Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 36: The Stronger Saints, part 2



Di utara Carolina, pertempuran masih terus berlanjut. Alforalis kesusahan menghabisi boneka beruang milik Fifth Saint karena boneka itu juga dapat menyerap serangan sihirnya. Ia juga tak bisa menyerangnya dari dekat karena efek peledak yang ada pada tubuhnya. Alforalis sudah coba meledakkan bola-bola energi partikelnya sebelum boneka itu sempat menyerapnya, tetapi tubuh boneka itu lebih kokoh dari yang ia bayangkan. Alforalis cukup kesulitan.


Di sisi lain, Reinhart secara heroik memimpin para prajurit Imperial Army dan New World Order menghadapi pasukan Knight Templar yang telah meningkat jumlahnya. Meskipun satu tangannya buntung, ia tetap tak terbendung. Dengan teknik bela dirinya yang berfokus pada menghentikan aliran darah, Reinhart menghabisi rata-rata musuh hanya dengan satu serangan.


Di sisi yang lain lagi, Dermyus dan Hekiel melesat cepat menyerang Fifth Saint Bedivere. Tubuh Dermyus berlapiskan zirah petir hitam tebal. Pedangnya juga. Dia terlihat seperti perwujudan petir itu sendiri. Sementara itu, Hekiel menggenggam tombak adamantite di kedua tangannya. Dia juga telah menggunakan spell Adamantite Skin, membuat kulitnya menjadi merah marun dan sekeras adamantite.


Bedivere menyambut kedatangan mereka dengan mencambukkan akar-akar racun berduri. Meskipun secara literal itu akar, ujung tajam tombak adamantite Hekiel tak mampu memotongnya. Sebaliknya, meskipun tak cukup dalam sampai mengeluarkan darah, duri tajam akar itu mampu meninggalkan goresan pada kulitnya. Hanya Dermyus yang berhasil memotong akar itu. Itu pun karena petir hitamnya. Jika tidak, tentu pedang sang commander akan gagal juga.


Bedivere mengeluarkan lebih banyak akar berduri beracunnya, berniat menjaga jarak dan mengatasi mereka dari jauh. Namun, Dermyus—yang sudah mengubah tubuhnya menjadi petir—muncul dengan cepat di hadapan Bedivere. Sang Commander secara signifikan lebih cepat dari sebelumnya; hanya insting tajam Bedivere yang membuatnya sempat menunduk menghindari tebasan pedang.


Seusai menunduk, Bedivere langsung bergerak ke samping—tipis menghindari sambaran petir hitam yang menggelegar. Namun, saat itu Hekiel—yang sudah berhasil menimpa akar-akar beracun dengan bongkahan batu adamantite—sudah berada di belakang Bedivere. Sang commander mengerahkan segala tenaga untuk membuat kedua mata tombaknya menembus punggung sang saint.


Sayangnya bagi Hekiel, dia tak secepat Dermyus. Bedivere, dengan kelenturan tubuhnya yang menakjubkan, menghindari tusukan kedua tombak Hekiel dengan cara yang tak masuk akal. Bukan itu saja, dia bahkan balik merampas salah satu tombak Hekiel dan menggunakannya untuk menangkis ayunan pedang Dermyus. Pada saat yang bersamaan, mulut Bedivere menyemburkan asap beracun.


Dermyus tidak mengkhawatirkan asap beracun itu karena ia bisa mengubah tubuhnya menjadi petir. Namun, hal yang sama tak berlaku bagi Hekiel, dan posisinya tak bisa secara instan membuatnya menjauh. Dermyus mengerti apa yang dipikirkan Hekiel ‒ pria itu bermaksud menghiraukan asap beracun dan menusukkan tombaknya pada tubuh Bedivere. Makanya, Dermyus melepaskan pedangnya lalu merunduk dan menendang Hekiel dengan kuat.


“Hekiel, aku akan menahannya, kau fok—!”


Bedivere memanfaatkan Dermyus yang berteriak untuk mencengkeram lehernya dengan tangan yang berbalutkan mana tebal. Meskipun dia bisa mengubah tubuhnya menjadi petir, tapi saat dia mau menggunakan bagian tubuhnya di perlu menormalkan kembali bagian tubuh itu. Alhasil, Bedivere sukses memberi luka pada sang commander.


Tetapi Dermyus dengan cepat kembali mengubah leher dan mulutnya menjadi petir lalu melesat menjauh. “—Kau fokus untuk menahan dan membatasi gerakannya!” teriaknya pada Hekiel, melanjutkan ucapannya yang tadi tertunda. “Atau, benamkan saja dia ke tanah!”


Bedivere menancapkan tombak yang dirampasnya dari Hekiel dan menyatukan kedua telapak tangan. Lingkaran sihir abu-abu bercampur ungu beradius dua ratus meter seketika melapisi permukaan tanah. Bukan Dermyus dan Hekiel saja yang berada di atas lingkaran sihir tersebut, Alforalis dan boneka beruang juga berada di atasnya.


“Summoning Magic: Impenetrable Death Arena!”


Sejurus seketika, tanah bergetar, dan mereka berempat (berlima dengan boneka beruang) tiba-tiba sudah berada di atas lantai arena berwarna abu-abu yang dipenuhi genangan racun dan asam di beberapa bagian. Arena berjari-jari dua ratus meter tersebut memiliki delapan pilar raksasa (yang dibaluti akar-akar duri beracun) di tepi-tepinya. Kedelapan pilar itu menopang atap arena, yang padanya sebuah wadah kaca raksasa berisikan cairan hitam bergantungan.


