Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 43: Ascension, part 1



[REVERSE LAW] gagal melenyapkan bola energi yang menyembunyikan raga Nueva. Api hitam juga begitu. Xavier berusaha keras menggunakan kedua sihir andalannya, tetapi tak ada hasil yang sesuai ekspektasi. Tidak ada penjelasan lain selain asumsi kalau energi tersebut berada di luar pengaruh sihir. Xavier juga tak berpikir itu adalah energi kehidupan.


Pada titik ini, Xavier mengerti ia tak bisa bergantung pada sihirnya untuk mengatasi masalah. Ia perlu mengandalkan fisiknya sendiri atau kedua pedang. Tentu saja ia memulainya dari kedua pedang. Adalah kebodohan jika langsung mengetesnya dengan kedua tangan – Xavier tak bisa memastikan kedua tangannya akan baik-baik saja.


Dengan kedua pedang yang tergenggam erat, Xavier melompat lalu mengayunkan kedua pedang secara vertikal dengan kuat. Ia bahkan telah melapisi tubuhnya dengan Enchanted Flame Armor demi menambah


momentum yang pedangnya lepaskan. Xavier tidak menahan diri meski hanya sedikit. Ini adalah ayunan pedang terkuatnya.


Kedua bilah tajam pedang sukses menghantam permukaan energi hitam kelam. Xavier bahkan melihat sedikit retakan pada permukaan bola energi. Namun, sebelum retakan pada permukan bola energi melebar, kedua pedang Xavier retak dan lalu hancur bagai piring yang pecah. Spontan Xavier mengerahkan [Reverse Law] pada kedua pedang, tetapi tidak terjadi apa-apa.


Xavier refleks menjauh dari bola energi itu, wajahnya diwarnai keterkejutan. Apa ia telah salah menduga?


Mendengus, Xavier menyelimuti kedua tangannya dengan mana tebal. Ia bukan Fie Axellibra yang bisa melenyapkan gunung dengan satu pukulan, tetapi ia juga tidak selemah rata-rata orang. Terlebih lagi, kali ini Xavier memusatkan kekuatan pada kedua tangannya. Meskipun ini takkan mampu melenyapkan gunung, tidak ada commander yang akan baik-baik saja setelah terkena serangannya.


Xavier melapisi Enchanted Flame Armor-nya dengan zirah petir, melesat dengan kecepatan yang lebih tinggi, menghantamkan kedua tinjunya pada bola energi.


Retakan muncul di kedua titik tempat kepalan tangan Xavier mendarat. Dan pada saat yang bersamaan, kedua tulang lengan Xavier terasa ngilu. Ia mencoba memperlebar retakan itu, tetapi Xavier terpaksa mundur ketika tidak ada kemajuan. Ia kembali mengambil ancang-ancang untuk melepaskan pukulan selanjutnya.


...* * *...


Kesadaran Nueva kembali dalam kontrolnya. Ia yakin begitu. Meskipun ia tak bisa melihat apa-apa selain kegelapan, walaupun ia tak bisa merasakan apa pun selain kehampaan, kesadarannya telah kembali. Memang, ia tak bisa merasakan tubuhnya sendiri. Namun, kenyataan kalau ia sudah bisa berpikir kembali sudah cukup menjadi bukti.


Nueva tidak tahu berapa lama sudah ia berada dalam kegelapan hampa. Ia telah kehilangan akan persepsi waktu. Satu menit? Sepuluh menit? Satu jam? Atau sehari? Entahlah. Nueva tidak tahu.


Namun, penantian yang terasa cukup lama itu akhirnya berakhir. Cahaya mulai bersinar dalam kegelapan tak bertepi. Nueva bisa merasakan tubuhnya sendiri. Ia merasa sedikit asing, tetapi pada saat yang bersamaan ia tak pernah merasa sekuat ini. Ia bisa merasakan kekuatan dalam dirinya seperti ia menyeburkan diri ke dalam air.


Sayangnya, walaupun ia tahu ada cahaya yang menyinari kegelapan, Nueva tak bisa membuka kedua matanya. Ia juga tak bisa menggerakkan tangan dan kaki. Jangankan itu, jemarinya saja tak sanggup ia gerakkan. Meskipun ia telah bisa merasakan tubuhnya, sepertinya ia masih tak memiliki kontrol. Ini tak jauh berbeda dengan bisa melihat tapi tak bisa memegang.


