
...—Kastil Asura—...
Tubuh Shiva yang tadinya bermeditasi di dekat altar kini dalam posisi punggung menempel pada dinding. Kedua lengannya yang dalam posisi menyilang di depan wajah perlahan menurun saat efek serangan Xavier sirna. Asap tampak menguar dari tubuhnya, menunjukkan kalau petir itu sukses memberi tubuhnya luka. Dan jika pakaiannya tiba diperkuat rune, tentu ia sudah tak lagi berbusana.
Ah, jangan salah, Shiva terkena efek petir itu bukan karena tak bisa menghindar. Ia tahu kedatangan Xavier. Ia tahu kalau dia menyerang. Namun, karena tubuhnya ini tak mengirimkan rasa sakit padanya, ia tidak merepotkan diri menghindar. Terlebih lagi, menerima serangan penting dilakukan untuk membuat Xavier berpikir kalau ia tak mengetahui kedatangannya.
“Xavier von Hernandez,” gumam Shiva dalam intonasi datar sembari berdiri, “sebuah kehormatan bisa menerima kedatanganmu di sini.”
“Tidak bisa kukatakan kalau aku merasakan hal yang sama.” Xavier yang berdiri tepat di tempat Shiva sebelumnya duduk berkata, matanya memandang intens sang kaisar. “Kau sudah melakukan hal yang tak seharusnya kau lakukan.”
“Begitu rupanya. Kau ingin menghabisiku?” Shiva tidak melihat pada Xavier, melainkan pada bawahannya dalam ruangan yang sudah terbujur tak bernyawa. Tetapi dengan cepat pula matanya kembali beradu tatap dengan sang commander. “Sebagai pembelaan diri, perlu kau ketahui kalau aku tidak menyakiti kekasihmu. Aku hanya meminta bantuannya, tak lebih.”
...—Karna Great Empire—...
Xavier2 muncul tak jauh dari Kastil Asura, tetapi ia tak langsung melesat ke sana. Belahan diri Xavier—yang saat ini sedikit lebih kuat dari Xavier original—ini melesat ke arah Nareya. Ia harus menemui Xavier3 dan meminta Monica kembali ke Cestapola. Shiva kuat, ia akui itu. Karenanya, baik dirinya maupun Xavier3 harus kembali menyatu dengan Xavier original. Jika tidak, Xavier original takkan menang.
Itu tidak akan adil bagi Monica, tetapi mereka bisa mengganti waktunya di Cestapola. Monica sebelumnya mengatakan kalau dia ingin menghabiskan waktu lebih lama di Cestapola.
Xavier2 bisa langsung berteleportasi ke tempat Xavier3, tetapi ia tidak tahu situasi di sekitar Xavier3 seperti apa. Ia tidak ingin sampai menimbulkan masalah dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Karenanya, Xavier2 tak punya pilihan lain selain ke sana secara manual. Sang commander terbang dalam kecepatan tinggi ke Nareya, sebelum kemudian mendarat tak jauh dari gerbang dan membuat dirinya tak terlihat.
Dengan cepat Xavier2 melesat mencari keberadaan dirinya yang lain dan Monica.
...—Kota Sihir Maidenhair—...
Eileithyia tidak mengernyitkan keningnya, tetapi ia menanyakan mengapa ia tidak kesal dengan kehadiran mereka. Ia menginginkan ketenanangan di sini, dan kehadiran kedua wanita itu adalah sebuah bentuk gangguan. Seharusnya ia meleportasi paksa mereka ke tempat lain, dan itu adalah apa yang normalnya ia lakukan untuk para warga yang memaksa masuk tanpa izin.
Namun, untuk suatu alasan ia tidak melakukannya. Xavier tadi mengatakan mereka aman di sini. Artinya pemuda itu percaya ia akan memberi mereka perlindungan. Apa itu alasannya mengapa ia tidak kesal mereka di sini?
Eileithyia tidak memiliki jawaban. Pada akhirnya ia hanya berkata, “Jangan berisik. Kalian bisa di sini sampai Xavier kembali.” Dan kemudian Eileithyia menutup mata dan kembali menikmati ketenanangan.
...—Kastil Asura—...
