
...—18th July, E642 | Imperial Palace, Nevada, Vermillion Empire—...
Xavier berakhir menginap di istana Artemys dua malam—dan momen ketika terbangun melihat wajah lain dalam pelukannya itu sungguh melenakan.
Mungkin pernikahan sama sekali bukan hal yang buruk. Muda ia memang, tetapi 15 adalah usia di mana kebanyakan hal (bir dsb) menjadi legal. Tak jarang ada yang sudah menikah di usia itu, terutama putri-putri para bangsawan. Baginya untuk menikah di usia 17 tahun 3 bulan, itu sama sekali bukan hal yang tak normal.
Xavier menginjakkan kaki di depan istana megah kekaisaran yang terbuka. Ia tidak tiba melalui teleportasi. Tidak pula ia terbang lalu mendarat di depan istana ini. Menggunakan [Space Magic] ia membuka portal dari kediaman Artemys ke belakang sebuah penginapan, kemudian dari sana berjalan kaki ke sini.
“Nona Kanna, apa dia sudah kembali?” tanya Xavier pada seorang maid yang datang menyambutnya.
“Yang Mulia sudah kembali dari kemarin, Commander. Beliau juga berpesan untuk langsung menyuruh Twelfth Commander ke ruangannya jika sudah tiba di sini.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan langsung ke sana. Terima kasih pemberitahuannya, dan kau tidak perlu mengantarku ke sana.”
Xavier sudah berkali-kali memasuki ruang kerja Kanna, tidak perlu bagi siapa pun mengantarnya ke sana; ia hapal lokasi ruangan itu, dan ia bisa menuju tempat itu dengan mata terpejam.
Begitu tiba di depan pintu ruang kerja sang putri, Xavier mengetuk pintu tiga kali, dan pintu itu ia buka saat kata masuk terdengar dari dalam.
“Ah, Xavier, kau sudah kembali! Dan Alice?”
Hanya ada tiga orang di ruangan itu, dan semuanya wanita yang seusia: Meyrin dan Monica duduk di sofa memeriksa dokumen-dokumen, sedang Kanna duduk di kursi meja kerjanya—dia juga sibuk dengan dokumen-dokumen.
“Ini laporanku tentang investigasi terhadap kekuatan militer Kazarsia Kingdom,” kata Xavier, untuk sementara mengabaikan pertanyaan Kanna. “Aku tidak menemukan informasi apa pun tentang kekuatan asli Jendral Clown,” tambahnya sembari mendudukkan diri di kursi di depan meja Kanna. “Aku sudah mencarinya ke mana-mana di Avarecia, tetapi aku tidak menemukan satu pun individu dengan kekuatan yang besar. Asumsiku, Jendral Clown sudah mengetahui kedatanganku dan memutuskan keluar dari ibukota.”
“Jendral Clown memiliki kepala plontos, di kepalanya ada bekas luka berbentuk tanda silang, dan wajahnya sedikit garang. Kau yakin tidak melihat orang yang seperti itu?” tanya Kanna sedikit kurang yakin, laporan yang Xavier berikan dia letakkan di sudut meja.
Xavier terdiam sejenak pendengar pertanyaan klarifikasi Kanna. Pikirannya kembali meleset ke saat ia berada di Avarecia.
“Mendengar deskripsimu, aku ingat pernah duduk sebangku berbicara dengan pria yang mirip Jendral Clown. Tetapi aku yakin dia bukan Jendral Clown. Dia terlalu lemah untuk menjadi Jendral Clown yang berkekuatan besar. Dia hanyalah pria yang dikutuk dengan keberuntungan yang tak masuk akal dan dipaksa berada dalam posisi yang membuatnya bisa dihukum mati kapan saja.”
“Keberuntungan yang tak masuk akal?”
“Kau akan sulit memercayainya, Kanna, pria ini benar-benar memiliki keberuntungan yang mengerikan. Kau yakin ingin mendengarnya?”
Melihat Kanna mengangguk, Xavier lantas menceritakan apa yang pria berkepala plontos itu ceritakan padanya. Tentu saja tidak lengkap dan detail; Xavier tidak mungkin mengingat hal yang tak penting seperti itu hingga begitu detail. Ia hanya menceritakan apa yang ia ingat dengan jelas saja.
“Sungguhan? Kau tak bergurau?”
“Hm…Monica menyadarkanku akan fakta yang menarik tentang sosok Jendral Clown. Mungkin, orang yang kau anggap bukan Jendral Clown adalah individu yang sama dengan yang kami dan orang-orang anggap sebagai Jendral Clown. Namun, dia bukan Jendral Clown yang sebenarnya. Barangkali dia boneka yang dikendalikan, barangkali pula dia hanyalah manusia lain yang dipasangi ilusi. Atau, dia menggunakan rune pada tubuhnya untuk membuatnya terlihat lemah.”
