Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 6: Preparation, part 2



Senyap untuk beberapa saat mengisi ruang singgasana, sebelum kemudian berbagai geraman sayup terdengar.


Kemarahan yang diarahkan padanya begitu jelas terasa, tetapi Reinhart abai. Itu tidak masalah baginya mereka mau bereaksi seperti apa. Ia menggulung kembali surat, memasukkannya ke dalam saku jubah.


“Her Highness menginginkanku kembali dengan jawaban,” kata Reinhart. “Aku akan menunggu paling tidak dua jam, jika sampai dua jam Elf Kingdom ma—”


“Tidak perlu.”


Suara datar nan dingin sang ratu memotong ucapan Reinhart tanpa permisi.


“Kau bisa pergi sekarang. Waktumu satu menit. Dan itu dimulai dari sekarang.” Bersamaan dengan ultimatum itu disuarakan, bola energi berwarna merah gelap yang diselimuti percikan petir bermanifestasi di atas telunjuk kanan Evillia—dan ukurannya makin besar setiap detiknya.


Reinhart tidak mengatakan apa-apa lagi, ia langsung menghilang dalam silauan lingkaran sihir teleportasi.


“Camelia, aku ingin semuanya berkumpul dalam satu jam.” Evillia bangkit dari singgasananya segera setelah memberi perintah, kemudian ia melangkah lurus menuju pintu ruang singgasana.


...—Imperial Palace, Nevada, Vermillion Empire—...


“… Itu saja. Kita akan menyerang dengan separuh Divisi 12 dan semua Divisi 11. Ah, sebelum kau pergi, Xavier, aku punya satu pertanyaan untukmu.”


Xavier menaikkan sebelah alis mendengar hal itu. Tadi malam ia sudah berbaikan dengan Monica, dan gadis itu mengatakan hanya memberitahu Kanna perihal Desa Carnal tanpa menyebut apa pun yang berhubungan dengan iblis dan Throne of Heaven. Pun Monica tidak mengatakan apa-apa tentang mereka yang dilarikan ke Elf Kingdom. Dan ia juga yakin kalau Nueva menyembunyikan aksi rahasianya dari sang putri.


Xavier juga bisa menyimpulkan kalau Nueva tidak mengatakan mengapa Kanna harus mengobservasinya. Karena telah mendengar cerita Monica, Kanna tentu akan tiba pada kesimpulannya sendiri. Dan berdasarkan pada hal itu, kemungkinan yang menjadi pertanyaan Kanna hanya satu.


“Jika dalam duel yang telah kalian sepakati itu dimenangkan olehmu, apa kau akan membunuhnya?”


Xavier membiarkan bibirnya melengkung tipis mendengar hal itu. “Apa kau akan menghalangiku?” Xavier tak menunggu respons Kanna. Ia langsung berdiri dan melangkah pergi. Namun, Xavier tak pergi sebelum sekali lagi melempar kata: “Jika kau ingin menghalangiku, lakukanlah. Itu pun jika kau bisa. Namun, bukankah kau sendiri yang mengatakannya, kalau keadilan harus ditegakkan?”


Bibir Kanna melengkung tipis mendengar ucapan Xavier itu. Ia tidak mengatakan apa pun, hanya memandang diam Xavier yang pergi. Bukan, Kanna bukan tersenyum lembut, apalagi senang, melainkan senyum menyesalkan.


Aku tak bisa memberi api itu padamu, batin Kanna, tangan kanannya terangkat, memunculkan api hitam tak biasa yang Retsu berikan padanya—tetapi api itu menghilang dengan cepat. Dan kau benar, keadilan harus ditegakkan. Karenanya, aku melenyapkan api ini. Aku sendiri yang akan menentukan apa yang harus dilakukan. Aku akan menguasai Rune Magic Manifestation dan menjadi simbol keadilan.


Kanna membulatkan tekadnya, ia akan memikul beban itu. Retsu telah memercayainya untuk melakukan apa yang ia rasa benar. Tidak membiarkan ayahnya dan Xavier saling membunuh adalah apa yang ia rasa benar. Ini bukan saja tentangnya, Retsu, Hernandez, Xavier, dan ayahnya. Sama sekali bukan. Ini juga untuk Islan. Ia akan menyatukannya dalam visinya, bukan lagi dalam visi ayahnya.


Tapi pertama sekali, aku harus menjadi lebih kuat; aku harus bisa menggunakan kekuatan dua belas seraph pada saat yang bersamaan dan selama yang kumau.


