Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 19: Xavier vs Shiva, part 1



XAVIER berada di hadapan Shiva sebelum mata sempat mengerjap, kepalan tangan kanan sudah mengarah pada ulu hati sang kaisar. Tetapi pukulannya gagal menemukan target.


Shiva menangkis kepalan tangan itu dengan tangan kirinya, sedang kaki kanannya sudah terangkat menuju pinggang kiri sang commander. Sayangnya persepsi Xavier mengantisipasi hal itu. Lutut kirinya sudah terlebih dahulu mementalkan kaki tersebut sebelum pinggangnya tertendang.


Xavier mengetahui sekarang dirinya lebih cepat, walaupun itu hanya sedikit. Namun, pukulan demi pukulannya selalu berhasil ditangkis dan diblok. Begitupun dengan tendangan-tendangannya. Shiva bahkan turut menyerang di sela-sela bertahan, tetapi serangan sang kaisar selalu berhasil Xavier blok.


Mereka bertarung dalam jarak dekat, dengan tangan kosong. Namun, bagi orang biasa, yang mata mereka lihat hanyalah kejutan udara kecil saat tangan atau kaki mereka berbenturan.


Memanfaatkan sihir yang baru saja ia dapatkan, gravitasi di dalam ruangan seketika menjadi sepuluh kali lebih kuat. [Reverse Law] membuat Xavier tak terpengaruh oleh gravitasi yang ia buat, tetapi lawannya tidak memiliki [Reverse Law]. Pun dia tidak memiliki anti-gravitasi. Hal itu terlihat jelas saat Shiva gagal menghindari dua pukulan beruntun Xavier, yang sontak membuatnya menghantam dinding adamantite tebal yang dicat putih dan dipenuhi rune.


Belum sedetik berlalu, percikan petir biru keputihan berlapiskan api hitam menjalar ke seluruh penjuru ruangan, dan mayoritasnya menerjang sang kaisar. …Hanya untuk dihempaskan oleh dinding angin tebal dan bertekanan tinggi. Mengikuti dinding angin yang menyedot udara ke dalamnya adalah gumpalan-gumpalan angin berbentuk berbentuk kerucut. Tekanan udaranya begitu besar hingga bernapas akan menjadi sulit.


Xavier tentu saja tak membiarkan hal itu berlama-lama memperparah keadaan.


Belum genap sedetik setelah kemunculannya, semua angin itu menghilang tak berjejak. Pada saar yang bersamaan, tombak petir berbalutkan api hitam bermanifestasi di tangan kiri Xavier, kemudian dengan cepat ia mengayunkannya ke belakang. Shiva sudah berada di sana mencoba menyerangnya dari titik buta—sayangnya sekarang Xavier sudah punya [Sensory Magic].


Namun, tak perlu diherankan dari pengguna [Divine Insight], dia tidak lagi berada di sana saat tombak petir Xavier mengayun dengan sempurna. Pemuda berambut hijau gelap yang beberapa tahun lebih tua dari Xavier itu sudah mendarat belasan meter dari dinding.


Xavier lantas sekali lagi meninggikan gravitasi sepuluh kali lipat, menjadikan total gravitasi menjadi seratus kali lipat dari normalnya.


Kemudian Xavier menggunakan [Reverse Law] dan menghentikan semua pergerakan yang terjadi pada tubuh Shiva. Sang kaisar—yang sebelumnya tak bereaksi berlebihan terhadap peningkatan gravitasi—seketika terdiam bagai patung. Dan, belum berlalu satu detik, tombak petir Xavier sudah menusuk dada atas Shiva. Kurang dari sedetik setelah itu, kaki kanan Xavier sudah menghantam perut Shiva—dengan kuat menekannya pada dinding adamantite yang keras.


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, dan tanpa bertele-tele, telapak tangan kanan Xavier langsung mencengkeram wajah sang kaisar.


[Divine Insight] dan Soul of Sacred Waterfall, akan kuambil keduanya dari—!


Mata Xavier melebar penuh keterkejutan. Tubuh ini…tidak ada jiwanya. Xavier tidak bisa melakukan apa pun dengan Magic Container.


“[Reverse Law] memang merepotkan. Sihir gravitasi pun juga. Tubuh itu tak diuntungkan untuk melawanmu.”


Xavier menghanguskan tubuh Shiva menjadi abu, kemudian dengan cepat membalikkan badan. “Jadi, kau bisa memindahkan jiwamu tanpa perlu formula yang hampir diselesaikan Artemys,” simpul Xavier dengan ekspresi serius.


