Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 19: Xavier vs Shiva, part 2



Ketika enam Magical Beast keluar dari enam lingkaran sihir yang Shiva manifestasikan, Xavier langsung tahu kalau kata “Hell” yang disematkan sang kaisar pada nama makhluk panggilannya tidak memiliki arti secara literal. Keenam makhluk itu hanyalah Magical Beast, tetapi keeksistensiannya dikatakan telah punah. Mungkin itulah yang Shiva maksud dengan “Hell”-nya ‒ seseorang harus bersusah payah laksana di neraka untuk mendapatkan mereka.


Keenam hewan itu memiliki ukiran nama di dahi mereka. “Agni” tertulis di kepala singa berkulit badak berekor empat. “Hano” adalah nama gorilla bersayap dua. Kambing berkaki delapan dan bergigi tajam bagai buaya bernama “Croco”. Nama “Ravana” dimiliki burung unta berkaki empat dan bersayap api. Cobra berkepala tiga dengan punggung yang berduri bernama “Covra”. Dan, yang terakhir, kucing bertelinga empat dan bersayap dua belas memiliki ukiran nama “Sakra” di kepalanya.


Mereka semua kuat, jauh lebih kuat dibandingkan Magical Beast mana pun yang pernah dijumpai di Hutan Besar Amarest di Islan. Setiap satu dari mereka Xavier perkirakan bisa mengalahkan kraken dewasa. Dan, melihat bagaimana “Sakra” duduk dengan tenang di atas punggung “Croco”, bisa Xavier asumsikan kalau kucing merah bersayap dua belas itu adalah yang terkuat.


“Habisi dia!” titah Shiva wanita, dan seketika keenam Magical Beast itu beraksi.


Xavier dengan cepat menciptakan gelombang api hitam yang mengarah ke segala arah. Bersamaan dengan itu percikan petir menyala dan membabati apa saja yang ada, sedang dua buah pedang api hitam berkerapatan super tinggi telah terbentuk di kedua tangannya. Tak berhenti di situ, Xavier kembali melipatgandakan gravitasi sepuluh kali lipat, membuatnya menjadi seribu kali lebih kuat dari semula.


Gelombang api hitam bercampurkan petir itu tiba-tiba tertarik ke satu arah, seseorang yang telah muncul belasan meter di kanan Xavier telah menyerap semuanya.


Dia pria berambut hijau pendek agak ikal. Badannya lumayan gemuk. Dia memakai atribut yang sama dengan Shiva wanita. Satu-satunya bagian atributnya yang berbeda hanyalah simbol liontin yang melekat pada kalungnya. Kedua telapak tangannya menyerap semua api dan petir Xavier. Hanya efek gravitasi yang bertahan. Namun, entah bagaimana, gravitasi tak terlihat memengaruhinya sama sekali.


Shiva versi wanita…mungkinkah dia bisa menetralkan gravitasi yang berlaku pada individu-individu terte—


Xavier tak punya waktu untuk menyelesaikan pemikirannya saat tiba-tiba enam Magical Beast sudah mengepungnya dari enam arah.


Mereka cepat, tetapi Xavier langsung menghentikan mobilitas mereka dengan [Reverse Law] sebelum serangan mereka menyentuhnya. Bersamaan dengan itu, Xavier mengayunkan kedua pedang api—menggunakan salah satu teknik pedangnya.


“Hidden Sword Art: Collection of Stardust.” Dan, seketika keenam tubuh Magical Beast itu dipenuhi sayatan yang pada menyala api hitam—kemudian dengan cepat mereka lenyap dalam kobaran api hitam.


“Pendekar pedang yang hebat. Itu teknik yang menarik. Sekarang mari kita lihat jika kau bisa mengalahkan kami.”


Suara itu datang dari sisi kiri, seseorang yang lain telah melesat melalui distorsi ruang. Xavier dengan cepat menoleh ke sana, kedua tangannya spontan memblok kedua tombak adamantite hitam milik pria berambut hijauh panjang yang diikat dengan model ekor kuda—dia tidak salah lagi adalah Shiva juga, dan dia bertangan enam.


Xavier menyadari pedang api hitamnya tidak melenyapkan tombak hitam itu, malahan api hitamnya diserap secara perlahan. Hal itu membuat Xavier mencoba mundur, tetapi Shiva bertangan enam tak membiarkan. Jika sebelumnya hanya dua tangannya yang menyerang, sekarang semua tangannya memegang tombak hitam adamantite.


Xavier benci mengakuinya, tetapi ia tersudutkan. Pipinya sudah tergores mata tombak dua kali.


“Summoning Magic: Seven Hearts Wolf.” Shiva wanita kembali memanggil Magical Beast.


Pada saat yang bersamaan, Shiva gemuk melesat menyerang Xavier dari sisi yang berlawanan dengan Shiva tangan enam—tubuhnya berbalutkan petir putih kehijauan.


