Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 18: Contrast, part 4



Shiva memang menutup mata, matanya tidak melihat dunia yang disembunyikan kedua kelopak mata.


Namun, dunia yang berputar dalam kepalanya jauh lebih detail dari apa yang sepasang mata bisa komprehensikan. Ia pengguna [Divine Magic]. Ia pemilik Soul of Sacred Waterfall. Xavier bersembunyi darinya tentu mustahil. Dia bisa mengelabui inderanya, tetapi tidak dengan sihirnya. Shiva tahu Xavier telah membagi tiga dirinya. Ia bisa melihat mata merah darah itu memandang penuh siaga padanya.


Menyerang pemuda itu sekarang juga tentu memberinya peluang yang lebih besar untuk menang—akan susah baginya menang jika hanya tubuh ini sendiri yang melawan Xavier berkekuatan penuh. Namun, seperti yang sudah ia katakan sebelumnya pada Artemys, ia tidak berencana menyakitinya. Dan lagi pula, membiarkan Xavier berpikir dirinya berada di atas angin akan lebih menguntungkan.


Lalu, yang terpenting, semakin lama mereka bertarung, semakin banyak energi kehidupan pemuda itu yang bisa diserap. Karena itu, Shiva sama sekali tidak masalah dengan duduk diam tak bergerak. Ia akan menunggu Xavier lain tiba dengan tenang, dan itu takkan lama. Kurang dari du…satu menit.


...* * *...


Meskipun wajahnya tak memberikan ekspresi apa-apa, Shiva benar kalau Artemys merasa senang mengetahui Xavier benar-benar datang. Bagaimana bisa ia tidak? Kedatangannya adalah alasan utama mengapa ia masih di sini.


Artemys sudah mengubah tempat teleportasinya sehingga mereka akan berada di Imperial Palace jika formula teleportasi ia aktifkan. Pada akhirnya ia memang tidak mendapatkan jawaban untuk mengibuli kemampuan Shiva, tetapi ia tahu ke tempat Kanna adalah solusi untuk melarikan diri. Tidak peduli seperti apa ancaman emperor muda itu, bahkan dirinya tidak akan nekat untuk menangkapnya jika ia bersama Kanna.


Bisa jadi ucapannya yang tak ingin mencari masalah dengan Kanna dusta. Namun, meskipun itulah kenyataannya, Artemys yakin Kanna tidak akan kalah. Pun Shiva tidak cukup bodoh untuk datang sendiri ke Nevada. Dia tidak terlihat seperti seseorang yang akan datang mempersembahkan nyawa.


Shiva bisa melihat masa depan, kemungkinan terjadinya kejadian itu tentu sudah diketahui juga olehnya jika itu mungkin terjadi.


Karenanya, teori Artemys kalau target utama Shiva adalah Xavier semakin terbukti. Ia hanyalah alat untuk membuat Xavier datang. Entah Shiva menginginkan api hitam atau tujuan tertentu lainnya, Artemys tidak memiliki peran apa pun selain sebagai umpan. Formula rune yang sedang ia tulis ini…intuisi Artemys mengatakan kalau Shiva tidak memerlukannya.


Mengetahui itu, tindakan yang paling normal untuk dilakukan adalah berteleportasi dari sini dan mengatakan pada Kanna untuk ke sini, bukan begitu?


Sayangnya Artemys mengabaikan opsi itu. Seorang putri sudah seharusnya diselamatkan oleh seorang kesatria. Mengapa ia harus mematahkan hal yang normal dalam cerita-cerita romansa fantasi seperti itu? Lagipula, itu akan berkontradiksi dengan tujuannya. Dan yang paling penting, Artemys memiliki keyakinan Xavier bisa mengatasi Shiva.


Dalam kondisi normal, Artemys tidak akan mungkin berpikiran begitu. Namun, pada akhirnya ia tetaplah wanita. Wanita mana yang tak ingin melihat prianya bersusah payah memperjuangkannya?


...* * *...


Jenny memandang penuh kekhawatiran pada nonanya yang fokus menyelesaikan formula rumit yang tak ia mengerti. Ia ingin menolong, tetapi ia tahu tak ada yang bisa dilakukan. Memegang tabung kaca yang berisikan darah, hanya itu yang bisa ia perbuat untuk membantu. Ada terpikir dalam benaknya untuk mencoba menghabisi sang kaisar, tetapi Jenny sangat mengerti kalau dirinya akan tewas sebelum belatinya sukses menyentuh kulit pria berambut hijau gelap itu.


