
Mata Xavier mengerjap satu, dua, tiga kali, sebelum kemudian mengambil garpu dan sendok yang terjatuh. Kedua alat makan itu ia letak di tepi meja, kedua matanya lalu fokus memandang sang putri. “Sepertinya aku salah dengar,” katanya dengan jantung yang berpacu kencang. “Apa tadi yang kau tanyakan?”
Senyum terhibur menemukan tempatnya di bibir Artemys. “Barusan itu adalah ekspresi yang sangat menarik, tak ternilai. Mungkin, jika aku memutuskan menekuni dunia lukis, akan kujadikan ekspresimu tadi sebagai karya terbaikku.”
Artemys boleh merasa terhibur, tetapi Xavier tidak. Ia sama sekali tidak menemukan hal yang menghibur di sini. Artemys tadi mengatakan hal yang berat, dan sedikit menakutkan. Ia tidak bisa membayangkan hal itu terjadi. Karenanya, Xavier sungguh berharap tadi ia salah dengar—atau, Artemys asal bicara.
“Sepertinya kau sedang dalam posisi penyangkalan,” ucap Artemys sembari mengangkat tangan meminta pisau dan garpu yang baru dari pelayan di sampingnya. “Untuk merespons ucapanmu dengan lebih jelas, akan kukatakan dengan lebih tepat: Aku hamil, Xavier. Jenny mengatakan itu padaku tadi malam.”
“…Ha...mil dalam artian hamil? Itu artinya…proses kehidupan sedang terjadi dalam rahimmu?”
“Benar, hamil dalam artian hamil—meskipun sejatinya hamil hanya memiliki satu makna.” Artemys meletakkan kedua alat makan yang diterimanya ke tangan Xavier. “Dalam sembilan bulan beberapa hari, kau akan menjadi seorang ayah,” lanjutnya dengan diiringi senyum yang melenakan. “Kau terkejut?”
“Jika ada kata yang lebih besar dari terkejut, itu adalah apa yang saat ini kurasakan. Oh, Ibu!” Xavier benar-benar syok. “Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?”
“Xavier, yang hamil di sini aku. Yang akan melahirkan nantinya aku. Mengapa kau yang lebih khawatir dariku?”
“Artemys, bagaimana kau bisa bertanya begitu? Kau ini hamil, hamil! Kau sedang mengandung! Kau akan memiliki anak.”
Artemys menghela napas panjang. “Kau masih cukup muda, dan bahkan dua tahun lebih muda dariku; tak mengherankan berita ini terlalu berat untukmu, terlebih kita belum menikah. Ah, ini bisa disebut skandal, eh?” Sang putri terhibur dengan ucapannya sendiri, sebelum kemudian menggeleng pelan dan menginstruksikan kedua pelayan untuk membereskan meja. “Ayo pergi ke tempat yang lebih menenangkan,” lanjutnya kemudian, menarik Xavier pergi.
Xavier tidak punya energi untuk menolak; ia membiarkan diri di bawa Artemys ke tempat yang menenangkan. Pikirannya dipenuhi berbagai hal. Dan yang paling membuatnya kehilangan energi, ia menyadari kalau Nueva adalah kakek dari anak itu. Jika ia berakhir dengan membunuhnya, itu artinya ia menghapus keberadaan seorang kakek dari dunia anak itu.
Xavier lahir tanpa pernah bertemu dengan kakek/neneknya; hal itu memberikan tekanan tersendiri. Dan yang lebih mendilemakan, Xavier tak bisa membayangkan dirinya menjawab “aku membunuhnya” saat anak itu bertanya tentang kakeknya. Ia sungguh tak bisa membayangkannya.
...—Sebuah Gua di Pedalaman Warebeast Great Kingdom—...
Gua itu remang. Sumber penerangnya hanya batu-batu yang berpendar. Tidak ada sumber cahaya lain. Bahkan sebuah lilin pun tak ada. Gua itu murni dalam kondisi alaminya. Sama sekali tidak ada tanda yang menunjukkan kalau ia pernah terjamah. Setidaknya, itu adalah kesan yang menyambut siapa pun yang memasuki gua.
Namun, Neix bukan termasuk dari “siapa pun” itu. Gua ini adalah tempat pertama ia memulai eksperimennya dalam menghasilkan Phoenix imitasi. Ia memutuskan menjadikan tempat ini sebagai persembunyian paling rahasianya setelah mendapatkan beberapa pengikut. Karena ini tempat paling rahasianya, Neix tidak mengatakannya pada siapa pun. Termasuk Crow juga. Selain Zegyus yang kini mengikuti di belakangnya, belum pernah ia membawa satu pengikut pun ke sini.
“Tempat apa ini, Tuan Neix?” Zegyus yang biasanya terlalu malas untuk bertanya, kali ini dia tak bisa menahan diri dari bertanya saat mereka memasuki lorong satu-satunya di gua—itu lorong pendek yang ujungnya melengkung ke dalam lorong lain yang posisinya menurun ke bawah.
