
Lucifer merasakan antusiasme yang tinggi membayangkan pertarungan yang akan ia lakoni dengan sang commander. Terakhir kali ia merasa antusias seperti ini adalah saat bertarung habis-habisan dengan Luciel. Dan membayangkan akan sekacau apa semesta kecil ini akibat pertarungan mereka membuat bibir Lucifer melengkung.
“Nah, itulah yang kumaksudkan!” seru Lucifer saat tiba-tiba merasakan perubahan pada aura sang commander, membuat senyumnya menjadi seringaian. “Bisa kurasa dengan jelas perbedaan kekuatanmu. Darahku seakan mendidih.”
“Oh, kau suka bertarung rupanya.” Xavier menggerakkan kepala ke kanan dan kiri, berusaha mengusir pegal yang terasa. “Kebetulan aku juga. Kalau begitu, tunggu apa lagi? Majulah, Lucifer. Mari kita lihat jika kau hanya bisa membual atau memang kuat. Karena kau saudaranya Luciel, aku bisa menjadikanmu pelampiasan kekesalan.”
“Kau yakin sudah siap?” tanya balik Lucifer. “Aku tak keberatan menunggu,” tambahnya seraya melepaskan gelombang energi gelap yang menghancurkan segala di sekelilingnya.
“Heh!” Xavier turut melepaskan gelombang energi abu-abunya, membuat benturan dua energi berbeda warna terjadi. “Aku lebih dari siap. Malahan pertanyaan itu lebih pantas kau lempar pada dirimu sendiri.”
Lucifer tak bisa lebih senang lagi. Segera setelah benturan energi itu menghilang, ia langsung melesat maju. Ia sama sekali tak menahan diri. Tentu saja ia masih belum mengeluarkan kartu asnya, tetapi itu bukan berarti ia menahan diri. Lucifer memenuhi paru-parunya dengan udara lalu melepaskan Dragon Breath yang memadukan energi pembeku [Eternal Zero] dan energi penghancur [Complete Annihilation].
Sasaran serangan Lucifer tiba-tiba lenyap dari pandangan. Tahu-tahu dia sudah berada di kedua sisi Lucifer pada saat yang bersamaan. Kedua Xavier sama-sama mengubah kedua tangannya menjadi pedang lonsdaleite. Dan, Lucifer mengetahui sang commander tidak berteleportasi dan menggunakan pengganda tubuh. Dia menulis ulang realitas.
Jika begitu—
Secara instan kedua Xavier di kedua sisinya menghilang, dan pada saat yang bersamaan Xavier yang sebelumnya lenyap dari hadapan Lucifer telah muncul kembali.
—aku hanya perlu menghancurkan realitas yang ditulis ulang ini.
Gabungan energi pembeku dan penghancur yang disemburkan Lucifer menghantam tubuh Xavier, tetapi sang commander masih sempat membaluti tubuhnya dengan energi kehidupan yang tebal. Bahkan dengan kombinasi kedua Supreme Magic, Lucifer tak bisa menembus energi tebal yang memancarkan panas itu. Kerapatan energi Xavier melampaui kerapatan energi yang ia semburkan; itu menjelaskan mengapa dia mampu memblok serangan Lucifer.
Lucifer turut melapisi tubuh dengan energi kehidupan lalu melayangkan bogem mentah saat semburan energinya habis.
Intuisinya kalau Edward Penumbra akan berguna di masa depan benar-benar tepat sasaran. Jika dulu ia biarkan Mammon membunuh Edward, ia takkan bisa mewarisi keahlian menggunakan energi kehidupan yang susah payah dipelajari Edward. Ia akan dirugikan jika sampai seperti itu.
Pukulan Lucifer dihindari Xavier dengan memiringkan kepala ke kiri. Pada saat yang bersamaan, sang commander juga melepaskan pukulannya. Lucifer menghindari pukulan itu dan membalasnya dengan pukulan lain. Tetapi Xavier juga mampu menghindarinya. Mereka terus saling memukul dan menghindar seperti itu selama beberapa lama. Setiap pukulan mereka melepaskan gelombang kejut yang besar. Bulan yang mereka pijaki sudah mulai berhancuran.
Lucifer terhempas saat Xavier memutuskan membawa kakinya ke dalam permainan. Tendangannya keras. Walaupun ia sudah melapisi tubuhnya dengan energi kehidupan, kulit pipi kiri Lucifer serasa terbakar. Hal ini hanya menunjukkan satu hal: kontrol sang commander terhadap energi kehidupannya jauh melampaui apa yang bisa ia lakukan.
Lucifer mendaratkan tubuhnya pada bongkahan bulan yang telah hancur. Ia langsung melapisi tubuhnya yang berlapiskan energi kehidupan dengan energi pembeku [Eternal Zero] dan energi penghancur [Complete Annihilation]. Lucifer memadukan ketiga energi tersebut untuk mengimbangi kontrol menakjubkan sang commander atas energi kehidupannya. Kemudian mantan malaikat agung ini meluncur lurus menyerang Xavier yang berdiri di bongkahan pecahan lain bulan.
