Aster Veren

Aster Veren
Episode 110




-Carel-


Ku langkahkan kaki ku menuruni anak tangga untuk mengambil air di lantai dasar karena air di kamarku sudah habis.


"Mau kemana Carel?" Suara pak Justin menghentikan langkahku dan membuatku menoleh kearahnya yang sudah berdiri dibelakangku.


"Ambil air," jawabku sambil menunjukan botol minumku.


"Baiklah, langsung kembali ke kamarmu setelah selesai." Ucapnya setelah menghela napas letih.


"Ya," gumamku kembali melanjutkan langkahku menuruni anak tangga setelah pak Justin melewatiku, menuruni anak tangga. Sepertinya dia baru saja selesai memeriksa kamar semua siswa dan berniat kembali ke ruangannya.


Udara malam ini sangat dingin dan lembab ya? Apa akan turun hujan? Batinku sambil berjalan menuju dispenser besar di dekat pintu masuk asrama, sedangkan pak Justin pergi kearah berlawanan.


Ku letakan botol minumku dibawah kran dispenser dan mulai menekan tombol merah diatasnya selagi tangan satuku dimasukan kedalam saku jaket ku. Berusaha untuk menghangatkan telapak tanganku yang terasa dingin.


Waktu sudah menunjukan pukul 10:00 malam saat aku melirik jam dinding yang tersimpan diatas pintu keluar asrama. Lalu mataku menangkap bayangan seorang perempuan berambut panjang dengan pakaian putih mengintip ke dalam asrama.


"Siapa?" Gumamku berhenti menekan tombol merah di dispenser dan mulai melangkahkan kaki ku mendekati jendela itu, ingin memastikan sosok yang ku lihat.


Saat langkahku semakin mendekat, mataku dibuat terkejut saat melihat sosok itu adalah Aster. Dia berdiri di depan jendela dengan pakaian tidur? Dia bahkan membawa dua botol minum ditangannya. Hidungnya juga terlihat merah, dengan cepat ku buka jendela asrama dihadapanku itu.


"Aster?" Ucapku membuatnya bertemu tatap denganku.


"Carel!" Balasnya dengan sorot mata penuh rasa lega.


"Kenapa berkeliaran dengan pakaian tipis seperti itu malam-malam begini? Dan bagaimana kau bisa melewati penjaga gerbang asrama?" Tanyaku, merasa sangat khawatir dengan udara dingin yang dia rasakan. Padahal tubuhnya terlihat begitu lemah, tapi kenapa dia tidak bisa merawat dirinya sendiri?


Lalu hal yang paling membuatku bingung adalah bagaimana caranya dia melewati penjaga gerbang asrama?


"Itu–" Ucapnya terputus saat mendengar suara pak Justin yang memanggil namaku, dia bahkan sudah berjalan mendekatiku.


"Kenapa belum kembali juga?" Tanyanya saat sampai disampingku.


"Ah, selamat malam paman." Sapa Aster dibalik jendela sambil memberikan senyuman lebarnya.


"Aster?" Gumam pak Justin terlihat sangat terkejut, "bgaimana bisa kamu ada di sini? Malam-malam begini?" Lanjutnya mempertanyakan hal yang sama denganku.


"Ah itu ... hatchim!" Jawabnya terjeda oleh suara bersinnya, sepertinya dia benar-benar kedinginan berdiri diluar dengan pakaian seperti itu.


"Masuklah dulu!" Seru pak Justin sambil membukakan pintu asrama yang sudah dikunci olehnya, lalu tak lama kemudian Aster pun masuk ke dalam dengan penampilan yang cukup mengkhawatirkan.


Ya, pakaian tidur lengan panjang berwarna putih tipis selutut dan rambut hitamnya yang berantakan akibat tertiup angin di luar. "Itu ... aku di minta mengambilkan air panas oleh ibu asrama untuk Kalea yang sedang sakit, tapi di asrama perempuan tidak ada air panas karena dispensernya rusak. Air di dispenser lainnya pun sudah habis. Dan kantin sudah tutup, jadi ... ku pikir aku bisa memintanya di asrama laki-laki. Ibu asrama juga memerintahkanku untuk mengatakan hal ini pada penjaga gerbang asrama di depan, jadi aku dipersilahkan masuk setelah pak penjaga itu menghubungi ibu asrama untuk memastikannya." Jelasnya panjang lebar dengan suaranya yang terdengar sedikit ketakutan. Mungkin dia takut dimarahi oleh pak Justin.