Xavier memikirkan perkataan Kanna selama puluhan detik, kemudian menggeleng. “Aku yakin tak ada ilusi yang dipasang pada tubuhnya. Meskipun dia menggunakan rune pada tubuhnya, hawa kuat yang tubuhnya pancarkan tak mungkin bisa disembunyikan. Tidak peduli sebagai apa seorang petarung menyamar, mereka tak bisa menyembunyikan tubuh terlatih mereka.”
“Kalau boneka yang dikendalikan?”
“Itu kemungkinan yang masuk akal, tetapi entah bagaimana aku kurang yakin dengan hal itu. Jika dia boneka seperti asumsimu, berarti akting Jendral Clown sangat mengesankan hingga bisa mengelabuiku. Namun, melihat mata pria itu, aku tak berpikir dia boneka. Kesungguhan dan depresi yang mulutnya utarakan benar-benar terlihat dari pancaran matanya.”
Kanna mengangguk mengerti. “Aku mengerti alasanmu, tetapi saat ini kita tidak punya pilihan lain selain mengasumsikan dia boneka yang dikendalikan Jendral Clown asli—dan Jendral Clown asli ini memiliki akting yang sangat mumpuni.”
Xavier mengedikkan bahu, tidak tertarik untuk mengajukan keberatan. “Lantas, bagaimana hasil kunjunganmu ke Avarecia?” tanya balik Xavier.
“King Kressia memastikan dia takkan berada di pihak mana pun. Kazarsia Kingdom akan mencanangkan program peningkatan populasi. Ikut dalam konflik akan membuat program mereka menjadi kontra-efektif. Aku juga berhasil membangun kerja sama antara kerajaannya dan Provinsi Hongariand. Untuk kunjungan satu hari satu malam, itu sangat membuahkan hasil.”
“Itu bagus. Paling tidak sekarang ada dua tempat netral dalam konflik besar ini.”
“Lantas, bagaimana dengan Alice?” Kanna kembali pada pertanyaan yang sempat Xavier elak dari menjawabnya. “Kau tidak berhasil menemukannya.”
“Alice merasa Nevada tidak akan baik untuknya, jadi aku memberinya saran untuk pergi ke Cornnas. Dengan apa yang terjadi di istana itu beberapa hari lalu, kehadiran Alice akan bagus untuk kakakmu. Aku memintanya menjadikan Alice pengawalnya. Kau bisa menemui Alice di sana.”
“Itu sangat disayangkan Alice tidak kembali ke sini, tetapi aku bisa mengerti mengapa dia merasa Nevada akan baik untuknya. Aku akan menemuinya malam ini, mungkin juga aku akan bermalam di tempat Artemys. Kurasa kami perlu berbicara banyak dengan saudari tiriku itu. Oh, kami merujuk pada diriku dan juga Monica.” Senyum elegan berkembang di bibir Kanna, dan Xavier tidak ingin mengetahui apa maksudnya itu.
“Ah,” lanjut Kanna, “aku ingin Monica terus berada di sisiku. Apa tidak masalah jika sekarang dia berhenti menjadi sekretarismu di Divisi 12? Menurutku, Monica lebih cocok dengan tugas-tugas yang kuberikan.”
Xavier melirik pada Monica sesaat, sebelum kemudian mengembalikan pandangan pada Kanna. “Aku tidak punya hak untuk mendiktekan Monica harus melakukan apa. Jika dia nyaman bekerja denganmu, aku tidak bisa melarang. Lagipula, tidak ada tempat yang lebih aman bagi Monica selain berada di sisimu, Kanna.”
“Kau yakin dengan itu? Kau takkan kesepian tanpa kehadirannya di ruang kerjamu?”
“Aku rela menempatkan nyawaku di ujung tanduk jika itu untuknya, apa perlu kujawab pertanyaan itu?” Xavier berdiri dari kursinya. “Aku harus kembali ke Verada sekarang. Aku sudah cukup merepotkan Heisuke.”
“Baiklah kalau begitu. Tapi lusa kau harus sudah berada di ruang pertemuan saat matahari setinggi tombak. Aku juga sudah memberitahukan semuanya untuk hadir dalam pertemuan itu.”
Xavier mengangguk, melangkah menuju pintu keluar. Xavier membuka pintu, tetapi dia tak langsung keluar. “Monica, jika kau lebih suka bekerja di sini, aku tidak keberatan,” katanya sebelum dia benar-benar keluar.
“Jadi, Monica, apa kau mau menerima permintaanku itu?” tanya Kanna beberapa saat setelah Xavier pergi. “Aku akan sangat terbantu jika kau menyanggupinya.”