Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 6: Preparation, part 5



Ketika fajar menyingsing, ribuan prajurit telah memacukan kaki menyusuri hutan belantara yang lebat, gelap, dan berbahaya.


Hutan Besar Amarest dikenal berbahaya karena diisi oleh berbagai macam Magical Beast. Tidak ada yang pernah mengklaim mengetahui semua Magical Beast yang ada di sana. Hal itu berlaku juga terhadap para elf. Ada yang mengklaim Magical Beast yang merivali raja naga hidup di tempat terpencil di sana. Ada juga yang mengatakan Magical Beast terkuat hanya selevel naga dewasa. Yang jelas, Hutan Besar Amarest belum sepenuhnya dieksplor.


Prajurit Imperial Army menyusuri hutan itu dari dua sisi jalan yang mengarah lurus ke area Elf Kingdom berdiri. Untuk menghindari dari menyulitkan diri menghadapi Magical Beast, mereka tidak terlalu menyamping menjauhi wilayah aman hutan. Baik pasukan yang Xavier pimpin maupun yang Emily pimpin, jarak mereka dari jalan satu-satunya itu hanya beberapa kilometer saja.


Sementara itu, tepat saat matahari terbit, pasukan utama Imperial Army juga turut memacukan kaki. Kanna—dengan Meyrin yang selalu setia di sisinya—berada di barisan terdepan. Para kapten dari masing-masing batalion melangkah sigap di belakangnya. Mereka semua berjalan dengan penuh kepercayaan diri. Siapa pun yang melihat langkah tegap dan selaras mereka akan merasa terintimidasi. Imperial Army bukan Imperial Army jika mereka tidak super disiplin.


Di lain sisi, jauh di depan Imperial Army sana, Elven Army sudah berbaris rapi di depan gerbang Evrillia yang terbuka. Total terdapat kurang dari tiga puluh ribu prajurit di sana, dan mereka semua dipersenjatai dengan lengkap. Pedang, tombak, tameng, panah, mereka semua memilikinya. Tak ada satu prajurit pun yang tanpa senjata, pun tubuh mereka berbalutkan armor ringan yang keras.


Berdiri di hadapan mereka semua adalah seorang pria yang terlihat masih berusia tiga puluhan (dalam pandangan manusia). Dia memiliki rambut panjang sepinggang yang putih gelap, ujung rambutnya diikat dengan sebuah artefak sihir yang marak diperjualkan di toko pernak-pernik di ibukota Kerajaan Elf. Dia mengenakan pakaian kebangsawanan elf berwarna merah marun. Di pinggangnya terdapat sebuah pedang besar yang tergantung lengkap dengan sarungnya.


Dialah Alforalis Grammolia, elf terkuat kedua setelah sang ratu. Dia telah hidup cukup lama, bahkan dia sempat melayani raja para elf dua periode sebelum Evillia naik tahta. Ada rumor liar tentangnya yang kebenarannya tidak pernah diketahui; Alforalis sendiri menolak mengomentari rumor itu. Dia adalah putra Evana Evrillia dengan Zuthvert Akrecia (dua anggota Deus Guardian yang dihormati), begitu bunyi rumor tersebut. Namun, Evana sendiri bungkam. Tidak ada titik terang apa pun tentang rumor itu.


Namun yang jelas, Alforalis kekuatannya tidak diragukan. Dia lebih kuat daripada Evana sendiri. Saat Evillia naik tahta, dia berhasil mengalahkan enam orang pengawal raja yang lain—dan itu dilakukannya seorang diri. Karena hal itu, ada beberapa yang percaya jika Alforalis sungguh mau, Evillia sendiri akan mampu dia hadapi. Namun, itu hanya terbatas pada asumsi; Alforalis hampir-hampir tidak pernah menghunuskan pedangnya kecuali diperintah Evillia.


Di bawah pimpinan sang komandan utama, pasukan Elven Army tidak memiliki rasa gentar di wajah. Mereka akan membuat Islan mengenal nama Elven Army. Selama ini, hanya ada dua nama pasukan yang disegani: yang pertama dan paling utama, Knight Templar; yang berada tepat di bawah mereka, Imperial Army. Namun, hari ini akan berbeda. Mereka akan mengukir sejarah yang baru. Elven Army akan menjadi subjek pelajaran di kelas-kelas militer setiap akademi di setiap negeri.


