Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 25: The Knight Templar, part 2



Di setiap kota yang ada di Emiliel Holy Kingdom, ada masing-masing satu gereja yang di dalamnya memiliki lingkaran sihir teleportasi yang dibuat permanen. Masing-masing gereja itu memuat tujuh lingkaran sihir teleportasi: enam untuk melakukan teleportasi, satu sisanya menerima teleportasi. Arthur berdiri di atas lingkaran sihir teleportasi dengan tujuan Axellibra.


Lingkaran sihir berpendar, dan Arthur seketika menemukan diri di atas lingkaran sihir teleportasi lain di ruangan yang juga lain.


“Saint Arthur, selamat datang.”


Arthur mengangguk mendengar sapaan para penjaga ruangan, kemudian bergegas meninggalkan gereja.


Tujuan Arthur kali ini bukan Gereja Agung Luciel, melainkan Royal Palace—tempat tinggal raja sekaligus pusat administrasi kerajaan.


“Ah, jadi kau pengganti Sir Ulbath….” Seorang pria berusia empat puluhan memperdengarkan suaranya belasan detik setelah Arthur keluar dari gereja. “Melihat Sir Ulbath dikalahkan orang semuda dirimu…. Kau mungkin manusia paling bertalenta dalam sejarah Emiliel Holy Kingdom.”


“Sir Gawain,” sapa Arthur dengan kaki yang spontan berhenti, memandang penuh hormat pada pria berambut pirang panjang berjanggut lebat yang sedang duduk di bangki yang ada di samping pintu masuk gereja. “Ini pertama kalinya kita bertemu langsung seperti ini, aku merasa tersanjung.”


Gawain Swordainth, pemimpin Ordo 2 Knight Templar, anggota tertua Twelve Holy Saints saat ini bersama dengan Lancelot Knitherland—pemimpin Ordo 3 Knight Templar.


Saat pertemuaannya dengan para Saint seminggu setelah ia dilantik, Gawain dan Lancelot tidak hadir. Mereka adalah anggota senior bersama dengan Ulbath. Masing-masing dari mereka memiliki hak untuk tidak hadir dalam pertemuan yang tidak terlalu penting. Ordo 1, Ordo 2, dan Ordo 3 selalu spesial sejak pembentukan awal Knight Templar. Pemimpin-pemimpin mereka juga selalu menjadi pemegang First, Second, dan Third Saint.


Berbeda dengan Ordo yang ada, titel First Saint, Second Saint, dan seterusnya itu menunjukkan tingkat kekuatan seorang Saint di antara semua Saint. Sixth Saint bukan berarti dia memimpin Ordo 6. Urutan Ordo dalam Knight Templar tidak mengisyaratkan hal khusus apa pun selain perbedaan tugas, wilayah operasi, dan hal-hal sejenisnya.


Berikut Twelve Holy Saints yang sekarang: First Saint, Arthur Lancedragon. Second Saint, Gawain Swordainth. Third Saint, Lancelot Knitherland. Fourth Saint, Rossia Himera. Fifth Saint, Bedivere Luminia. Sixth Saint, Gallahad Grahamvell. Seventh Saint, Petracia Lliorente. Eighth Saint, Maviera Veil Heravastya. Ninth Sainth, Dimitar Kolovasteen. Tenth Saint, Marya Ellenswarth. Eleventh Saint, Rodolf Vlasenki. Twelfth Saint, Alfonso Alsabnitz.


“Kau tak seharusnya merasa tersanjung bertemu pria tua sepertiku.” Gawaian berdiri dari tempatnya duduk, melangkah menghampiri Arthur dan menepuk pelan pundaknya. “Seharusnya aku yang tersanjung berada di hadapan pemuda yang bahkan bisa mengalahkan Ulbath dengan mudah. Bahkan Pope Genea berasumsi kalau kau lebih kuat darinya. Mungkin kau berada dalam level yang sama dengan Neira Claudian.”


“Aku tersanjung mendengar pujian itu, tetapi aku tak berpikir aku sekuat Nona Neira Claudian. Nona Neira memiliki pedang yang mungkin merivali pedang legenda yang diciptakan Hernandez sang Blacksmith. Bahkan jika aku bisa menyudutkan Nona Neira (yang jelas kuragukan), situasi akan berubah jika dia mengeluarkan pedang itu.”


“Ha-ha-ha, kau sangat berbeda dengan Ulbath! Bagus, bagus! Jika kau sama mengesalkannya dengan Ulbath, mungkin aku akan membayar Bedivere untuk meracunimu. Ha-ha-ha.”


“Dan kau penuh jenaka,” sarkas Arthur, tetapi dihiraukan Gawaian.


“Sekarang, sekarang, ayo pergi. Tak baik membuat Lexata menunggu. Kita tak ingin anggaran Ordo kita dipotong, bukan begitu?”


Arthur menghela napas, melangkahkan kaki mengiringi langkah Gawain. Meskipun pria tua di sampingnya ini mengatakan tak baik membuat sang raja menunggu, langkah kaki mereka tak bisa dibilang cepat sama sekali.


...—Garnisun Utama Divisi 12 Imperial Army, Sisi Barat Verada, Vermillion Empire—...


