Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 38: Lilithia vs Neira, part 3



…Neira sudah pasti akan terluka parah jika ledakan itu sampai menyentuhnya. Meskipun ia sudah menjelma menjadi naga, walaupun wujud manusianya tetap memiliki kulit sekeras sisik naga, Neira tidak memiliki imunitas apa pun terhadap serangan. Ia bisa terluka. Dan karena kutukan Edenia padanya telah hilang, tak ada yang bisa menghindarkannya dari kematian.


Namun, Neira tidak terluka, apalagi sampai terbunuh. Matanya tadi memang melebar penuh keterkejutan, tetapi refleksnya telah terlebih dahulu bekerja sebelum gelombang ledakan mencapai kulitnya. Sebagaimana sebelumnya ia memindahkan cermin teleportasi Lilithia, ia melakukan hal yang sama pada tombak-tombak yang meledak secara bersamaan. Dentuman besar menggema ratusan meter di atas Neira.


Kemampuan bertukar posisi itu sungguh merepotkan, batin Neira dengan mata yang melirik replika Twelfth Commander.


Jika saja ia memindahkan ledakan tombak-tombak gravitasi ke tempat replika Xavier berada, kemungkinan besar replika itu sudah hancur. Namun, momen tadi sangat riskan sekali dan Neira tak punya waktu untuk memikirkan memindahkannya ke mana. Yang bekerja sepenuhnya refleks, dan refleks hampir mustahil dikontrol.


Aku harus menciptakan kondisi di mana aku bisa menghabisi repliki itu tanpa instingnya sempat menyadari.


Neira menarik napas dalam-dalam sampai rongga dadanya penuh, kemudian melepaskan Dragon Breath berkekuatan penuh pada Lilithia. Ia juga naga di sini; sangat tak pantas jika ia tak mengeluarkan teknik andalan para naga itu.


Tetapi laju Lilithia tak terhenti. Benturan energi Dragon Breath dengan barier gravitasi sang commander membuat energi yang mulut Neira lepas dibelokkan ke kanan dan kiri. Itu hampir sama dengan apa yang Neira lakukan sebelumnya. Bedanya, Lilithia melakukan itu tanpa menghentikan lajunya.


Neira dipaksa membungkam mulutnya dan menghentikan semburan energi itu. Replika Xavier sudah berada di sampingnya, melayangkan tebasan dua pedang api hitam yang dia lakukan secara memutar. Neira menunduk ke bawah dan menukik tajam, tipis menghindari tebasan kedua pedang api itu. Kemudian Neira menyejajarkan tubuhnya dengan garis horizontal cakrawala, wajah menghadap ke atas.


Ice Magic: Freezing World!


Spell Neira seketika membekukan replika Xavier, tetapi kobaran api hitam langsung bekerja melelehkan es yang membelenggunya. Api itu melelehkan es dengan cepat, tetapi tak terlalu cepat bagi Neira untuk tak bisa memanfaatkannya. Pedangnya sudah melayang tajam, berniat menebas sang lawan menjadi dua.


Replika Xavier kembali menggunakan kemampuan bertukar tempatnya yang menyebalkan. Namun, kali ini Neira sudah mengekspektasikan hal itu. Selubung gravitasi telah melapisi tubuhnya begitu ia muncul dengan tiba-tiba di dalam kobaran api hitam. Sebagaimana segalanya yang tak bisa lepas dari pengaruh gravitasi, semua api hitam terhempas dan lenyap dari ketiadaan. Pun demikian dengan replika Xavier; dia terpental setelah mencoba menebasnya.


Namun, masalah yang sebenarnya muncul tepat setelah itu. Pedang yang persis sama dengan yang ia genggam telah mendarat di belakang leher Neira. Lilithia telah memunculkan refleksi dirinya! Neira mencoba menahan tebasan gravitasi itu, tetapi tenaga pedang replikanya terlalu besar untuk ia tahan. Tubuhnya pun meluncur lurus menembus permukaan laut yang ganas.


Wanita itu…dia pasti menyembunyikan cermin itu di dalam air! Geram Neira seraya meregenerasikan bekas tebasan di tengkuknya. Ia tadi sempat memfokuskan selubung gravitasi di bagian belakang leher; hanya itu satu-satunya alasan mengapa ia selamat.


Tubuh Neira menghantam dasar laut, tetapi dengan cepat ia bangkit dan melesatkan tubuhnya ke atas.


Dengan Lilithia yang memunculkan replika dirinya, memenangkan pertempuran akan mustahil. Jika ia mau menang dalam kondisinya yang sekarang, ia harus menghabisi Lilithia secara langsung. Mengetahui Lilithia, Neira yakin wanita itu sudah mengantisipasi skenario itu. Melakukan trik yang sama seperti yang ia lakukan pada replika Thevetat akan sangat amat sulit.


