Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 12: Loyalty, part 4



Marcus tak menyembunyikan kernyitan di kening. Crow telah menjadi lebih kuat. Bahkan dari tempatnya berdiri, jumlah mana yang memenuhi tubuh Crow terasa jelas oleh Marcus. Itu seperti ia sedang berdiri di hadapan First Saint yang sedang marah. Marcus benci mengakuinya, tetapi keringat dingin di pelipisnya tidak berbohong: ia merasa sedikit terintimidasi.


Menggeleng kepala pelan, Marcus mengusir rasa terintimidasi yang mulai menyusup ke dalam dirinya. Itu tidak penting telah menjadi sekuat apa Crow. Dengan [Translocation Magic], ia tidak bisa dikalahkan. Tentu saja Marcus tidak sedang menjadi terlalu percaya diri; ia hanya percaya dengan kemampuannya.


“Majulah!” seru Marcus, dada membusung dan sejurus kemudian melepaskan Wind Magic: Dragon Breath. Namun, berbeda dengan efek sebelumnya, kali ini Crow hanya mengulurkan telapak tangan kanannya ke depan. Dan, semua energi yang spell Marcus hasilkan terserap oleh telapak tangan itu


“[Absorption Magic], huh.” Marcus mengarahkan telapak tangan ke arah pedangnya tergeletak—membuat pedang itu seketika melesat cepat ke arahnya. “Itu sihir unik yang merepotkan. Namun—” Marcus tak menyelesaikan ucapannya. Ia langsung melesat menyerang sang vampire begitu gagang pedang besarnya tergenggam erat di tangan kanan—tubuhnya sudah berbalutkan zirah cahaya.


Ayunan pedang besar Marcus membentur lengan kiri Crow. Jika sebelumnya Crow terseret beberapa meter, kali ini hanya beberapa langkah saja. Marcus tidak memedulikan hal itu. Ia menarik pedangnya dan kembali mengayunkannya dengan kuat. Crow memblok setiap ayunan dengan sempurna. Ada kesempatan di mana Crow bisa menyerang balik, tetapi dia tidak melakukannya.


Marcus mendecih menyadari itu, melayangkan lututnya mencoba melukai wajah sang vampire.


Namun, Crow dapat memblok hantaman lutut itu dengan lengannya yang lain. Dan, kali ini sang vampire tidak menyia-nyiakan kesempatan menyerang balik. Kaki kanannya sudah melayang mencoba menghantam bahu kiri sang saint. Marcus coba memblok tendangan itu dengan lengan kiri. Tetapi ia langsung menyesali hal itu. Tubuh Marcus terpental puluhan meter, terseret lagi beberapa meter, dan akhirnya berhenti setelah menubruk seonggok mayat prajuritnya.


Translocation Magic: Translocation Damage, batin Marcus, dan seketika tubuhnya kembali ke kondisi prima. Translocation Damage bekerja mirip dengan [Healing Magic]. Jika [Healing Magic] menggunanakan mana untuk menyembuhkan, Translocation Damage mengorbankan mana untuk menggantikan luka yang tubuhnya terima. Berbeda dengan [Healing Magic] yang butuh proses untuk menyembuhkan, spell Translocation Damage bersifat instan. Asalkan mana-nya mencukupi, ia takkan terbunuh dalam pertempuran.


“Cih, tendangannya begitu keras,” sebal Marcus sembari melepas zirah adamantitenya, kemudian menyatukan kedua telapak tangan. “Light Magic: Ultra Armor.”


Jika sebelumnya tubuhnya hanya dibaluti cahaya, kali ini cahaya yang membaluti tubuhnya membentuk rupa sedemikian sehingga terlihat selayaknya armor sungguhan. Tubuh Marcus tertutup dari ujung kaki ke ujung kepala. Saint muda tersebut seolah telah menjelma menjadi manusia cahaya.


“Crow, kali ini takkan kuberi belas kasihan.” Dengan dengusan itu, Marcus melesat dalam kecepatan tertingginya.