Shiva gemuk menangkap kedua pedang api Xavier dan berusaha menyerapnya. Xavier spontan melepaskan kedua pedang apinya untuk diserap lalu bersalto paksa di udara sembari menghantamkan tumit kanan pada kepala Shiva gemuk. Shiva gemuk kedua lututnya tertekuk, Xavier lantas membuat gravitasi pada kakinya meningkat untuk memberi daya tambahan.


Namun, serigala hitam bertaring panjang telah terlebih dahulu memukul punggung Xavier dengan ekornya sebelum kepala Shiva gemuk hancur.


Sebelum tubuh Xavier sempat menghantam dinding, Xavier melakukan Space Reversal pada Shiva wanita yang hanya diam mengamati. Bersamaan dengan Shiva wanita yang jatuh ke lantai, mulut Xavier membuka menyemburkan Dragon Breath api hitam pada serigala hitam sebagai titik pusat.


Serigala hitam itu menyemburkan api violetnya, tetapi dengan cepatnya apinya lenyap dan sang serigala terkonsumsi api hitam. Namun, sebelum api hitam sempat merambat dan turut melenyapakan Shiva tangan enam, Shiva gemuk sudah menyerap semua api hitam yang ada.


“Betapa lawan yang memuakkan,” desis Xavier sembari melesat menuju Shiva gemuk dengan tombak api hitam di kedua tangan.


Shiva gemuk menciptakan dua buah tombak petir. Dan, seperti Xavier, dia melesat menyerang dengan kedua tombak yang mengacung tajam.


Xavier sengaja tak menangkis kedua tombak itu dengan kedua tombak apinya. Saat kedua ujung tombak petir satu inci dari menusuk kedua dadanya, Xavier melakukan Space Reversal dengan Shiva wanita. Dan, bersamaan dengan Shiva wanita tertusuk dua tombak petir, dada Xavier dihantam sebuah pukulan keras—yang sontak menghempaskan tubuhnya pada dinding.


…Rupanya satu Shiva yang lain lagi—kali ini berbadan kekar dan berkepala plontos—sudah datang.


Xavier mendecih dan mendaratkan diri. Pukulannya kuat, tetapi tidak sekuat pukulan Sataniciela yang tempo hari ia hadapi. Namun, tetap saja menerima pukulan itu terus menerus takkan baik bagi tubuhnya. Menyebalkan, dan sekarang menjadi mengkhawatirkan.


“Berapa banyak tubuh boneka yang bisa kau kendalikan sekaligus?” tanya Xavier dengan mata yang mengarah pada ketiga Shiva lainnya.


Shiva bertangan enam masih dalam keadaan berlutut. Shiva wanita jatuh terjerembab. Shiva gemuk memandang Xavier datar. Dan yang terakhir, Shiva berkepala plontos mengarahkan telapak tangan kanan ke arah sang commander. “Kau akan segera mengetahuinya,” katanya datar, dan seketika tubuh Xavier tertarik ke arahnya.


Xavier mendecih dan dengan cepat meng-Space-Reversal-kan diri dengan Shiva gemuk. Tanpa memandang ke arah Shiva kepala plontos, Xavier memukul punggung Shiva wanita yang lagi terkapar dan melenyapkannya dengan kobaran api hitam. Dan bersamaan dengan berkobarnya api hitam menelan tubuh Shiva wanita, tangan kiri Xavier mengarah ke Shiva tangan enam—seketika membuat tubuh itu diselimuti api hitam yang membara.


“Kau memiliki teknik yang merepotkan, Xavier von Hernandez.” Berkata Shiva kepala plontos dengan kerlipan mata yang berbahaya—Shiva gemuk sudah berdiri tepat di kanannya. “Meski aku mengetahui kau akan menggunakan teknik itu, menghindarinya mustahil. Dan perintah 'Kneel'-mu itu telah membuatku sedikit emosi.”


“Aku tak mau mendengar komplain itu darimu. Melawanku dengan boneka…sungguh pengecut sekali. Dan kau menganggap dirimu emperor?”


“Kau tak seharusnya mempermasalahkan, sejauh ini kau telah memberikan perlawanan yang mengagumkan. Tubuh boneka Sakhra takluk hanya dengan satu tubuh bonekaku (meskipun itu tubuh boneka yang paling superior), kau seharusnya berbangga diri karena telah menghabisi dua tubuh boneka utamaku.”


“…Dan kau mempermasalahkan teknikku,” komentar Xavier dengan bola mata yang memutar sembari berdiri tegak dan menghela napas. “Tapi terserahlah," tambahnya. "Hasilnya sama saja. Kau akan kehilangan tubuh bonekamu satu per satu, sebelum kemudian tubuh aslimu akan menyusul.”