Jika begitu, aku tak punya pilihan lain. Neira menyimpulkan sembari memfokuskan mana pada pedangnya. Aku, dia yang mencari sang dewa, dia yang diberkahi sang dewa, dia yang dikutuk sang dewa, dia yang ditinggalkan sang dewa. Eksistensi yang tenggelam dalam isolasi abadi; keberadaan yang terhanyut dalam semu ketiadabatasan. Release, Draco Cor Infinitium!


...


Lilithia tak berpikir ia akan kehilangan tiga per empat kapasitas mana-nya hanya untuk menciptakan replika Neira berikut pedangnya. Tetapi itulah yang terjadi. Namun, Lilithia tidak menganggapnya sebagai kesalahan. Neira kuat. Jumlah mana-nya yang terbuang adalah bayaran yang sepadan untuk mendapatkan replika sang lawan. Dan sekarang kemenangan sudah berada di tangannya.


Setidaknya, itu adalah apa yang Lilithia yakini dengan sepenuh hati setelah Neira dihempaskan ke dasar lautan. Namun, keraguan mulai menyelip ke dalam dirinya saat tiba-tiba pilar energi berwarna biru dan hitam bermunculan satu per satu dari dalam lautan. Jumlahnya mencapai puluhan, dan kesemuanya melengkung di ketinggian menuju satu titik pusat, membentuk bola energi biru gelap bertekanan tinggi.


Tepat saat replika Xavier dan Neira melayang di kanan dan kiri sang commander, Neira yang asli melesat keluar dari air seperti anak panah yang lepas dari tali busur. Dia cepat, dan penampilannya juga sudah berbeda. Rambutnya menghitam, sayap naganya menghilang, dan sisik-sisik naga memehui dahi dan pipinya.


Neira melesat tinggi menuju bola energi sebesar kepala manusia itu. Tepat saat Neira berada di bawahnya, bola energi itu berubah bentuk menjadi pedang dan menyatu dengan tangan kanan sang wanita. Energi biru gelap yang berkobar layaknya api seketika membaluti tubuh bagian bawah Neira.


Dan saat itulah mata mereka kembali bertemu tatap.


Lilithia mengumpat keras karena terperangah dengan apa yang ia saksikan. Ia spontan memerintahkan replika Xavier dan Neira untuk menyerang. Pada saat yang bersamaan, kedua tangan Lilithia ia rentangkan ke atas. Lengkungan gravitasi raksasa yang kemudian menjadi gelembung super masif yang mengurung Neira pun tercipta. Lilithia juga membuat selubung gravitasi mengitari tubuh replika Neira dan Xavier, melindungi mereka dari gravitasi besar yang ada dalam gelembung.


Tetapi hal yang mengejutkan terjadi. Bukan, itu bukan karena Neira terlihat seolah tak terpengaruh oleh gravitasi yang besar. Itu impresif, tapi tak mengejutkan. Yang membuat Lilithia melebarkan mata penuh keterkejutan adalah apa yang terjadi setelah Neira melepaskan tebasan pedang energinya.


…Replika Xavier dan Neira terpotong dua tanpa mereka bisa berbuat apa-apa. Kemampuan merefleksikan Xavier menjadi tak berguna. Dinding gravitasi replika Neira menjadi sirna. Hanya dengan satu tebasan, dan dua pion andalan Lilithia langsung lenyap. Tak berhenti di situ, tebasan pedang energi itu juga turut membelah gelembung gravitasi miliknya.


Lilithia spontan menarik kembali keyakinannya. Ia telah menyia-nyiakan tiga per empat jumlah mana-nya!


“Sudah cukup,” gumam Lilithia pelan, teramat pelan. Kedua matanya kehilangan emosi, hanya pandangan dingin yang dia berikan pada sang lawan. Selubung energi ungu yang mengelilinginya menghilang, tergantikan aura gelap yang mencekam. “Absolute Gravity: Infinite Density.”


Langit seketika menggelap.


Bukan. Bukan karena tiba-tiba muncul awan yang memayungi udara atau matahari tiba-tiba redup. Melainkan karena cahaya tak lagi mampu memasuki area beradius sepuluh kilometer dari tempat Lilithia melayang. Sebagian benua bagian utara sampai hancur dan lenyap. Begitu juga dengan permukaan laut. Semua dikonversikan menjadi energi. Dinding gravitasi yang terbentuk begitu kuat sampai cahaya tak mampu menembusnya, sampai ruang-waktu pun terbelok.


“…Mari selesaikan ini, First Commander Lilithia von Sylphisky.”