Dengan sebuah teriakan kuat dari Alforalis, semua prajurit bersalut dengan penuh penghormatan, kemudian mereka dengan serempak maju dua langkah lalu balik kanan dan melangkah maju dengan tegap.


Alforalis tak langsung melesat mengikuti para prajuritnya, ia bertahan di tempat selama beberapa waktu. Menunggu. Dan penantian itu tak bertahan lebih dari sepuluh menit. Evillia diiringi 99 individu berseragam hitam datang dengan penuh intimidasi. Jika mereka semua masuk ke sebuah kota, sembilan puluh persen mereka akan menundukkan kota itu tanpa perlawanan.


Bersamaan dengan itu, tiga individu berjubah hitam bergaris tepi hijau membawa diri di atas dinding kota. Jubah mereka berlambaian dihempas angin pagi yang dingin. Mereka kuat dalam bidang mereka masing-masing. Mereka percaya diri dengan kemampuan mereka sendiri. Dan yang terpenting, mereka memperjuangkan hal yang sama dengan Alforalis: Elf Kingdom.


Pada saat yang bersamaan dengan itu, Menez melesat turun ke sisi kiri kerajaan—atau kanan kekaisaran. Seperti halnya yang terjadi pada El, empat skuad Black Shadow mengikutinya serentak. Kepergian mereka itu membuat hanya Atland, Evillia, dan skuad 9 Black Shadow yang tersisa di hadapan Alforalis.


“Aku akan membuka serangan,” ucap Atland tiba-tiba sembari memamerkan busur adamantitenya ke depan, bersamaan dengan itu belasan lingkaran sihir bermanifestasi dengan sendirinya. Satu berada tepat di bawah kaki Atland, satu di sisi kirinya, satu di sisi kanan, dan sisanya berada di ujung busur membentuk fomasi delapan mata angin. “Ini adalah teknik terbaruku, aku menggabungkan semua yang kupunya untuk ini.”


Bersaman dengan pengakuannya itu, busur Atland mengarah ke langit dengan sudut 75 derajat terhadap garis datar imajiner. Mana dalam intensitas tinggi menguap dari tubuh Atland, saking banyaknya itu sampai terlihat jelas di setiap mata yang memandang. Dan saat Atland menarik tali busurnya, lingkaran sihir yang membentuk formasi delapan mata angin itu mulai berputar berlawan arah jarum jam.


“Angin adalah perasaku, angin adalah penuntunku, dan bersama angin tekadku mengembang. Capailah nirwana dalam debu bintang yang tak abadi. Crying Heaven.”


Whus!


Kecepatan anak panah yang dilepaskan tali busur itu membuat semua yang melihat terpana. Tidak ada panah yang secepat itu. Itu terlalu cepat hingga anak panah itu tak terlihat mata. Satu-satunya yang membuat mereka dapat memandang melesatnya anak panah itu adalah udara yang diterobosnya. Alforalis dan yang lainnya dapat melihat tabung udara yang disebabkan oleh anak panah yang melesat itu—dan tabung udara itu diselimuti percikan petir akibat udara yang terionisasi.


Anak panah itu melesat dengan begitu tinggi, hingga pada satu titik dia menghilang tak berjejak—tak menghasilkan efek apa-apa meski hanya sekuntum ledakan.


Setidaknya, tidak untuk beberapa detik awal.


Di detik yang kesepuluh, dalam kecepatan yang menakjubkan, lingkaran sihir super duper raksasa membentang di langit Hutan Besar Amarest. Lingkaran sihir itu terdiri atas berbagai lingkaran sihir yang kesemuanya membentuk formasi delapan mata angin. Lingkaran-lingkaran sihir itu hanya terdiri atas dua warna, secara langsung menunjukkan dua sihir dominan Atland sang pemanah.


Dan selaras dengan nama spell yang Atland gumamkan, pekikan langit menggetarkan udara, ratusan ribu anak panah yang terbuat dari angin yang berlapiskan debu bintang turun menggebu-gebu.


...«««End of Chapter 6»»»...