Berdiri hampir dua puluh meter di depan Xavier adalah pria yang seluruh tubuhnya (selain mata) dibaluti perban. Sedangkan pakaian, dia hanya mengenakan celana hitam sebetis, tidak lebih. Dia tak memakai baju, tidak pula alas kaki. Hanya celana hitam dan perban putih saja.


“Katakan, apa tujuanmu membawa Artemys ke sini saat kau nyatanya tidak memerlukan bantuannya?”


“Xavier von Hernandez, kau adalah ancaman bagi Veria.” Berkata Shiva, gravitasi yang besar tampaknya tak lagi memberinya kendala berarti. “Aku tidak bisa melihat masa depanmu terlalu jauh, tetapi melalui masa depan orang lain bisa kuketahui kalau kau berbahaya. Melenyapkan nyawamu akan membawa kedamaian bagi Veria dan dunia. Matilah, persembahkan nyawamu. Jadilah pengorbanan bagi dunia yang damai.”


Xavier mengernyitkan kening. Mana dalam tubuhnya tidak berkurang, dan Grand Order tidak bekerja. Ini berbeda dengan saat menghadapi Vermyna. Saat itu mana-nya berkurang dan Grand Order bekerja, tetapi Vermyna kebal akan sihir yang berhubungan dengan hukum. Namun, bagaimana dengan sekarang?


“Itu spell yang menarik, tetapi sayangnya tubuh yang dalam keadaan mati tidak bisa lagi mati.” Shiva melangkah perlahan. “Nah, sekarang mari kita lanjutkan pertarungan ini.”


Xavier langsung berteleportasi ke sisi lain ruangan saat tiba-tiba Shiva dalam tubuh yang baru sudah berada di hadapannya.


Shiva sudah mengantisipasi perteleportasiannya; laser energi abu-abu kehitaman menerjang Xavier tepat saat ia muncul di lokasi yang teleportasinya tuju.


Xavier sekali lagi merasa beruntung karena memiliki [Sensory Magic]. Jika tidak, tentu ia akan terlambat dalam merefleksikan laser itu dengan [Reverse Law]. “Grand Order: Kneel!” serunya, telapak tangan kanannya mengarah pada sang kaiser.


Shiva tidak bisa melawan. Dalam sekejap dia sudah dalam keadaan berlutut—berlutut sebagaimana berlututnya seorang subjek pada rajanya.


Dengan Grand Order, jiwanya sekalipun akan turut berlutut. Tidak seperti sebelumnya, jiwanya tidak akan bisa kabur. Meskipun Shiva sudah menyiapkan tubuh lain untuk didiami, dia takkan bisa melawan Grand Order.


Seharusnya begitu. Dan Xavier juga berasumsi begitu. Meyakininya begitu. Namun, untuk alasan yang tak bisa ia tetapkan, …Xavier merasa ada yang janggal. Terlebih lagi, …ini terasa lebih mudah dari semua pertarungan yang sudah ia lalui.


Mengernyitkan kening, Xavier memutuskan mengesampingkan kekhawatiran itu untuk sesaat; prioritas utamanya adalah mengambil [Divine Magic] atau Soul of Sacred Waterfall, atau kedua-duanya.


Xavier melesat ke hadapan Shiva dan meletakkan telapak tangan kanan ke atas kepalanya. “Akan kubuat kau tak berdaya, barulah setelahnya hukumanmu—”


“Dimulai?”


Mulut Xavier menutup. Terkejut bukan saja atas kehadiran suara itu, tetapi juga pada kenyataan kalau Magic Container-nya tak bisa menarik apa-apa. Apa dia bisa mengendalikan tubuh boneka seperti Sakhra? Bertanya Xavier dalam hati seraya menoleh ke belakang.


Seorang wanita berambut hijau gelap pendek sebahu keluar dari distorsi ruang yang muncul begitu saja. Wanita itu lima centi lebih tinggi dari Monica. Matanya hijau gelap juga, tiada memancarkan kehidupan apa pun. Jubah hitam bergaris tepi biru membungkus tubuhnya, dan dia menggunakan kalung dengan simbol unik sebagai liontinnya.


“Tidak mengherankan aku merasa semua ini terlalu mudah,” gumam Xavier sembari menghancurkan Shiva berperban menjadi abu. “Tetapi tidak kusangka kau akan mengontrol tubuh wanita. Semesum apa sebenarnya kau ini?”


“…”


“Atau, kau sebenarnya wanita yang berpura-pura menjadi pria? Ah, kau juga menggunakan tubuh pria. Hm…apa kau sebenarnya tidak normal?”


“…Summoning Magic:—” Shiva bertubuh wanita menyatukan kedua telapak tangannya. “—Six Beasts of Hell.”