Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 16: After, part 4



...—Axellibra, Emiliel Holy Kingdom—...


Rossia harus mengakui itu mengejutkan mendengar Saint Marcus dan pasukannya telah tewas. Ia tidak mengekspektasikan mereka habis di tangan Eternity. Serikat ilegal itu tak seharusnya kuat; Marcus dan bala tentaranya diekspektasikan menyapu habis Eternity, kemudian lanjut bermobilisasi ke Etharna. Nyatanya ekspektasi itu dibabat habis. Hanya Rossia sendiri saja yang kembali hidup-hidup. Sisanya bergerombol menyempil ke alam kematian.


“Lantas, bagaimana dengan Nona Fie?” tanya Rossia sembari melangkah mengikuti prajurit yang diutus pendeta agung untuk menjemputnya. Tadi malam ia hanya memberikan laporan saja; mereka tidak mendiskusikan apa pun.


“…Tidak ada kabar dari Nona Fie. Beliau bahkan belum menginjakkan kaki di sini sejak kemarin lalu.”


Rossia langsung mengangguk mengerti. Jika nonanya tidak mengatakan apa pun, berarti jelas dia tidak mengekspektasikan Marcus dan pasukannya akan kembali. Mengingat beliau juga tidak memberi instruksi apa-apa untuk mengirim pasukan tambahan, itu artinya Eternity juga tidak selamat. Kedua belah pihak telah binasa, itu kesimpulan yang tepat. Dan, yang paling jelas, masalah ini sepenuhnya diserahkan untuk mereka tangani.


Tak lama kemudian, Rossia tiba di gereja utama. Ia tak terkejut saat mendapati King Lexata IX berada di jajaran kursi yang mengitari meja bundar besar. Marcus adalah salah satu saint terkuat; kehilangannya dan 15.000 prajurit bukanlah perkara kecil. Terlebih lagi, ikut campur kekaisaran tak bisa dipandang sebelah mata. Mereka harus memutuskan tindakan apa yang harus diambil.


Melihat pendeta agung menuruni anak tangga dari lantai atas, Rossia menyegerakan diri menduduki salah satu dari beberapa kursi yang masih kosong ‒ kebetulan kursi itu berada di antara Alfonso idiot dan Saint Petra.


“Heh, kupikir aku akan berkunjung ke makammu hari ini.”


Rossia mengabaikan bisikan Alfonso idiot yang mencoba cari gara-gara dengannya; ia tak punya waktu meladeni pria kekanakan tersebut. “Apa kau sudah diinformasikan apa yang akan terjadi, Saint Petra?” tanyanya pada individu yang lebih waras.


“Itu alasan mengapa kita berada di sini, bukan begitu?”


Oke. Rossia menarik kembali kata-katanya. Ia tidak menyukai kedua pria di kedua sisinya ini. Yang satu idiot dan besar mulut, yang satunya lagi menyebalkannya bukan main. Ah, mengapa coba ia duduk di antara mereka?


Karena ini kursi yang paling dekat, batin Rossia menjawab pertanyaannya sendiri, kemudian ia menggeleng pelan dan memfokuskan pandangannya pada pendeta agung yang sudah menduduki kursinya.


“Pertama sekali,” mulai sang pendeta—yang seketika sukses membuat semuanya fokus, “Rossia, kau akan mengisi posisi yang Marcus tinggalkan. Kau tidak punya masalah dengan itu, bukan?”


“Tentu saja tidak, Pendeta. Kau perlu orang yang berkompeten untuk mengisi posisi yang Saint Marcus tinggalkan. Aku sangat mengerti kalau saat ini belum ada yang bisa lebih diandalkan untuk mengisi posisi itu daripada diriku.” Rossia mengangguk mantap mendukung jawabannya sendiri. “Sangat tidak rasional sekali jika aku menolak. Sampai kau menemukan kandidat lain, aku akan mengisi posisi tersebut.”


“…Baiklah, terima kasih pengertiannya.” Sang pendeta agung menyunggingkan senyum kekakek-kakekannya. “Kalau begitu langsung saja kukatakan apa yang terjadi sehingga Marcus dan pasukannya gagal. Crow Lucardia. Aku tidak mengekspektasikan vampire itu akan berada dalam Eternity. Di antara kita, hanya aku yang bisa mengalahkannya.”


“…Jadi, kau ingin mengatakan kalau Vampire Kingdom berada di balik Eternity?” tanya Rossia dengan cepat. “Mereka sudah mengotori Islan dan kita baru tahu sekarang? Bukankah kewaskitaanmu tak terivalkan, Pendeta Agung?”