“Yang Mulia?”


Mata Kanna mengerjap. “Ah, ayo pergi, Emily. Pelantikanmu hari ini kita lakukan secara informal; kita akan lakukan pelantikan secara formal bila semua masalah saat ini selesai diatasi.”


Emily mengangguk. “Jika Yang Mulia tak keberatan,” ucapnya setelah berdiri. “Apa maksud dari percakapan singkat itu tadi?”


“Itu…kurasa lebih baik jika tidak ada yang tahu, Emily; ini urusan yang agak personal. Ini juga berhubungan dengan His Majesty. Aku harap kau bisa mengerti.”


“Terima kasih. Ayo, His Majesty sudah menunggu.”


...* * *...


Ketika Xavier tiba di penginapan tempatnya dan Monica bermalam, gadis berambut pirang itu sudah akrab dengan resepsionis. Mereka saling tertawa seolah sudah lama mengenal. Xavier membiarkan dirinya tersenyum kecil. Ia tidak bisa secepat itu akrab dengan orang lain, terlebih mereka yang “tidak penting” dalam urusan yang besar. Akrab dengan orang lain adalah keunggulan yang Monica miliki.


“Yo! Commander Xavier!”


“Ah, Xavier, kau sudah kembali rupanya.”


Xavier mengangguk pada keduanya, menghampiri mereka. “Terima kasih telah menemani Monica, Resepsionis.”


“Resepsionis? Aku ini punya nama, lho! Ah, jangan bilang kau sudah lupa namaku, Commander?”


“Tentu saja tidak,” bohong Xavier. “Aku lebih suka memanggilmu Resepsionis. Karena, panggilan seperti itu menunjukkan kalau kita cukup akrab, bukan?”


“Dusta!” seru Monica, dan sang resepsionis dengan cepat menganggukkan kepala. “Kejam sekali, kau, Commander! Padahal kita sering berjalan bersama sewaktu kau masih menginap di sini dulu….”


“Xavier….”


“Monica,” tegas Xavier sebelum keduanya sukses membawa dirinya ke dalam permainan mereka. “Aku, kau, dan dia tahu kalau perkataannya hanya lelucon.” Xavier mendesah pelan, menghela napas. “Ayo, kita harus segera ke Verada sekarang. Sekali lagi terima kasih, Resepsionis, ini tips untukmu.”


...—Verada, Imperial Army—...


“Apa kau punya rumah di sini, Vier?” tanya Monica begitu mereka tiba di kota paling barat kekaisaran.


Xavier menggeleng. “Aku anggota militer kekaisaran, tidak berkeluarga, sebatang kara; untuk apa aku membeli/mendirikan rumah di sini?” Xavier mendesah pelan. “Aku tinggal di barak. Kau bisa menempati kamar Emily.”


“Oh, begitu.” Monica mengangguk-angguk. “Ini akan menjadi pengalaman yang berbe—ah! Apa kamar itu bersebelahan dengan kamarmu?”


“Tentu saja,” respons Xavier cepat—selaras dengan langkah mereka. “Sudah seharusnya asisten dekat dengan commander. Sekarang, mari bergegas. Aku hanya akan memperkenalkanmu pada Heisuke dan para kapten; ada tiga kapten berjenis kelamin wanita, kau bisa akrab dengan me—”


Ucapan Xavier terputus tiba-tiba saat dalam sekejap mereka menemukan diri berada di padang pasir.


Meskipun panorama padang pasir yang terbentang sama persis dengan tempat yang sudah ia kunjungi, Xavier tahu mereka tidak diteleportasi paksa ke sana. Tidak ada sihir teleportasi yang bekerja pada mereka. Padang pasir ini pastilah ilusi, yang artinya….


“Menez,” gumam Xavier pelan, perlahan berbalik badan—Monica turut mengikuti pandangan Xavier.


Benar seperti asumsinya, Menez sudah berdiri beberapa meter di sana. Ia dalam balutan jubah Deus Chaperon. Melihat ekspresinya yang begitu serius, tidak salah lagi kalau Menez sudah mendengarnya dari Evillia/Luciel. Ia mengatakan pada Luciel untuk tidak mengatakan kebenarannya pada siapa pun. Jadi, Menez sudah pasti tidak tahu. Alasannya ke sini jelas adalah menuntut penjelasan.


“Kak Xavier, Kak Monica. Evillia sudah mengatakan apa yang terjadi padaku. Apa itu benar?”