Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 7: Blood in the Forest, part 1.5



Spell yang menurunkan anak panah bagai tetes hujan itu berlangsung hingga enam menit ‒ mana yang dikorbankan untuk menciptakan spell itu tentu tak sedikit. Xavier tahu Atland. Karenanya ia bisa menebak setidaknya Atland menghabiskan seper tiga mananya untuk menciptakan spell barusan.


Sayangnya bagi pemanah itu, ia tidak membiarkan satu anak panah pun menyakiti prajuritnya. Dan Xavier yakin hal yang sama juga berlaku dengan Kanna. Lalu Emily…Xavier tidak tahu—ia hanya bisa berharap Emily tidak melakukan hal yang bodoh.


Lima belas menit berselang, Xavier dan para prajuritnya berhasil mengurangi jumlah Magical Beast yang menyerang dan membuat kabur mereka yang tersisa.


Tentu saja itu bukan tanpa bayaran. Kemampuan Magical Beast memang penuh misteri dan berbahaya—tidak ada yang mengekpektasikan ludah beberapa dari mereka dapat mendetonasikan benda. Tak terelakkan, sebagian prajuritnya terluka parah dan sedang ditangani oleh pengguna sihir penyembuh di antara mereka.


Istirahat diperlukan. Mereka tidak bisa melanjut pergi dengan prajurit yang luka-luka. Meskipun kematian adalah normal di medan perang, tetapi menghindari terjadinya hal itu tetap menjadi perhatian. Jika prajurit yang terluka masih bisa lanjut, mereka akan turut maju bersama yang lain. Namun, jika mereka tak lagi mampu (seperti kehilangan kaki atau tangannya), mereka akan di pusatkan di tempat aman.


Sepuluh menit berlalu. Enam prajurit terpaksa diistirahatkan dari melanjutkan tugas. Tubuh bagian atas mereka lumpuh, terkena napas beracun dari Magical Beast.


Beberapa prajurit yang andal dalam sihir penyembuh sudah mencoba mengatasinya, tetapi level mereka tak cukup untuk mengatasi racun secara total. Xavier memutuskan meninggalkan mereka di tempat ini bersama dengan empat prajurit pengguna sihir penyembuh. Mereka ia tugaskan menjadikan tempat ini sebagai posko penyelematan. Selanjutnya, prajurit yang terluka akan dibawa ke sini untuk mendapatkan perawatan.


“Ini masalah yang serius. Satu nyawa pun tetap berharga; harus bisa diselamatkan jika bisa. Aku harus menekan pada para commander untuk membentuk squad khusus yang akan menangani pasukan yang terluka di medan perang. Berbeda dengan yang sudah ada, mereka mengikuti para prajurit yang ditugaskan berperang—bukannya menetap di satu tempat dan menunggu peperangan selesai untuk menyelamatkan.”


Xavier merasa sangat munafik saat ini. Ia mengatakan satu nyawa pun tetap berharga, tetapi ia menolak menggunakan [Reverse Law] untuk menyembuhkan mereka. Padahal ia bertanggung jawab terhadap mereka. Namun, masalahnya justru ia anggap lebih penting daripada nyawa mereka ‒ ia sungguh mengontradiksikan dirinya sendiri. Menjijikkan.


Setidaknya, Xavier bisa mengambil kenyamanan dalam kejujurannya pada diri sendiri, daripada mereka yang terhadap diri sendiri pun berdusta. Ia mengakui diri bukan saint; ia mengakui dirinya penuh ketercelaan; dan itu lebih baik dari mereka yang memasang wajah saint tetapi tangan berbau busuk.


“Aku sangat mendukung usulan Anda ini, Commander. Bila usulan itu disetujui, kita bisa berperang dengan peluang keselamatan yang lebih tinggi.”


Xavier mengangguk pada ucapan salah satu kaptennya, sebelum kemudian memerintahkan mereka semua untuk kembali melangkah dengan kecepatan tinggi—setinggi yang mereka bisa di hutan yang tidak bebas.


...* * *...


Segera setelah anak-anak panah itu berhenti turun, Emily langsung melesat membantu prajuritnya yang bergerombol-gerombol menghadapi Magical Beast. Tentu saja melelahkan mengatasi anak-anak panah itu, tetapi itu tak mengentikan Emily dalam menyerang para Magical Beast—atau monster dalam bahasa anak-anak. Petir pink memercik memenuhi medan, menusuk-nusuk dan menghanguskan para Magical Beast yang punya resistansi rendah terhadap petir.


