Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 51: Other Battlefields, part 3



Kehancuran yang menyelimuti Gugus Bukit Mherea lebih jelas daripada nyala api di malam hari. Perbukitan yang ada di sana telah berkurang seper tiganya. Bukan rata dengan tanah, melainkan hancur di sana-sini. Pertarungan yang terjadi antara vampire yang paling kuat dengan pemimpin para saint telah mengubah medan. Namun, pertarungan masih belum sepenuhnya usai.


Sebuah barier dimensi berbentuk kubus berwarna ungu tampak berdiri di antara tiga bukit yang berdekatan. Barier tersebut dililiti rantai hitam legam beraura merah. Ukurannya cukup besar: sebuah kota bisa dimasukkan ke dalam barier tersebut. Dan dari apa yang bisa dilihat, barier itu takkan hancur meski sepuluh gunung ditimpakan di atasnya.


Crow memandang hati-hati barier yang sudah ia ciptakan untuk mengurung jiwa Genea begitu tubuhnya berhasil dihancurkan. Ia belum merasakan adanya keanehan di dalam barier, artinya jiwa Genea masih berada di sana dan alam kematian masih belum menarik jiwa sang pope.


Crow tidak familier dengan kinerja alam kematian, jadi ia tidak tahu apa yang menahannya. Ia hanya berharap itu bukan karena rantai nerakanya. Namun, jika yang menghalangi alam kematian dari menarik jiwa Genea adalah rantai neraka, artinya ia telah melakukan sesuatu yang sia-sia. Kalau seperti itu kenyataannya, Crow hanya bisa mengandalkan Valeria untuk melenyapkan semua tubuh Genea.


“Crow.”


Crow tak menoleh. Pun ia tak terkejut. Ia telah terlebih dahulu merasakan kehadiran mereka sebelum suara itu memanggil. Namun, ia mengapresiasi kehadiran pemilik suara. Baru saja ia memikirkan untuk mengandalkan Valeria, dan sekarang wanita itu sudah berada di belakangnya.


“Bagaimana?” tanya Crow tanpa basa-basi. “Kau sudah menghancurkan semua tubuh itu?”


“Ya, kau bisa menghilangkan bariermu.”


Crow mengangguk pelan mendengar konfirmasi itu. Seketika rantai-rantai yang meliliti barier dimensi mulai memudar dan menghilang satu per satu. Tak seberapa lama kemudian, barier dimensi pun turut lenyap. Crow tak bisa merasakan keberadaan jiwa Genea, tetapi ia tak lagi memedulikan. Dengan hancurnya semua tubuh sang pope, jiwanya takkan mampu menahan tarikan alam kematian.


“Kerja bagus, Valeria.” Crow berbalik badan. “Bagaimana perkembangan peperangan sekarang? Di mana Nona Vermyna? Apa Axellibra sudah rata dengan tanah?”


“Emiliel Holy Kingdom sudah diambang kekalahan. Nona Vermyna sudah membunuh Fie Axellibra. Harusnya tak ada yang menghalangi kita dari kemenangan.”


Seperti yang telah diekspektasikan. Pemimpin mereka adalah yang terkuat; Crow tak bisa membayangkan Vermyna akan kalah, bahkan oleh Fie Axellibra sekalipun.


Selain Edenia sendiri, tak ada lagi makhluk yang bisa mempertanyakan kekuasaan sang ratu. Islan akan segera tunduk pada mereka. Kemudian Medea. Lalu Veria. Mereka akan mengontrol dunia dan membuat setiap makhluk melupakan eksistensi Edenia. Jejak keberadaan makhluk itu akan dihapuskan dari dunia.


“Tapi, Vermillion Empire sudah berada di pihak Holy Kingdom,” lanjut Valeria dengan kening mengernyit. “Kanna el Vermillion memimpin mereka. Kehadirannya menghalangi kami dari meratakan Axellibra. Jika bukan karena kehadiran Nona Vermyna, sekarang kami sudah menjadi tahanan manusia itu.”


“…Artinya Nona Vermyna sedang berhadapan dengan Kanna el Vermillion?”


Valeria mengangguk.


“Bagaimana dengan emperor? Dia sudah bergerak?”


“…Nueva sudah mati. Commander Xavier membunuhnya. Dia juga mengatakan agar kita, para vampire, segera meninggalkan Islan. Katanya perang ini bukan lagi urusan kita karena vampire bukan lagi makhluk Islan. Cih! Jika bukan karena dia mengonfirmasi kalau dia benar suami Nona Vermyna seperti yang Nona klaim, aku sudah pasti bakal menyerangnya saat dia bilang begitu.”


