
DI UTARA Carolina, tepatnya di dalam arena beradius dua ratus meter yang dipenuhi genangan racun di sana-sini, pertarungan antara Dermyus, Hekiel, dan Alforalis menghadapi Fifth Saint Bedivere masih berlanjut. Namun, berbeda dengan sebelumnya, tak ada lagi boneka beruang yang membantu sang saint. Bedivere, dengan tubuh yang dipenuhi garis-garis hitam seperti urat, menghadapi ketiga lawannya seorang diri.
Nyatanya tiga lawan satu, tetapi Bediverelah yang berada di atas angin. Tangan kiri Hekiel sudah menghitam dan tak bisa lagi digunakan. Pipi kiri Dermyus menghitam dan ia telah kehilangan pedangnya – Bedivere telah menghancurkan pedang itu hingga bagian gagangnya juga. Tinggal Alforalis yang belum terkena serangan Bedivere, tapi hanya masalah waktu sampai itu terjadi.
Pertarungan sudah berlangsung lumayan lama. Namun, itu bukan karena ketiganya bisa mengimbangi kekuatan sang saint. Ketiganya hanya berusaha untuk tidak menyerang Bedivere dari dekat. Baik Dermyus, Hekiel, dan Alforalis sama-sama berusaha menjauh dari sang saint. Begitulah bagaimana berbahayanya Bedivere. Berada di dekatnya sudah cukup untuk membuat tubuh mereka berhenti berfungsi.
Jika harus dikatakan dengan gamblang, pada titik ini mereka hanya berusaha keras menghindari sang saint sembari mengulur waktu sampai ada yang menghancurkan arena dari luar.
Tak ada yang bisa mereka lakukan untuk menyerang Bedivere. Spell sihir akan diserap. Jika mereka menghiraukan udara beracun yang mengelilingi sang saint dan nekat menyerang secara fisik, tangan dan kaki mereka akan meledak. Sekarang Bedivere memiliki efek peledak di tubuhnya. Dia seperti sudah menyerap semua kekuatan beruang tadi ke dalam tubuhnya. Saint Bedivere sudah menjadi sangat kuat sampai pertarungan menjadi sepihak saja.
Tentu saja Dermyus bisa berubah menjadi petir dan menghanguskan sang saint dari dekat. Dengan begitu ia takkan merasakan efek udara beracun yang mengelilingi Bedivere. Namun, sekali lagi, Bedivere bisa menyerap spell. Jika ia nekat menyerang dalam wujud petir, riwayatnya akan langsung tamat saat sang saint menyerapnya.
Dermyus mendengus saat serangan petirnya kembali diserap, padahal ia sudah melepaskan laser petir hitam tipis berkonsentrasi tinggi tepat ke belakang kepala Bedivere. Sungguh, bagaimana dia bisa mengatasi serangannya saat perhatiannya teralihkan pada Alforalis? Apa dia punya sihir sensorik yang menakjubkan? Atau, instingnya terlalu tajam?
“Kau pikir Elizabeth akan datang?” tanya Hekiel yang telah berada di kiri Dermyus sembari menyodorkan dua pedang adamantite.
Dermyus dengan cepat mengambil kedua pedang itu. “Entahlah,” jawab Dermyus tanpa mengalihkan pandangan dari sang saint. “Aku memintanya tetap di Carolina; kita hanya bisa berharap dia datang.”
Reinhart, apalagi dengan satu tangannya yang buntung, tak memiliki kekuatan ofensif yang cukup untuk menghancurkan arena dari luar. Satu-satunya harapan mereka adalah Elizabeth. Mungkin ia telah melakukan kesalahan karena menyuruh wakilnya tetap di kota. Mungkin juga tidak. Jika sejak awal Elizabeth ia ajak, sekarang pasti dia sudah terjebak di sini bersama mereka. Jadi, keputusan itu tak bisa dianggap seba—
“Dermyus!”
Panggilan itu membuat Dermyus tersentak. Matanya melebar melihat Bedivere sudah melesat ke arahnya. Ia refleks mengubah tubuhnya menjadi petir lalu melesat ke sisi lain arena, membuat kedua pedang adamantite jatuh ke lantai. Dermyus kembali ke wujud normal sembari dalam hati mengecam diri sendiri. Ia sedikit lengah, dan sedikit lengah itu hampir membuatnya kehilangan nyawa. Ia kembali berhutang jasa pada Hekiel.
“Ini memuakkan,” ucap Bedivere dengan mata tajam dan wajah murka. “Paman-paman sekalian sekarang seperti tikus got di hadapan kucing. Tikus got hanya berusaha melarikan diri dari kucing yang siap menerkam.”
