
Lucifer punya kepercayaan penuh terhadap dirinya. Tidak peduli apa yang dilakukan Sataniciela, itu tak berarti di hadapannya.
Namun begitu, walau ia kelihatan rileks, tubuh Lucifer siap menyerang kapan saja. Bukan terhadap sang iblis, melainkan sang commander yang tergeletak tak sadarkan diri sekitar dua ratus meter di belakang Sataniciela. Lucifer akan langsung menghajarnya saat ia melihat sedikit saja pergerakan pada tubuh itu.
Sementara itu, Sataniciela terus memusatkan energi di dalam tubuh sampai tubuhnya menggembung. Seluruh kulitnya sudah terkelupas. Pakaiannya terbakar habis. Sataniciela tak lagi berbentuk humanoid. Ia sudah seperti gorila yang sepenuhnya terbuat dari energi dengan api dan petir yang mengelilingi.
Sataniciela hanya perlu menunggu Monica; ia akan langsung menabrakkan diri pada Lucifer tepat saat Xavier diteleportasi.
“Sekarang, Sataniciela!”
Sataniciela tidak memerlukan aba-aba lain lagi. Aku takkan melupakan pengorbananmu ini, Monica, batinnya lalu melesat maju dengan tenaga penuh. Ia tidak tahu apakah serangannya kali ini akan bekerja, tetapi hanya ini yang bisa ia lakukan. Ia serahkan semuanya pada keyakinan semata. Akan kudirikan menara indah dan kunamakannya dengan namamu di neraka.
Lucifer mengerjap saat tiba-tiba tubuh tak sadarkan diri Xavier menghilang. Dan saat kerjapan itu selesai, tubuhnya sudah dihantam tubuh Sataniciela. Ledakan yang besarnya tak terduga seketika menyelimuti area pegunungan yang sebelumnya memang sudah hancur tak terkira. Lucifer tenggelam dalam pusat ledakan.
Gejolak energi yang Sataniciela pancarkan membuatku terkecoh, batin Lucifer tak terhibur. Tubuhnya tidak hancur; ledakan yang terjadi hanya membuat tubuhnya seperti dipijat-pijat. Rupanya dia sedari awal memang ingin menjauhkan sang commander dariku. Hm. Tidak buruk sebagai upaya terakhir, Sataniciela.
...—Wilayah Terdalam Neraka—...
Mata Sataniciela membuka lebar, refleks mendudukkan diri. Sensasi ditarik paksa ke alam kematian masih membuat sekujur jiwanya menggigil, tetapi untung saja asumsinya benar. Goetia telah mengetahui apa yang akan terjadi padanya dan menyiapkan raga untuk jiwanya huni. Walaupun dia menjengkelkan, tetapi tak ada yang lebih bisa diandalkan melebihi Goetia.
“Nona Sataniciela!” seruan Goetia diiringi pelukan perat pada raga sang ratu iblis. “Hiks. Hiks. Hiks. Tega sekali Nona pergi, hiks. Untung saja Asmodeus bisa mendapatkan Behemoth kembar muda dengan cepat. Jika tidak…uwaaaa! Jangan tinggalkan aku, Nona!”
Sataniciela menghela napas panjang menghadapi tingkah sang wanita. Namun, ia tak bisa menunjukkan kekesalan di sini. Goetia baru saja menyalamatkan nyawanya. Jika di tidak menyiapkan wadah untuk ia—hmmm…apa ini hanya perasaannya saja atau Goetia memang sudah membesar?
Sataniciela baru menyadari kalau Goetia memeluknya seperti ia memeluk guling, dan tangannya terlalu kecil untuk me—hm…terlalu kecil?
Sataniciela spontan mendorong Goetia menjauh, buru-buru memperhatikan dirinya dengan detail.
Dan seketika saja mata sang ratu membelalak lebar dengan mulut menganga akibat syok yang luar biasa.
“Goetia….”
“Y-Ya?”
“Goetia….”
“A-Apa ada masalah, No-Nona?”
“…Bisa kau jelaskan mengapa ragaku berwujud anak kecil usia lima tahunan begini?”
“Wa-Wadah yang kusiapkan membentuk raga mengikuti keinginan terpendam sang jiwa…?”
“Mengapa kau memalingkan wajah? Coba katakan sambil menatap mataku.”
“I-Itu karena a—aaah! Lihat, Nona! Ada Behemoth! Aku harus pergi dan menangkapnya sekarang juga!”
“Goe—” Sataniciela tak sempat menyelesaikan panggilannya; Goetia sudah lenyap dari hadapan sang ratu.
“GOETIAAAAA!”
...* * *...
