Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 33: The Fall of the Dwarf, part 1



...VOLUME 5...


...»»»»» War of Islan «««««...


...⸸\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=—ж—\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⸸...


...—26th January, E643 | Dwagnowa, Dwarf Kingdom—...


DAMAI adalah kata yang sangat jauh untuk mendeskripsikan suasana di ibukota modern para dwarf. Kesibukan, kebisingan, juga kepanikan tengah melanda kota paling maju dari seluruh kota di Islan, bahkan dunia. Warga sipil tidak ada yang beraktivitas di luar rumah. Pasar tutup. Kedai tak ada yang buka. Hanyalah para prajurit yang sibuk mondar-mandir ke sana kemari, juga para teknisi yang sibuk mempersiapkan senjata-senjata sihir kerajaan.


Namun, dibandingkan suasana kota, keadaan di istana lebih tak terkendali lagi. Ruang singgasana dipenuhi teriakan marah sang raja. Para menteri saling menyalahkan. Belasan prajurit telah bergeletakan bersimbahkan darah, dibunuh karena tak becus dalam bekerja. Gozilla Titanous Gazoa benar-benar murka.


Alasannya hanya satu: gedung pusat teknologi, penelitian, dan eksperimen telah disusupi. Sebagian besar senjata telah dihancurkan. Proyek tiruan Kapal Vegasus, Damocles, menjadi salah satu dari sebagian teknologi mutakhir yang tak lagi bisa digunakan. Kekuatan tempur Dwarf Kingdom telah berkurang lebih dari setengah tanpa kehadiran teknologi-teknologi kebanggaan mereka.


“Di mana Khrometh?” tanya sang raja yang sudah kembali tenang dan duduk di singgasananya. “Kenapa dia belum juga tiba?”


Para menteri langsung senyap. Para prajurit yang berjaga segera beraksi memindahkan mayat-mayat para prajurit tak berguna yang telah sang raja bunuh.


“Kenapa diam? Kalian sekarang sudah jadi bodoh? Atau, kalian tiba-tiba jadi tuli? Perlu kiminta para prajurit memotong telinga kalian untuk diganti yang baru?”


“Ya-Yang Mulia, kami sudah minta tiga prajurit untuk memanggil Tuan Khrometh. Ka-Kami yakin dia sudah dalam perjalanan ke sini.”


“Begitu? Kalau begitu akan kutunggu. Jika sampai setengah jam Khrometh tak kunjung kembali, kalian semua akan dikirim menghabisi para bedebah yang berani memamerkan pasukan di hadapan kerajaanku.”


...* * *...


Khrometh baru hendak memasuki gerbang ibukota saat tiba-tiba sebuah ledakan menggema dari arah belakangnya. Seketika ia berbalik arah. Dan seketika pula mantan anggota Deus Guardian ini terdiam dengan mata membelalak.


Ledakan itu datang dari tempat markas pribadinya berada. Skala ledakan sangat besar. Bahkan dari tempatnya berdiri, Khrometh bisa melihat puncak ledakan yang terus menanjak seolah menggapai langit. Perbukitan yang ada di sana sebagian besarnya lenyap.


Kedua tangan Khrometh terkepal, gigi-giginya menggemeretak. Tanpa berpikir panjang lagi ia langsung melesat ke arah terjadinya ledakan.


“Tuan Khrometh! Yang Mulia memanggil Tuan!”


Khrometh tak memedulikan teriakan frustrasi para prajurit. Sedikit pun ia tak peduli. Khrometh melapisi tubuhnya dengan mana, melesat dalam kecepatan penuh menuju markas yang sudah ia bangun dengan Stakhneth.


Dengan kecepatan penuh, Khrometh tiba di sana hanya dalam belasan menit.


Apa yang ia saksikan seketika membuat amarah Khrometh meledak-ledak. Tidak ada yang tersisa dari semua ciptaannya dan Stakhneth selain golem raksasa—kreasi superior pertamanya dengan sang rekan—yang tubuhnya mengeluarkan asap. Selain golem, semuanya hancur tak terbentuk. Rata dengan kubangan tanah yang meleleh seolah disirami lava lebat.


Tubuh saudaranya juga ikut lenyap.


“ARGHHHHHH!”


Teriakan marah Khrometh menggema memenuhi udara. Seumur-umur, Khrometh tidak pernah marah hingga seperti ini.


...* * *...


“Berapa lama lagi sampai kita bisa meluncurkan Vermillion Demolisher lagi?” tanya Edelweiss pada kaptennya yang bertugas mengurusi bagian persenjataan Kapal Vermillion Neva—saat ini mereka berada pada jarak dua ribu meter di udara.


“Pengisian ulang energi baru sepuluh persen. Butuh tiga menit lagi sampai Vermillion Demolisher bisa ditembakkan. Kenapa? Commander ingin meratakan Dwagnowa juga?”


