
...—Imperial Palace, Nevada, Vermillion Empire—...
Ketika Kanna tiba di ruang depan istana, Xavier dan Monica sedang duduk bersebelahan di meja tamu. Ah, kurang tepat bila disebut bersebelahan. Jarak satu meter di antara mereka sama sekali tak bisa dihiraukan. Kebenaran dari ucapan Meyrin terbukti jelas. Jika bukan karena nama Monica Elsesky sudah terdaftar dalam Imperial Army, tentu gadis itu takkan mau menemani sang commander.
“Terima kasih sudah datang,” kata Kanna memberitahukan kehadirannya pada mereka berdua. “Kuharap aku tak membuat kalian menunggu lama.”
“Kami tak menunggu lama,” respons Xavier. “Namun, Divisi 12 dalam sebulan ke depan akan sibuk. Untuk menyambut pelatihan besar-besaran yang kau ajukan itu, aku ingin meningkatkan kualitas prajurit menjadi satu level lebih tinggi. Aku dan Heisuke berambisi menjadikan Divisi 12 sebagai divisi garda depan terkuat. Aku commander terkuat, sudah seyogyanya Divisi 12 menjadi divisi terkuat.”
Xavier tidak mengatakan maksudnya, tetapi dari penjelasan panjangnya tentang ambisi Divisi 12 sudah cukup bagi Kanna untuk menyimpulkan apa yang sang commander maksudkan. Namun, Kanna tidak mengomentari hal itu. Pandangannya berlabuh pada Monica yang memandangnya diam. “Kau pasti mempertanyakan alasanku memanggilmu juga, kan, Monica?” tanyanya.
“Itu benar,” angguk Monica. “Apa yang kau butuhkan dariku, Yang Mu-Kanna?”
“Aku senang kau ingat untuk tidak menggunakan honorifik padaku saat tidak berada dalam situasi formal.” Kanna merespons sembari menggestur mereka berdua untuk mengikutinya.
“Untuk menjawab pertanyaanmu, Monica,” lanjut Kanna, “aku memerlukanmu untuk menemaniku melakukan kunjungan resmi ke Avarecia. Aku sudah meminta Jeff untuk meneruskan surat pemberitahuan dariku kepada King Krassia. Kita akan langsung ke Maltase, tinggal di sana tiga malam. Kemudian dari sana kita menaiki [Manatite Carriage] ke Avarecia. Sementara untuk Xavier, aku ingin kau menyelidiki kekuatan tempur Kazarsia Kingdom, terutama kebenaran akan kekuatan Jendral Clown yang diagungkan itu.”
“Menyelediki kekuatan tempur mereka…idealnya itu tugas yang harus kau serahkan ke Divisi 3. Namun, kuasumsikan kau ingin aku mengetes sekuat apa sebenarnya Jendral Clown tanpa memberi peluang baginya untuk mendeduksi kalau aku berasal dari kekaisaran?”
Kanna mengangguk. “Itu apa yang kuimplikasikan,” katanya santai. “Silakan temui Commander Edelweiss untuk meminta informasi yang mungkin kau perlukan terkait tugasmu, setelahnya kau bisa langsung ke Kazarsia. Aku dan Monica akan tiba dalam tiga atau empat hari; pastikan kau sudah selesai dengan tugasmu sebelum kami tiba di sana. Setelah itu kau pergilah langsung ke Warebeast Great Kingdom. Ada informasi yang mengatakan kalau Alice terlihat di sana. Aku ingin kau membawanya kembali ke Nevada jika informasi itu benar.”
“Aku mengerti mengapa kau memilihku untuk menjalani kedua tugas itu. Namun…entah bagaimana aku merasa kau seolah sedang menimpakan kekesalan padaku dengan memberi tugas demi tugas.” Xavier berkata dengan sedikit kernyitan di kening.
“Kau punya masalah dengan itu, Twelfth Commaner Xavier von Hernandez?” Kanna menoleh agak ke belakang, memandang intens Xavier dengan ekspresi yang menantang sang commander untuk menyalahi ucapannya.
“Tentu saja tidak, Yang Mulia Kanna el Vermillion. Kalau begitu hamba mohon undur diri.” Dan Xavier menghilang dari tempatnya berpijak—dia sempat melirik Monica sejenak, tetapi Monica tiada memedulikan lirikannya.
Kanna mengembalikan pandangannya ke depan, menggestur Monica agar berjalan sejajar dengannya.
“Sekarang kita punya semua waktu yang kita perlukan. Sembari kita berjalan keluar dari area istana, mengapa tidak kau ceritakan alasan dirimu menyimpan kekesalan seperti itu, Monica?”
