
Tubuh Nueva yang dipenuhi lebam dan bekas tusukan yang masih merembeskan darah meluncur deras setelah—untuk kesekian kalinya—kaki sang commander menghantam perutnya. Ia menghantam celah di antara dua gunung dengan begitu keras sampai menciptakan kawah lebar sedalam belasan meter. Dan kali ini, ia tak punya cukup mana untuk mempercepat regenerasinya. Xavier telah memaksanya untuk terus beregenerasi hingga mana-nya habis.
“…Itu adalah yang terakhir,” ucap Xavier yang telah menginjakkan kaki beberapa meter di samping sang emperor. “Waktuku juga sudah habis.”
Nueva tak mengarahkan pandangan pada pemilik suara, kedua matanya—yang tak lagi sempurna terbuka—memandang langit yang tak lagi menurunkan salju. Ia tak lagi bisa bangun tanpa merasakan rasa sakit yang akan membuatnya terjatuh kembali. Seperti kata sang commander, tadi yang terakhir. Ia telah kalah dengan telak.
Menang dan kalah adalah hal yang biasa, bukan sesuatu yang harus dipusingkan, bukan sesuatu yang harus disesalkan. Setiap orang pernah mengalami kedua hal itu secara silih berganti. Tak ada yang selalu menang, dan tak ada yang selalu kalah. Sungguh suatu hal yang normal.
Namun, dalam kasus Nueva ini berbeda, tidak sesederhana itu. Kekalahannya bukan hanya berarti pada sebatas kekalahan. Kekalahan Nueva berarti segala usahanya sejauh ini berakhir sia-sia. Kekalahan sang emperor berarti alasannya hidup menjadi sirna. Kekalahan yang ia alami sama saja artinya dengan mati – tak ada lagi alasan mengapa jiwanya harus terus hidup.
“Kau telah berada pada kondisi di mana berdiri saja menjadi hal yang luar biasa sulit. Apa yang kau rasakan sekarang, Your Majesty?”
Menggerakkan badan membuat sekujur tubuhnya menjerit kesakitan, tetapi kali ini Nueva memutuskan menolehkan pandangan pada pemilik suara.
“Xavier…sepertinya kau…kau sudah kembali.”
“Oh, kau menyadarinya. Tapi tak mengherankan. Antara diriku yang sekarang dengan yang sebelumnya memang sangat berbeda, terutama dalam kekuatan.”
“Begitu, ya….” Nueva mengembalikan pandangan ke langit biru. “Tak mengherankan usahaku berakhir dengan kegagalan. Aku terlalu puas dengan informasi yang Edward berikan. Aku terlalu terlambat untuk mengetahui tentang Six Crests of Hope. Dan tentang Anomali Magic…aku tidak tahu apa-apa.”
Kontra dengan ucapan siapa pun sebelumnya yang mengendalikan Xavier, Nueva bukannya tidak menerima kenyataan. Ia bukannya tak memercayai apa yang dia katakan. Ia tak memberi tanggapan karena memang tak ada tanggapan yang perlu diberikan. Setelah menyaksikan kekuatan sang commander, “mencoba” adalah satu-satunya opsi.
“Ini kemenanganmu, Xavier von Hernandez.” Nueva lanjut berkata dengan mata yang mulai memejam. “Meskipun aku masih percaya kalau keinginanku benar, tapi barangkali para makhluk fana tak menginginkannya. Ah…benar sekali. Tak ada arti dalam sebuah keberhasilan jika tak ada perjuangan di dalamnya. Dunia yang tak memberikan penderitaan takkan mampu melahirkan individu-individu yang mengesankan.”
“Kau berbicara seolah-olah aku akan membunuhmu. Kau masih belum melupakannya, kan, tentang apa yang kukatakan sebelum pertarungan tadi?”
“Tentu saja tidak. Tapi, jika pun kau bisa mengambil [Eternal Zero] tanpa membunuhku, pada akhirnya aku akan tetap mati. Aku tak lagi memiliki alasan untuk terus berada di dunia ini. Dunia ini akan lebih baik tanpa orang sepertiku.”
“Kau takkan mendapatkan simpatiku bahkan dengan memelas seperti itu. Aku sudah memutuskan akan melakukan apa terhadapmu; takkan ada yang dapat mengubah pendirianku.”
Nueva membiarkan bibirnya melengkung sedikit, tetapi kemudian menghilang dengan cepat. “Aku tak mencoba melakukannya. Dan sudah cukup basa-basinya, lakukan apa yang perlu kau lakukan. Ada perang yang masih harus kau tangani.”
Nueva mempererat pejaman matanya, menginginkan kegelapan untuk memeluknya dalam kehampaan abadi.
“Tanpa kau suruh pun akan kulakukan.” Sang commander melangkah mendekat. “Kau akan hidup tanpa kekuatan dan kekuasan. Heh, kau mungkin akan kubuat jadi pemerah susu sampai kau tak kuat lagi berdiri.”
“Hahahahaha!”
Tertawa rasanya menyakitkan, tulang-tulangnya ngilu parah, tetapi Nueva tak bisa menahan tawa itu untuk tak lapas.
“Apa yang lucu?” tanya sang commander—Nueva bisa merasakan dia berjongkok di sampingnya.
