Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 20: The Unexpected Result, part 5



...—Royal Palace, Cornnas, Provinsi Emeralna—...


“Nona Artemys, Commander Zenith sudah tiba.” Jenny datang melapor, di belakangnya sudah ada Zenith von Myera dengan ekspresi serius di wajah—ekspresi yang bisa dibilang tak biasa.


“Senang bisa bertemu lagi denganmu, Commander Zenith.” Artemys mengesampingkan lembaran dokumen hingga ke sudut meja, matanya memandang iris kecoklatan Eight Commander dengan ekspresi yang sedatar lembaran kertas. “Kupikir aku takkan bisa kembali lagi hidup-hidup. Ha-ha-ha.”


Heh, dia benar-benar tidak senang, batin Zenith mengomentari “ha-ha-ha”-nya Artemys. Itu sama sekali bukan tawa dari sang putri. Dia hanya menggumamkan “ha-ha-ha” saja, tidak lebih—pertanda kalau dia benar-benar tidak senang dengan apa yang terjadi. “Aku juga senang Yang Mulia bisa kembali dengan selamat,” tambahnya sembari menahan erangan dari melewati celah-celah kedua bibirnya, melangkah hingga sejajar dengan Jenny.


“Mengingat bagaimana mudahnya penculik itu menyusup ke dalam istana, kukira kau tidak senang dengan pemerintahanku terhadap provinsi ini. Aku merasa lega asumsiku tidak benar, Commander.”


“Te-Tentu saja, Yang Mulia.” Bulir-bulir keringat dingin memenuhi pelipis Zenith—bukan karena takut, tetapi mendengar kata-kata membuatnya sangat lelah (atau begitulah yang ia yakini). “Aku tidak sekalipun mempertanyakan kemampuan Yang Mulia. Hanya saja, kemampuan penculik itu benar-benar merepotkan. Prajurit kepercayaanku bisa dia kelabui. Mereka bahkan tidak menyadari ada yang salah sebelum semuanya terlambat.”


“Kalau begitu kuasumsikan kau mengerti mengapa aku memanggilmu ke sini?”


Secara teknis, Zenith tak wajib memenuhi panggilan Artemys. Satu-satunya yang dapat memerintahnya selain Emperor Nueva hanyalah Putri Kanna. Namun, ia merasa bertanggung jawab terhapad insiden yang sudah terjadi. Provinsi Emeralna masih belum memiliki pasukan independen mereka sendiri; pertahanan provinsi, terutama kota dan lebih terutama lagi istana, berada di urutan pertama daftar tugas Divisi 8 Imperial Army. Itu sebabnya Zenith datang meski ia punya hak untuk menolak.


“Paling tidak aku bisa memastikan Yang Mulia ingin aku memperkuat penjagaan terhadap istana."


Itu jelas. Setelah terjadi insiden yang mencoreng nama baik Divisi 8 seperti itu, memperkuat penjagaan adalah hal utama yang harus diperhatikan.


“Itu benar, tetapi itu bukan alasan utama aku memanggil Commander Zenith ke sini.” Artemys mengeluarkan selembar amplop dari laci mejanya. “Aku ingin Commander Zenith besok pagi ke Nevada untuk secara langsung melaporkan kembalinya diriku ke sini. Lakukan itu bersamaan dengan memberikan surat ini pada Kanna.” Artemys mendorong amplo hitam tersebut ke tepi meja. “Ah, tentu saja aku tidak berhak memerintah Commander Zenith, tapi….”


Zenith menahan diri dari menampakkan keengganannya, tetapi ia tidak menyembunyikan helaan napas. “Aku mengerti,” katanya sembari mengambil amplop hitam itu. “Aku akan ke Nevada besok. Apa ada lagi yang harus kulakukan?”


“Tidak ada. Kau bisa kembali, Commander Zenith. Kuekspektasikan kinerja Divisi 8 Imperial Army tidak akan lagi mengecewakan.”


Zenith mengangguk pada ucapan Artemys, kemudian pamit berlalu sembari memasukkan amplop ke dalam saku jubah commandernya. “Divisi 8 akan mencoba yang terbaik untuk membayar kesalahan yang telah dibuat,” katanya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.


“Bagaimana persiapan jamuan makan malam nanti, Jenny?” tanya Artemys hampir semenit setelah Zenith pergi. “Kuasumsikan kau sudah mengatur semuanya?”


“Itu benar, Nona; semuanya sudah akan siap seperti yang Nona inginkan sebelum senja tiba. Nona bisa fokus menangani dokumen-dokumen itu.”


...* * *...


Matahari baru saja terbenam dengan sempurna saat Monica dan Xavier menginjakkan kaki di bekas ibukotanya Emeralna Kingdom. Mereka tidak langsung ke istana. Keduanya berjalan menyusuri jalan utama kota sembari menikmati udara malam yang baru saja datang.