Xavier mendatangi markas Divisi 3 sebagaimana yang Kanna sarankan untuk mendapatkan informasi terbaru tentang Kazarsia Kingdom, kemudian ia langsung meneleportasikan diri ke Verada untuk mengganti pakaian. Menghabiskan waktu beberapa menit untuk membaluti dirinya dengan pakaian yang ia kenakan saat menuju Veria (tetapi kali ini lengkap dengan tudung), Xavier lantas berteleportasi ke Etharna.
Ia tentu saja tidak singgah di Etharna. Seusai berteleportasi ke ibukota Favilifna Kingdom itu, ia langsung melesat ke utara menuju Kazarsia Kingdom. Xavier tidak terbang dalam kecepatan penuh. Tubuhnya hanya melesat mendekati kecepatan suara di udara. Namun begitu, kurang dari satu jam Xavier sudah memasuki wilayah Kazarsia Kingdom.
Xavier tak melanjutkan perjalanannya dengan terbang. Itu akan menarik perhatian. Meskipun dengan [Reverse Law] ia dapat menyembunyikan diri, Xavier tak ingin mengambil risiko. Kekuatan Jendral Clown masih misteri. Ia sudah melihat bagaimana Shiva mematahkan sihir kebanggaannya. Ia tidak ingin dikejutkan oleh Jendral Clown sebelum menyelesaikan tugasnya.
Kazarsia Kingdom memiliki total empat kota. Dua kota besar, dan dua lagi kota kecil. Dari dua kota besar itu, Avarecia yang berposisi sebagai ibukota adalah yang terbesar. Lokasinya percis di utara Etharna, sejajar secara sempurna. Ketiga kota lain semuanya berlokasi di timur Avarecia. Xavier mendarat belasan kilometer di selatan Avarecia, di dekat sebuah desa besar.
Xavier memutuskan memasuki desa itu bukan untuk mengumpulkan informasi dari sana, tetapi untuk membuat jejak. Ketika nanti ia menghapi Jendral Clown untuk mengetes kemampuannya, orang-orang akan penasaran dengan identitasnya. Kepenasaranan itu akan membuat mereka mencari informasi tentangnya. Hal itu lantas mengantarkan mereka kepada desa ini. Dan berakhir di situ. Xavier akan memastikan tidak ada informasi lagi yang bisa mereka peroleh.
Karenanya pula, ia perlu menghabiskan waktu beberapa jam di desa itu sehingga mayoritas orang akan menyadari keberadaannya. Dan, untuk membuat situasi lebih menarik, ia akan membuat jejak yang akan mengarahkan investigasi kepada Emiliel Holy Kingdom.
...—Maltase, Provinsi Hongariand—...
Monica dan Kanna muncul tak jauh dari bangunan besar yang dulu menjadi simbol kejayaan Hongariand Kingdom. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju bangunan tersebut, sebuah istana kerajaan.
Kanna el Vermillion adalah wanita yang kuat, mengesankan ‒ seorang putri yang ideal. Itu penilaian jujur Monica terhadap gadis berambut pirang dan bermata biru sepertinya ini. Kanna adalah dirinya yang disempurnakan, jika ia boleh mengambil kesimpulan. Segala yang Monica bisa angankan, Kanna telah memenuhinya. Jika ia berkata tidak iri terhadap takdir yang dijalani sang putri, Monica bisa memastikan ia sedikit berdusta.
Dibandingkan Artemys penggoda yang lidahnya sangat berbahaya itu, Kanna jauh…jauh lebih baik. Jika ia harus berbagi Xavier dengan Kanna, Monica bisa mengatakan ia takkan keberatan. Ia dan Kanna berada dalam satu gelombang yang sama. Mereka bagaikan pinang dibelah dua. Ia bisa membayangkan keluarga besar yang akan mereka bangun kelak akan harmoni, berbeda dengan Artemys.
“Jika kau ingin menjauhkan diri dari Xavier untuk sementara waktu, bagaimana jika kau menjadi pengawal pribadiku saja?” saran Kanna disela-sela langkah kaki mereka. “Kau bisa menjadi pengawalku sampai Xavier membawa pulang Alice.”
Monica telah bercerita tentang pembicaraannya dengan Artemys pada sang putri. Responsnya jujur saja adalah apa yang Monica butuhkan saat ini. Ia merasa ia akhirnya memiliki seseorang yang mengerti dirinya selain Elena. Karena itu pula Monica tak segan mengangguk atas saran wanita yang bahkan Xavier akui sekarang lebih kuat darinya.
“Aku senang kau setuju, Monica. Ah, bagaimana kalau kita berkeliling? Menghabiskan waktu dengan berbelanja akan membuat suasana hati senang, setidaknya menurut survei terhadap para wanita di Nevada. Bagaimana menurutmu? Oh, tenang saja. Untuk hari ini aku akan membayar semuanya.”