
...—Crocos, Desert Kingdom—...
Qibtya baru hendak kembali dari balkon menara istana saat tiba-tiba Venia memanggilnya dengan suara seperti seseorang yang baru saja melihat hal yang mencengangkan. Ia spontan berbalik, dan sejurus seketika ia terdiam dengan mata melebar dan wajah panik. Baik dirinya maupun Venia tak mampu mengeluarkan kata apa-apa.
Pegunungan Amerlesia yang memanjang kini bagian tengahnya telah lenyap, hancur lebur kurang dari satu detik. Kegelapan pekat menggerogotinya dalam sekejap dan kemudian menghilang tak berjejak.
Dan beberapa menit kemudian, suara ledakan yang memekakkan menghantam keseluruhan Desert Kingdom. Gelombang kejut yang ledakan sebabkan membuat pasir menggelombang layaknya tsunami yang siap meluluhlantakkan pantai. Jaraknya masih jauh, memang, tapi jika dibiarkan maka Desert Kingdom akan lenyap setelah gelombang pasir itu melewati mereka.
“Venia!” teriak Qibtya yang sudah tersadar dari keterkejutannya.
Venia Moon langsung tanggap akan teriakan sang ratu. Jika ada yang bisa menyelamatkan kerajaan mereka, itu hanyalah dirinya. Venia melompat dari balkon dan menaiki awan pasir, sejurus kemudian meluncur tajam ke timur.
...—Kota Sihir Maidenhair—...
Tak ada yang lebih dekat dengan sumber ledakan melebihi kota sihir yang Gefory Lharkantz jalankan administrasinya. Namun, ratu mereka mengambil tindakan yang cepat. Dengan sihirnya yang hebat, Hutan Basah Swamp menjadi tameng hidup yang menghalangi tembusnya gelombang kejut yang ledakan sebabkan. Negeri-negeri lain harus berterima kasih atas jasa ratu mereka itu.
“Siapa yang bertarung sampai menimbulkan kehancuran dalam skala yang luar biasa besar itu?”
Gefory tahu perang sedang berlangsung. Namun, lokasi pertempuran berada di arah timur laut. Tak sedikit pun ia menduga pertarungan akan terjadi di pegunungan terbesar di Islan. Ini mengejutkan, dan ia mengkhawatirkan peperangan juga akan sampai ke gerbang kota mereka.
“Kembali lakukan urusanmu,” kata Eileithyia yang mendarat beberapa meter di hadapan sang grandmaster. “Tak ada yang perlu kau khawatirkan,” tambahnya seraya berlalu.
“Ah, jika Yang Mulia sudah berkata begitu, benar-benar tak ada yang perlu kami khawatirkan.”
Benar, Gefory kembali mengingatkan dirinya sendiri, tak ada tempat yang lebih aman dari kota ini.
...* * *...
Xavier memandang efek yang Turn Null sebabkan dari ketinggian sepuluh kilometer. Ia telah terpental cukup jauh akibat gelombang kejut yang spell itu lepaskan. Ledakan ke udara lebih besar dari ke sekeliling; jika Xavier tak menggunakan [Reverse Law], mungkin ia akan terpental hingga ke angkasa luar. Jika ledakan itu tak membunuhnya, mungkin keabsenan udara akan melakukannya.
Atau tidak. [Reverse Law] mungkin bisa menjadikan ruang hampa menjadi ruang berudara. Ia belum pernah mencobanya, jadi Xavier tak bisa memastikan.
Xavier melayang lumayan lama pada ketinggian sepuluh ribu meter. Tanpa ada barier yang menghalangi, efek Turn Null benar-benar luar biasa. Ia harus berterima kasih pada Eileithyia dan Venia; jika bukan karena mereka, mungkin serangannya akan turut melenyapkan negeri di sekitar pegunungan. Termasuk juga Kota Verada yang seharusnya ia lindungi.
Begitu kepulan debu dan asap menghilang, mata Xavier melihat jelas bagaimana Turn Null miliknya menciptakan kawah raksasa dengan bagian pusat berjari-jari lebih dari dua kilometer. Tak terlihat apa-apa selain lava merah yang berpijar dan mendingin dengan cepat, membuat warnanya menjadi hitam kelam.
Xavier membawa tubuhnya turun, kemudian menukik dan meluncur dengan cepat ke bawah. Ia berhenti tepat saat tubuhnya rata dengan tepi kawah. Pandagannya mengeksplor sekeliling, sihir sensoriknya menyisir segala yang ada dalam jangkauannya yang terbatas.
Nihil. Xavier tidak melihat keberadaan siapa pun. Ia juga tak merasakan apa pun. Bahkan kubus energi hitam itu telah lenyap tak berbekas. Apa Turn Null-nya berhasil melenyapkan semuanya?