Pertempuran sengit dan liar itu berakhir lebih dari dua puluh menit kemudian ‒ Emily memaksa pertempuran itu berhenti dengan menggunakan salah satu spell terkuatnya: Zeus Wrath—spell yang membuat gelombang petir melesat bagaikan tsunami yang memporak-porandakan daratan.


Emily jatuh berlutut dengan satu kaki, napasnya tersengal-sengal. Ia tidak sendiri. Ketiga kapten yang bersamanya juga terlihat lelah, tetapi tidak selelah Emily. Mengingat seberapa keras mereka menghancurkan Magical Beast, wajar jika mereka lelah. Melawan ratusan Magical Beast jauh lebih sulit dari melawan belasan ribu prajurit. Selain dari segi kekuatan, mereka juga tak bisa menerka kemampuan berbahaya apa yang Magical Beast miliki.


“Commander,” lapor seorang prajurit. “Kita kehilangan 137 prajurit di tangan Magical Beast, 121 terluka parah, 311 terluka ringan. Dan, kita kehilangan 32 prajurit akibat anak-anak panah tadi. Total kita kehilangan 169 prajurit.”


Kekesalan dan kemarahan gagal menyembunyikan diri dari wajah Emily. Namun, Emily dapat dengan cepat menenangkan diri. Memang mengesalkan mengetahui usahanya mengatasi anak-anak panah itu gagal, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah hal itu. Ini adalah apa yang terjadi di medan perang—dan ia sudah beberapa kali berada di dalamnya untuk mengerti.


Setelah beristirahat, Emily kembali memerintah para prajurit untuk berangkat—mereka punya tugas untuk dilakukan.


...* * *...


Rentetan laser petir melesat dari celah-celah pohon yang begitu banyak, Xavier secara spontan mengerahkan [Reverse Law] untuk membuat laser-laser itu kembali ke tempatnya berasal. Ledakan terdengar di kejauhan beberapa detik kemudian, membuat Xavier meminta para prajuritnya berhenti.


“Twelve Commander Xavier von Hernandez.”


Xavier menahan bibirnya dari melengkung; Luciel tahu bagaimana mendramatiskan kedatangannya. Turun dari langit seolah-olah dia adalah dewa, lalu meminta anggota Black Shadow menampakkan diri di belakangnya…. Tak mengherankan para prajuritnya dibuat terintimidasi.


“El…dan Black Shadow.” Xavier berkata sembari melaju beberapa langkah. “Kalian akan menjadi lawan yang merepotkan.”


“Kudengar kau bisa mengalahkan Undead Thevetat, Twelve Commander.”


Xavier mengeluarkan beberapa kekehan, sebelum kemudian ekspresinya mendatar dengan mata menajam. “Aku akan mengatasi mereka semua,” katanya pelan dengan tubuh yang sudah berbalutkan Enchanted Flame Armor biru. “Kalian pergilah.”


“Commander, Sir, tidakkah mereka terlalu banyak?”


Xavier melirik tajam ke belakangnya. “Aku tidak akan mengatakan untuk kedua kali,” desisnya.


Ketiga kapten memasang wajah keras, sebelum kemudian mereka menganggung dan memerintahkan batalion mereka untuk pergi.


“Oi, kau pikir akan kami biarkan?”


“Hmph!” dengus Xavier, menciptakan arena api hitam yang mengurungnya bersama anggota Black Shadow dan Luciel. “Kalian tidak punya pilihan,” katanya datar, dan pada saat yang bersamaan menggunakan [Reverse Law] untuk menghalangi siapa pun dari berteleportasi.


“Jangan buang-buang waktu untuk berteleportasi,” ucap El merespons tanya para Black Shadow yang tak bisa berteleportasi. “Commander Xavier telah menghalangi kalian dari berteleportasi.”


“Bukan saja kau pengkhianat busuk, kearogananmu masih sama seperti dulu....”


Seorang kapten Black Shadow melepas topengnya dan melompat maju hingga berada di depan El. Xavier rasanya pernah melihatnya, tetapi ia tak bisa mengingat siapa elf itu.


“Aku harap kau tidak melupakanku, Xavier; aku adalah yang menemuimu saat kau meninggalkan Elf Kingdom untuk pertama kalinya.”