
...—Royal Tree, Evrillia, Elf Kingdom—...
“APA kita akan bergerak sekarang juga?” tanya Camelia setelah selesai melaporkan status terkini kekaisaran. “Dengan absennya Putri Kanna, emperor, dan juga first commander, ini kesempatan emas untuk menyerang. Aku bisa memenjarakan Commander Gilbert dalam dimensi bayangan kapan saja kau suruh.”
Evillia memiringkan tubuhnya pada sandaran kiri singgasana. “Bagaimana dengan Menez, apa dia di Nevada?” tanyanya beberapa belas detik kemudian. “Jujur saja, aku tidak tahu apa yang direncanakan Xavier sekarang. Jika kekaisaran memiliki peran vital dalam rencananya, Menez akan menghalangi.”
“…Apa Menez sudah lebih kuat darimu?”
Evillia tak bisa menahan diri untuk tak mendengus. “…Ilusinya mengerikan,” ungkapnya agak enggan. “Aku tak ragu jika aku lebih kuat, tapi kekuatanku tak ada artinya jika aku sudah berada dalam ilusinya bahkan sebelum kusadari. Menez…dia bukan lawan yang bisa dihadapi secara terang-terangan.”
“Aku tak menemukan keberadaannya di mana pun di Nevada. Bahkan di keempat kota lain juga tak ada. Mungkin dia menipu persepsiku dengan ilusi, tapi aku tidak melihatnya di antara pasukan Chiron Army.”
“Hm…. Baiklah. Panggil semua Squad Black Shadow selain Squad 1. Aku sendiri akan menundukkan Nevada. Kau dan yang lainnya atasi kelima kota yang lain, termasuk Verada juga. Lakukan seefektif dan seefisien mungkin.”
“Kapan kita pergi?”
Bibir Evillia melengkung membentuk seringaian. “Kalian bisa pergi setelah semuanya berkumpul,” katanya lalu berdiri dari singgasa. “Aku sendiri akan pergi sekarang juga. Akan kutangani sendiri Commander Gilbert dan siapa pun lainnya yang ada di Nevada.”
Camelia tak punya waktu untuk menanyakan bagaimana sang ratu akan pergi. Tubuh Evillia telah lenyap dari hadapan sang elf. Sebuah tanaman bermulut dan bertaring telah menelan sang ratu. Dan sama cepatnya dengan kemunculannya, tanaman itu menyelam ke dalam lantai dan menghilang tak berjejak.
...—Nevada, Vermillion Empire—...
Kontra dengan para prajurit Imperial Army yang berjaga dan berpatroli dalam kewaspadaan penuh, para penduduk terlihat beraktivitas tanpa beban sedikit pun. Mereka tertawa gembira seolah tak ada bahaya yang mengintai. Ibukota kekaisaran benar-benar diselimuti kedamaian.
Achilles—yang berdiri di balkon lantai tiga istana—agak iri melihat bagaimana para penduduk bisa bersenda gurau tanpa beban seperti itu. Sementara dirinya…ia harus membebani pikirannya dengan situasi Islan. Pada satu sisi, ini menunjukkan keberhasilan pemerintahan kekaisaran. Mereka punya kepercayaan yang absolut pada mereka, terutama Imperial Army dan para commander. Namun, di sisi lain, Achilles merasa hal itu tidak tepat.
Wilayah kekaisaran sangat luas, terlebih setelah mereka memiliki empat vasal. Walaupun peperangan telah berlangsung di tempat lain, tak menutup kemungkinan kalau kekaisaran akan diserang juga. Mereka benar-benar tak boleh mengendurkan kewaspadaan, apalagi emperor dan Edward sudah agak lama tak kembali.
Achilles telah menyuruh Commander Cleria dan Emily untuk memfokuskan para pasukan di kelima kota. Pada detik ini, tak ada prajurit Divisi 5 dan Divisi 11 Imperial Army di Nevada. Pun Achilles telah meminta Commander Gilbert untuk hanya menyisakan lima ribu prajurit Divisi 2 di Nevada, sisanya ia suruh sebar rata ke kelima kota—terutama ke Verena yang berhadapan dengan Hutan Besar Amarest.