Selagi tubuhnya melesat dalam kecepatan super, Lucifer menggunakan [Reality Destruction] untuk mencoba menghancurkan Xavier dan segala realitas yang dia ciptakan untuk melindunginya dari bahaya. Semua realitas yang Xavier sembunyikan lenyap, tetapi Lucifer tak bisa melenyapkan eksistensi Xavier.
Tenaga di balik tendangan Xavier yang besar membuat Lucifer terlontar. Ia meluncur deras sebelum akhirnya berhenti setelah menghantam sebuah bukit di permukaan bulan yang lain. Bukit itu hancur, tetapi Lucifer dapat berdiri dengan kedua kakinya dan tanpa menerima luka.
Mantan malaikat agung ini langsung menyatukan kedua telapak tangan dan menciptakan bola energi gabungan dari ketiga energi yang berbeda. Dan begitu Xavier mendekat, bola energi itu langsung ia tembakkan dalam bentuk laser. Laser tersebut lebih besar dari tubuh Lucifer sendiri dan melesat jauh lebih cepat dari suara.
Xavier menyilangkan kedua tangan memblok energi yang Lucifer tembakkan. Besarnya tekanan yang dilepaskan membuat sang commander terdorong. Namun, sebelum dia terdorong lebih jauh, laser energi itu berhasil dia belokkan. Laser yang dibelokkan itu melaju lurus menghantam planet dan menembus melewati sisi lain planet. Ledakan yang muncul dari inti planet yang bolong seketika mendorong kesembilan bulan yang tersisa dan pecahan-pecahan bulan yang melayang.
“Kutebak kemampuanmu yang lain adalah [Reality Destruction],” ucap Xavier segera setelah mendaratkan kaki belasan meter di hadapan Lucifer. “Dan itu sungguh kemampuan yang menyebalkan. Ini seolah kau tercipta khusus untuk menjadi lawan bagi [Reality Warping]-ku.”
“Kau masih belum sempurna menjadi makhluk transendental, tapi kenapa kau bisa selevel denganku yang sudah menjelma menjadi makhluk transendental sempurna?”
Lucifer tidak suka dengan apa yang pertanyaannya implikasikan. Xavier masih belum sempurna, tetapi dia telah dapat mengimbangi Lucifer. Artinya, jika Xavier berhasil menjadi makhluk transendental seutuhnya, dia akan lebih kuat darinya. Lucifer tak menyukai situasi ini, dan ia tak cukup arogan untuk menolak mengakui hal itu.
“Heh, kau serius menanyakan itu ketika kau sudah tahu jawabannya?” Xavier tak menanti jawaban. “Mari tak membuang-buang waktu; aku akan kalah jika pertarungan ini berlangsung lebih lama.”
Dengan kedua tangan yang berubah menjadi pedang lonsdaleite yang berbalutkan energi kehidupan, sang commander melesat lurus menerjang Lucifer.
Lucifer mengepakkan sayap, dan seketika ia sudah berada ratusan meter di atas permukaan bulan yang tak lagi memiliki orbit. Ia tak asal menghindar begitu saja. Bersamaan dengan melesatnya ia ke udara, [Reality Destruction] ia kerahkan untuk menghancurkan inti bulan. Dan ledakan besar pun tak terelakkan terjadi.
Lucifer terhempas akibat gelombang kejut, tetapi kedua belas pasang sayapnya langsung mengepak dan membuat lajunya terhenti. Hancurnya bulan membuat udara lenyap, tetapi itu sama sekali bukan masalah bagi makhluk sekaliber dirinya. Ia tak memerlukan udara untuk bernapas. Mana di dalam tubuhnya tersirkulasi sendiri menjadi pemasok udara ke dalam paru-paru.
Apa ledakan itu berhasil minimal menggores tubuhnya? Lucifer bertanya-tanya dengan mata memandang intens tempat terjadinya ledakan.
...*********...
-Energi pembeku: Mana dikonversikan [Eternal Zero] menjadi energi yang akan membuat temperatur segala yang dikenainya ke Absolute Zero.
-Energi penghancur: Mana dikonversikan [Complete Annihilation] menjadi energi yang akan menghancurkan segala yang dikenainya secara absolut.
-Energi kehidupan: Energi yang tercipta saat jiwa menyatu dengan raga, energi yang juga mempertahankan jiwa di dalam raga. Energi kehidupan secara fundamental berbeda dengan jiwa. Jiwa non-materi dan raga adalah materi, sedang energi kehidupan tidak berada di antara keduanya. [Complete Annihilation] menghancurkan materi dan non-materi, tetapi tidak selain kedua itu.