Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 7: Blood in the Forest, part 3.5



Replika kurtalægon bermanifestasi bersamaan dengan ayunan tangan kanan Kanna, tetapi detik itu juga Evillia sudah tidak berada tempat. Alforalis memblok ayunan pedang itu dengan bola energi transparannya, membuat replika kurtalægon terkikis. Itu mengejutkan Kanna. Meskipun pedang di tangannya hanyalah replika (tidak punya kemampuan-kemampuan kurtalægon yang asli), tetapi itu tetaplah lebih keras dari adamantite.


“Sihir yang menarik,” gumam Kanna sembari melompat mundur, melempar replika kurtalægon yang tersisa setengah secara asal—membuatnya menjadi serpihan mana dan menghilang.


“[Particle Magic], itu sihirku.” Alforalis menjawab pertanyaan yang tak Kanna suarakan. “Segala materi tersusun atas partikel-partikel; bola energi ini menghancurkan materi menjadi partikelnya yang terkecil.”


Kanna tidak punya waktu untuk berkomentar lebih jauh, Evillia sudah berada di atasnya dengan bola angin yang bagian dalamnya berputar ke segala arah. Bola angin itu sebesar kepala gajah, tak ragu jika mengenai tubuh seseorang maka tubuh itu bagian dalamnya akan merasa seperti digiling. Namun, Kanna lebih cepat dalam melompat menjauh—ia tak harus mengetes itu rasanya akan seperti apa.


Akan tetapi, Evillia telah mengekspektasikannya. Tepat sebelum dia terbawa momentum dan menghantam marmer jalan, bola angin itu dia tekan ke depan, membuatnya terlempar ke arah Kanna. Namun, itu cukup lambat. Kanna bisa mengatasinya dengan mudah—setidaknya, itu sebelum akar-akar mencuat dari tanah dengan bola-bola plasma di ujungnya. Tak cukup sampai di situ, ia sudah dikurung dalam kubah kayu yang tebal. Itu terjadi dalam sekejap mata saat telapak tangan Evillia menyentuh marmer jalan.


Rentetan ledakan mengisi kubah secara bertubi-tubi; tidak ada individu normal yang bisa selamat tanpa luka jika terkurung di dalamnya.


Sayangnya, saat ledakan pertama terjadi, dahi dan kedua pipi Kanna sudah dirambati garis-garis hitam berbentuk bulan sabit. Hal itu menandakan Kanna sudah mengaktifkan kemampuan kurtalægon yang asli. Pedang itu tidak lagi bersifat pasif; Kanna sendiri telah menjadi ekstensi dari kutalægon. Artinya, kulitnya telah sama kerasnya dengan pedang itu; semua kemampuan kurtalægon bisa Kanna gunakan semudah berpikir.


Saat melawan Undead Thevetat dulu, Kanna belum bisa membuat dirinya menjadi ekstensi dari kurtalækun. Ia baru bisa melakukannya saat sparing serius dengan ayahnya. Itu alasan mengapa akhirnya ia menang. Dengan menjadi ekstensi kurtalægon (pedang yang telah disempurnakan dalam kurun lebih dari 1000 tahun setelah penciptaannya), bahkan Nueva tidak bisa berbuat banyak di hadapannya. Ia individu terkuat di kekaisaran—Sword of Empire dalam artiannya yang sempurna.


Dengan Kanna yang menggunakan Mode Kurtalægon, semua ledakan beruntun yang terjadi menjadi tak berarti. Itu tak mampu menembus barier yang membaluti tubuhnya. Dan saat barier itu Kanna lebarkan memenuhi kubah, akar-akar itu beserta bola plasma yang tersisa lenyap dalam serpihan mana.


Kaki Kanna kemudian melangkah, tangan kanannya ia ayunkan secara horizontal dari kiri ke kanan. Kubah kayu tebal yang bagian dalamnya beretakan akibat rentetan ledakan pun terbelah setengahnya. Ayunan tangan secara horizontal itu diikuti oleh ayunan secara vertikal, sebelum kemudian disusul oleh ayunan yang beruntun dan ke segala arah.


Kubah itu hancur berkeping-keping dan berguguran laksana daun yang mati, Kanna menampakkan diri di hadapan kedua lawannya dengan ekspresi yang lebih serius.


“Aku tidak ingin perang ini berlangsung lebih lama. Karenanya, untuk terakhir kali kuberikan kesempatan agar kau menyerah, Queen Evillia. Jika tidak, kau akan menyesali ini.”


Ucapan Kanna tidak mendapat respons verbal.


Evillia dan Alforalis melesat bersamaan dengan kecepatan penuh mereka. Namun, sebelum mereka memotong setengah jarak di antara mereka, Kanna sudah berada di antara keduanya dengan kedua telapak tangan bersarang di dada Evillia dan abdomen Alforalis. Tenaga di balik pukulan itu begitu kuat, saking kuatnya sampai turut menghancurkan jalan yang selaras dengan terpentalnya kedua elf.