Dermyus tidak bereaksi terhadap ucapan Bedivere. Begitu pula dengan Alforalis dan Hekiel. Ketiganya tetap diam di tempat tanpa mengatakan apa pun, tetapi tubuh mereka sudah siap untuk bergerak kapan saja.
“Paman-paman takut digigit dan diterkam sebagaimana kucing memperlakukan tikus got?”
“Tak perlu khawatir,” lanjut Bedivere sembari melangkah maju. “Dame Bedivere takkan menggigit dengan kejam. Dame Bedivere akan menggigit dengan nakal. Kalian takkan menjerit karena kesakitan; paman-paman akan menjerit karena kenikmatan. Kalian akan ketagihan. Jadi, tak perlu berlari dari Dame Bedivere. Mari kita bersenang-senang.”
Satu hal yang belum berubah adalah sakit mental yang sang saint alami – Dermyus tidak mengerti bagaimana wanita yang mentalnya terganggu seperti Bedivere bisa diangkat menjadi saint.
“Menghiraukan gadis cantik seperti Dame Bedivere adalah bentuk kejahatan yang nyata.” Raut wajah sang saint tampak mengeras – Dermyus spontan was-was. “Sekarang Dame Bedivere benar-benar tak mau berbaik hati lagi. Dame Bedivere akan hancurkan paman-paman sekalian sampai paman-paman menjerit kenikmatan.”
Bedivere langsung menyongsong maju setelah mengatakan apa yang perlu dikatakan. Dermyus spontan meleburkan sebagian tubuhnya menjadi petir. Namun, tiba-tiba Bedivere bermanuver ke barat. Hekiel telah berlari melingkar ke selatan. Tetapi Bedivere tak berhenti. Kedua tangannya menyatu, dan akar-akar berduri dan beracun langsung saja keluar dalam jumlah yang besar.
Alforalis dan Dermyus dipaksa menghadapi akar-akar berduri sang saint, membuat wanita yang bersangkutan bisa fokus pada Hekiel. Hekiel mengerti ia berada dalam bahaya; akar-akar berduri itu sangat banyak, hampir memenuhi tiga per empat arena. Namun, sang commander tetap berlari walaupun ia harus berzig-zag. Dinding-dinding adamantite ia ciptakan di belakangnya demi memperlambat sang lawan, meskipun hanya sedikit.
Naas bagi Hekiel, Bedivere menjadikan salah satu dinding sebagai dorongan baginya melesat maju. Dia sudah berada belasan meter di hadapan Hekiel dengan seringaian arogan. “Kau yang pertama, Paman. Salahkan orangtuamu karena kau lebih jelek dari kedua paman yang lain.”
Ejekan itu membuat Hekiel spontan berhenti; ia tidak jadi berbelok. Perempatan memenuhi pelipisnya. Ia benar-benar kesal sekarang. Kulitnya sudah menjadi merah marun sebagaimana adamantite. Napas ia tarik dalam-dalam, kemudian langsung menyerang dalam keadaan menahan napas. Bersamaan dengan lesatannya, tombak-tombak adamantite muncul di kanan dan kirinya lalu melesat bagai peluru menyasar Bedivere.
Bedivere memiringkan badan menghindari salah satu tombak, lalu tangannya menarik tombak itu untuk kemudian ia gunakan memblok tombak-tombak yang lain. Pada saat yang bersamaan, Bedivere memunculkan ribuan akar berduri dari sekelilingnya. Kesemua akar itu menyerang Hekiel bagaikan cambuk-cambuk yang hidup.
Hekiel berada dalam posisi menyerang. Ia terpaksa berhenti lalu melompat mundur menghindari serbuan akar. Namun, jumlah akar itu terlalu banyak. Mereka tidak saja keluar dari depan, kanan, dan kirinya, tetapi juga dari belakang. Tak ayal punggungnya terkena dua kali sabetan sebelum dinding adamantite muncul dan melindunginya.
Naas lagi bagi Hekiel, Bedivere sudah berada tepat di hadapannya saat fokusnya teralihkan pada rasa sakit di punggung. Hekiel hanya bisa memandang horor. Dengan cengiran jumawa sang saint mendaratkan bogem mentah di wajah sang commander. Hekiel terpental begitu kuat hingga menghantam salah satu pilar penopang atap. Wajahnya terasa panas, Hekiel merasa ledakan akan menelan kepalanya.
“HEKIEL!”
Dermyus hanya bisa berteriak saat ledakan itu menelan wajah Hekiel von Vanguarta. Sementara itu, Alforalis tidak memedulikan – dia terlalu disibukkan dengan akar-akar berduri untuk melihat ke sana—akar-akar itu tak ada habis-habisnya.