
...—Coralina, Ekralina Kingdom—...
King Mortana sangat sadar diri kalau ia sama sekali bukan raja yang pemberani.
Jika raja-raja lain berani duduk di atas kuda memimpin para prajuritnya, Mortana tidak begitu. Jangankan itu, Mortana akan merasa ketakutan saat ada orang berbadan besar memandangnya tajam dengan mulut membentak keras. Karenanya, ke mana pun ia pergi, Mortana tidak pernah membiarkan orang-orang seperti itu dekat dengannya. Ia selalu memastikan pengawal-pengawal terpercayanya menjauhkan orang-orang seperti itu darinya.
Bukan tanpa alasan mengapa Mortana tumbuh menjadi individu penakut. Dalam keluarganya, hanya ia saja yang terlahir tanpa berkah ketampanan dan keindahan fisik. Hal itu membuatnya menjadi bulan-bulanan saudara-saudarinya. Mereka merendahkannya karena memiliki fisik yang tidak mencerminkan keluarga keluarjaan. Ia bahkan dipanggil “babii gemuk” oleh teman-teman saudara-saudarinya.
Yang lebih parah, yang meninggalkan trauma mendalam dalam hidup Mortana, saudari yang lebih muda darinya tega menuduh Mortana sebagai dalang dari penculikan yang menimpanya—dia tega menuduh Mortana hendak memerrkosanya. Padahal, Mortana telah bersusah payah berusaha menyelamatkan adiknya itu. Ia berkorban mental dan tenaga untuk menyelamatkan adiknya. Meski adiknya itu kerap merisaknya, sebagai saudara yang lebih tua ia tetap punya kewajiban melindunginya. Tetapi dunia ini sama sekali bukan tempat yang baik.
Mortana yang saat itu masih berumur 16 tahun dijebloskan dalam penjara yang dihuni para kriminal berbadan besar berwajah kasar. Di sana ia menjadi bulan-bulanan mereka. Jika bukan karena kebaikan Frabotta (ayah dari pengawal kepercayaannya yang sekarang) yang mengungkapkan kebenaran kepada sang raja, ia tentu sudah mati saat itu. Jika tidak ada manusia baik seperti Frabotta, Mortana takkan ada di sini.
Itu menjelaskan mengapa tak ada satu pun saudaranya yang hidup. Itu menjelaskan mengapa hanya Mortana yang tersisa dari keturunan raja sebelumnya. Mortana menyuruh Frabotta membunuh mereka satu per satu, kemudian mengkambinghitamkan saudaranya yang lain atas kematian mereka. Dan, itu juga menjelaskan mengapa Mortana apatis dalam hal yang berhubungan dengan keluarga.
Masa lalu yang jauh dari kata baik membuat Mortana tumbuh menjadi individu yang penakut dan paranoid. Ia tidak ingin berhenti menjadi raja; hanya dengan berposisi sebagai raja ia merasa aman dan nyaman. Karena itu ia menjalin hubungan mesra dengan Holy Kingdom. Karena itu ia menentang kekaisaran. Dan karena itu pula ia mendukung Holy Kingdom untuk mengambil alih Favilifna. Emiliel Holy Kingdom berguna dalam menjaga kedaulatan kerajaannya.
Setidaknya, itu adalah apa yang Mortana pikirkan belasan menit lalu sebelum mendengar kekhawatiran pengawal terpercaya—Foratta.
Meskipun Mortana mengakui ia tidak memiliki keberanian dalam banyak hal, ia sama sekali tidak bodoh. Saat mendengar Foratta mengkhawatirkan terjadi pertempuran yang melibatkan kekaisaran dan New World Order, ia langsung mengerti masalah utamanya: Emiliel Holy Kingdom akan menjadikan kerajaannya sebagai pusat penempatan pasukan mereka. Hal itu hanya mengartikan satu hal: posisinya terancam—kerajaannya akan hancur menjadi medan perang.
“Apa kita harus bergabung dengan New World Order?” tanya Mortana pada pengawal setianya dengan kepanikan yang sangat kentara di wajah. “Vladivta Kingdom adalah salah satu anggota mereka, tentu sangat mudah kita bisa diterima.”
“Raja, jika kita melakukan itu, Fie Axellibra bisa saja datang tanpa peringatan dan meratakan kerajaan dengan tanah.”
