
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=<>\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
...Volume 2: Favilifna Kingdom and Eternity...
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=<>\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
.....................................
...—30th June, E642| Royal Palace, Etharna, Favilifna Kingdom—...
BERITA tentang kekalahan Vermillion Empire di tangan Elf Kingdom kemarin telah sampai ke Etharna.
Itu bukanlah berita yang mengejutkan, terlebih kekaisaran hanya mengirim sekitar dua puluh ribuan prajurit. Yang mengejutkan Elmira selaku ratu Favilifna Kingdom adalah berpartisipasinya para vampire dalam pertempuran itu. Itu sesuatu yang tidak diekspektasikan sama sekali. Bahkan Neix—pria yang rela mempersembahkan nyawa demi cintanya pada Vermyna—tidak pernah berpikir hal itu akan terjadi.
Jika itu sebelum kepemimpinan Evillia Evrillia, itu takkan mengejutkan. Namun, Vampire Kingdom adalah musuh utama Elf Kingdom sejak Evillia berkuasa. Mereka tidak menyembunyikan niat untuk menghancurkan kerajaan para vampire. Elmira pernah mendengar kalau beberapa waktu silam mereka sampai bekerja sama dengan Knight Templar untuk menemukan lokasi Vampire Kingdom yang tersembunyi.
Oleh sebab itu, Elmira sangat penasaran dengan alasan di balik kejadian itu. Ia bisa berasumsi jika Vampire Kingdom bergabung dengan New World Order ‒ itu asumsi yang paling masuk akal. Namun, tidak menutup kemungkinan kalau asumsinya salah. Ia ingin memastikannya, tetapi ia tidak memiliki pesuruh yang bisa ia kirim untuk mengumpulkan informasi selain Mary—dan demi keselamatannya, Elmira takkan pernah mengirim sang necromancer jauh darinya.
Meskipun berita itu mengejutkan, yang menjadi perhatian utama Eternity saat ini adalah keberadaan Knight Templar di dekat Lembah Terlarang Ed. Elmira tentu saja tidak melihatnya sendiri, tetapi berdasarkan laporan informan terpercaya Eternity, jumlah mereka mencapai dua puluh ribu. Mereka semua berkemah tiga kilometer dari tepi terluar Lembah Terlarang Ed.
Itu pula alasan mengapa hari ini Elmira kembali bergabung dengan anggota Six Crests untuk berlutut di hadapan Neix yang sudah ia persilakan duduk di singgasana miliknya.
“Zegyus sudah memberikanku kunci untuk menghalangi Fie Axellibra dari mengetahui kita menyentuh barier yang menyembunyikan reruntuhan Kota Heavenly Crystal.” Neix mulai berbicara. “Namun, keberadaan Knight Templar di sana sangatlah mengganggu. Kemungkinan besar mereka sudah tahu tentang lokasi keberadaan Eternity dan tujuannya.”
Elmira tidak melunturkan ekspresi seriusnya saat pandangan Neix berfokus padanya. Ia sudah melakukan yang terbaik untuk menutupi keberadaan mereka dari Emiliel Holy Kingdom. Neix tentu paham hal itu. Jika pria bertopeng ini sampai menyalahkannya, ia akan mematikannya. Ah, tentu saja ia tak punya kekuatan untuk melakukan itu secara langsung. Mary yang akan melakukannya ‒ dia bisa membunuh semua orang ini jika dia mau.
“Elmira, apa kau yakin hanya Rossia Himera yang dikirim ke sini? Tidak ada orang lain? Atau, kau secara tidak sadar telah mempekerjakan seorang mata-mata?”
“Mohon maaf, Tuan Neix, kurasa pertanyaan itu lebih tepat ditanyakan pada anggota Eternity.” Elmira memberikan pandangan datarnya. “Jika ada yang lain selain Rossia Himera, itu artinya pengikut Tuan Neix telah melakukan keteledoran. Atau, orang tersebut memiliki kemampuan yang lebih dari tinggi. Jika ada mata-mata yang bekerja di sini, itu juga mengartikan orang-orang kepercayaanmu tidak becus. Aku sudah menjalankan peranku dengan sempurna.”
Elmira tidak bisa melihat ekspresi Neix lantaran topeng yang menghalangi. Namun, ia bisa merasakan kalau mata itu memicing tajam memandangnya. Entah apa yang dipikirkannya, dan Elmira pun tak berminat menelisik hal itu.
“Hebranest?” Neix mengarahkan pandangan pada pemuas kebutuhan ibunya Elmira. “Kau punya sesuatu untuk dikatakan?”
“Tidak ada, Tuan Neix. Tidak ada kecerobohan dari anggota Eternity; tidak ada satu pun mata-mata. Semuanya aman terkendali; aktivitas gelap kita juga terjaga rahasianya. Mengenai informasi tentang kita yang mereka miliki, lebih bisa dipercaya jika itu karena pengguna [Clairvoyance Magic] tingkat tinggi. Kita sedang berbicara tentang Emiliel Holy Kingdom, tentu takkan mengherankan….”