Namun—


“Ghuahhh!”


—Marcus terhenti tiba-tiba, kepalan tangan Crow sudah mendarat dengan telak di perut sang Saint. Armor cahaya itu pecah berkeping-keping. Satu-satunya alasan mengapa Marcus tak terpental adalah empat rantai hitam kelam yang telah melilit kedua tangan dan kakinya—dan dua rantai lain yang melilit keras diafragma dan lehernya. Rantai-rantai itu keluar dari enam lingkaran sihir hitam berukuran kecil.


Marcus mengerahkan segala kesadarannya untuk menggunakan [Translocation Magic], tetapi ia tak bisa melakukannya. Marcus tidak bisa mengerahkan mananya. Jangankan itu, ia kehilangan rasa pada mananya. Itu seperti mana dalam tubuhnya telah berhenti mengalir, membuatnya tak bisa menggunakan sihir.


“Sihir utamaku adalah [Hellish Chain],” kata Crow dengan tubuhnya yang diselimuti percikan petir. “Rantai ini tidak saja beracun, mereka juga bisa menekan aliran mana. Rantai-rantai ini pun lebih keras dari adamantite yang paling murni. Dan yang terpenting, aku bisa menggabungkan petirku dengan rantai-rantai yang melilitmu. Nah, Saint Marcus, apa kau punya kata-kata terakhir?”


...———...


Neix sekarang mengerti satu hal: Crow telah menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya darinya. Mengesampingkan kapasitas mana Crow yang telah mencapai seper sepuluh kapasitas mananya, sihir-sihirnya pun tak bisa disepelekan. Bahkan dari tempatnya duduk, ia dapat mengatakan kalau rantai-rantai hitam itu tidak normal. Dan, bagaimana dia bisa mendaratkan pukulan tanpa Saint Marcus sadari?


Apa yang Crow rencanakan dengan menyembunyikan kekuatan aslinya dari dirinya?


Neix terkekeh, membatinkan kalau semua itu takkan ada artinya lagi sekarang. Terlebih lagi, ia bisa melihat dengan jelas kalau jumlah prajurit yang tewas sudah berada di angka belasan ribu. Bawahannya sangat berguna; mereka telah mempersembahkan korban untuknya. Walaupun sekarang hanya seper empat dari mereka yang tersisa, tetapi tetap Neix menghargai usaha mereka.


“Dan sekarang aku sudah tak sabar lagi,” ucap Neix, berdiri dari singgasana dan berjalan ke depan dengan penuh arogansi. “Akan kuhabisi semuanya, dan Crow akan kujadikan persembahan terakhir. Kemudian gerbang neraka akan kubuka.”


...———...


Marcus tidak bisa memercayai usahanya akan berakhir seperti ini. Tidak, seharusnya ia sudah harus berhati-hati saat mendengar Crow mengklaim diri sebagai bawahan terkuat Vermyna—makhluk terkutuk yang tempo malam telah mencoba membinasakan Axellibra, seperti yang junjungannya katakan. Apa ia telah tumbuh arogan, seperti yang Second Saint katakan?


Marcus sekali lagi mencoba melawan, sekuat tenaga ia coba kontrol mananya. Namun, seperti yang telah Crow katakan, mananya terlalu berat untuk digerakkan. Saat ia mencoba meraihnya, itu seperti menarik tali yang ujungnya diikat pada sebuah bukit. Marcus sampai menggeram, tetapi usahanya berakhir sia-sia. Tubuhnya bahkan semakin melemah.


Marcus merilekskan tubuhnya, berhenti mencoba melawan. Ia menerima kalau semua itu tak lagi ada gunanya. Jika sudah berada dalam kondisi seperti ini, kematian adalah apa yang akan menyambutnya. Marcus tak punya delusi untuk berpikir seseorang akan menyelamatkannya. Pun ia tak khawatir seseorang akan merindukannya. Ia tidak memiliki keluarga, tidak memiliki siapa-siapa.