Itu bukan karena Xavier belum memberitahu Monica tentang tujuan mereka ke sini. Ia sudah mengatakan kalau mereka akan malam bersama Artemys. Ia sudah menerangkan kalau mereka akan bermalam di istana kota. Xavier membawa Monica melalui gerbang kota untuk memberinya waktu mempersiapkan diri. Ia memang tidak mengatakan apa-apa tentang hubungannya dan Artemys, tetapi barangkali Monica sudah bisa menebaknya.


Mereka melangkah dalam diam, beriringan menuju istana besar yang ada di ujung mata. Hanya bisik-bisik suara pejalan kaki lainnya yang terdenges, juga gesekan-gesekan antara sol sepatu dan permukaan jalan yang kasar. Dan, hampir tidak terasa, keduanya tiba di depan pintu gerbang istana yang dalam keadaan setengah terbuka.


“Er, Monica,” panggil Xavier tiba-tiba—membuat Monica spontan menoleh. “Aku harus menemui Commander Zenith terlebih dahulu. Begitu selesai berbicara dengannya, aku akan langsung ke sini.”


“Kau hanya ingin melarikan diri, bukan begitu?” tanya Monica dengan delikan mata curiga.


“Ha-ha-ha, tentu saja tidak. Aku hanya perlu berbicara dengan Zenith. Setelahnya aku pasti akan kembali.”


Dan, lagi, Xavier langsung menghilang dengan sihir teleportasi sebelum Monica sempat membuka suara.


“Dasar idiott,” gerutu Monica dengan emosi yang bercampuraduk. Dasar super idiott, tambahnya dalam hati sembari lanjut melangkah.


“Kuasumsikan Nonalah yang bernama Monica, seseorang yang sangat dekat dengan Tuan Xavier?”


Monica mengangguk mengiyakan tanya wanita berpakaian khas maid. “Aku tidak mengerti mengapa aku mau menghadiri undangan makan malam Putri Artemys, dan aku tidak tahu akan bisa menahan kesal atau tidak. Tapi ya, aku Monica yang kau maksud. Dan seperti yang kau lihat, Xavier telah melarikan diri. Pengecut sekali dia, bukan begitu?”


Bibir sang maid melengkung tipis. “Itu cara pandang yang tidak bisa disalahkan. Namun, jika Nona ingin melihatnya dari kacamata positif, bukankah Tuan Xavier ingin memberikan kesempatan bagi Nona untuk berbicara berdua saja dengan Nona Artemys? Menurut saya itu gestur yang baik darinya.” Kemudian sang maid langsung mengajak Monica mengikutinya tanpa menanti respons sang gadis.


“Hah?” Monica tidak percaya maid itu akan memandang positif hal yang Xavier lakukan. “Gestur baik dari mananya?” tanyanya dengan kaki yang berakselerasi. “Dia hanya melarikan diri karena tak ingin terlibat dalam pembicaraan kami. Sama sekali tidak ada sisi positifnya!”


...—Markas Divisi 8 Imperial Army—...


“…Commander Xavier von Hernandez.” Zenith memandang malas Xavier yang bediri di depan pintu ruang kerjanya. “Apa yang bisa kubantu? Ah, kuharap tidak ada; aku terlalu malas untuk membantu.”


“Hmph,” dengus Xavier. “Aku tidak perlu bantuanmu. Aku ke sini hanya ingin menanyakan tentang insiden yang membuat Artemys diculik,” bohong Xavier. “Kau bertanggung jawab terhadap keamanan kota dan istana. Tentu kau memiliki paling tidak sedikit informasi tentang itu.”


“Ck, masuklah. Tapi jangan berekspektasi lebih; kami sungguh tidak mendapatkan banyak informasi berarti selain fakta kalau pelakunya memiliki sihir ilusi tingkat tinggi.”


...—Royal Palace—...


Senyum ramah berkembang di bibir Artemys saat Jenny tiba di ruang tamu istana bersama dengan gadis yang sebelas dua belas dengan Kanna. “Kuasumsikan kau Monica,” katanya seraya berdiri dan menghampiri sang gadis.


Monica mengangguk. Dia terlihat hendak bertanya, tetapi dengan cepat membatalkan niatnya.


“Namaku Artemys el Vermillion,” lanjut Artemys sembari memegang tangan kanan Monica dengan kedua tangannya. “Seperti Xavier, kau bisa memanggilku Artemys. Tidak perlu memakai formalitas di antara kita. Ah, kebetulan aku belum mandi, bagaimana kalau kita bicara di pemandian herbal istana?”


Tanpa menunggu respons Monica, Artemys langsung menarik sang gadis mengikutinya. “Aku sangat berbangga diri terhadap pemandian herbal di istana ini, bahkan Kanna menyukainya. Aku yakin kau juga akan sama. Xavier kemungkinan baru akan kembali dalam satu jam, aksinya sangat bisa ditebak. Kita bisa berbicara dengan nyaman dan bebas sembari menikmati hangatnya air herbal. Kau tidak keberatan, kan, Monica?”


...»»» End of Chapter 20 «««...