Xavier mendengus mendengar alasan tak berguna Shiva. Itu tidak penting apa pun alasannya. Dia telah menculik Artemys. Alasan apa saja yang keluar dari mulut sang kaisar, itu tidak mengubah apa pun. Ia bisa marah kadang-kadang, dan itu tak bisa dielakkan. Dan ia kadang abai akan rasionalitas jika sedang marah. Karenanya, sangat normal Xavier tidak memedulikan apa pun yang keluar dari mulut Shiva.
Namun, sebelum serangan Xavier sukses melenyapkan tubuh itu, tubuh tersebut telah tak lagi berada di tempatnya.
“Aku tak bisa membiarkanmu menghancurkan tubuh ini,” kata Shiva yang sudah mem tubuh berperban itu di pundaknya. “Aku harus memberi kompensasi yang tak sedikit untuk Sakhra agar dia mau membuatkanku tubuh ini.” Dan tubuh itu menghilang ke dalam portal dimensi.
“…Kau sudah tahu semua yang akan kulakukan setelah ini, bukan begitu?” tanya Xavier—tidak merasa perlu menyembunyikan fakta kalau ia tahu tentang kekuatan Shiva.
“Tentu saja. Karenanya kusarankan agar kau tidak melakukan hal yang tidak-tidak. Ah, tapi kurasa saranku ini sudah tak lagi berguna.” Shiva menggelengkan kepalanya. “Kau tidak bisa dibiarkan setelah mengacaukan semuanya.” Bibir sang kaisar kemudian melengkung, personalitasnya seolah berubah seratus delapan puluh derajat. “[Reverse Law]…mari kita lihat jika itu sekuat yang disebutkan, Xavier von Hernandez.”
Xavier tidak punya waktu untuk merespons, tubuhnya sudah melayang dan menghantam dinding. Shiva sudah melayangkan kakinya ke dada Xavier, kecepatannya sangat menakjubkan. Xavier sama sekali tak sempat bereaksi. Memang, saat ini kekuatannya hanya seper tiga kekuatan penuhnya, tetapi itu tetap saja menakjubkan.
...—Nareya—...
Monica hanya bisa bengong saat tiba-tiba ada Xavier lain yang mendarat di hadapannya, tetapi dengan cepat ia mendapatkan kontrol dirinya kembali. Ia spontan membuka mulut hendak menanyakan jika Xavier menggunakan sihir replika diri, tetapi dengan cepat pula mulutnya menutup saat merasakan kalau kedua Xavier memiliki tingkat kekuatan yang sama. Aura mereka pun seratus persen sama.
Untungnya, Monica tak perlu bertanya untuk menanyakan apa yang terjadi. Xavier yang baru tiba telah dengan cepat menusukkan tangannya ke dada Xavier yang berdiri di samping Monica. Xavier yang berdiri di samping Monica hendak protes, tetapi dia telah terlebih dahulu terserap ke dalam Xavier yang baru tiba sebelum sukses menggumamkan kata.
“Situasi berubah, kehadiran kita telah diketahui. Kembalilah terlebih dahulu ke Cestapola, Monica, aku akan di sini memastikan mereka tidak tahu kalau kita berasal dari Islan.”
Sebelum Monica sempat memberi respons, ia menyadari mereka sudah kembali berada di pesisir putih pantai Cestapola.
“Kau ingin menghabiskan waktu lebih lama di kota ini, kan?” Xavier tak menunggu respons. “Aku akan segera kembali. Paling lama siang nanti.”
…Dan sang pemuda langsung menghilang begitu saja.
“Anak itu…!” Monica hanya bisa berdecak sebal, tetapi dengan cepat ia menghela napas dan melangkah ke arah dermaga.
...—Kastil Asura—...
Xavier meludah ke kiri dan bangkit berdiri. “Tidak saja kau cepat, tetapi tendanganmu juga kuat,” puji Xavier sembari membersihkan jubahnya dari debu. “Seperti yang bisa diharapkan dari pengguna Supreme Magic dan Crest of Hope.” Xavier2 yang sudah menyerap Xavier3 muncul tepat di kiri Xavier, dan Xavier tanpa kata langsung mengarahkan telapak tangan pada Xavier2, menyerapnya dalam hitungan detik. “Tetapi hanya sebatas itu sajalah. Tendangan barusan…akan kubalas itu sepuluh kali lipat.”
...»»» End of Chapter 18 «««...