
Gelombang angin sedikit tercipta dari tekanan yang disebabkan saat dua pasang kaki mendarat, tetapi kekuatannya terlalu tak seberapa untuk memberi pengaruh yang berarti. Hanya mampu menerbangkan ratusan butir debu, tidak lebih dari itu. Kaki Xavier dan Monica yang menapak di atas perkumpulan pasir putih itu tenggelam hingga belasan centi, pasir-pasir itu sampai mengotori permukaan alas kaki keduanya.
Angin darat berembus kencang, membuat helaian rambut mereka yang berbeda warna melambai-lambai liar. Tetapi baik Xavier maupun Monica tidak ambil pusing. Gemuruh air yang pasang juga tidak mengganggu. Kedua kaki mereka melangkah meninggalkan timbunan pasir putih yang memenuhi pantai. Tidak ada dermaga di sekitar tempat mereka mendarat, tetapi perumahan tetap terlihat puluhan meter dari area yang memisahkan daratan dan lautan itu.
Bersamaan dengan langkah mereka yang menjauhi pantai, di ujung sana seorang individu beberapa centi lebih tinggi dari Nizivia melangkah menuju kumpulan pasir putih tersebut. Gadis beramput keperakan bergaun biru itu berjalan tanpa memakai alas kaki. Wajah tanpa emosinya tidak mengarah pada apa pun selain horizon yang tak berbentuk.
Langkah mereka yang berlawanan arah itu membuat jarak ketiganya semakin mendekat dan mendekat.
Dari puluhan meter menjadi belasan.
Dari belasan hanya menyisakan beberapa.
Dan tak terelakkan, keberpapasan itu terjadi.
Kaki-kaki mereka yang sebelumnya berhadapan, sekarang berbelakangan. Dan kesemua itu terjadi tanpa ada satu kali pun kontak mata. Xavier dan Monica melangkah menuju destinasi mereka, dan gadis itu ke destinasinya. Namun, satu hal jelas bagi Xavier: wanita itu kuat.
Dari gerik mata Monica, sepertinya gadis itu juga menyadari kalau wanita bertubuh mungil itu bukan individu biasa.
Namun begitu, Xavier tidak mengatakan apa pun. Ia dan Monica melanjutkan langkah mereka ke permukiman. Kemudian keduanya fokus mencari penginapan tanpa sedikit pun melirik ke belakang.
...⅏⅏⅏...
“Dia…kuat,” gumam Yue Yin dengan mata berada tatap dengan bulan yang terlihat seperti mangkuk. “Mengalahkannya…susah. Dia memiliki beberapa sihir dan sebuah Supreme Magic. [Reverse Law], itu dikonfirmasi. Melawannya…sihir tak terlalu berguna. Tapi dia bukan Fie. Dia tidak mustahil dikalahkan.”
Yue Yin tetap berada di tempatnya selama beberapa menit. Iris hitam bak obsidiannya seolah menantang penguasa malam. Dia baru mengalahkan pandangannya setelah beberapa menit lagi. “Dalam mode Magic Goddess, aku tidak akan kalah,” katanya pada ujung horizon tak kasatmata, dan kemudian menghilang dalam kilatan beraneka warna.
...⅏⅏⅏...
Itu adalah ruangan dengan dua tempat tidur yang terpisah jarak setengah meter. Xavier berbaring di atas ranjang yang di kanan, sedang Monica di kiri ‒ sebuah meja kecil berkaki lima adalah pemisah kedua ranjang itu. Malam telah larut. Xavier yang sejak sejam lalu berpura-pura tidur kini membuka mata.
Ia masih belum mengatakan pada Monica tujuan sebenarnya mereka berada di sini. Xavier memberitahunya kalau mereka akan mengumpulkan informasi terkait keadaan Veria dan seberapa berpengaruh Karna Great Empire. Ia sudah berpikir untuk memberitahu alasan yang sebenarnya, tetapi Xavier akhirnya memutuskan tidak jadi. Itu akan menjadi keputusan yang…tidak bijaksana.
Karena itu, segera setelah ia memastikan Monica terlelap, Xavier mendudukkan diri dan menggunakan [Division Magic].
Dua sosok yang seratus persen identik dengan Xavier muncul di kanan dan kirinya. “Pergi sekarang juga ke Kastil Asura,” bisik Xavier pada belahan dirinya yang di kanan. “Itu harusnya adalah kastil yang di dalamnya banyak kriminal yang ditawan. Dapatkan [Sensory Magic] dan [Transformation Magic]. Selalu aktifkan [Reverse Law] untuk memblok [Divine Insight] Shiva. Dan tetaplah di sana. Jika kau bisa mendapatkan [Transformation Magic], bertransformasilah menjadi salah satu pekerja. Jika tidak, bersembunyilah.”