Apa yang terjadi ketika seseorang mati? Monica tidak pernah menanyakan pertanyaan semacam itu. Daripada menanyakan pertanyaan gelap seperti itu, ia lebih suka menanyakan bagaimana agar bisa hidup dalam bahagia selalu.
Yang mengejutkan dari menyelipnya pertanyaan itu, bagaimana ia masih bisa berpikir dan merasa meski jiwanya telah terpisah dengan raga? Bukannya kehidupan itu berakhir begitu jiwanya lepas? Dan, kenapa pula kedinginan yang membaluti jiwanya perlahan-lahan hilang? Kenapa ia tiba-tiba merasa seperti berada di atas kasur yang em—
Monica tersentak, matanya membelalak lebar.
Ia mendapati diri benar-benar berada di atas kasur yang empuk. Kepalanya terletak di atas bantal yang lembut. Badan tertutupi selimut yang menyejukkan. Ia bukan seperti seseorang yang baru saja terbunuh; Monica merasa seperti baru terjaga dari mimpi.
Spontan Monica mendudukkan diri, mengelaborasikan matanya ke sekeliling—satu tangannya menahan selimut agar tak terjatuh.
Monica tak bisa berkata-kata. Matanya terpesona. Ia berada dalam ruangan agak luas dengan interior yang memanjakan mata. Ruangan ini berdinding terbuka. Di kanannya ia melihat pantai dalam kondisi malam hari, tetapi di kirinya ia melihat pantai saat hari masih siang. Sementara itu, di depannya terlihat salju turun dengan agak lebat. Dan di sisi yang lain, hujan mengguyur membasahi pepohonan berbunga yang tumbuh jarang-jarang.
“…Apa ini surga?”
...—Pegunungan Amerlesia—...
Lucifer tidak beranjak dari pusat ledakan bahkan sampai debu dan asap yang mengepul menghilang sepenuhnya.
Mantan malaikat agung ini tak terlihat terluka sedikit pun. Sebaliknya, ia terlihat lebih bugar. Ledakan besar barusan seakan memberinya pijatan yang melampaui kemampuan tukang pijat terhebat dalam semesta.
Lucifer hendak menyebarkan mana-nya untuk mencari lokasi sang commander. Namun, hujan yang turun dengan tiba-tiba membuat perhatian Lucifer spontan mengarah ke langit.
Apa hawa panas yang disebabkan serangan-serangan tadi menarik semua awan untuk berkumpul di atas sana?
Lucifer menutup kedua mata, membiarkan air langit membasahi kulit dan bulu sayapnya. Untuk alasan yang tidak ia mengerti, hujan ini membuatnya rileks. Ia seperti berada dalam kedamaian yang konstan.
Merasakan sensasi ini membuat Lucifer enggan beranjak, apalagi membuka mata. Namun, ia tak membiarkan hujan memperlenanya. Ia membuka mata dan menurunkan pandangan. Lucifer lantas merentangkan tangan lebar-lebar.
“Tidak peduli di mana pun dia memin—”
Ucapan Lucifer terhenti di celah bibir. Mana yang hendak ia sebarkan langsung memudar. Ia tak merasakan kehadirannya, tetapi sosok yang matanya tangkap benar-benar sang commander. Pria itu berdiri di dasar kawah dengan wajah yang menengadah dan mata terpejam.
Lucifer spontan membawa raganya turun. Ia mendarat sekitar sepuluh meter di hadapan sang commander—dan ia masih tak bisa merasakan kehadirannya!
Hal pertama yang melintas di kepala Lucifer adalah asumsi kalau Xavier telah menjadi luar biasa kuat, makanya ia tak mampu lagi merasakannya. Namun, Xavier yang berada di hadapannya adalah Xavier yang sebelum berevolusi. Dia telah kembali menjadi lebih muda. Dia seperti telah kehilangan evolusinya.
“Kukira dia meneleportasikanmu ke tempat yang jauh,” ucap Lucifer, mencoba membuka percakapan.
Mendengar ucapannya, sang commander menurunkan pandangan dan membuka mata. Dia terlihat sangat normal. Mata merahnya yang juga telah normal tak memancarkan kekuatan apa pun. Namun, untuk alasan yang tak ia mengerti, seluruh insting tubuhnya langsung memasuki mode waspada.
“Kau telah kehilangan evolusimu,” kata Lucifer lagi, mencoba menghiraukan perasaan tak mengenakkan yang telah muncul. “Apa kau telah menjadi sangat lemah hingga hawa keberadaanmu menghilang?”
“Lucifer.”
“Kau pantas dipuji karena ma—”
“Berlutut.”
Mata Lucifer seakan mau melompat keluar saat tiba-tiba ia menemukan dirinya dalam keadaan berlutut.
...»»» End of Chapter 47 «««...