Sayang sekali Neir sedang tak sadarkan diri akibat meminum racun yang diperuntukkan baginya. Mungkin tak seharusnya tadi pagi ia menerima undangan salah satu mantan keluarga bangsawan. Jika tidak, Neir akan ada di sini bersamanya. Dan dengan adanya Neir dan sihir [Clairvoyance]-nya, ia bisa sedikit lebih lega karena bisa mempersiapkan jika ada kejadian tak terduga.
Achilles menghela napas, ia hanya bisa berharap tak ada serangan yang datang—terutama serangan dari pihak Elf Kingdom. Walaupun sebelumnya Imperial Army takluk, tetapi sejatinya Elf Kingdom akan kalah jika bukan karena kedatangan ratu vampire yang tiba-tiba. Achilles mengkhawatirkan mereka akan memanfaatkan kesempatan untuk membalas kekalahan itu.
“Hah! Aku akan berharap itu hanya kekhawa….”
Suara Achille tersendat, dan ia tak dapat melanjutkannya lagi. Tidak setelah ia melihat bagaimana sebuah tanaman menyeruak keluar dari halaman depan Imperial Palace dan terus meninggi hingga melampaui menara tertinggi istana. Dan sang perdana menteri langsung mengutuk ketidakberuntungannya melihat sosok yang keluar dari mulut mengerikan tanaman tersebut.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Menez yang muncul tiba-tiba beberapa langkah di samping Achilles—dia muncul dalam keadaan duduk di atas pembatas balkon. “Dia yang mengajariku menggunakan sihir, jadi aku takkan menyerangnya. Apa yang bisa kulakukan hanyalah memastikan keselamatanmu.”
Ini bukan kali pertama Menez muncul dengan sangat tiba-tiba, jadi Achilles tak terkejut. Ia sudah terbiasa. “Berapa banyak musuh yang sudah berada di kota?” tanyanya, tak merepotkan diri meyakinkan Menez. “Dan bagaimana kalau dia menginginkan kematianku?”
“Tidak ada. Aku tak merasakan siapa pun. Nona Evillia datang sendiri. Dia tipikal arogan; dia mungkin berpikir untuk menaklukkan Nevada seorang diri. Dan jika dia mau membunuhmu, aku akan memasukkanmu ke dalam dunia ilusiku. Hidupmu cukup penting; kau akan memerankan peran penting yang tak bisa dilakukan orang lain.”
Achilles terkekeh mendengar penjelasan Menez, tetapi ia tak mengomentari apa pun. Menez masih belum menjelaskan apa yang sebenarnya direncanakan Xavier. Xavier juga tak pernah memberikan indikasi khusus saat ia mencoba mengorek informasi dari sang commander saat ia berkunjung ke Verada. Xavier selalu bersikeras dia hanya ingin membantu Kanna mewujudkan keinginannya.
Namun, baik Menez maupun sang commander tak pernah menyangkal kalau sebenarnya informasi yang disampaikan Kanna adalah dusta. Xavier adalah El. Achilles tak memiliki sedikit pun keraguan. Karena itu, tak mungkin Xavier tak merencanakan apa pun setelah dipaksa keluar dari organisasi yang dia bentuk sendiri. Barangkali, membantu Kanna hanya produk sampingan. Ia takkan terkejut jika sang commander merampas tahta untuk dirinya sendiri.
Atau barangkali, ia ingin menjadikan Islan sebagai satu kesatuan yang utuh dengan Kota Sihir Maidenhair sebagai ibukotanya? Dan dia ingin aku menjadi perdana menteri?
Paling tidak, ia tak perlu mengkhawatirkan apa yang akan ayahnya lakukan. Ia tidak tahu kapan Xavier akan bergerak, yang jelas ia tak meragukan kekuatan anak itu. Mungkin juga tak lama lagi dia akan datang dan mengatakan Nueva sudah terbunuh. Achilles bukannya tak menyayangi sang ayah, tapi pria itu memang benar-benar harus dihentikan demi keselamatan semuanya.
“Akan kutunggu sampai pertarungan mereka selesai,” jawab Achilles pada akhirnya, mata memandang intens pada Commander Gilbert, Cleria, Emily, dan Edelweiss yang baru muncul dengan teleportasi. “Barangkali aku bisa mengatasinya dengan berbicara. Jika Ratu Evillia memang memiliki keinginan yang seperti kalian bilang, kukira dia takkan menolak berbicara semeja.”
...**********...
Well, kehadiran Lucifer bukanlah hal yang mengejutkan. Di prolog ATW: Initiation sudah diberi tahu langsung oleh Edenia sendiri.