"Begitukah? Kalau begitu aku harus memanggil orang untuk memperbaiki dispenser yang rusak di asrama perempuan, atau ku beli baru saja ya?" Gumam pak Justin berusaha mempertimbangkan keputusannya, "sebaiknya besok aku periksa dulu ... tapi Aster, kamu tidak seharusnya keluar dengan pakaian seperti ini? Kamu bisa sakit jika memakai pakaian setipis ini." Lanjutnya membuatku mengangguk mantap, menyetujui apa yang dikatakan oleh pak Justin.


"Maaf, aku sangat panik saat melihat kondisi Kalea. Jadi tanpa sadar aku keluar dengan memakai pakaian seperti ini." Gumamnya bersamaan dengan tangan pak Justin yang sudah merebut dua botol minum di tangan Aster.


"Ngomong-ngomong Carel, kau pergi kemana? Kenapa aku tidak melihatmu di kantin?" Tanya Aster saat bertemu tatap denganku.


"Ada," jawabku membuatnya mengernyit bingung. Terlihat tak mempercayai jawabanku.


"Kemana?" Tanyanya lagi membuatku menghela napas letih sambil membuka jaket yang ku kenakan dan mengenakannya pada tubuh Aster.


"Di kamar." Jawabku sambil menatap manik ungunya sekilas, lalu ku pasangkan resleting jaketku setelah memakaikannya pada tubuh Aster.


"Di kamar?" Tanyanya membuatku kembali menatap manik ungunya yang memantulakan bayangan wajahku. Dan ku rapikan rambutnya yang berantakan itu.


"Ya, aku sudah makan lebih dulu dan kembali ke kamar untuk mengerjakan pekerjaan rumahku." Dustaku sambil menarik tanganku dari kepalanya dan mengusap tengkuk ku.


"Benarkah? Tapi, kenapa waktu itu Teo bilang kau akan segera tiba saat aku menanyakanmu?" Gumamnya membuatku merasa kesal pada sosok Teo. Padahal sudah ku peringatkan untuk menutup mulutnya rapat-rapat.


"... itu, tadinya aku memang berniat untuk pergi ke kantin lagi. Tapi pekerjaan rumahku sangat banyak, jadi ku urungkan niatku." Jelasku kembali berbohong, berharap dia akan berhenti menanyakan kemana aku pergi sore ini. Karena aku tidak mau memberitau kondisi ibu padanya, aku juga tidak ingin terlihat lemah dihadapannya sampai membuatnya telihat khawatir.


"Begitu ya, ku kira kau berurusan lagi dengan perempuan lain yang menyatakan perasaannya padamu. Ternyata bukan ya," Ucapnya sambil menganggukan kepalanya membuatku terpaku saat melihat ekspresi lega dari wajahnya.


Kenapa? Ada apa dengannya? Kenapa sampai berpikiran ke sana? Batinku bertanya-tanya dengan degupan jantungku yang mulai berdebar-debar saat melihat senyuman Aster yang mulai terpancar dari wajah cantiknya.


"Ini, sudah ku isi dua-duanya." Ucap pak Justin disamping Aster sambil memberikan kembali dua botol minum ditangannya pada Aster.


"Terima kasih paman." Jawabnya kembali menunjukan senyuman manisnya, "kalau begitu Aster pamit sekarang ya, aku tidak bisa membuat Kalea menunggu terlalu lama lagi. Selamat malam paman, Carel!" Lanjutnya segera berjalan mendekati pintu asrama.


"Selamat malam juga Aster." Ucap pak Justin bersamaan dengan langkahnya yang kembali terhenti, membuatku mengernyit bingung. Bagaimana tidak? Dia bilang, dia sedang buru-buru. Tapi kenapa malah menghentikan langkahnya?


"... ah–jaketnya! Aku–" Ucapnya sambil menoleh padaku, dengan cepat ku potong ucapannya itu.


"Pakai saja! Kau bisa mengembalikannya lain kali." Ucapku membuatnya mengangguk dan segera berlalu dari hadapanku.


"Kau yakin tidak akan mengantarnya sampai pintu depan asrama perempuan?" Tanya pak Justin membuatku menoleh kearahnya berdiri sambil mengernyit bingung.


"Memangnya boleh?" Ucapku balik bertanya.


"Kalau aku melarangnya apa kau akan kembali ke kamarmu?"


"Tidak, aku akan mengantar Aster. Jangan kunci pintunya dulu!" Jawabku segera berlari ke luar asrama untuk pergi menyusul Aster.


.


.


.


Thanks for reading...