
...—Coralina, Ekralina Kingdom—...
Gereja Agung Canaan—gereja terbesar kedua di Islan dan dunia—berdiri megah di timur laut istana kerajaan. Menara tertingginya sama ukurannya dengan menara utama istana—hal itu memberi cerminan bahwa kekuasaan istana tidak berada di atas perintah gereja. Tentu saja mayoritas orang mengerti itu hanya simbolitas; tidak ada seorang pun yang menganggap itu sungguhan. Namun, kemegahan gereja itu jelas merivali gereja terbesar di Islan.
Rossia Himera baru keluar dari gereja itu sejak kedatangannya dua hari yang lalu. Ia sejatinya masih ingin menghabiskan waktu di dalam gereja yang super terpenuhi itu hingga dua atau tiga hari ke depan. Namun, informasi yang baru saja tiba memaksanya keluar. Eternity saat ini sudah tidak lagi berada di Etharna; mereka sudah menguasai Lembah Terlarang Ed. Rossia tidak tahu bagaimana mereka bisa mengatasi barier itu dengan cepat. Yang jelas, Etharna saat ini lemah.
Rencana awal, Saint Marcus akan menguasai Lembah Terlarang Ed. Informasi tentang itu kemudian akan dibeberkan ke Etharna. Dengan demikian, Eternity akan dipaksa untuk keluar dari ibukota Favilifna dan mengkonfrontasi Knight Templar. Setelah kepergian mereka, ia akan membawa lima ribu anggota Knight Templar plus 10.000 prajurit Ekralina untuk memaksa Favilifna tunduk. Dan itu paling tidak akan terjadi dalam empat atau lima hari. Namun….
“…Aksi Eternity cukup mengejutkan,” gumam Rossia bertepatan dengan melangkahnya kedua kaki keluar dari gerbang gereja, “tetapi ini sama sekali tidak merugikan.”
Terlebih lagi, informasi tadi mengatakan kalau Saint Marcus turut mengirim 5000 prajurit untuk bergabung dalam penundukan yang akan ia lakukan. Dia ingin secepatnya Favilifna ditundukkan, dengan demikian akan menghindarkan anggota Eternity dari berlari melindungi diri ke sana saat sang Saint dan pasukannya menghancurkan mereka dengan telak.
“Kapten Himera, 5000 pasukan Saint Marcus sudah tiba!” lapor tiba-tiba seorang prajurit setelah mencegat langkah Rossia. “Mereka sudah siap untuk langsung bergerak ke Etharna.”
…Informasi tadi memang mengatakan kalau 5000 prajurit itu akan diteleportasikan ke Coralina, tetapi Rossia tidak mengekspektasikan akan secepat ini. Paling tidak, ia berpikir akan menunggu satu sampai dua jam—waktu yang lebih dari cukup untuk bertemu dengan Mortana dan membicarakan keberangkatan prajurit. Dengan begitu, mereka bisa langsung melaju ke Etharna.
“Apa boleh buat, katakan pada mereka untuk menunggu.” Rossia memberi perintah. “Kalian langsung bergabung dengan mereka di luar gerbang. Dalam kurang dari satu jam, aku dan prajurit Ekralina akan bergabung. Kemudian kita pergi memberi hukuman pada Favilifna yang membangkang.”
“Baik, Kapten!”
Rossia mengangguk melihat sang prajurit berlalu dengan sigap, kemudian kakinya ia percepat ke istana kerajaan.
...—Etharna, Favilifna Kingdom—...
Menunggu. Itu adalah apa yang Xavier lakukan di salah satu menara istana ini. Setelah menemani Elmira mengatasi gereja, tidak ada hal yang bisa ia lakukan selain melakukan pekerjaan yang paling membosankan itu. Selain membosankan, kepastian juga tak ada. Bisa jadi hari ini takkan ada pergerakan apa-apa dari musuh. Dan, karena itu pula, menunggu sangatlah menyebalkan.
Akan tetapi, ia tidak punya pilihan lain selain melakukan itu. Memang, ia bisa mengunjungi beberapa tempat di kota ini untuk menghabiskan waktu. Ia juga bermeditasi untuk semakin meningkatkan kontrolnya atas mana. Atau, ia bisa menghabiskan waktu di perpustakaan kerajaan—Elmira telah memberinya akses untuk itu. Namun, Xavier menemukan dirinya duduk di bantalan pembatas menara dengan pandangan mengarah ke timur laut.
…Ia tidak tahu apa yang ia ekspektasikan, tetapi barangkali Neix atau siapa pun itu akan melesat dari arah sana dan menghibur dirinya dengan pertarungan yang membuat darah mendidih.