“Commander! Ma’am!”


"—gnowa. Huh, ada apa, Kapten?” Pandangan Edelweiss berpindah pada kapten yang lain. “Kenapa kau panik?”


“Ada objek yang mendekat dari bawah. Bentuknya seperti golem. Kemungkinan dia menyadari keberadaan kita.”


“Meskipun kita dalam mode tak terlihat?”


“Ma’am, perintah!”


“Maju! Ke langit Dwagnowa! Kita ladeni golem itu di sana.”


“Siap, Ma’am!”


Kapal Vermillion Neva melesat tak terbendung menuju langit Dwagnowa. Golem itu memang sangar mengejar, tetapi kecepatannya inferior. Golem itu tertinggal. Dan, hanya dalam beberapa detik, Kapal Vermillion Neva telah menampakkan diri tepat 2000 meter di atas istana kerajaan para dwarf.


“Ma’am, kita beri peringatan atau langsung menyerang?”


“Hancurkan keempat gerbang kota sebagai peringatan, setelahnya aku akan beri mereka ultima—cih! Golem itu sudah sampai. Semuanya, mode penyerangan total! Kapten Carera, siapkan teleportasi darurat. 5 persen saja kapal kita rusak, kita langsung kembali ke Nevada.”


...* * *...


“Mampus kalian, bangsat!” maki Khrometh begitu dua misil peledak meluncur keluar dari kedua telunjuk golemnya.


Laju kedua misil lebih cepat dari laju golem kebanggaannya, tetapi sang dwarf legendaris tetap harus menelan pil kesal. Kapal sialan itu—yang jelas terlihat sebagai tiruan Damocles—berhasil menghentikan paksa kedua misil peledak. Dua gelembung keunguan memerangkap kedua misil lalu melelehkan mereka sebelum sempat meledak.


Khrometh mendecih, spontan mengaktifkan mode penyerangan golem yang sudah ia ubah nama menjadi Agravain sejak modifikasi terakhirnya pada setengah abad yang lalu. Golem raksasa setinggi lima meter itu langsung mengeluarkan sepasang sayap naga berwarna hitam dengan garis tepi merah. Cincin “halo” yang melayang di kepalanya berpendar terang. Semua senjata di tangan, lengan, dan badannya mengacung keluar.


Khrometh tak sempat menggerakkan golemnya memulai serangan dalam mode penyerangan. Kapal musuh sudah melayangkan rentetan laser energi dan bola-bola peledak. Khrometh mengendalikan golemnya dengan cekatan, menghindari rentetan laser dan bola peledak.


Sesekali Khrometh memaksa golemnya bermanuver di udara, mencoba mendaratkan serangan balik. Namun, kapal musuh lebih gesit dan sangat terampil. Kecepatannya juga adalah sesuatu yang membuat sang dwarf muak. Lebih dari itu, kemampuan sang pilot sangat patut diacungi jempol. Itu seperti ada beberapa orang yang menggerakkan kapal itu sekaligus.


Sebuah laser berhasil mengenai bagian kiri perut golem yang Khrometh kendalikan. Namun, sang dwarf tidak emosi. Sebaliknya, ia menyeringai. Selain karena pertahanan golemnya sangat tinggi, Khrometh berhasil memanfaatkan laser tadi untuk membuat golemnya berputar-putar seperti kehilangan kendali. Tujuannya bukan untuk mengendurkan kewaspadaan kapal usuh, melainkan untuk melontarkan sang golem semakin tinggi ke udara.


Khrometh berhasil melontarkan golemnya ke udara setelah melepaskan tiga gelombang laser secara bersamaan. Sekarang posisinya ratusan meter lebih tinggi di udara daripada kapal musuh. Ini kesempatannya memastikan lawannya kena, dan Khrometh takkan melewatkan kesempatan.


“Kalian akan musnah dalam kebinasaan,” bisik Khrometh sembari menyatukan semua titik tembak senjatanya, membuat energi berkumpul di satu titik di hadapan dada golem. “Lenyaplah dalam segala ketidakberdayaan, Agravain Apocalypse!”


...* * *...


“Ma’am, kita melambat! Waktu melambat! Gelombang radiasi energi yang golem lepaskan membuat reaktor mana memanas. Kita akan meledak dalam tiga puluh detik, Ma’am!”


“Kapten Carera, aktifkan teleportasi darurat!”


...* * *...


Buaaaaam!


Ledakan besar seketika menelan seisi langit Dwagnowa. Ledakannya cukup keras, panas, dan menjangkau area yang jauh. Itu bagaikan bola pijar yang dihancurkan di tengah-tengah udara. Mayoritas bangunan hancur terkena efek kejut yang ledakan sebabkan. Dinding-dinding kota bahkan hancur separuh bagian atasnya.