Mereka terpental cukup jauh, kemudian jatuh dan terseret dalam keadaan berguling-guling. Jaraknya dengan posisi pertempuran para prajurit lebih dari tujuh kilometer.


Ketika Kanna sampai di sini hanya dalam satu detik, matanya mendapati Evillia sudah berlutut dengan mulut yang mengeluarkan darah. Sementara, Alforalis tergeletak tak berdaya. Bahunya membungkuk ke posisi yang menyangitkan. Kanna memang tidak menggunakan semua kekuatannya, tetapi ia yakin itu sudah cukup untuk mengatasi mereka. Tapi, siapa yang menduga ketahanan tubuh Evillia lebih dari yang ia bayangkan.


Kening Kanna seketika mengernyit melihat sayap vampire mencuat di punggung sang elf. Tubuhnya mengeluarkan asap, beregenerasi dengan cepat. Ketika wajah sang ratu menengadah, Kanna mendapati pupilnya menjadi vertikal, taringnya memanjang. Dia seolah menjadi ras yang lain, dan Kanna merasakan dia menyerap energi yang melimpah di alam—yang lantas membuat kulit sang ratu menjadi kecoklatan.


Ucapan Kanna terpotong saat persepsinya merasakan sesuatu yang datang. Dan sebelum ia sempat menoleh, suara debuman memikik menginvasi indra pendengaran mereka. Marmer yang membentuk jalan (yang sebelumnya sudah hancur) bertambah hancur, dan dari kehancuran itu Xavier keluar dengan kondisi yang tak bisa dibilang baik.


“Kau selamat dari itu. Impresif, Commander Xavier.”


“El,” gumam Kanna, memandang sang penopeng yang jubahnya compang-camping.


Sebelumnya, ada suara kecil dalam dirinya yang mengatakan kalau Xavier adalah El—dia sudah menipu mereka selama ini. Namun, melihat keduanya seperti ini, sepertinya ia salah. Tidak ada kemiripan sama sekali di antara aura mereka. Aura El lebih suci, seolah dia adalah malaikat. Waktu dulu, aura El sedikit mirip Xavier. Pun ia bisa mengatakan Xavier yang sekarang lebih lemah dibandingkan saat dia melawan Undead Thevetat.


[Division Magic]?—Pikir Kanna dengan kening mengernyit—Tetapi itu tidak menjelaskan mengapa aura mereka berbeda. Kekhawatiranku sepertinya salah. Lantas, mengapa Xavier lebih lemah? Sebelumnya aku tak bisa mengatakannya dengan jelas, tetapi dalam mode ini terasa begitu jelas.


“Jangan menghiraukan dia, Kanna, aku akan mengatasinya.”


Kanna memandang Xavier, dan dalam momen berikutnya ia sudah mengayunkan tangannya ke arah El—tepatnya ke wajah sang penopeng. El yang tidak mengekspektasikan itu tidak sempat berbuat apa-apa. Topeng itu terbelah dua, dan jatuh dengan perlahan. Iris biru Kanna seketika mendapati wajah yang sama dengan wajah commandernya.


Ekspresi terkejut bertahan di wajah El dan Xavier selama beberapa saat, sebelum kemudian bibir El melengkung lebar.


“Kau….” Xavier bergumam dengan rasa tak percaya yang berlebih, dia tak bisa menyelesaikan ucapannya.


“Aku terkejut kau tak mengenaliku, Xavier, padahal aku adalah saudara kembarmu. Sepertinya kau benar-benar berpikir aku sudah mati, huh?”


“Saudara kembar?” Kanna memicingkan matanya, fokus pada Xavier. “Apa maksudnya itu, Xavier? Aku tidak tahu kau punya saudara kembar. Pun Monica tidak mengatakan apa pun tentang itu saat menceritakan masa kecil kalian.”


“Kupikir…kupikir dia sudah mati…. I-Ibu mengatakan kau tak selamat….” Xavier jatuh terduduk, ekspresinya bercampur aduk.


Untuk beberapa alasan, penjelasan yang terkuak di hadapan Kanna sangat masuk akal. Itu menjelaskan mengapa dulu di Desert Kingdom El menyakiti Xavier. Pun itu menjelaskan mengapa aura mereka saat di Desert Kingdom mirip. Dibandingkan El adalah Xavier, mereka saudara kembar lebih masuk akal.


“Nyatanya aku masih hidup.” Pandangan El mendingin. “Dan kau…kau membiarkan orangtua kita mati.”


Kanna dengan cepat menghampiri Xavier. Evillia yang dari tadi menjadi spektator, kini dia berdiri di samping El. Kanna tidak memedulikan tentang mereka, pandangannya fokus pada Xavier. Ini pertama kalinya ia melihat Xavier seperti ini.


“Kau baik-baik saja, Xavier?”