
KETIKA Lilithia keluar dari cerminnya di bekas puncak tertinggi Pegunungan Amerlesia, matanya melihat Nueva sedang berdiri diam di lereng gunung. Ia tak melihat keberadaan Edward di mana pun; hanya ada Nueva sendiri. Tetapi Lilithia juga tidak bertanya, ia tak peduli. Itu bukan urusannya jika Nueva memberi tugas tertentu pada sang pelayan.
Lilithia mengeluarkan mayat Neira dari cermin, menjatuhkannya dengan kasar ke permukaan datar gunung. Barulah pada saat itu sang emperor berbalik. Matanya tak langsung tertuju pada raga tak berjiwa Neira, tetapi pada pundak kiri Lilithia yang telah kehilangan tangan. Tak ada simpati di wajahnya, hanya sebelah alis mata yang sedikit terangkat.
“Kau kehilangan satu tanganmu,” komentar sang emperor. “Apa Neira terlalu kuat?” tanyanya lagi.
Lilithia mengabaikan pertanyaan itu dan menendang mayat Neira hingga raga itu terlempar ke depan kaki Nueva. “Bagianku sudah selesai,” katanya dingin—cermin teleportasi bermanifestai di kanannya. “Jika kau tak memerlukanku lagi, aku akan langsung kembali ke Axellibra.”
“Kau tak perlu lagi ke sana. Aku memerlukanmu di sini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ritual dimulai. Ada kemungkinan aku menjadi sangat lemah hingga tak bisa berbuat apa-apa.”
“Bukannya itu tugas Edward? Ke mana kau kirim dia? Kau bisa memanggilnya ke sini untuk menjagamu.”
“Edward sudah beristirahat. Aku tak bisa menjangkaunya sekarang. Karena itu aku perlu kau menjagaku sampai aku selesai.”
Lilithia mendengus, tapi cermin teleportasinya langsung menghilang. “Kau harus membayarku mahal setelah ini,” ketusnya. “Bukan saja untuk waktuku yang berharga, tapi juga untuk tanganku yang hilang.”
“Tak perlu khawatir.” Nueva mengambil raga Neira dan melangkah tepat ke tengah-tengah formula lingkaran sihir kompleks yang ada di pusat puncak permukaan gunung. “Semua keinginanmu akan dipenuhi.”
Lilithia tak mengatakan apa pun; tak perlu baginya mengatakan apa pun. Ia melangkah pelan menuju lereng gunung.
Tak menemukan gundukan untuknya duduk, Lilithia langsung merebahkan diri di lereng gunung. Ia memang sudah mendapatkan perawatan pertama terhadap lukanya, tetapi ia tetap butuh istirahat. Lilithia tak menghiraukan perbuatan Nueva sedikit pun.
...* * *...
Nueva meletakkan jasad Neira Claudian di tengah-tengah lingkaran sihir, kedua tangan dia ia buat merentang.
Untuk memanggil Thevetat, di mana pun dia bersembunyi, diperlukan naga yang kuat dan tidak normal sebagai pengorbanan. Itulah kesimpulan Nueva dan Edward setelah melakukan sejumlah percobaan. Dan selain Neira Claudian, tak ada makhluk lain yang memenuhi persyaratan—karena itu pulalah mereka sangat memerlukan sang wanita naga.
Kemudian Nueva melukai pergelangan tangannya sendiri dan menetaskan darah pada tubuh sang wanita.
Begitu ia rasa cukup, bekas lukanya ia bekukan. Lantas Nueva mengambil posisi di dekat kepala Neira. Ia berlutut dengan satu kaki, kedua telapak tangan berada di atas dua lingkaran sihir kecil.
Mana dalam jumlah besar menguar dari tubuh Nueva, dan seketika sebagian lingkaran sihir berpendar terang.
“Datanglah, penuhilah panggilanku, Progenitor Dragon Thevetat!”
...—Unknown Place—...
Thevetat baru hendak memulai merapalkan lagi kutukannya atas Edenia saat tiba-tiba badannya dipenuhi beraneka ukiran rune yang berpendar. Spontan saja ia mengumpulkan energi di mulut dalam jumlah besar dan berbalik badan. Jika ia diharuskan mati, paling tidak ia harus menunjukkan betapa jijik dirinya akan penciptanya. Thevetat melepaskan Dragon Breath berkonsentrasi super tinggi miliknya.