Jikapun ada yang akan menangisi kepergiannya, kemungkinan itu hanyalah beberapa prajuritnya. Pun sekarang ia meragukan hal itu saat menyadari anggota Eternity telah membantai para prajuritnya. Bukannya tangis kesedihan, mungkin kematiannya akan disertai kutukan kebencian oleh keluarga-keluarga yang para prajuritnya tinggalkan. Ia telah membawa mereka menuju kematian.


Karenanya, ketika mendengar pertanyaan itu diajukan untuknya, sudah jelas jawabannya apa.


Satu-satunya hal yang berharga darinya hanyalah kekuatannya.


Akan tetapi, mengetahui sekuat apa Fie Axellibra, mungkin ada tidaknya dirinya tidak akan berpengaruh apa-apa. Keberadaan Marcus tidak memberi perbedaan apa pun pada Emiliel Holy Kingdom. Lantas, apalah arti eksistensinya?


Marcus menggeleng pelan saat rantai yang melilit lehernya mengendor. “Aku tidak punya kata-kata untuk diucap,” responsnya. “Sebagai gantinya, aku ingin kau memberitahuku bagaimana kau bisa mendaratkan pukulan tadi tanpa kusadari.”


“Baiklah.” Crow mengangguk mengerti. “Aku memendekkan ruang di antara kita. Dalam persepsimu, ruang di dunia ini tidak berubah. Namun, ruang dalam persepsiku berubah. Ini adalah kekuatan sihir keduaku: [Imaginary Space].”


Begitu rupanya. Sekarang Marcus paham mengapa ia tidak melihat Crow bergerak. Ia mengerti mengapa ia tak merasakan kehadiran Crow seperti halnya teleportasi pada umumnya. Ruang dalam persepsinya dan persepsi sang vampire telah berbeda. Dengan sihir yang seperti itu, mungkin hanya pengguna sihir sensorik tingkat tinggi yang bisa menyadari apa yang Crow lakukan.


“Terima kasih untuk jawabanmu. Kau sungguh kuat, Crow Lucardia. Sekarang lakukanlah. Bunuh aku.”


“…Kau adalah orang pertama yang menerima kematian dariku tanpa melemparkan sumpah serapah padaku. Kesetiaanmu benar-benar tercermin jelas dalam ragamu. Jiwa kesatria benar-benar hidup dalam dirimu. Aku akan mengingatmu sebagai kesatria yang sebenarnya, kesatria yang berjalan di atas garis kesetiaan, garis loyalitas.”


Loyalitas?


Marcus menutup kedua matanya. “Mungkin kau benar,” katanya, menarik napas terakhir dengan beegitu perlahan.


Jika eksistensinya memiliki arti di sisi Fie Axellibra, ...mungkin kesetiaan adalah arti satu-satunya.


“Selamat tinggal, Saint Marcus Vehelmi Vandiesell.”


…Kesadaran Marcus menghilang sepenuhnya dalam lahapan petir merah kehitaman yang menggelegar. Namun, Marcus tidak merasakan sakit. Sedikit pun tidak.


Heh, [Imaginary Space], betapa sihir yang menarik.


...———...


Crow tidak memiliki banyak waktu untuk memberi hormat pada kematian Saint Marcus. Gelegaran petir yang tiba-tiba memenuhi langit menarik perhatian Crow. Bola-bola petir biru keputihan lantas turun bagaikan hujan yang tak terkendali. Namun, Crow tak menghindar; tak satu pun bola petir itu menargetinya. Sasaran bola-bola petir itu adalah sisa Knight Templar dan anggota Eternity.


“Neix,” gumam Crow secara spontanitas begitu ia merasakan kehadiran Neix beberapa meter di belakangnya. “…Aku merasakan niat membunuh darimu.”


“Karena aku memang akan membunuhmu.”


Crow spontan berteleportasi menjauh, tipis menghindari trisula petir yang jatuh dari langit.


...#####...