Nueva sudah mati…itu kabar yang mengejutkan. Crow mengakui kalau pria itu kuat. Mengalahkannya sangat-sangat sulit. Ia sendiri tak yakin bisa mengalahkan sang emperor. Namun, tak ada yang lebih mengejutkan melebihi kalimat terakhir Valeria. Crow bahkan sampai terdiam tak percaya.


“…Apa kau baru saja bilang kalau Nona Vermyna telah bersuami, dan El adalah orangnya?” tanya sang vampire memastikan, ia merasa ia salah mendengar.


“Jadi benar….”


Crow terdiam selama beberapa saat. Begitu juga dengan Valeria. Mereka sangat-sangat dekat dengan sang ratu, sangat setia, tapi kenapa mereka tidak diberi tahu hal itu lebih awal? Apa hubungan mereka memang sengaja disembunyikan sampai seperti itu? Crow tidak mengerti dengan apa yang ratunya pikirkan.


“Jadi, apa tindakan kita? Xavier sepertinya akan mengambil alih semuanya. Kemungkinan dia akan menjadikan dirinya penguasa Islan. Dengan Nona Vermyna dan Kanna yang sedang bertarung, Xavier tak terhenti. Dia memiliki Menez dan Ratu Eileithyia bersamanya.”


Pertanyaan Lumeira membawa pikiran Crow dan Valeria kembali ke kenyataan; mata keduanya menusuk tajam ke dalam mata mantan Third Commander.


“Kukira kita ke sini untuk menanyakan pendapat Crow tentang tindakan kita selanjutnya, bukan begitu, Valeria?”


...* * *...


Di sisi barat Kota Carmel, Rossia berdiri bagaikan batu karang di tengah hantaman ombak di lautan. Atland dan Diametra secara bertubi-tubi menyarangnya, tetapi sang saint tak sedikit pun goyah. Energi alam yang memenuhi tubuhnya memberikan Rossia kekuatan yang lebih dari cukup untuk meladeni kekuatan penuh Atland dan Diametra.


Namun, kerja sama kedua anggota Deus Chaperon itu cukup solid. Rossia selalu dibuat gagal dalam mendaratkan pukulan atau serangan mematikan. Atland telah memosisikan berbagai anak panah di berbagai tempat untuk menganggunya, dan Diametra memiliki serangan dalam skala yang besar yang membuat serangannya terganggu. Tetapi yang paling menjadi masalah, keduanya tak membiarkan ia memisahkan mereka.


“Terus terang saja, aku masih belum menggunakan kekuatan penuhku.” Berkata Rossia setelah mendarat di antara Atland dan Diametra. “Aku mencoba sebisa mungkin menghemat tenaga, tapi menangkap tikus yang berusaha keras untuk hidup memang susah. Aku akan serius.”


“Tunggu sebentar!” teriak Atland.


Rossia menaikkan sebelah alisnya, memandang pemilik suara dengan ekor mata.


“Daripada kita meneruskan pertarungan ini, kusarankan kita berhenti. Aku dan Diametra akan pergi dari sini. Kau bisa langsung ke Eden untuk menghentikan Lumeira dan Ciela dari menghancurkan kota itu.”


Rossia mendengus. “Betapa menggelikan. Sekarang kau seperti tikus yang terpojokkan. Takut mati?”


“Biarpun ucapanmu bisa dipegang,” lanjut Rossia tanpa menanti respons sang lawan. “Sir Gawain berada di Eden, dia sudah lebih dari cukup untuk mengatasi perlawanan mereka. Aku di sini akan tetap menghancurkan ka—”


Rossia melompat cepat menghindari terjangan anak panah Atland yang meluncur dari arah utara dan selatan. Dinding-dinding tanah langsung bermunculan setelah ia melompat. Sangat mudah menebak kalau Diametra ingin mengurungnya. Sebuah usaha yang tak berguna, ketusnya sembari menghancurkan semua dinding tanah.


…Tetapi Atland dan Diametra sudah tak lagi berada di tempat mereka; Rossia mendapati keduanya telah berlari ke barat. Mereka berlari dengan ekor di antara kedua kaki, para pengecut yang bedebah. Atau, mereka sengaja pergi untuk memancingnya mengikuti. Sebuah jebakan, mungkin?


Rossia mendengus dan meludah ke kiri, berusaha keras untuk tak dikendalikan amarah. Tugasnya melindungi Carmel, bukan memburu musuh. Jika mereka benar memancingnya mengikuti, ia takkan bisa ke Carmel dalam waktu yang cepat. Carmel akan hancur jika ada yang menyerang saat ia tak ada di sana.


“Para kecoa memang hanya bisa menggunakan cara licik,” kesal Rossia, mendengus pelan lalu melesat kembali ke Carmel. “Akan kubunuh mereka lain kali.”