Apa yang indranya persepsikan mendukung kebenaran akan pertanyaan itu, tetapi Xavier sendiri ragu. Ia berpikir ini terlalu mudah jika benar. Turn Null sangat kuat, tapi spell ini masih belum sempurna. Bukan tak mungkin untuk diatasi, apalagi Lucifer memiliki [Complete Annihilation]. Xavier bahkan sudah membayangkan Lucifer dalam keadaan berlutut dengan tubuh yang terluka karena menahan daya hancur spellnya.
“Apa dia me—”
Xavier tak melanjutkan ucapannya. Itu tak ia perlukan. Ia tak perlu berpikir lebih jauh lagi. Ia bisa merasakannya. Temperatur udara menurun dengan sangat cepat, permukaan tanah bahkan telah mengeras dan mengeluarkan hawa dingin bagai es kering.
Kehadiran yang begitu kuat hingga membuat Dragonoid Nueva seperti anak anjingg telah berada belasan meter di belakang Xavier.
...—Eden, Emiliel Holy Kingdom—...
Sataniciela memandang datar tubuh tak berdaya Gawain. Sang Saint telah babak belur dan tubuhnya dipenuhi luka-luka yang menganga. Mengesankannya, dia belum mati, tetapi akan mati jika tak segera mendapat perawatan. Meskipun Sataniciela mengakui Gawain sangat kuat, ia takkan berbaik hati untuk menyuruh Lumeira menyembuhkannya. Selain karena Lumeira sendiri sudah kelelahan, Gawain takkan lagi bisa bertarung meski disembuhkan.
Sataniciela menendang kepalanya sembari mendecih sebelum kemudian berbalik badan. Lumeira terlihat berantakan, tetapi anehnya dia justru terlihat seksi. Tentu saja Sataniciela takkan mengatakan itu; Lumeira akan salah paham jika itu ia katakan. Lebih dari itu, mereka perlu bergerak ke kota yang lain.
“Ayo pergi, kau bisa beristirahat semba—!”
Sataniciela terdiam tiba-tiba dengan mata yang melebar.
Tadi ia merasakan kehadiran gerbang neraka, tetapi karena hanya dalam sekejap ia berpikir itu hanya perasaannya saja. Namun, kali ini ia tak mungkin salah. Tak ada yang lebih membenci pria itu melebihi Sataniciela. Ia benci Luciel, tetapi makhluk itu lebih ia benci. Saking bencinya ia, Sataniciela akan bisa merasakan kehadiran makhluk itu meski dia berada di benua lain sekalipun.
“Kau lakukan sesuka hatimu, Lumeira, aku punya urusan.”
Sataniciela langsung mengudara tanpa memberi kesempatan bagi Lumeira untuk bertanya. Ia meluncur lurus ke selatan, tetapi kemudian dia berbelok tajam ke tenggara. Lumeira tak bisa menebak hendak ke mana sang iblis pergi.
...* * *...
Xavier mencoba berbalik, tetapi ia kesulitan. Gelombang energi yang begitu besar memborbardir tubuhnya seolah berusaha membuatnya berlutut. Xavier baru bisa berbalik setelah pemilik energi itu menghentikan aksinya.
Dan segera saja Xavier mengernyit dengan keringat dingin memenuhi pelipis. Ia tak malu mengatakan ia merasa terancam. Ia bahkan yakin Grand Order takkan mampu untuk sekadar membuat pria itu diam di tempatnya.
“Serangan tadi cukup menarik,” puji sang pria. “Padahal hanya sihir biasa, tapi kau berhasil menghancurkan tubuh Edward hingga tak berjejak. Apa nama serangan itu, Commander Xavier?”
Celaka. Xavier tak punya kata lain untuk ia pikirkan. Ini benar-benar celaka. Xavier tak bisa berpikir ia bisa mengalahkan makhluk itu. Bahkan jika ia mengandalkan kekuatan di dalam dirinya, Xavier ragu akan menang. Ia jadi mengerti mengapa sebelumnya Lucifer tak serius melawan: Lucifer tak perlu melakukannya.
Rambut putih sepinggang dengan model yang sama dengan Luciel. Dua belas pasang sayap abu-abu, perpaduan sempurna antara hitam dan putih. Kulit putih albino dengan garis-garis gelap yang membentuk sisik naga. Mata yang sama dengan mata Nueva setelah berevolusi memandang dirinya dengan ketertarikan. Dan yang paling jelas, wajah itu sebelas dua belas dengan Luciel.
“Lucifer.” Xavier bergumam, kernyitan di keningnya bertambah. “Sayapmu tidak lagi hitam.”
...»»» End of Chapter 45 «««...