Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 30: It Begins!, part 3



...—Pangkalan Sementara Imperial Army—...


Dermyus tiba bersama satu batalion pasukan di pangkalan sementara militer yang terletak di antara Verada dan Carolina.


Mereka bisa tiba dengan cepat karena menggunakan jasa prajurit spesiasil teleportasi. Sisa sembilan batalion (dan tambahan satu batalion medis) akan datang secara berkala; Elizabeth akan datang bersama dengan batalion terakhir. Keterbatasan spesialis teleportasi mereka membuat memobilisasikan pasukan secara cepat sulit untuk dilakukan.


Dermyus langsung memimpin pasukannya menuju area teleportasi yang berada di pangkalan. Ia hendak meminta langsung diteleportasikan menuju perkemahan Hekiel dan pasukannya. Namun, beberapa prajurit di sana memintanya menunggu kehadiran Reinhart. Pria itu rupanya sudah terlebih dahulu di sini untuk mengecek kondisi, tapi dia kembali lagi untuk membawa para pasukannya ke sini.


Dermyus tak memaksa mereka. Berangkat bersama Reinhart dan pasukannya lebih baik. Ia hanya membawa satu batalion. Meskipun ia yakin jumlah segitu akan cukup membantu, tetapi pergi bersam Reinhart lebih baik. Teleportasinya bisa diandalkan untuk membuat pergerakan mereka lebih cepat. Jadilah Dermyus menunggu.


...—Royal Palace, Crocos, Desert Kingdom—...


Islan memanas. Mayoritas pemimpin terkuras pikiran mereka memusingkan hal itu, apalagi efek setelah perang yang lebih berdampak bagi perekonomian. Namun, itu tak berlaku bagi beberapa penguasa. Pemimpin Desert Kingdom adalah salah satunya ‒ sedikit pun sang ratu tak memusingkan keadaan Islan yang tengah bergejolak.


Qibtya menikmati segelas teh lemon sembari berendam dalam kolam pemandian tertutup istana. Udara terlalu panas di luar; berendam dalam air dingin dengan segelas teh lemon adalah kenikamatan yang ia butuhkan. Tentu saja Qibtya tidak sendiri. Di sampingnya ada Venia Moon yang juga menikmati dinginnya air bersamanya. Mereka sudah berada dalam kolam selama beberapa menit.


“Apa menurutmu perang tak berguna itu sudah dimulai?” tanya Qibtya saat melihat Venia akhirnya memasang ekspresi rileks—wanita pengguna pasir ini sebelumnya merasa bersalah karena bersantai ria saat para prajurit kemungkinan sedang berperang.


“Aku tidak tahu, Yang Mulia. Mungkin sudah, mungkin juga belum. Yang jelas, tolong jangan menyinggung tentang perang lagi. Membayangkan mereka bersusah payah mempertahankan nyawa saat aku sedang berleha-leha seperti ini membuatku dipenuhi rasa bersalah, Yang Mulia.”


Qibtya hanya tertawa mendengar respons yang seperti sebelumnya. “Kau tak perlu memikirkan itu.” Sang ratu kembali mengulangi perkataannya yang sudah beberapa kali ia ucapkan. “Aku sengaja mengirim jendral itu beserta para prajurit yang membersamainya untuk menyingkirkan mereka. Meskipun mereka bersalah karena telah mematuhi Alabamas dulu, aku tak bisa menyingkirkan mereka begitu saja karena jasa mereka. Ini kesempatan yang bagus. Jika mereka selamat, bagus. Jika tidak, Jiren bisa menjadi Commander. Lagipula, itu hanya perang tak berguna. Tak perlu kita ambil pusing.”


Seperti yang telah ia katakan, Qibtya tidak tertarik pada perang yang terjadi. Ia hanya memanfaatkan kesempatan itu untuk menyingkirkan para prajurit yang “kurang berguna”. Ia tak bersungguh-sungguh ingin membantu New World Order menang. Karena itu pula ia tak mengirimkan Venia, Jiren, dan yang lainnya ke medan perang. Ia bergabung dengan New World Order karena El, mengapa ia harus menuruti mereka saat El sudah tak ada?


“…Bukannya kau bilang ingin menghancurkan Vermillion Empire, dan Commander Xavier secara khusus, karena telah membunuh ‘Tuan El’-mu?”