“Nak Rossia…akan sangat baik jika kamu menutup mulut rapat-rapat dan biarkan aku selesai berbicara.” Sang Pendeta menambahkan senyum ramah di bibirnya, tetapi semua tahu kalau senyum itu memancarkan arti yang berlainan.


…Rossia menutup mulutnya rapat-rapat, tetapi tidak sebelum ia menendang kaki Alfonso idiot yang terlihat seperti sedang menahan tawa.


...—Imperial Palace, Nevada, Vermillion Empire—...


Belum sempat Kanna membuka pintu ruang singgasana dengan sempurna, tujuh patah kata itu sudah menusuk ke dalam telinganya. Dan Kanna tidak jadi masuk; pintu itu ia tutup, lalu dirinya melangkah pergi. Kanna tidak perlu bertanya apa itu artinya. Xavier sengaja menghindarinya. Anak itu…. Itu mengagumkan bagaimana dia bisa membuat orang lain kesal.


Menghela napas panjang, Kanna melangkah kembali ke ruang kerjanya di lantai satu. Mengesalkan, memang, tetapi sisi baiknya Artemys akan kembali dengan segera. Mereka bisa berbicara lebih lanjut tentang masalah ini nanti. Untuk sekarang, ia harus menyelesaikan memeriksa semua lembar dokumen yang menumpuk di mejanya. Rasanya kertas-kertas tak ada habisnya.


Oh, betapa Kanna memerlukan Meyrin untuk meringankan tugasnya!


...—Etharna, Favilifna Kingdom—...


“Ayo pergi ke Coralina!” seru Elmira dengan ceria begitu ia menginjakkan kaki di ruang singgana—seketika membuat Meira dan Hebranest (yang baru kembali tadi pagi) memandangnya penuh tanya, menuntut penjelasan.


“Kita akan mengambil alih Coralina secara tidak langsung,” jelas sang ratu sembari menepuk tangan. “Mary akan mengontrol Mortana dan para petinggi istana, termasuk juga pendeta yang memimpin gereja terbesar kedua di Islan. Ekralina Kingdom akan menjadi boneka Favilifna Kingdom.”


“Eh, bukannya kau akan memberi ultimatum dan menunutut pertanggungjawaban Mortana? Bukankah itu yang kau bilang akan kau katakan pada kekaisaran?”


“Tentu saja,” Elmira membenarkan pertanyaan Miera. “Hanya saja, itu akan bersifat publik. Di mata publik, kita akan membuat Ekralina memberi kompensasi atas percobaan kurang ajar yang mereka lakukan. Namun, tidak ada yang perlu tahu kalau Ekralina adalah boneka Favilifna.”


...* * * * *...


Cestapola, Kota Pelabuhan Timur yang terkenal, terlihat lebih ramai dari hari ke hari. Xavier mendarat di atap salah satu penginapan di kota tersebut setengah jam setelah meninggalkan Nueva dengan segala keheningan ruang singgasananya. Hampir semenit setelahnya, Monica mendarat di samping Xavier dengan sebuah tas kecil di punggung.


“Kau terlihat menikmati waktumu di sini,” komentar sang commander. “Apa kita perlu menghabiskan waktu di kota ini sekembalinya dari Veria?”


“Itu tergantung. Kalau waktu yang kuhabiskan di Veria cukup memuaskan, nggak perlu menghabiskan waktu di kota ini saat kembali. Namun, kalau kau hanya membuatku kesal di sana, sekembalinya dari sana kita harus menghabiskan dua atau tiga hari di sini. Namun, Xavier, kau masih belum mengatakan padaku tentang tugas yang kau terima sehingga kita harus ke Veria.”


Benar. Xavier belum mengatakan pada Monica kalau tujuan utamanya untuk menyelamatkan Artemys. Tetapi itu bukan berarti ia menyembunyikannya. Hanya saja, akan lebih efektif jika tidak ia katakan sekarang. Bagaimanapun, ia ingin Monica menikmati perjalanan mereka ke Veria. Bukannya senang, Monica justru akan kesal jika ia beri tahu alasan utamanya sekarang.


“Akan kuberitahu setelah kita tiba di Veria,” kata Xavier dengan senyum simpul di bibir.


“Baiklah. Pastikan saja apa pun itu yang menjadi tugasmu, itu bukan sesuatu yang tidak menyenangkan.”


“…Menyenangkan atau tidak itu relatif. Ayo pergi. Lebih cepat kita tiba di Veria, lebih baik.”


...»»»»» End of Volume 2 «««««...


»»»»»»Volume 3: Beyond the Shackle of Fate