“Tidak ada. Tidak ada yang lucu. Teruskan. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Jangan buang-buang waktu lagi.”
Nueva telah hidup dalam keadaan yang lebih buruk dari hukuman yang Xavier akan berikan padanya. Tak ada hukuman yang bisa sang commander berikan yang lebih menyakitkan daripada episode terburuk dalam kehidupannya. Bagaimana bisa ia tak tertawa? Xavier tidak memi—hmmm….
Nueva spontan membuka kedua matanya, dan wajah pria yang tak asing lagi baginya adalah apa yang menyambut pandangan sang emperor.
“E-Edward…bagaimana bisa…?” Nueva benar-benar terkejut. “Aku membekukanmu berikut semua organ yang kau miliki. Bagaimana bisa kau selamat?”
“Itu bukan kata-kata yang baik untuk diucapkan pada orang yang baru saja menyelamatkanmu, Yang Mulia. Kau setuju denganku, kan, Commander Xavier?”
“…Edward Penumbra. Aku tidak tahu kau bisa berteleportasi. Apa kau memantau pertarungan kami? Bagaimana kau bisa selamat dari [Eternal Zero]?”
“Ayo berdiri, Yang Mulia.” Edward mengabaikan pertanyaan Xavier dan mengulurkan tangan pada sang emperor. “Kita tak menduga Commander Xavier bisa sekuat itu, tapi untungnya dia tak punya cukup mana untuk kembali menjadi kuat seperti tadi. Ini kesempatan kita.”
“Edward Penumbra!” teriak Xavier dengan pedang api hitam muncul di tangan kanan, kakinya siap melesat pada detik itu juga. “Kau pikir aku akan membiarkanmu menye—”
“Diamlah, Xavier.”
Edward berucap datar, sangat datar, tapi hawa mencekam yang memancar dari tubuhnya berkata lain. Bahkan Nueva sendiri terkejut. Pria ini…apa dia benar-benar Mammon? Auranya jauh lebih gelap. Aura Mammon tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Edward yang sekarang. Xavier yang hendak menyerang saja sampai terdiam di tempat, apalagi Nueva yang Edward sudah berjongkok di sampingnya.
“Ayo, Yang Mulia. Tunggu apa lagi, sambut uluran tanganku.”
Nueva merasakan firasat buruk. Ia memang belum pernah berada di hadapan makhluk itu. Namun, jika ada yang bisa memancarkan aura kelam yang bahkan membuat butiran salju sampai menghitam, tak salah lagi dia hanyalah makhluk itu. Jika Luciel bisa memasukkan jiwanya ke dalam tubuh Xavier, mustahil makhluk itu tak bisa melakukannya.
Aku tak punya pilihan. Aku akan berpura-pura menyambut tangannya dan kemudian membekukannya secara langsung.
“Kau datang di saat yang tepat, Mammon.” Berkata Nueva seraya membawa tangan kanan meraih uluran tangan itu. “Aku tak tahu apa yang akan terjadi kalau kau datang ter—!”
Tangan Edward tidak menerima tangan sang emperor. Tepat saat kedua tangan mereka hampir bersentuhan, dalam sekejap tangan Edward sudah bergerak menusuk tepat di tengah-tengah dada Nueva. Sebab itu mulutnya langsung terbungkam, sebelum kemudian memuntahkan darah.
Xavier tentu tak tinggal diam. Namun, sebelum sang commander sempat mendekat, tombak energi hitam muncul begitu saja dalam jumlah yang mustahil dihitung dalam sekejap. Xavier sama sekali tak diberi ruang untuk mendekat. Tombak energi hitam itu menghancurkan segalanya, termasuk api hitam Xavier juga.
“Ka-Kau…Lu—!”
Edward tak mengizinkan Nueva menyelesaikan kalimatnya. Tangan dia yang sebelumnya menusuk dada sang emperor kini telah mencengkeram erat lehernya. Nueva tak bisa melepaskan meski hanya sepenggal kata.
“Sepertinya kau telah menyadarinya. Itu benar. Aku menyembunyikan jiwaku di dalam tubuh Mammon. Itu sebabnya tubuhku dalam keadaan tak bergerak di neraka. Dan satu lagi, apa kau tahu siapa yang sebenarnya diperlukan sebagai korban?”
“…!” Mulut Nueva tak mampu melepas suara, tetapi matanya yang melebar membelalak itu sudah cukup untuk menyampaikan apa yang mulutnya hendak lontarkan.
“Seperti yang Mammon katakan, kau cukup cerdas. Benar sekali. Korban persembahan yang sebenarnya kuperlukan adalah kau dalam wujud dragonoidmu. Semua perkataan Mammon tentang kau yang disuruh mengambal sihirku adalah dusta. Dan juga, mendapatkan [Eternal Zero] hanyalah tujuan sampingan. Tujuanku yang sebenarnya—”
Tubuh Nueva seketika menegang. Cairan hitam keluar dari lubang di dadanya dan mulai menyelimuti tubuh sang emperor.
“—adalah menjadi makhluk empat dimensi, atau makhluk transendental, atau anomali. Terserah mau kau sebut yang mana. Dan kau…kau hanyalah pion yang kuperlukan untuk membawaku ke dimensi yang lebih tinggi itu, Nueva Vermillion.”
...»»» End of Chapter 44 «««...