“Aku tak terkejut kau pernah berniat keluar, Yang Mulia. Jelas bagi semuanya kau hanya mau mendekati El. Tapi, bagaimana kau yakin kalau El masih hidup?”


“Heh, heh, heh. Kau tidak memahami intuisi seorang wanita, Venia?” Qibtya menggeleng kepala menunjukkan kekecewaan. “Aku sudah depresi jika Tuan El benar-benar mati. Tapi nyatanya aku baik-baik saja. Lebih dari itu, Evillia sialan itu tak menjawab pertanyaanku saat kutanya. Wanita itu saingan terberatku, dia tahu wajah El, jadi tak mungkin dia tak tahu apa yang terjadi. El pastilah masih hidup. Yang tak kumengerti, mengapa dia mau bekerja sama dengan vampire tengik itu.”


Mengingat kembali bagaimana Evillia menerima dan mendukung Vermyna menjadi pemimpin New World Order kembali membuatnya jengkel. Namun, Qibtya bisa menahan amarahnya dari bergejolak saat berpikir kalau elf itu mungkin punya maksud tersembunyi. Bisa saja dia ingin mempertahankan New World Order saat El kembali. Daripada membiarkan Vermyna berbuat sesuka hatinya, lebih baik menurut dan memanfaatkannya. Barangkali itu yang Evillia pikirkan.


“Kupikir sebaiknya kau jangan terlalu berharap, Yang Mulia. Kau harus tetap memprioritaskan kerajaan. Kau harus melahirkan penggantimu secepatnya. Jika terjadi apa-apa denganmu, kerajaan akan hancur karena konflik internal. Keturunan darimu sangat diperlukan kehadirannya. Ah, bagaimana kalau kau menikah saja dengan Jiren? Kau bisa bercerai dengannya saat punya satu anak dan kembali menunggu El.”


“Jangan jadi idiot, Venia.” Ekspresi Qibtya datar. “Aku tak bermaksud menghina Jiren yang sudah kau anggap adik, dia juga teman masa kecilku. Hanya saja, aku akan terlebih dulu memotong tangannya sebelum dia berani menyentuhku. Tubuhku terlalu suci untuknya.” Qibtya memeluk dirinya sendiri dengan ekspresi angkuh. “Hanya Tuan El yang boleh menyentuhku. Anak kami akan menjadi raja terbaik sepanjang masa. Ah, memikirkan masa depan bersamanya membuatku sedikit mela—”


“Yang Mulia!” sela Venia. “Sebaiknya kau tak melanjutkan fantasimu. Ayo kita segera keluar dari sini dan melanjutkan pekerjaan. Setelah makan siang kau harus menghadiri pertemuan dengan ketua perhimpunan peternak. Setelah itu, pertemuan dengan perwakilan Caligula Kingdom menanti. Kita tak ingin kau terlambat, kan? Kita tak ingin ada yang melihat kalau kau seolah tak menganggap perang besar sedang di ujung tanduk, kan?”


Qibtya mendengus mendengar ucapan Venia. Ia baru ingin berfantasi ria, mengingat kembali mimpinya tadi malam yang menggairahkan. Namun, sekarang ia jadi kehilangan minat. Mungkin sebaiknya ia mengurangi beban tugasnya dan melimpahkan lebih banyak tugas pada Venia?


...—Pangkalan Sementara Imperial Army—...


Penantian Dermyus tak memakan waktu yang lama. Kurang dari lima menit, Reinhart tiba dengan dua batalion miliknya. Seperti divisinya, Reinhart mengatakan sisa batalion Divisi 4 akan menyusul dipimpin wakilnya. Mereka tidak tahu situasi Hekiel bagaimana; kehadiran mereka secepat mungkin diperlukan. Mereka langsung diteleportasikan ke tempat perkemahan Hekiel dan pasukannya.


Tidak ada siapa pun lagi di sana. Tetapi dari lingkungan di sekitar mereka, Hekiel dan pasukannya telah berangkat antara satu sampai tiga jam. Tujuan mereka jelas Carolina. Kemungkinan sekarang sudah tiba, dan kemungkinan juga pertempuran sudah pecah. Reinhart langsung mengusulkan agar mereka segera ke sana juga.


Dermyus mengangguk mengikuti saran Reinhart; mereka langsung bergerak dengan cepat.