...* * *...


Setelah melepaskan pukulan keenam, Xavier sudah sedikit mengerti tentang apa sebenarnya energi hitam tersebut. Itu campuran antara mana dan energi kehidupan. Xavier tidak mengerti bagaimana kedua hal yang berbeda itu bisa bisa menyatu, tetapi mungkin karena itu pula sihir tak mampu memberi efek padanya. Itu bukan sesuatu yang bisa terjadi dalam keadaan normal; energi itu ada di luar pengaruh hukum itu sendiri.


Karena itu, Xavier seratus persen yakin Nueva tak bisa memproduksi energi tersebut. Apa pun yang dilakukan sang emperor di dalam sana, itu—tanpa diketahui Nueva—memicu terbentuknya energi ini. Ketidaktahuan itu juga alasan mengapa dia meminta Lilithia berjaga.


Jika Xavier bisa mengetahui rahasia di balik terciptanya energi tersebut, mungkin ia akan bisa memunculkan energi yang serupa. Bukan saja ia akan imun terhadap sihir, energi itu mungkin akan membuatnya bisa mengatasi energi kehidupan. Ia akan menjadi lebih kuat, melampaui apa yang bisa ia imajinasikan.


Oleh sebab itu pula, Xavier memutuskan berhenti mencoba menghancurkan energi tersebut—mengesampingkan kenyataan kalau kedua tangannya sudah memerah. Nueva juga akan keluar dengan sendirinya kalau dia sudah selesai dengan apa yang dia lakukan. Lebih dari itu, Xavier perlu sebanyak mungkin waktu untuk menganalisis energi tersebut.


Untuk percobaan awal, Xavier meletakkan kedua telapak tangan pada permukaan bola energi. Kemudian ia coba keluarkan mana-nya dan melapisi area di sekitar tempelan tangan dengan mana. Xavier mencoba menyelaraskan fluktuasi mana-nya dengan fluktuasi energi tersebut.


Jika Xavier tak memiliki sihir sensorik, ini adalah hal yang mustahil untuk ia lakukan. Namun begitu, meskipun bisa merasakan pergerakan energi tersebut, Xavier langsung menyadari kalau mustahil menyelaraskannya. Fluktuasi energi tersebut tidak pernah tetap, selalu berubah secara signifikan di setiap satuan waktunya.


Xavier hendak menginjeksikan mana-nya ke dalam retakan-retakan yang ada, mencoba mencari tahu apa yang akan terjadi jika ada intervensi mana asing ke dalam energi ini. Namun, secara tiba-tiba bola energi itu retak hebat lalu melepakan gelombang kejut yang besar. Xavier yang berdiri tepat di hadapan bola energi tersebut terhempas tak terelakkan, tetapi ia mampu mendarat dengan kedua kaki sebelum terhempas dari permukaan gunung.


Ketika pandangannya kembali pada sumber gelombang kejut, ia dapati energi itu sudah tak lagi berbentuk bola. Energi tersebut telah menyusut dengan cepat dan berwujud seperti raga manusia. Namun, reakan-retakan yang ada terus bertambah dan bertambah. Apabila sebelumnya warna hitam mendominasi, akibat banyaknya retakan membuat warna putih menjadi dominan. Itu seperti pecahan kaca hitam yang ditempelkan pada pilar putih berpendar.


Dan sebelum Xavier sempat menerka apa yang terjadi, pecahan-pecahan energi itu mulai kehilangan bentuknya satu per satu dengan cepat. Mereka meluruh menjadi partikel energi yang kemudian membaur ke dalam udara. Hal itu membuat tubuh Nueva yang sebelumnya tersembunyi menjadi terlihat sedikit demi sedikit. Dan kurang dari satu menit, sang emperor telah terlihat sepenuhnya.


Albino. Nueva telah menjadi albino. Kulitnya sama warna dengan kulit Thevetat. Rambut pirangnya telah memutih sempurna. Telinganya yang normal kini runcing ke atas dan ke bawah. Dan ketika kelopak mata sang emperor membuka, pupilnya telah menjadi vertikal. Sang emperor telah berubah!


“Oh, apa kau datang ingin memberiku selamat?”