“Selamat datang di arena kepunyaan Dame Bedivere!” seru Bedivere seraya merentangkan kedua tangannya. “Di sini kita akan bermain sampai mati. Sampai Dame Bedivere mati atau paman bertiga mati, tak akan ada yang bisa keluar dari sini. Seru sekali, bukan?”


“…Kau membatasi Hekiel dalam menggunakan sihirnya,” komentar Dermyus—ia sudah kembali ke wujud biasanya. “Dengan langit yang terhalang, aku juga takkan bisa menggunakan sihirku secara optimal.”


“Tentu saja! Dame Bedivere tidak mau dipaksa berada di bawah. Dame Bedivere tidak pernah mau bermain di bawah. Dame Bedivere selalu bermain di atas dan mendominasi setiap lawan main. Adalah ketidakadilan jika Dame Bedivere didominasi. Dame Bedivere membuat lawan main menjerit, bukan sebaliknya.”


“Dia kuat dan cepat,” ucap Hekiel setelah berhenti di samping Dermyus. “Aku tak berpikir dia bisa merampas tombakku setelah menghindari seranganku. Kelenturan tubuhnya benar-benar menakjubkan. Akan sangat sulit menghadapinya jika berdua.”


Dermyus melirik Alforalis yang kesulitan mengatasi boneka beruang, kemudian menggeleng. “Kita tak bisa mengandalkan Jenderal Alfo—ah, Hekiel, kupikir kau lebih cocok menghadapi boneka itu. Kau hanya per—”


Sementara itu, Hekiel menggerakkan tombaknya menangkis akar-akar yang berusaha menyerang. Pada saat yang bersamaan, ia menciptakan ratusan dinding tanah—yang dalam hitungan milidetik langsung berubah jadi adamantite—untuk menjepit dan menghancurkan akar-akar. Ia sudah coba mendorong permukaan lantai untuk menciptakan lubang yang dalam, tetapi sihirnya tak bekerja. Hekiel tak bisa menggunakan cara yang efisien.


Bedivere harus mengakui kalau Dermyus menjadi merepotkan saat dia mengubah wujud menjadi petir. Dia menjadi cukup cepat hingga ia harus berkonsentrasi penuh untuk menghindar. Pun akar-akarnya tak efektif: Dermyus dengan mudah menghanguskan setiap akar yang menyerang. Bedivere dipaksa dalam posisi bertahan sembari mencari kesempatan untuk memanfaatkan celah menyerang balik.


“Kau harus me—gahhh!” Bedivere yang hendak memprovokasi Dermyus seketika terhempas saat tiba-tiba kaki Alforalis mengenai sisi kiri kepalanya. Ia sampai terpelanting dan tercebur ke dalam genangan racun.


“Ini tiga lawan dua, jangan lupakan itu!” seru Alforalis seraya menembakkan bola-bola partikel pada boneka beruang.


Dermyus langsung memanfaakan kesempatan yang ada untuk memborbardir Bedivere dengan petir hitamnya. Namun, tiba-tiba boneka beruang muncul di depan Bedivere. Sambaran-sambaran petir Dermyus diserap olehnya. Tak satu pun sambaran petir sukses mengenai target.


“Boneka itu benar-benar merepotkan,” komentar Alforalis yang sudah berdiri di samping Dermyus.


“Dia berteleportasi?” Pertanyaan itu tidak keluar dari mulut Dermyus, tetapi Hekiel yang sudah berada di belakang mereka. “Dia bisa berteleportasi juga?” ulangnya, berhenti di samping sang elf. Meski bertanya pada kedua rekannya, tetapi mata Hekiel fokus pada boneka dan Bedivere yang tertelentang di atas genangan racun.


“Kramuel.”


Dermyus yang hendak menjawab pertanyaan Hekiel membatalkan niatnya saat suara sang saint memenuhi ruangan.


“Dame Bedivere benar-benar marah. Sekarang lepaskan pemisah. Kembali pada Dame Bedivere, Einheivoem Achlys.”


…Aura kematian yang pekat seketika memenuhi arena.


...* * * * *...


Fact-1#Kramuel adalah nama spirit yang mengendalikan boneka beruang, dia salah satu dari 7 bawahan elite Raja Spirit Sakhra. Dia bertugas menjaga Danau Kegelapan di alam kematian—itu danau yang berisikan noda dari jiwa yang dibersihkan dalam Danau Pemurnian. Tidak ada racun yang lebih mematikan dari isi Danau Kegelapan.


Fact-2#Bedivere mendapatkan posisi Fifth Saint tanpa mengandalkan Kramuel. Dia menang dalam duel dengan Gallahad—tapi Gallahad tidak menggunakan sihir utamanya. Gallahad meladeninya karena Bedivere wanita. Gallahad loves woman very much.


Fact-3#Bedivere waktu umur lima tahun hampir tewas karena tak sengaja meminum racun yang ibunya racik. Kramuel (yang kebetulan sedang berada di Axellibra karena disuruh Sakhra meminta makanan pada Fie) mencium aroma kematian karena racun, jadi dia mengeceknya. Kramuel menyukai sorot matanya, dan dia membuat kontrak dengannya.


Fact-4#Saint Marcus menjadi Fourth Saint karena Bedivere malas meladeninya—dia suka dengan panggilan Fifth Saint Bedivere. Gallahad lebih memilih menggoda bawahannya yang wanita dibandingkan merepotkan diri bertarung. Marcus berpikir mereka tidak percaya diri melawannya, makanya menganggap diri sebagai terkuat keempat.


Fact-5#Bedivere memutuskan mengandalkan Kramuel bukan karen dia berpikir tak bisa menang, tapi karena terlalu marah karena kepalanya ditendang.