Shiva menunjukkan diri seperti orang yang kata-katanya bisa dipegang, tetapi siapa yang bisa memastikan itu sebagai kenyataan?


Dia tidak melakukan hal buruk sekarang karena dia membutuhkan Artemys untuk menyelesaikan formula yang dia perlukan. Jika formula itu selesai, artinya dia tak lagi memerlukan bantuan Artemys. Pria itu bisa menghabisinya, atau menjadikan nonanya sebagai sandera. Dia mengatakan kalau Xavier akan segera tiba; menjadikan Artemys sebagai sandera untuk menangkap Xavier adalah hal yang paling logis untuk dilakukan.


Jenny memiliki [Possession Magic]. Jika ia menggunakan sihir tersebut untuk menguasai tubuhnya lalu bunuh diri, mungkin ia akan bisa membunuh Shiva. Namun, mengetahui kalau Shiva Rashta bukan individu biasa, peluang jiwa Jenny kembali ke tubuhnya hampir nol. Ia akan mati bersama dengan Shiva. Hal itu membuatnya tak bisa membantu Artemys mengatasi orang-orang yang ada di pojok ruangan. Ia khawatir nanti mere—


Jenny dengan cepat mengenyahkan kekhawatiran itu. Nonanya, Artemys el Vermillion, bukanlah seorang idiot. Pun dia tidak emosional. Jika ia menggunakan [Possession Magic] dan membunuh Shiva, hal pertama yang akan Artemys lakukan adalah mengaktifkan lingkaran sihir yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Orang-orang itu takkan bisa menyakiti Artemys; nonanya akan selamat.


Namun…bagaimana jika gagal?


Shiva bisa melihat masa depan. Tidak mustahil dia sudah melihat kejadian dirinya menggunakan [Possession Magic] pada sang kai—


Jenny dengan cepat menganulir kemungkinan itu. Ia hanya seorang assassin yang berperan sebagai maid, tidak memiliki kemampuan lain yang spesial. Mengapa orang seperti Shiva akan repot-repot melihat masa depannya? Kemungkinan pria itu bahkan tidak meregister keberadaan Jenny dalam memorinya. Dia bahkan tidak pernah memandang mata Jenny.


Orang-orang kuat dan bertalenta akan cenderung mengabaikan orang biasa yang takkan mampu mengancam mereka, sangat lumrah jika Shiva juga begitu. Rencananya memanfaatkan [Possession Magic] memiliki peluang berhasil yang sangat besar.


Lagipula, seperti yang Shiva bilang, Xavier akan segera tiba. Jika ia gagal membunuhnya dengan [Possession Magic], ia bisa menahan Shiva sampai Xavier datang. Xavier juga luar biasa kuat. Jika dia yang di sini, dia tentu akan bisa mengatasi pria itu.


Memantapkan niat, Jenny mengerahkan mana untuk me—


Buuum!


—Ledakan petir menelan seisi ruangan dengan intensitas yang gila. Jenny spontan mengabaikan niatnya dan memeluk tubuh Artemys yang tersentak kaget—menjatuhkan sang putri ke altar, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng. Jenny tidak memedulikan jika petir itu akan mengabukan tubuhnya. Isi pikirannya hanya satu: melindungi Artemys.


Namun…petir itu tak pernah menyentuh tubuhnya, dan tiba-tiba ia merasakan perubahan tiba-tiba pada alas tempat Artemys ia baringkan paksa.


“Sekarang tidak apa-apa, Jenny. Terima kasih sudah mencoba melindungi Artemys.”


Baik dirinya maupun Artemys spontan mengalihkan pandangan pada pemilik suara.


“Sekarang kalian berada di kediaman Eileithyia. Kalian aman di sini. Aku akan kembali lagi dalam waktu yang tak lama.”


…Dan Xavier menghilang dari pandangan, membuat pandangan keduanya tertuju pada seorang wanita yang duduk dengan wajah datar di atas singgasana kayu yang beberapa tempatnya ditumbuhi daun.