...—Lembah Terlarang Ed—...
Marcus tidak terkejut. Menjadikan badan pedangnya sebagai tameng yang memblok tusukan tangan kiri Crow, Marcus menembakkan laser cahaya dari telapak tangan kirinya dalam intensitas yang tinggi. Laser cahaya tersebut menembus melewati kepala Crow, tetapi dengan cepat tubuh Crow tersebut melebur mejnjadi petir merah kehitaman.
Marcus tidak mengekspektasikan serangannya akan berhasil. Ia tahu tidak mungkin Crow akan membiarkan dirinya terkena. Dan benar saja, hawa keberadaan muncul di belakangnya diiringi percikan petir. Marcus dengan cepat menunduk, tipis menghindari sapuan tangan kanan Crow. Lalu pada saat yang bersamaan dengan itu, Marcus mengerahkan [Earth Manipulation Magic] untuk membuat pilar-pilar tanah agar menghantam sang penopeng.
Crow tak mencoba menghindar. Sebaliknya, dalam momen yang begitu cepat itu, intensitas petir yang menyelubungi tubuhnya meningkat dan dengan percaya diri menghantam pilar-pilar tanah yang ujungnya saling menyatu itu dengan kedua sikunya.
Pilar-pilar tanah itu hancur berkeping-keping, tetapi kedua siku Crow tertahan oleh badan pedang besar Marcus.
Marcus menyeringai, “Counter Explosion.”
Seketika, bersamaan dengan berpendarnya bilah pedang besar Marcus, tubuh Crow terlempar kuat dalam ledakan yang besar. Segala yang ada di depan Marcus disapu habis, beberapa prajurit turut menjadi korban. Itu bukan ledakan biasa yang terjadi pada satu titik pusat, melainkan ledakan energi yang merambat hingga meninggalkan bekas yang dalam di tanah.
Dan Marcus belum selesai. Menancapkan pedang besarnya di tanah, kedua telapak tangannya menyatu. “Space Magic: Invisible Room!” seru Marcus, dan seketika kubus transparan raksasa mengurung semua area yang terkena efek ledakan. Hal itu kemudian disusul oleh ratusan lingkaran sihir yang muncul memenuhi ruang tertutup itu.
“Mari kita lihat jika kau bisa melindungi diri dari ini. Binasalah, Sinner Execution!”
…Tidak ada suara yang keluar dari kubus transparan itu, tetapi efek dari spell Marcus yang terdiri atas ratusan spell itu terlihat dengan sangat jelas. Kubus transparan itu dipenuhi warna yang silih berganti bagaikan pelangi yang hidup.
Meski begitu, Marcus masih belum selesai. Berdiri dengan cepat, gagang pedangnya ia pegang dengan dua tangan dengan posisi pedang berdiri tegak beberapa belas centi di atas kepala. Tiga lapis lingkaran sihir melingkari kedua tangan Marcus. “Aku belum pernah melepaskan teknik ini pada siapa pun, kau beruntung menjadi yang pertama, Crow.” Sekonyong-konyong pedang itu berpendar dan melepaskan pilar cahaya ke langit.
“Lenyapkanlah para pendosa, Justiengar!”
Seperti membelah langit, pedang itu mengayun membawa pilar cahaya panas itu turun. Gesekannya dengan udara membuat suara menggelegar memenuhi ruang. Dan begitu pilar cahaya itu jatuh, ledakan yang memekakkan seketika mengejutkan seisi lembah. Cahaya putih memenuhi medan pertempuran, beberapa detik membutakan para prajurit yang tak jauh dari lokasi.
Marcus menancapkan pedangnya di tanah, kedua telapak tangannya bertumpu di atas gagang padang. Mata sang saint fokus ke depan, memandang penuh observasi pada sang lawan. Ia tidak mengekspektasikan serangannya itu akan menghabisi Crow. Namun, jika Crow tewas, berarti ia telah mengoverestimasi orang itu. Itu akan mengecewakan, terlebih lagi Eternity adalah organisasi ilegal yang paling berbahaya. Jika hanya sebatas itu….
Bibir Marcus perlahan melengkung membentuk seringaian; asumsinya benar, Crow tidak takluk atas serangan bertubi-tubi yang ia hempaskan. Matanya dapat melihat siluet seseorang yang berlutut dengan kedua tangan menyilang ke atas. Dan saat asap tipis itu menghilang, terlihat jelas Crow masih hidup—meskipun penampilannya sudah tak berbalutkan jubah dan bertutupkan topeng.
“…Vampire, eh, sama sekali tidak mengejutkan.”