“Ini tempat persembunyian rahasiaku; aku menyimpan hal-hal yang berharga di sini.” Neix merespons sembari menekan salah satu batu berpendar yang ada di dinding lorong, membuat bagian dinding di sampingnya tiba-tiba terdorong ke belakang, memberi akses lain yang tak terpikirkan. “Ada hal yang ingin kutunjukkan padamu di sini,” tambahnya sembaru menuruni anak tangga yang telah terlihat.
Zegyus mengangguk mengerti, mengikuti Neix dengan setia hingga mereka tiba di hadapan sebuah tabung hampa udara yang di dalamnya melayang sebuah benda bulat seukuran kepalan tangan. Benda bulat itu seperti kristal berharga, dan dia memancarakan cahaya beraneka warna. Dan yang paling jelas, bola kristal itu menyimpan begitu banyak energi—saking banyaknya, Zegyus tak bisa merasakan dasarnya.
Zegyus mengangguk, meletakkan telapak tangannya di permukaan tabung. Dan tiba-tiba mata Zegyus melebar. “Ini! Aku merasakan ratusan jiwa menjerit dari da—!”
Kalimat Zegyus terputus, matanya lebar dengan ekspresi syok tak percaya. Perlahan ia melirik ke arah sensasi sakit yang muncul di tubuhnya. Sebuah tangan ia dapati telah menembus punggungnya hingga menerobos keluar dari dada. Zegyus bisa melihat jantungnya di tangan yang telah menusuknya itu.
“Tu-Tuan Neix, ka-kau….” Zegyus tidak bisa menyelesaikan ucapannya; tubuhnya kaku mendadak saat tiba-tiba jiwanya ditarik oleh bola kristal itu. Dan sebelum ia bisa melakukan sesuatu, jiwanya—jiwa yang terbagi atas tiga belahan, yang masing-masing belahan sama dengan sebuah jiwa biasa—telah terlebih dahulu ditarik bola kristal dengan sempurna. Namun begitu, kekecewaan yang mendalam pada ekspresi jasadnya sama sekali tak menipu.
“Maafkan aku, Zegyus.” Penyesalan terdengar jelas dalam suara Neix. “Aku tahu kau benar-benar setia padaku. Namun, aku tidak punya pilihan lain. Aku membutuhkan jiwamu untuk menyempurnakan kristal dewa ini. Untuk mendapatkan Vermyna, aku harus menjadi yang terkuat; Vermyna tidak mungkin mau bersanding dengan individu yang lemah, meskipun aku benar-benar memenuhi syarat darinya. Untuk mendapatkan Vermyna, dunia ini sekalipun akan kuhancurkan bila perlu.”
...—Cornnas, Provinsi Emeralnas—...
“Apa pikiranmu sudah tenang?” tanya Artemys, membelai lembut kepala Xavier yang berbantalkan pahanya—mereka berada di belakang istana, di bawah pohon berdaun lebat yang dikelilingi bunga-bunga. “Apa kau sudah bisa berpikir dengan jernih?”
Xavier tidak menjawab pertanyaan itu. Wajahnya yang semula memandang dedauan yang menggantung di ranting-ranting pohon, kini berpaling arah menghadap perut Artemys yang rata. “Aku bisa tidur di sini untuk selamanya, dan aku takkan keberatan,” respons Xavier, wajahnya ia benamkan ke perut datar yang berbalutkan kain lembut itu.
“Aku senang mendengar hal itu, dan aku tentu saja takkan bosan untuk memanjakanmu. Namun, kita perlu melanjutkan pembicaraan kita.”
“Apa aku bisa memohon agar dunia menghentikan waktunya untuk selamanya, sehingga momen ini akan abadi?”
Tawa lembut mengalir ke luar dari celah kedua bibir Artemys yang menggoda. Tawa itu terdengar bagai melodi di telinga Xavier. Artemys jarang tertawa, sangat-sangat jarang. Mendengarnya tertawa seperti ini, Xavier tidak perlu bertanya jika Artemys menikmati momen ini.
“Kau bisa,” respons Artemys setelah tawanya mereda, “tetapi aku ragu dunia akan mengabulkan itu.”
Nah, Xavier tak bisa menyanggah hal itu. Dunia tidak pernah berpihak pada siapa pun. Waktu akan terus berjalan sampai dunia itu berakhir dengan sendirinya.
“Jadi, bagaimana menurutmu menjadi seorang ayah?” Artemys kembali pada pertanyaan dasarnya. Ia memang menyembunyikan keingintahuannya, tetapi Xavier bisa mengatakan kalau Artemys benar-benar ingin mengetahuinya.
“Hm…karena kau yang menjadi ibunya, kurasa itu bukanlah hal yang buruk.” Xavier membiarkan bibirnya melengkung, tetapi dengan cepat lengkungan itu menghilang. “Tapi, sungguh, aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Aku senang mendengarnya. Tentang bagaimana ke depannya, kita bisa belajar seiring waktu.” Artemys menjeda sejenak, kemudian menundukkan kepalanya hingga tepat berada di atas kepala Xavier. “Kita akan mengadakan pernikahan secara rahasia minggu depan; aku ingin semuanya berlangsung tanpa banyak yang tahu—tidak pula keluargaku, kecuali Achilles. Apa kau tak keberatan dengan itu?”
Xavier tidak mengatakan tidak, dan sebuah kecupan mendarat mesra di kepalanya.