Belahan diri Xavier yang di kanan mengangguk, menghilang dari dalam kamar.
Melihat belahan dirinya mengangguk dan menghilang, Xavier kembali merebahkan diri. Kekuatannya sekarang seper tiga dari total kekuatannya. Bukan saja kekuatan totalnya yang berkurang, tetapi kekuatan sihirnya juga. Jika dalam kondisi normal ia bisa memanifestasikan api dengan sangat mudah, sekarang menjadi tiga kali lebih sulit. [Division Magic] tidak saja membagi mana, tetapi membagi semuanya.
Karena itu, ia harus tidur dengan sempurna sekarang. Tidur memang bukan sesuatu yang bisa dipaksakan oleh yang tak terlatih. Namun, [Reverse Law] adalah sihir serbaguna.
...* * *...
Di atas ranjang tidur di istana megahnya Shiva berbaring dengan mata masih terbuka, berpikir.
[Divine Insight] adalah sihir dewa, tidak ada kesimpulan lain yang lebih tepat dari itu.
Shiva tidak perlu tahu targetnya. Ia tidak perlu tahu suatu tempat. Ia tidak perlu memiliki sedikit info apa pun tentang sesuatu apa pun.
Jika ia ingin mengetahui sesuatu, sihir itu akan memberitahunya. Melihat masa depan hanyalah sebagian kekuatan [Divine Insight]. Masa lalu juga tidak tersembunyi dari sihir ini. Pun dunia terbuka lebar di depan mata pengguna [Divine Insight]. Lebih dari itu, [Divine Insight] bisa menghalangi sihir-sihir kewaskitaan dari membuka tabir akan garis-garis takdir.
Seperti yang namanya isyaratkan, [Divine Insight] adalah kemahatahuan dalam wujud sihir.
Namun begitu, meski [Divine Insight] sangat berguna dalam segala hal, itu tetap memiliki batas—sebagaimana sihir-sihir lain. Tidak peduli sekeras apa ia mencoba, [Divine Insight] tidak bisa melihat apa yang tidak tertulis dalam garis takdir. Dan, yang paling tidak mengejutkan, Shiva tidak bisa melihat masa depan dirinya sendiri dengan sihir tersebut.
Pengguna Supreme Magic dan pemiliki Crest of Hope secara natural memiliki resistansi terhadap sihirnya.
Namun begitu, Shiva hanya perlu berusaha lebih, dan pintu takdir mereka akan terbuka. Karenanya pula, Shiva tahu semua hal tentang Nueva el Vermillion. Ia juga tahu tentang tipu muslihat Lucifer. Lenyapnya jiwa Luciel juga berada dalam pengetahuannya.
Akan tetapi, masa lalu Xavier hitam kelam.
Hal itu sama dengan masa lalu Fie Axellibra dan Vermyna Hermythys—atau yang sekarang memakai nama Hellvarossa di belakangnya. Masa depannya banyak blurnya, sama dengan masa depan Vermyna Hermythys sebelum dia berganti nama—masa depan Vermyna menjadi hitam kelam saat dia berganti nama. Tidak peduli seberapa keras ia berusaha, [Divine Insight] tidak bisa melihat masa depan Xavier lebih dari sebulan ke depan tanpa ada blur yang menutupi.
Karena itu, Shiva tidak punya asumsi lain selain anggapan bahwa seperti Vermyna, Xavier juga akan menjadi makhluk transendental. Sebab itu pula Shiva melakukan hal yang pasti membuat Xavier menginjakkan kaki di Kastil Asura. Semua itu demi sebanyak mungkin menyerap mananya. Ia juga akan mencoba melukai sang commander nanti, dengan begitu energi kehidupannya juga akan ikut diserap.
Namun begitu, meski rencananya sudah sempurna, tetap ada hal yang tak bisa ia singkirkan dari kepalanya.
“…Bagaimana jika sebenarnya ini juga adalah gerak tangan tak terlihat Edenia?”
…Sejak ia tahu kalau Edenialah yang secara tak langsung telah membawanya kepada Soul of Sacred Waterfall, pertanyaan itu tak pernah lepas dari kepala Shiva.
...»»» End of Chapter 17 «««...