Against the World II: Transgression

Against the World II: Transgression
Chapter 5: Invisible Mask, part 5



“Jadi, Menez, bagaimana? Apa kau bersedia bersamaku? Apa kau mau mene—argh!”


Bersamaan dengan erangan yang keluar dari mulut Alstroemeria, matanya membelalak menyadari Menez berada di belakangnya. Menez yang berada di hadapannya menjadi blur, sebelum kemudian meluruh dan menghilang.


Tidak mungkin! Kapan dia menggunakan ilusi?!—Mulut Alstroemeria tak bisa menyuarakan jeritannya lantaran dicengkeram dengan begitu kuat oleh Menez.


“Kau membuat satu kesalahan fatal, Alstroemeria,” bisik Menez tepat di samping telinga kanan sang elf. “Saat aku tidur, kesadaranku berada dalam Land of Dream. Ketika kesadaranku berada di sana lebih lama dari biasanya, aku tahu pasti terjadi sesuatu pada tubuhku. Aku menunggu, konstan menunggu sampai kau melepaskan sihir tiruan [Eternal Zero] itu.”


Alstroemeria tidak diberi kesempatan untuk mengerang berusaha berkomentar, tubuhnya dihempaskan secara kasar hingga menghantam pilar yang menopang langit-langit.


“Kau pasti bertanya-tanya, bagaimana ilusiku bisa memperdaya kalian semua? Bagaimana kalian bisa terperangkap tanpa menyadarinya?” Menez tak menanti respons Alstroemeria. “Sederhana saja: aku yang terkuat dalam ilusi. Mungkin, hanya ada satu orang lainnya yang bisa merivaliku—aku bisa merasakan keberadaannya dalam Land of Dream yang luas.”


Alstroemeria tidak mengekspektasikan hal ini akan terjadi. Ia telah mengendurkan kewaspadaannya karena sudah merasa aman. Seharusnya ia tetap melakukan pengawasan yang ketat. Menez sangat berbahaya. Dibandingkan Evillia yang sangat destruktif, Menez bisa membunuh dalam mimpi. Ia seharusnya memperlakukannya sebagaimana seharusnya.


Namun begitu, Menez menyimpan rasa yang dalam padaku, aku hanya harus mempersuasinya lebih dalam.


“Me-Menez,” kata Alstroemeria sembari berusaha berdiri. “Kau tahu apa yang tadi kukatakan semuanya benar; aku sama sekali tak berdusta. Karenanya, Menez, kau—”


“Aku tahu itu, Alstroemeria,” potong Menez. “Kau tak berbohong saat mengatakan mencintaiku, tak berdusta saat mengatakan ingin aku berada di sisimu. Namun, Alstroemeria,” jeda Menez, melangkah menghampiri sang elf. “Kau telah melakukan kesalahan yang besar. Kau telah menipuku dan semuanya. Karenanya, sebagaimana kau yang memenjaraku dalam balok es, kau akan kupenjara dalam prisma ilusi—sampai semuanya selesai. Tapi kau tak perlu khawatir, aku akan tetap mencintaimu dan nanti kita akan bersama selalu.”


Mata Alstroemeria spontan melebar, kedua tangannya sekonyong-konyong bergerak memanifestasikan beragam lingkaran sihir.


“Aku tidak akan melakukan apa pun jika aku jadi dirimu, Alstroemeria.” Bibir Menez melengkung lembut. “Apa kau bisa menjamin kalau kau tidak sedang berada dalam ilusi? Apa kau berpikir kita sedang berbicara berhadap-hadapan?”


Alstroemeria tidak perlu melontarkan tanya untuk mendapatkan jawaban. Untaian rune yang membentuk lingkaran sihirnya yang saling berpisah diri kemudian melebur sendirinya sudah cukup untuk menjadi jawaban. Jika itu belum cukup, kenyataan kalau yang tersisa dari Menez di depannya hanyalah setengah badan bagian atas pasti sudah lebih dari cukup.


“Kita sudah berada dalam prisma ilusiku, di dalam teritoriku di dalam Land of Dream. Kau selamanya akan di sini sampai aku memutuskan membebaskanmu. Meski kubilang penjara, di sini kau bisa mewujudkan apa pun yang kau inginkan. Kau bisa menganggap ini penjara surga.” Senyum lembut kembali mengukir indah di bibir Menez. “Mimpi indah, Alstroemeria, kita akan segera bertemu lagi.”


...—...


Menez membuka kedua matanya dengan ekspresi datar, memandang ke arah di mana Alstroemeria sebelumnya berdiri. Ia diam dalam posisi itu selama beberapa saat, sebelum kemudian melangkahkan kakinya pergi.


“Apa aku harus menangkap Heckart, dan kemudian membawanya paksa ke Evrillia?” tanya Menez pada dirinya sendiri, tetapi kemudian ia menggeleng cepat. “Lebih baik jika aku langsung kembali ke Evrillia, kemudian menemui Kak Xavier. Itu akan membuat mereka berpikir jika Alstroemeria membawaku pergi.”


...—Nevada, Vermillion Empire—...