Divisi 12 Imperial Army tidak memiliki pasukan pemanah. Mereka juga tidak memiliki cukup Magic Caster untuk bertempur dalam jarak jauh. Mereka tak cocok untuk menyerang ke daratan tinggi.Posisi medan pertempuran yang seperti itu akan merugikan mereka, terutama jika lawannya dipenuhi pasukan pemanah. Karenanya, penting untuk membiasakan diri mereka dengan serangan khas pasukan pemanah.


“Jangan kalian berani berhenti berduel!” seru Xavier sembari menciptakn lingkaran sihir biru raksasa sekitar seratus meter di udara. “Pastikan kalian menghindar sembari tetap berduel. Kalian harus memiliki insting yang tajam dan gerak refleks yang sesuai. Divisi 12 adalah yang terbaik dan yang terkuat dari semua divisi, pastikan kalian menanam hal itu dalam-dalam di jiwa kalian!”


Tepat setelah meneriakkan kata-kata itu, area tanah lapang yang menjadi tempat berlatih para prajurit dibombardir bola api biru seukuran kepalan tangan pria dewasa. 12.000 prajurit itu harus bertahan dari bola-bola api itu, pada saat yang bersamaan mereka harus mengalahkan satu sama lain.


“Kalian skuad medis,” mata Xavier fokus pada 1500 prajurit yang siap sedia meluncur menyelamatkan prajurit yang terluka, “Pergilah bolak-balik dari sisi ini ke sisi lain lapangan latihan sampai hujan api ini berhenti. Menghindar adalah latihan utama kalian sekarang. Tidak ada artinya membawa kalian ke medan perang jika kalian tewas terkena serangan seperti ini. Lakukan!”


“Siap, Commander, Sir!”


Dengan penuh kedisiplinan, 1500 prajurit tersebut melesat memasuki lapangan latihan. Bersamaan dengan menghindari hujan bola api, mereka juga diharuskan menghindari para prajurit yang tengah berduel. Mereka tugas utamanya memang menyelamatkan prajurit yang terluka, tetapi mereka harus memiliki kualitas yang lebih dari itu. Bagaimana mereka bisa melakukan tugasnya jika pada akhirnya merekalah yang harus diselamatkan?


“Sekarang tinggal kalian bersembilan,” kata Xavier sembari berbalik badan. “Kalian juga harus berlatih dan terus berkembang. Aku tidak ingin mengirim surat belasungkawa kepada keluarga kalian. Aku tak ingin pusing mencari orang lain untuk menggantikan kalian. Karenanya, aku harus memastikan kalian siap. Untuk lima hari ke depan, kalian akan bertarung denganku setiap hari. Sekarang majulah, tunjukkan kalau kalian pantas menjadi kapten dalam batalion-batalion yang ada di divisi ini!”


Kesembilan kapten Xavier langsung melesat menyerang menyambut perintah sang commander. Beberapa dari mereka mengeluarkan senjata, beberapa sisanya maju dengan tangan kosong. Mereka maju secara bersamaan, tetapi dengan cepat pula mereka menyebar sehingga mengepung Xavier dari segala sisi.


“Jangan menahan diri, kerahkan semua yang kalian punya.”


...—Royal Palace, Axellibra, Emiliel Holy Kingdom—...


“Kalian berdua terlambat, Sir Gawain, Sir Arthur.” Lexata IX berkata tepat setelah Arthur dan Gawain memasuki ruang pertemuan di istana raja. “Bahkan Sir Lancelot sudah tiba sebelum waktu pertemuan. Terutama kau, Sir Gawain. Sebagai anggota senior kau seharusnya menunjukkan kedispilinan yang tinggi untuk dicontoh Saint muda seperti Sir Arthur dan Dame Rossia.”


“Waktu itu relatif, King Lexata.” Gawain membalas dengan sok bijaksananya. “Dalam persepsimu, mungkin aku terlambat. Tetapi dalam persepsiku, aku ini tepat waktu, malahan lebih awal. Supaya kau tidak merasa aku terlambat, belajarlah untuk memandang waktu dalam perspektifku.”


Arthur menggelengkan kepala mendengar alasan konyol Gawain. “Kami tidak bermaksud terlambat, King Lexata,” jelasnya. “Namun, saat sedang dalam perjalanan ke sini, seekor anjing terlihat berdiri di ujung jalan. Dia terlihat was-was, entah apa yang sedang dilakukannya. Karena tak ingin mengganggu, akhirnya kami terpaksa mengambil jalan memutar lagi sukar. Itulah mengapa kami terlambat.”


Arthur mengangguk pada dirinya sendiri, menekankan betapa benar ucapannya. Dibandingkan alasan konyol yang Gawain buat, alasannya lebih logis untuk bisa dipercaya. Kalian tidak bisa begitu saja lewat di depan anjing yang lagi was-was jika tak ingin diserang. Anjing akan cenderung galak dan mudah menyerang dalam kondisi seperti itu.


Lexata IX menghela napas panjang mendengar alasan itu. “…Cepatlah duduk, aku ingin pertemuan ini cepat selesai. Jika bukan karena situasi yang menuntut, aku takkan mengundang kalian semua ke sini. Anggaran untuk setiap Ordo akan kubuat seperti tahun-tahun sebelumnya.”


...#####...


*Sir adalah sebutan untuk seorang pria kesatria dalam Chivalric Order, dan Dame untuk wanita.