Energi yang mulutnya lepaskan lebih dari cukup untuk melenyapkan sebuah gunung besar, tetapi Thevetat tak sempat melihat apakah serangannya berhasil mengenai Edenia atau tidak. Progenitor para naga ini telah terlebih dahulu ditelan kegelapan sebelum serangannya melesat sempurna.
...—Pegunungan Amerlesia—...
Nueva memandang takjub pada apa yang tersaji di hadapannya. Tubuh Neira melebur menjadi cairan gelap kental dan melayang perlahan ke udara dan menggumpal menjadi bentuk bola. Cahaya tiba-tiba memancar terang di pusat cairan kental gelap itu. Nueva bisa tahu karena cahaya putih itu sampai memancar keluar. Dan kemudian, mana dalam jumlah yang terlampau besar untuk Nueva ukur memancar keluar dari bola cairan kental tersebut.
Menyadari panggilannya terpenuhi, Nueva langsung mengaktifkan semua lingkaran sihir yang tersisa. Ia tidak boleh membiarkan Thevetat sampai memanifestasikan dirinya secara utuh. Jika itu sampai terjadi, Nueva akan diharuskan melumpuhkannya terlebih dahulu untuk memulai ritual. Maka dari itu, Nueva langsung memulaikan ritual penggabungan sebelum Thevetat bermanifestasi secara sempurna.
Kubah kegelapan mulai muncul dari lingkaran-lingkaran sihir yang paling pinggir, dan kubah itu terus mengecil dan menelan apa yang dilaluinya dengan perlahan.
Pada saat yang bersamaan, rentetan rune telah mengurung tubuh Nueva dengan sempurna. Seperti yang ia khawatirkan, Nueva kehilangan kontrol akan tubuhnya. Dan begitu rentetan rune menghubungkan tubuhnya dengan Thevetat yang belum utuh, rasa sakit seketika menelan seisi tubuh sang emperor—sampai-sampai ia kehilangan kesadarannya.
Pada saat yang bersamaan, kubah kegelapan telah sempurna mengurung Nueva dan Thevetat dalam bentuk bola. Bola kegelapan itu kemudian mengecil dan mengecil hingga akhirnya berhenti total saat diameternya tepat satu meter. Bola yang dipenuhi energi yang sangat besar itu dalam keadaan melayang satu meter di atas permukaan gunung yang rata.
...* * *...
Ketika akhirnya Lilithia menolehkan pandangan pada Nueva, bukanlah sang emperor yang ia dapati.
Yang menyambut pandangan sang first commander adalah bola energi berwarna hitam yang melayang satu meter di udara. Meskipun ia tak punya sihir sensorik, ia bisa merasakan gejolak mana yang begitu besar dari dalam bola. Massa bola energi itu juga sangat besar sampai-sampai membuat permukaan gunung di bawahnya retak, padahal bola energi itu dalam keadaan melayang.
Berhasil menarik perhatiannya, Lilithia spontan mendudukkan diri. Namun, sebelum ia sempat berdiri, mata Lilithia terlebih dahulu melihat sosok familier di kejauhan. Dia tengah terbang dengan semburan api di kedua kakinya. Lilithia mengabaikan bola energi hitam itu dan spontan melesat ke sisi lereng gunung yang lain. Saat itu pula ia benar-benar yakin kalau itu Xavier.
Lilithia bertanya-tanya, apa tujuan Xavier datang ke sini? Oh, apa dia telah mengetahui kalau ia terluka saat melawan Neira, dan karena itu memutuskan ke sini?
“Apa yang kau lakukan di sini, Lilithia?”
Lilithia kalah cepat dalam melepas tanya; Xavier terlebih dahulu melempar tanya ke mukanya bahkan sebelum sang commander berhenti terbang.
Dan bersamaan dengan melontarnya pertanyaan itu dari mulut Xavier, menghilang pulalah kesenangan yang sempat bersemi dalam dirinya. Xavier tidak datang untuk menemuinya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Xavier lagi, kali ini posisinya melayang tepat dua meter di hadapan Lilithia. “Bukannya kau harus berada di Axellibra?”
“Justru aku yang harusnya bertanya. Apa tujuanmu ke sini? Apa kau melarikan diri dari Fie Axellibra?”