Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 9: Causa Proxima, part 4



...—Perkemahan Knight Templar—...


Untuk menjadi bagian dari Knight Templar, setiap lulusan akademi yang ada di setiap kota wajib memenuhi dua hal.


Pertama, mereka harus menyelesaikan latihan keras selama dua minggu penuh. Latihan itu memaksa para calon prajurit hingga ke batas mereka. Saking keras dan ketatnya latihan ini, seorang peserta latihan hanya punya waktu tiga jam untuk tidur dan lima puluh menit untuk makan dan mandi (termasuk di dalamnya buang air) dalam sehari. Artinya, mereka punya waktu makan dan mandi masing-masing hanya sepuluh menit (makan tiga kali dan mandi dua kali, total lima puluh menit).


Kedua, calon prajurit Knight Templar harus berhasil mencapai sisi lain Mountain of Testament—sebuah gunung setinggi satu setengah kilometer yang dianggap suci oleh gereja. Jika syarat yang pertama sudah memberatkan calon prajurit, syarat kedua ini lebih berat lagi. Pasalnya, para prajurit tidak diberi perbekalan apa pun. Mereka juga tidak diizinkan membawa apa-apa selain satu senjata dan sebuah tenda kecil.


Setiap bulannya, ada rata-rata tiga ribu lima ratus peserta yang mencoba lulus dari syarat pertama. Dari jumlah itu, rata-rata hanya delapan puluh persen yang lulus. Dari delapan puluh persen yang lulus itu, kurang dari tiga puluh persen berhasil mencapai sisi lain Mountain of Testament—sisanya gugur dalam rintangan-rintangan yang sengaja dibuat di gunung itu.


Marcus Vehelmi Vandiesell adalah salah satu dari mereka. Pria berambut abu-abu pendek yang berdiri melawan gravitasi ini telah melewati kedua syarat itu.


Hanya saja, ia lulus sekitar delapan tahun yang lalu saat berusia enam belas tahun. Di usianya yang kedua puluh, ia diangkat menjadi seorang Saint. Ia adalah yang termuda dari para Saint saat itu. Sekarang usianya dua puluh empat, dan ia telah menjadi salah satu Saint yang terkuat. Jika diurutkan berdasarkan yang terkuat, ia akan menduduki peringkat empat. Meski begitu, jika ia mengerahkan semua kemampuannya, Marcus yakin bisa menangani para Saint di bawahnya sekaligus satu lawan delapan.


Karena itu, saat Pendeta Agung memilihnya untuk mengatasi Eternity, tidak ada Saint yang menawarkan diri untuk membantu. Mereka semua percaya ia bisa melakukannya. Meskipun kekuatan penuh Eternity masih misteri bahkan bagi Pendeta Agung yang kewaskitaannya tiada yang merivali, mereka percaya Marcus bisa mengatasinya.


Pasukan yang berada di bawah kepemimpinan Marcus total berjumlah tiga puluh ribu, tetapi ia hanya membawa dua per tiga dari mareka. Dan dari dua per tiga itu, Marcus hanya akan mengerahkan sepuluh ribu prajurit untuk memasuki kawasan Lembah Terlarang Ed. Sepuluh ribu prajurit sisanya akan bersiaga jika sewaktu-waktu Imperial Army mengintervensi.


“Saint Marcus, Sir!”


Pria berwajah rupawan dengan tinggi satu koma delapan meter itu spontan menolehkan wajah.


“Seperti yang Saint Marcus katakan, barier yang mengurung Lembah Terlarang Ed benar-benar melemah. Tidak ada lagi energi tak terukur yang konstan menyuplai mana pada barier. Kita bisa mengerahkan beberapa belas meriam sihir untuk menghancurkannya.”


Pendeta Agung belum pernah salah dalam meramalkan masa depan. Namun, ketangguhan barier yang melindungi Lembah Terlarang Ed diketahui oleh semuanya. Sang nephilim sendiri bahkan tak bisa menghancurkannya. Karena itu, Marcus ragu dengan ramalan sang pendeta terkait barier itu. Namun, prajurit ini baru saja membuktikan apa yang Pendeta Agung ramalkan.


Apa yang terjadi?


Pasti ada alasan mengapa barier itu menjadi lemah. Tidak mungkin barier itu melemah tanpa sebab. Marcus memercayai segala sesuatu tidak terjadi dengan sendirinya. Dunia ini mematuhi hukum kausalitas. Air takkan mendidih jika tak ada temperatur yang menaikkan suhunya. Begitu pun dengan barier yang mengurung lembah terlarang.


Apa Hernandez memang memprogram agar barier itu melemah di waktu tertentu?


