?" Lanjutku saat tidak mendapatkan jawaban apapun darinya.


"Apa tidak ada cara untuk menyelesaikan krisis di musim ini?" Ucapnya membuatku sedikit terkejut. Bagaimana bisa dia menanyakan hal itu padaku?


"Aku merasa kasihan pada anak-anak yang sudah menantikan festival musim panas kali ini. Tapi karena musim kemarau yang tidak bisa diprediksi kapan berakhirnya, festivalnya terus di undur." Lanjutnya yang sudah duduk dikursi dengan bertopang dagu pada meja dihadapannya, lalu telunjuk tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja dihadapannya dengan perlahan. Tatapannya juga terlihat begitu serius memikirkan hal yang dia tanyakan padaku.


Aku yang kebingungan mencari jawaban hanya bisa menghela napas dan ikut duduk dihadapannya, "sejujurnya aku juga sedikit kecewa karena festivalnya di undur. Tapi ini adalah kebijakan yang sudah diputuskan oleh pemimpin wilayah ini untuk kebaikan masyarakatnya kan? Tidak ada yang bisa kita lakukan, menurutku tindakannya sudah benar."


"Heee, menurutmu begitu?"


"Iya. Lagipula mau dipikirkan berkali-kali pun, aku tidak bisa menemukan solusi yang jauh lebih baik dari menunda festival."


.


.


.


Thanks for reading...