Muka Mortana seketika pucat pasi. Ia ingat akta perjanjian kerajaannya dengan Holy Kingdom. Salah satu poin dalam pernjanjian itu, Emiliel Holy Kingdom tidak menerima pengkhianatan dalam bentuk apa pun. Jika Ekralina Kingdom berkhianat, konsekuensinya akan sadis. Apa yang baru saja Foratta katakan tidak bisa dianggap gurauan.
“Sejujurnya, Raja, kita sama sekali tidak punya pilihan di sini. Posisi kerajaan kita sangat riskan. Jika kita tidak hancur di tangan Holy Kingdom, kita hancur sebagai medan perang. Kita seperti berada di antara dua jurang. Ke mana pun kita melompat, hasilnya sama-sama mati. Karenanya, Raja, mengapa Raja tidak membuat kontak dengan Kota Sihir Maidenhair yang baru-baru ini berdiri?”
“Apa maksudmu? Coba jelaskan.” Perhatian Mortana sepenuhnya tertuju pada Foratta—pria berusia dua puluh delapan tahun berbadan tegap.
“Kita tidak perlu mengubah haluan kerajaan. Raja hanya perlu membeli tempat di Kota Sihir Maidenhair. Aku yakin, dalam pertempuran yang tak terhindarkan nanti, Kota Sihir Maidenhair takkan tersentuh. Itu adalah tempat paling aman di Islan ini. Saat perang nanti meletus, raja bisa tinggal di sana sampai perang selesai. Namun, untuk memastikan Raja takkan kehilangan kerajaan ini, Raja harus bisa membuat perjanjian baru yang berisi jaminan dari Holy Kingdom untuk memulihkan kerajaan jika kerajaan hancur.”
Mortana mencerna ucapan Foratta untuk sesaat. Saat ia benar-benar memahami keseluruhan penjelasan Faoratta, senyum lebar berkembang di wajah agak bulat Mortana. “Ide yang brilian, Foratta!” serunya. “Dengan begitu, aku tidak perlu memusingkan apa yang akan terjadi. Aku hanya perlu duduk manis dan menunggu. Saat semuanya selesai, aku akan melanjutkan kepemimpinanku seolah semuanya baik-baik saja.”
“Benar, Raja. Raja hanya perlu duduk manis dan menunggu, biarkan orang-orang itu menikmati perang mereka. Memang, tindakan itu akan menimbulkan pergejolakan yang hebat dari warga. Mereka—tepatnya yang tersisa dari mereka—mungkin akan memberontak saat Raja kembali. Tetapi itu bukan halangan. Dengan uang, alasan dramatis dan janji-janji manis, rakyat tentu akan menerima Raja dengan penuh pengertian.”
Mortana bisa membayangkan hal itu. Saat ia kembali nanti dengan uang dan logistik, rakyat akan terpaksa mengerti. Mereka akan paham kalau ia tidak pergi karena ingin melindungi diri, tetapi karena ingin memastikan rakyat selamat dari kelaparan setelah perang. Pasalnya, perang dalam level besar pasti menimbulkan krisis—baik ekonomi maupun pangan. Pada akhirnya, ia akan dicap sebagai raja bijaksana.
“Kau sangat bisa diandalkan, Foratta!” puji Mortana dengan wajah sumringah. “Kau seperti ayahmu yang telah tiada. Kalian adalah orang yang paling bisa kupercaya dan andalkan. Karenanya, tidak perlu sungkan untuk meminta apa pun yang kau dan keluargamu perlukan. Aku pasti akan memberikannya jika bisa kuberikan.”
“Kata-katamu terlalu berlebihan untukku, Raja, tetapi kuterima dengan senang hati. Aku akan mengandalkan Raja saat mengalami masalah yang memerlukan bantuan Raja.”
“Ya, tidak perlu sungkan!” Mortana mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku tidak mungkin akan keberatan untuk membantu orang kepercayaanku. Sekarang, ayo temani aku. Kita harus berbicara dengan perdana menteri dan menteri luar negeri. Aku ingin mereka segera menyusun permintaan kerajaan dan mengirim delegasi ke Axellibra.”
“Tentu saja, Raja, tentu saja. Lebih cepat, lebih baik. Raja tidak perlu hidup dalam kekhawatiran yang berlebihan.”
Sekali lagi Mortana membiarkan bibirnya melengkung puas, kemudian berdiri dari singgasananya dan melangkah pergi—Foratta dengan setia berjalan di kirinya, satu langkah di belakang Mortana.