Satu setengah jam Xavier habiskan menghadiri pertemuan commander—kursi Third dan Eleventh Commander kosong. Rupanya, topik utama yang menjadi bahan pembicaraan bukan tentang kematian Nizivia ataupun pengkhianatan Lumeira, melainkan pergerakan Knight Templar ke Lembah Terlarang Ed. Memang, mereka membahas tentang Nizivia dan Lumeira, tetapi hanya sekilas ‒ pembahasan lebih lanjut tentang mereka akan dilakukan setelah ada panggilan bertemu dari Kanna/Emperor.


Dalam pembicaraan itu, mereka sepakat untuk memfokuskan banyak pasukan di Provinsi Hongariand, Provinsi Matepola, dan Provinsi Emeralna (di posisi yang menghadap langsung ke arah Lembah Terlarang Ed). Tidak jelas apa tujuan Knight Templar. Namun, untuk jaga-jaga kalau-kalau mereka menginvasi diam-diam—dengan dalih mereka bersekongkol dengan sang necromancer (yang jelas tak masuk akal)—diputuskan untuk bersiap-siap. Pasalnya, Knight Templar tidak menerima kebenaran selain kebenaran versi mereka.


Xavier terdiam sejenak, langkah kakinya membatu. Ide untuk mengajak Mary bergabung dengan Deus Chaperon tiba-tiba melintas dalam pikirannya. Mempertimbangkan pembicaraannya dulu dengan Elmira, itu akan menjadi ide yang bagus. Mary bisa menggunakan topeng sebagaimana Monica dan Catherine sebelumnya. Bukan saja itu memberi sang necromancer tempat, itu juga memberinya perlindungan dari buruan Knight Templar.


“Xavier.”


—Xavier sedikit tersentak, refleks menoleh ke belakang (ia berada di salah satu lorong istana).


Ketersentakan itu spontan dilanjuti ketidakpercayaan. Bukan tanpa alasan. Suara itu milik Kanna, dan di sampingnya bukan hanya Meyrin, melainkan Monica juga. Untuk alasan yang tak ia tahu, mereka terlihat akrab. Ia ingat ia belum memperkenalkan Monica pada kedua orang ini. Namun, melihat mereka bersama….


“Monica, sudah berapa lama kau bersama mereka?”


“Kan!” seru Monica begitu bersemangat. “Seperti yang kubilang, Kanna, Xavier akan khawatir! Dia takut jika masa lalu bejatnya kubeberkan padamu.”


Xavier tak bisa menahan dirinya dari mendelik tajam. Ia tidak tahu apa yang sudah Monica bicarakan dengan Kanna. Namun, mengetahui Monica, dia pasti telah mengatakan hal yang tidak-tidak. Karenanya, penting ia tanya berapa lama mereka telah bertemu, dengan begitu bisa memperkirakan sebanyak apa mereka berbicara—berbasiskan pada personalitas mereka.


“Xavier,” ucap Kanna diiringi hela napas kecewa—yang sontak membuat Xavier mengernyit. “Aku tak percaya kalau saat kecil kau suka mengintip. Kau sampai menjanjikan Monica untuk kau nikahi supaya dia tidak mengadu pada yang lain tentang ulah bejatmu.”


“Waa! Monica, kau—”


“Kau ingin menyalahkan Monica sekarang?” potong Kanna dengan pandangan tak habis pikir. “Kau sungguh ingin menyalahkan Monica?”


“Tidak apa-apa, Kanna, Xavier memang begitu dia. Selalu menyangkal, keras kepala, tidak pernah mau mengakui kesalahannya. Bahkan, ia menolak mengakui kalau dia sering menguntitku dulu, padahal jelas-jelas dia tertangkap basah saat melakukan aksi.”


“Sungguh, Monica? Ah, kurasa aku harus mengevaluasi kembali penilaianku terhadapmu.” Kanna menggeleng kecewa. “Ayo, Monica, lebih baik aku menemanimu ke tempat-tempat penting di Nevada daripada kau harus kembali berlama-lama dengan Xavier.”


“Kau benar sekali, Kanna; kita tidak tahu kapan Xavier akan kembali memiliki pemikiran bejatnya. Ayo, aku tak sabar melihat tempat-tempat penting itu.”


“Sampai jumpa lagi, Xavier,” ucap Meyrin dengan senyum ramah, kemudian bergegas mengikuti kedua wanita itu yang sudah melangkah melewati Xavier yang kehabisan kata.


“Oh, Xavier, besok setelah matahari terbit, pastikan kau ke sini. Aku sudah mendengar semuanya dari Paman Edward.”


Dengan pesan itu, Kanna dan kedua gadis menghilang begitu saja dari lorong, meninggalkan Xavier sendiri yang masih diam dengan mulut sedikit terbuka.


“Aku turut prihatin, Xavier.” Reinhart menampakkan dirinya dari ujung lorong, tangan terlipat di dada dengan ekspresi serba tahu dan prihatin. “Ketika kedua wanita yang kita selingkuhi saling bertemu, kerja sama mereka untuk menghancurkan kita begitu mengerikan. Aku sudah pernah berada dalam posisi itu. Pelajaran untukmu dari seorang berpengalaman sepertiku, lebih lihailah dalam bermain kata. Lidahmu kurang fleksibel terhadap para wanita, Xavier.”


“Huh?”


Hanya itu respons Xavier. Reinhart mengangguk sok paham, melambai, dan kemudian berlalu. Xavier mengerjap dua kali, tiga kali, empat kali. Dan—


“Huh?”


...«««End of Chapter 5»»»...