“Sepertinya Neix sedang kesal,” ucap Elmira tatkala mendudukkan dirinya kembali di atas singgasana. “Bagaimana menurutmu, Mary?”
Sang necromancer hanya mengedikkan bahu. “Yang lebih penting daripada itu, Elmira, apa yang akan kau lakukan?” tanyanya dengan ekspresi yang sedikit serius—ekspresi tanpa emosinya masih tetap mendominasi. “Jika Eternity berseteru dengan Knight Templar dan pemimpin mereka, tak terelakkan Eternity akan sirna. Neix tentu takkan peduli. Dia akan mengorbankan semuanya selama bisa melakukan ritual itu.”
“Kau tidak mengganti Eternity dengan kata ganti ‘kita’,” komentar Elmira, wajahnya beristirahat di atas telapak tangan kanan yang bertumpu di bantalan singgasana. “Kau tidak menganggap dirimu sebagai anggota tulen Eternity?”
Tentu saja Elmira sudah tahu jawabannya. Namun, ia masih ingin mendengarnya dari mulut sang necromancer. Tidak ada alasan khusus. Ia hanya ingin Mary berbicara saja, tidak lebih.
“Sudah kubilang, loyalitasku ada pada diriku sendiri.” Mary memandang datar Elmira. “Aku tidak loyal padamu. Hanya saja, dibandingkan yang lain, aku lebih suka bekerja denganmu.”
“Tentu saja, Mary, tentu saja.” Elmira memamerkan senyum serba tahu indahnya. “Tentang pertanyaanmu,” lanjutnya dengan ekspresi yang lebih serius. “Aku ingin memanfaatkan situasi ini untuk sepenuhnya melenyapkan Eternity dari kerajaanku. Aku akan menggunakan kekaisaran untuk membersihkan mereka yang bertahan di sini.”
“Bagaimana dengan para prajuritmu? Neix takkan segan menyuruh Hebranest memobilisasikan pasukanmu.”
“Ah, untuk itu, aku ingin kau memanipulasi Hebranest agar kesetiaannya hanya terletak pada ibuku. Ah, aku juga ingin kau membuat Miera setia padaku; sangat disayangkan jika dia harus mati sebagai budak Neix.” Elmira menjeda sejenak dan memandang intens sang necromancer. “Hm, aku ingin memanfaatkan Shiftor juga, tetapi sepertinya kau tidak suka dengannya. Mengapa begitu?”
“Hebranest dan Miera…menjadikan mereka bonekaku takkan sulit. Aku akan menolak jika kau menyuruhku melakukannya pada Zegyus atau Crow. Tentang Shiftor, dia menyebalkan; aku sudah lama ingin menjadikannya korban untuk memanggil Grim Reaper—entitas yang berada di atas Overlord, dia makhluk kegelapan terkuat jika mengesampingkan Thanatos.”
“Grim Reaper…ini pertama kalinya aku mendengar nama makhluk itu. Sekuat apa dia jika dibandingkan Thanatos? Kemampuan spesial apa yang dia miliki.”
“Dia sama kuatnya dengan setengah kekuatan penuh Thanatos yang asli.” Mary membawa tangan kanannya ke dagu. “Kurang lebih segitu,” lanjutnya setelah beberapa lama menimbang-nimbang. “Grim Reaper hanya bisa dipanggil jika korbannya cocok. Dan sejauh ini, hanya Shiftor yang cocok; aku belum menemukan korban lain yang bisa digunakan.”
“Untuk kemampuan Grim Reaper,” Mary melanjutkan, “dia memiliki semua kemampuan bagian kecil diri Thanatos. Hanya saja, yang membuatnya lebih spesial dari serpihan Thanatos, Grim Reaper bisa menarik jiwa dari jarak jauh. Dia bisa memperkuat dirinya dengan jiwa yang diserap. Aku tidak tahu apakah dia bisa menyamai Thanatos yang asli atau bahkan melampauinya, tetapi tidak ada salahnya untuk dicoba.”
“Ah, aku ingin melihat kau memanggilnya. Oh!” Elmira tiba-tiba berdiri dengan penuh semangat, ide spektakuler baru saja muncul di kepalanya. “Apa aku bisa mengendalikannya? Aku ingin mencoba menjadi pembawa kematian. ‘Wahai jiwa yang gelisah, sirna dan kembalilah pada kematian!’ Aku ingin menyerukannya di depan orang-orang.”
Mata Elmira berkilat-kilat. Ia bisa membayangkan dirinya mengampiri seseorang yang sedang berada dalam kerumunan. Kemudian kepada orang itu ia serukan kata-kata kematian, yang lantas membuat orang-orang itu lari terbirit-birit. Ia akan mengejar mereka sampai kaki mereka tak bisa bergerak, dan lalu mencabut jiwa mereka dengan begitu perlahan. “Apa kau mau mencoba kematian?” Pertanyaan itu akan ia tanyakan saat jiwanya tinggal di kerongkongan.
“Kau tak bisa melakukannya; Grim Reaper punya kendali atas dirinya sendiri—dia juga punya jiwa.”
…Dan kilatan di mata Elmira langsung padam, tubuhnya kembali terduduk di singgasana.