Marcus ingin berkonsultasi dengan Khrometh, sang dwarf pasti bisa memberi pencerahan padanya. Namun, Khrometh berada di Dwarf Kingdom. Memang, ia bisa mengirim seorang prajurit pengguna teleportasi untuk itu. Namun, sejak ada yang menyusup ke tempat tersembunyinya Khrometh, sang dwarf tak lagi mau menemui orang lain. Mengirim prajurit pun percuma.


“Siap, laksanakan, Sir!”


Marcus mengangguk, mengizinkan sang prajurit melaksanakan tugas yang ia berikan. Ketika prajurit itu keluar dari tendanya, Marcus kembali melanjutkan pemikirannya. Melamun dan berpikir adalah hobi Marcus; melakukan itu untuk memberi asumsi terkait pelemahan diri yang terjadi pada barier itu adalah pemanfaatan waktu yang sangat sempurna.


...—Pedalaman Warebeast Great Kingdom—...


Jubah dan topeng hitam yang biasa mencirikan seorang Neix hari ini sudah tidak lagi menghiasi tubuhnya. Waktu untuk menyembunyikan diri sudah berakhir; kedua benda yang identik akan sosoknya itu sudah tak lagi diperlukan. Neix sudah sepenuhnya percaya diri ia bisa berdiri di hadapan orang-orang yang berani menentangnya. Neix pada detik ini tidak lagi berpikir ada yang berada di atasnya.


Six Crests of Hope? Supreme Magic? Throne of Heaven? Apa itu? Neix tidak memerlukan itu. Ia tidak perlu kekuatan yang Edenia cipta atau apa pun yang berhubungan dengannya. Ia menciptakan kekuatannya sendiri. Ia adalah makhluk yang berdiri menentang segala batas yang dunia berikan padanya. Ia membebaskan dirinya dari segala hal yang mengekang. Ia berevolusi. Ia makhluk pertama yang mencapai kesempurnaan. Ia makhluk pertama yang mencapai kedewaan.


Setidaknya, itu adalah apa yang Neix yakini saat melihat refleksi dirinya di sebuah cermin yang muncul begitu saja dari ketiadaan.


Memandang balik dirinya dari cermin itu adalah seorang pria berkulit kelewat pucat.


Mata merah menyala dengan pupil vertikal itu memandang intens pemiliknya. Refleksi diri Neix memiliki rambut hitam yang memanjang bergaya raven. Hidungnya bangir, rahangnya kuat, wajahnya proporsional, dan Neix memiliki telinga yang runcing ke atas dan ke bawah. Lalu, dua buah tanduk kecil mencuat di dahi kanan dan kirinya. Di antara kedua dahi itu, tepatnya di tengah-tengah dahi, sebuah simbol segi delapan berwarna ungu menempel penuh keangkuhan.


Neix bercelana hitam semata kaki—celana itu agak ketat, tetapi tidak cukup ketat untuk membuat pemakainya risih. Sementara, bagian tubuh atasnya tidak dibaluti jenis pakaian apa pun. Hanya perban putih bersih yang meliliti tubuhnya dengan sempurna hingga ke leher. Kedua tangannya juga turut dililiti perban hingga tak tampak darinya meski hanya ujung kuku.


Tidak ada sandal atau sepatu yang membungkus kaki Neix, tetapi itu tak berarti ia bertelanjang kaki. Seperti tubuhnya yang dipenuhi perban, kakinya pun demikian. Dan Neix tidak memijak lantai. Tubuhnya melayang beberapa centi di atas lantai gua. Tidak, ia sama sekali tidak menggunakan sihir apa pun. Tubuh Neix HANYA tidak menyentuh lantai.


“Aku yakin bahkan Vermyna tidak mengekspektasikan hal ini,” ucap Neix pada dirinya sendiri, tangannya bergerak meleburkan cermin hingga menjadi serpihan debu.


“Nah, sekarang saatnya kembali ke Etharna; Eternity akan bergerak ke Lembah Terlarang Ed.”


...######...


#Jika pembaca familier dengan manga/anime Bleach, bola crystal yang menelan jiwa Zegyus yang dibuat Neix itu mirip dengan Hogyoku yang dibuat Kisuke Urahara dan Aizen Sosuke.


#Barier pelindung Lembah Terlarang Ed disuplai mana oleh singgasana yang Hernandez buat, sedang singgasana mendapatkan suplai mana dari Kurtalægon. Dengan Kurtalægon berpindah tangan, singgasana Hernandez jadi tidak punya sumber mana. Tanpa sumber mana, itu melemah dengan cepat. Dan seperti yang “Ingatan Hernandez” katakan, ia akan menghilang (singgasana itu akan berhenti berfungsi setelah simpanan mana terakhirnya habis) setelah menjalankan perannya yang terakhir—dan peran itu bukanlah meneleportasikan Nizivia. Kita akan lihat peran itu dalam volume ini.